HIV
AIDS Merengut Nyawanya
Dorkas
Manroe
Setiap manusia mempunyai kisah perjalanan hidup
masing-masing. Senang, bahagia, sedih maupun kehilangan, pasti akan jadi
kenangan suatu hari nanti.
Tapi …
Apa pernah kamu membayangkan, orang yang selama ini dekat
denganmu pergi selamanya karena terkena suatu penyakit menular. Pasti tidak, membayangkan
dia sakit saja tidak.
Lalu bagaimana jika kamu tahu kalau dia pergi karena
HIV AIDS ?
Pasti beribu pertanyaan dibenak.
Pertanyaan yang muncul “Bagaimana dia bisa
terkena ? Dimana dia selama ini nongkrong ? Siapa teman-temannya ? Berapa lama
dia terkena penyakit itu”
Ditambah timbul perasaan bersalah karena tidak
disampingnya ketika dia pergi. Tidak ada ucapan selamat tinggal maupun permintaan
maaf.
Kenapa dia pergi disaat aku tidak disampingnya. Kenapa
?
Muncul perasaan bersalah dan penyesalan.
Aku patah hati ? Aku sakit hati ? Aku menderita ?
Dan Perasaan itu menghinggapi sampai bertahun-tahun.
Andai waktu bisa diputar, aku hanya ingin menemaninya
disaat terakhirnya dan meminta maaf.
Tapi … Itu tidak bisa.
Dia pergi tanpa ucapan atau pun pesan. Dan yang
tersisa hanyalah sebuah penyesalan selama bertahun-tahun.
***
Malam hari
"Anna...
Anna... “ Terdengar suara memanggil
namaku dari Pagar rumah.
Ku hentikan jemari tangan ku yang sedang menari di
laptop, kemudian beranjak berdiri dan berjalan menuju suara memanggilku.
“Ooo… Loe Bet
Ada apa malam-malam kesini ?” Tanyaku. Sambil ku persilahkan duduk
diteras rumah.
Ku lihat wajah cowok yang duduk dihadapanku, dia tidak
menjawab pertanyaanku. Setelah menghela nafas berat, dia menjawab pertanyaanku.
“Aldo … Aldo … Na.. " Ucap Robert dengan raut wajah gelisah.
“Kenapa dia” Tanyaku.
“Aldo meninggal, abangnya barusan kerumah gw”
Jawabnya.
Aku terdiam dengan dahi berkerut menatap Robert, tanda
tidak percaya dengan ucapannya.
“Jangan bercanda” Ucapku dengan perasaan campur-aduk
tidak tentu,
Lagi-lagi Robert menghela nafas.
“Ya udah kalau tidak percaya, kita kerumahnya
sekarang” Ujarnya kesal.
Aku hanya terdiam dan menantapnya. Tidak tahu harus
berkata apa.
“Besok gw kesana, malam ini loe aja kerumah dia.
Bantuin keluarganya beres-beres. Kabari gw kapan dikuburnya” Ujarku.
Robert pun pamit, melajukan motornya kerumah Aldo.
Semalaman aku terjaga dengan perasaan campur-aduk dan
takut.
Ya takut, bayangan Aldo serasa hadir tiap kali tutup
mata. Terbayang tatapan matanya yang tajam.
Setajam mata seperti elang ketika menatap. Mata yang
bisa membuatku reda ketika lagi ngomel-ngomel. Cukup dia tatap tajam ke arahku,
maka aku akan diam seribu bahasa. Tidak berkutik, tidak berani berkata apa pun.
Tapi yang pasti malam itu, aku tidak merasa
kehilangan. Tidak ada air mata keluar, hanya ketakutan.
***
Keesok harinya
Jam 08:00, aku pun sudah rapi berpakaian. Sambil
menunggu dijemput, aku sempatkan sarapan. Ku pegang handphone, mengecek dan membaca
pesan-pesan yang masuk. Termasuk group sekolah SMP, dimana aku dan Aldo
bersekolah juga.
Kita berteman sejak seragam kami Putih
Biru. Tadinya kami hanya berteman, tapi tiba-tiba berubah menjadi pacar. Kisah
percintaan yang lucu dan unik.
Awal kita pacaran, tidak ada cinta sama sekali. Aku
terima Aldo sebagai pacar karena faktor teman-teman aku yang lain sudah
berpacaran.Dan posisi waktu itu juga baru putus. Seiring dengan waktu,
cinta itu tumbuh.
Terdengar suara motor vespa, tak lama kemudian terdengar
suara memanggil namaku dari pagar rumah, “Anna … Anna”
Aku pun pamit dengan orang rumah.
Dalam perjalanan menuju rumah Aldo, aku tidak fokus.
Lebih banyak diam, sampai temanku bertanya pun tidak ku jawab.
Begitu berada di depan rumahnya, terdengar suara isak
nangis mama nya. Dadaku tiba-tiba terasa sesak, langkahku pun semakin berat
untuk menghampiri jenazah dan keluarganya.
Ketika mamanya Aldo melihatku. Dia berkata “Do …
Bangun nak, itu Anna datang. Bangun nak”
Air mata tak kuasa lagi terbendung, memasahi kulit
wajahku. Tak sanggup lagi mendengar isak tangis mamanya Aldo.
Serasa tidak ingin ada yang melihat tangisanku, aku
pun menangis dipundak salah satu temanku. Air mata ini terus mengalir seperti
ada luka perih akibat sayatan-sayatan.
Perlahan aku menghampiri jenazahnya, ku lihat tubuhnya
kaku terbaring dengan berpakaian jas putih. Terlihat rapi dan ganteng. Jujur,
aku belum pernah melihatnya seperti ini. Bertahun-tahun dekat dengan dia, baru
hari ini dia terlihat ganteng.
Ku berdiri disamping petinya, kutatap wajahnya. Tak
terasa air mata ini mulai mengalir. Tanganku membelai wajahnya, terasa dingin
dan keras. Mungkin karena formalin, jadi tubuhnya terasa keras.
Ketika ingin kucium tuk terakhir kalinya, abangnya
melarang. Dengan alasan takut virus karena tubuhnya sudah di formalin. Dan aku
pun nurut, tidak ada cium perpisahan.
Suasana pun pecah, isak tangis semakin banyak dan
keras ketika petinya ditutup. Isak tangis mama, kakak, abang dan saudaranya
lain.
“Ya Tuhan ! Kuatkanlah mama Aldo” Doaku dalam hati.
Aku pun terbawa suasana, air mata ini semakin deras
mengalir. Temanku, Arum, memeluk tubuhku. Dia pinjamkan dadanya tuk aku
menangis.
Tapi … Robert kemana ? Tidak kulihat sosok dia dari
tadi. Aneh, kenapa dia tidak ada. Mereka sudah berteman sejak SMP, tapi kok
tidak keliatan batang hidungnya.
Lalu, peti itu dimasukkan kedalam mobil jenazah. Di
iringi motor dan mobil tuk mengantar ke makam, kerumah peristirahatan Aldo tuk
selamanya.
Sesampainya di makam, isak tangis pun kembali meledak
ketika peti dimasukkan ke liang lahat. Dan sesuai permintaan terakhir, Aldo
seliang lahat dengan Papanya.
Sebelum meninggalkan makam, ku berkata “Do … Sampai
jumpa dikehidupan berikutnya”.
***
Malam kembali datang dengan suasana purnama dilangit.
Malam ini indah, tapi suasana hati hancur. Suasan hati yang sedang merasakan
kesal, sedih maupun marah.
Aku pun mengambil laptop mengerjakan kembali draft skripsi
yang harus kelar malam ini, karena harus diserahkan beberapa hari lagi. Sambil
mendengar musik Kerispati “Mengenangmu”
Takkan pernah habis air mataku
Bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu
Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri
Adakah disana kau rindu padaku
Meski kita kini ada di dunia berbeda
Bila masih mungkin waktu berputar
Kan kutunggu dirimu …
Reff:
Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana
Tenanglah diriku dalam kedamaian
Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi
Namun cintamu abadi …
Terbesit bayangan wajah Aldo, tiap kali ku tutup mata.
Wajahnya selalu muncul. Teringat kenangan mulai dari awal kenal, pacaran hingga
putus. Biarpun hubungan terputus, kita masih berteman. Dia sebagai sahabat,
tempat curhat terbaik.
Bagiku, dia bisa memahami sifatku.
Tak terasa 10 tahun hubungan ini dijalankan. Diantara
kita berdua, Aldo yang paling banyak mengalah dan mengerti. Sedangkan aku,
tidak perduli sama sekali dengan dia.
Kalau ditanya kenapa putus ? Aku pun tidak tahu
pastinya. Aldo cuman mengatakan “Kita putus, lebih baik jadi sahabat. Tapi aku
janji akan disamping kamu disaat kamu membutuhkan seseorang” Itulah yang dia
ucapkan.
Aku pun tidak bertanya alasan diputusin, terima saja
diputusin. Baru tahu alasan dia memutuskan hubungan yang sudah bertahun-tahun
itu ketika dia sudah pergi tuk selamanya.
***
Kisah cinta kita lucu, awalnya sih ingin mencari tahu
soal abang kelas yang disukai teman baikku. Kebetulan abang Aldo itu teman
dekat cowok yang disukai temanku itu.
Patar, nama cowok yang ingin kucari tahu informasi
tentangnya.
Tapi posisi ku saat itu sudah memiliki pacar, Pano namanya.
Hubungan diantara aku dan Pano terjalin bukan karena cinta tapi keterpaksaan.
Unsur ketakutan lebih tepatnya dengan kakak-kakak kelas, unsur ancaman. Jadi kalau
aku tidak jadian dengan Pano, akan disiksa. Demi keamanan, aku pun mengiyakan
menjadi pacarnya. Hubungan ini terjadi semata-mata biar aman saja di Paskibra.
Sewaktu sekolah aku aktif di kegiatan Paskibra, kala
itu kakak Paskibranya galak dan sadis. Kita sering disuruh push up. Jadi
aku terima saja dia sebagai pacar, hitung-hitung lindungi diri dari kakak
kelas. Biar tidak kena hukum.
Hehehe …
Selama pacarana sama Pano, dia hanya anter pulang dari
sekolah. Selebihnya tidak pernah, jalan-jalan ke mall tidak pernah, pergi makan
diluar pun tidak, pokoknya hanya sekolah-rumah. Makanya tidak pernah ada rasa
apa pun dengan dia. Hanya status saja “PACAR”
Lebih parah lagi, setelah lulus SMP, tidak ada kabar.
Sebulan setelah dia lulus, dia menunggu di jalan tempat
biasa aku turun mikrolet. Kemudian mengajak kesuatu tempat, hingga akhirnya aku
meminta putus dengan alasan punya pacar lain. Dia pun terima diputuskan. Setelah
hari itu tidak ada kabar apa pun dari dia sampai hari ini.
***
Biarpun saat itu, statusku pacar Pano. Tapi hampir
setiap hari, aku dan Aldo berkomunikasi lewat telp. Pano sibuk nongkrong sama
teman-temannya, hanya ingat aku kalau disekolah saja.
Hahaha …
Justru itulah, kenyamanan aku dapat dari Aldo, apa pun
aku cerita sama dia. Ketika putus dari Pano pun, Aldo orang pertama yang ku
beritahu. Bahkan teman baikku, Yuli, tidak ketahui. Dia baru tahu setelah itu.
***
Sepulang sekolah, seperti biasa aku menunggu telp dari
Aldo. Sejak kita dekat, sering komunikasi, aku pun jadi terbiasa menunggu telp
dia setiap hari.
Kringgg …. Kringgg … Bunyi suara ponselku.
Ku berjalan menuju kamar, mengambil ponselku yang terletak
ditempat tidur. Ku lihat nama si penelpon dilayar, Aldo.
“Apa yang loe lakukan Anna ?” Tanya suara dari
seberang.
“Eeemmm … Nonton. Ngapain loe telp Do” Ucapku sambil ketawa.
“Gw … “
“Ada apa sih, Mau apa ? Sejak kapan loe jadi cowok
gugup begini !” Tanyaku meledek.
“Sejak … Sejak cowok yang bernama Blackguys suka loe”
Jawabnya gugup.
Aku kaget mendegarnya, ada yang suka aku namanya
Blackguys !!!
“Aahhh … Blackguys ? Siapa tuh, baru gw dengar nama
tuh” Tanyaku penasaran.
“Cari tahu sendiri aja ya” Telp langsung dimatikan.
Tidak sopan tuh manusia, main tutup saja.
Keesok-harinya dari informasi yang ku dapat, ternyata
Blackguys itu Aldo sendiri.
Hahaha …
***
Aku baru saja membaringkan tubuhku di atas tempat
tidurku, tersentak suara dering ponsel yang persis berada disamping telinga.
Bibirku tersenyum ketika melihat nama Aldo tertera di layar.
“Ya Do, ada apa”
“Belum tidur loe” Suara Aldo terdengar malu-malu.
“Belum dunks, lagi nunggu telp dari Blackguys”
Ledekku.
Terdengar suara ketawa ngakak dia.
“Jadi udah tahu nih siapa Blackguys ? Mau gak jadi pacarnya si Blackguys ?”
Terdengar lagi suara malu-malu Aldo.
Tanpa berpikir panjang, aku pun menjawab “Ya”.
Beberapa saat kami saling terdiam, tidak tahu harus
berbicara apa. Bibirku serasa kaku karena malu.
Hahaha …
***
Hari demi hari, hubungan kami tidak ada yang tahu.
Sebenarnya teman baikku, Yuli, sudah curiga hubungan kami, tapi aku belum
berani mengatakan kebenarannya
Hingga suatu hari, aku beranikan diri cerita.
“Yul … Gw dah jadi sama Aldo. Tapi keep silent ya,
jangan kasih tahu siapa-siapa. Malu gw” Sambil ku teguk minuman.
“Ahhhh … Kapan ?” Sahut Yuli kaget.
“Beberapa hari lalu” Jawabku
“Sip .. Gw sebenarnya juga dah jadian sama Patar”
Sejenak kami saling berpandangan, lalu tertawa
bersama. Gelak tawa dan celoteh keakraban kita mewarnai ruamhnya.
***
Terkadang kita tidak bisa selamanya menutupi sesuatu
dari orang lain. Begitu pula dengan hubungan kita yang awalnya aman dari
teman-teman kita. Tapi kelamaan muncul kecurigaan muncul dari mereka.
Gimana tidak curiga, Aldo setiap hari temenin aku dan
Yuli sampai naik mikrolet. Tak jarang, Aldo juga ikutan nganter. Tapi sampai
ujung gang, kalau sampai rumah bisa berabe urusannya. Kita ini backstreet dari
orangtua aku. Apalagi Papa aku itu.
Dia itu galak, tidak mau anaknya dianter cowok. Pernah
aku ketahuan sewaktu Pano anter, Papa aku melihat. Sampai dirumah, aku kena
omel dan pukul. Bagi aku itu biasa, makanan khusus kalau sudah kena pukul.
Sejak saat itu, aku jadi takut bawa cowok kerumah. Bisa
kena cambuk nanti aku.
Semakin dekat dan erat hubungan kita, semakin membuat
teman-teman bertanya-tanya. Hingga suatu hari, pas valentine tepatnya. Aldo
memberikan bunga dan cokklat di depan teman-teman.
Eeemmm … Otomatis, suara ledekan nyaring terdengar.
Dari situlah teman-teman jadi tahu soal hubungan kita,
mereka tidak percaya kalau kita pacaran.
Kita sering disebut pasangan Kopi susu ?
Ya, karena warna kulit kita berbeda. Dia hitam seperti
kopi, aku putih seperti susu. Jadilah Kopi susu.
Hahaha …
***
Hari berganti hari, tak terasa usia pacaran kita 10
tahun. Dari cinta monyet sampai akhirnya cinta benaran.
Kisah cinta kita membuat orang lain bahkan teman kita
sendiri berdecak kagum. Bukan hanya melihat dari lamanya kita pacaran, tapi
dari kisah asmara kita yang sering putus nyambung. Justru membuat hubungan kita
semakin mesra.
Aldo itu orang yang pertama kali mengajari aku
berkendara motor. Tidak tanggung-tanggung, motor RX King, motor yang digunakan
aku tuk belajar.
Eeemmm …. Jadi jangan heran, kalau aku bisa kendarai
motor kopling. Itu berkat dia, jadi bisa kendaraain motor.
Bukan hanya itu, bagi aku dia itu bodyguard. Ketika
aku harus pulang malam dari kampus pasti minta jemput di stasiun kereta api.
Ya, bersamanya aku jadi cewek manja. Apa-apa, minta
tolong dia.
Dia juga menjadi tempat luapan emosiku ketika kesal,
dia selalu kena omel jika aku kesal akan sesuatu. Tapi dia tidak pernah marah,
hanya diam mendengarkan hingga aku capek. Setelah itu, dia baru kasih saran
atas setiap ocehanku.
***
Tiga hari kemudian
Dering ponsel di pagi hari membuatku kaget. Tumben aku
terima telp di Pagi hari. Melihat nomor asing yang tidak kukenal, membuatku
bertanya dalam hati dan segera menjawab.
“Hallo, apa benar ini Anna ?” Terdengar suara
perempuan yang ku kenal.
“Benar, maaf dengan siapa ini ? Tanyaku.
“Ini mama nya Aldo” Jawabnya,
“ Iya, apa kabar tante ? “ Ucapku. Kaget aku menerima
telp darinya.
“Kamu kalau tidak sibuk, hari ini bisa kerumah. Ada
yang mau ditanyakan ?” Pintanya.
“Baik tante, nanti sore aku kerumah” Jawabku.
Aku pun menutup ponselku dan bergegas ke kamar mandi.
Hari ini ada jadwal bimbingan skripsi
Dan timbul pertanyaan “Ada apa mamanya Aldo mau
bertemu aku”.
Jujur, selama kami berteman. Bisa dihitung dengan jari
main kerumahnya, itu pun aku hanya duduk saja. Tidak akrab dengan keluarganya,
kebanyakan diam dirumahnya. Sambil melihat mamanya bermain kartu dengan
teman-temannya sambil merokok.
Aku merasa aneh melihat permainan kartu. Maklumlah,
keluarga aku tidak pernah main kartu dan tidak merokok. Kita kalau mengumpul,
hanya berbincang-bincang saja. Jadi latar belakang keluarga kita berbeda, itu
lah kenapa aku sering tidak nyaman kalau berada dirumahnya.
Sepanjang hari, aku bertanya-tanya, kenapa mamanya mau
bertemu. Mau tanya apa ya kira-kira, rasanya ingin buru-buru kerumahnya. Tapi
sayang, aku ada jadwal bimbingan skripsi. Kalau tidak datang, makin lama aku
lulus. Makin buat susah kondisi keuangan Papa ku.
Ya … Cobaan selalu datang bertubi-tubi dalam hidupku
saat itu. Sebelum kehilangan Aldo, cobaan terberat dalam hidup keluargaku,
ketika Papa aku harus pensiun dini dari tempatnya bekerja. Ada Peraturan baru
dari atasannya yang baru.
Papa aku bekerja disalah satu BUMN di Jakarta, dia
terkena dampak dari Peraturan baru tersebut. Bukan hanya dia, tapi beberapa
teman lainnya. Peraturan yang selama ini berlaku, tapi sejak atasannya barunya
jadi berubah.
Ketentuan dimana hubungan darah/ipar tidak boleh satu
Perusahaan. Dan Papa ku salah satu yang terkena, sedangkan adiknya masih
bekerja. Tidak adil bukan kedengarannya, tapi itu yang terjadi. Biarpun Papa
dan teman-temannya menuntut hingga Mahkamah Agung, mereka tetap kalah. Uang
bicara, siapa yang memiliki uang maka Keadilan itu tidak ada.
Sejak itu cobaan hidup datang, mulai dari menjual
barang-barang yang ada seperti mobil, emas dan masih banyak lagi lainnya.
Pokoknya barang yang bisa menghasilkan uang untuk biaya hidup seperti beli
sembako, bayar listrik maupun bayar uang sekolah adik-adik aku.
Biar pun Papa masih mendapat uang pensiun, tapi itu
tidak cukup untuk biaya hidup, bahkan untuk biaya sekolah 2 adik-adikku saja
sering tunggak.
Cobaan ini membuat keadaan terpuruk, bukan itu saja
adik-adik aku tidak menikmati fasilitas yang pernah aku nikmati. Mereka serba
kekurangan, untuk bayar uang sekolah saja terkadang menunggak hingga 2 bulan.
Kondisi yang benar-benar sulit, kami pernah cuma makan
Indomie saja karena uangnya hanya cukup buat beli itu saja. Bukan itu saja,
Papa juga pernah jadi tukang ojek demi bisa menghasilkan uang. Tapi sialnya,
pas papa jadi tukang ojek, dia kena pukul ojek lainnya. Sejak saat itu, papa
stop.
Melihat wajah papa memar-memar, menambah amarah aku
sama Tuhan, semakin menjauh dari Tuhan.
Bukan hanya itu saja, yang membuat hati seperti “akar
kepahitan” akan hidup, ketika keluarga Papaku meminta supaya Papa aku saja yang
mengalah sedangkan adiknya yang bertahan kerja.
Beberapa kali keluargaku datang hanya untuk mengatakan
ini, meminta supaya Papa mengalah. Dan membiarkan adik papa yang bekerja.
Mendengar pembicaraan itu, membuat aku membenci
keluargku.
Tapi sayang, uang berbicara. Adik papa aku itu yang bertahan.
Sedangkan Papa aku, kena dampaknya.
Informasi yang aku dapat, keluargaku patungan biar
adik papa tetap bertahan, mereke menyogok. Mendengar ini, semakin aku membenci keluargaku.
Ditambah iming-iming dari mereka akan memberikan uang
bulanan buat bantu, tapi kenyataannya tidak sama sekali. Yang ada, kita selalu
dihina. Apalagi sama adik perempuan papa aku, Riani, yang kaya.
Ya, Tante Riani yang paling kaya di keluarga Papa aku.
Dia menikah dengan orang asing dan mempunyai Pabrik. Kalau menurutnya dia yang “paling
diberkati” karena selalu dikasih rejeki.
Paling males mendengar kalau dia sudah berkata begitu.
Nilai “diberkati” dari kekayaan yang ada.
Pernah suatu hari, Tante Riani menghina adikku, Tika.
Dia kerumah bersama Papa buat pinjam uang. Maksud Papa kalau ajak Tika, bisa
dikasih pinjam. Tapi bukan pinjaman yang didapat, tapi tapi hinaan.
“Tika, kalau Papa kamu tidak mampu kuliahin kamu. Tidak
mampu bayar uang les piano kamu, tidak usah kuliah. Tidak usah gaya-gaya les
piano, kerja saja. Hidup sudah susah masih mau kuliah, pake les piano saja.
Ukur kemampuan ya” Begitu ucapan Tante Riani.
Dan sejak saat itu, adikku sakit hati dengan
perkaataannya.
Uuuhhhhfff … Sejak saat itu aku semakin benci, membenci
keluarga sendiri. Apalagi sama tante aku itu. Keluarga sendiri Pinjam uang
dihina, tapi orang lain minta sumbangan dikasih berjuta-juta. Apalagi kalau
sudah puji dia, nurut apa kata dia. Pasti dikasih uangnya.
Kalau istilahnya “Siapa pandai menjilat, dia pasti
akan dapat yang dimau”. Sedangkan kita tidak terbiasa seperti itu, tidak bisa
basa-basi.
Nasib orang miskin, selalu dihina. Seperti tante aku
itu, selalu saja menghina. Selalu merasa diberkati, sedangkan Papa tidak
diberkati.
Aku pun menjadi minder dengan teman-teman, jadi
pendiam. Tiap diajak pergi, aku selalu menolak dengan sejuta alasan. Aku malu
cerita dengan siapa pun, hanya dengan Aldo bisa kuceritakan semuanya. Termasuk
perlakuan keluarga Papa aku.
Entahlah, kalau tidak ada Aldo apakah aku masih
bernafas atau tidak sampai saat ini.
Keadaan ini terkadang membuatku tertutup dan lupa akan
Tuhan.
Aku marah kepada Tuhan. Kenapa Dia memberi cobaan
seperti ini, tidak adil. Kenapa aku tidak seperti anak-anak lain yang bisa beli
ini itu gampang. Apa yang aku mau, tidak pernah terkabul atau memiliki.
Kadang aku juga iri lihat teman-teman bisa berlibur
keluar kota maupun luar negeri, aku hanya bisa berkata “Kapan ya bisa seperti
mereka”.
Cobaan demi cobaan terjadi di keluarga aku, semuanya
pernah terjadi. Sampai nyawa Papa aku pun pernah beberapa kali hilang hanya
karena tidak mampu membeli obat asmanya. Tapi nyawanya masih tertolong, Papa
masih diberikan umur Panjang. Dam sekarang, dia tidak perlu obat semprot asma
lagi. Dia hanya minum obat asma kalau
sudah kambuh parah, itu pun yang murah. Kalau tidak salah harganya 10 ribu tuk 1
stripnya.
Bukan hanya itu, aku sering jalan kaki dan tidak makan
karena mikir buat ongkos besoknya atau uangnya buat beli mie adik-adik aku.
Keadaan ini membuatku beberapa kali ingin bunuh diri,
meminum beberapa tablet obat warung. Ini aku lakukan karena tidak kuat lagi
dengan keadaan hidup yang serba kekurangan ini.
Tapi sayang, nyawa aku masih tertolong. Begitu minum
obat-obat itu, aku hanya muntah-muntah saja. Setelah itu aku tertidur dan pas
bangun sehat lagi.
Nyawa aku seperti nyawa kucing, banyak. Tidak bisa
mati, padahal sudah minum obat-obatan warung.
Tapi beruntungnya, cobaan yang datang terus-menerus
tidak membuatku untuk menggunakan narkoba atau seks bebas.
Dan berkat Aldo, aku bisa bertahan hidup. Dia selalu
berkata “Jadi Perempuan itu tidak boleh cenggeng, harus tangguh. Kalau ada yang
menghina, tutup kupingnya. Jangan dimasukin ke hati dan selalu terlihat
tertawa. Jangan beritahu kesusahaanmu” Kata-kata itulah yang selalu kuingat
hingga sekarang.
Bukan itu saja, disaat aku kecewa dengan Tuhan. Tapi
aku didekatkan dengan Tuhan. Aldo lah orang yang membuatku dekat dengan Tuhan.
Berkat dia, aku tidak melupakan Tuhan, Dia malah membuatku semakin dekat dengan
Tuhan.
Gimana tidak dekat dengan Tuhan, tiap kali aku sedih,
dia selalu bawa ke Goa Maria di Katedral. Disana kita nyalakan lilin dan berdoa,awalnya
sih aku tidak mau. Tapi tiap lihat Aldo berdoa, seperti ada getaran. Mungkin
melihat dia berdoa, membuatku menjadi mengadu dengan-Nya.
Dan suasana disana nyaman, angin sepoi-sepoi terkadang
suara adzan maupun lonceng gereja. Rasanya ingin berada disana terus. Hati
menjadi adem, jika sudah berada disana.
Kalau kata Aldo “Satu lilin untuk satu permintaan,
sampaikan semuanya ke Bunda Maria” Makanya setiap kali suasana hati tidak
bagus, pasti kesana. Tempat mengadu yang pas.
Bagi aku, Aldo itu selalu memberikan kekuatan disaat
aku lemah. Dia tongkat buat aku berjalan di situasi seperti ini. Bukan itu
saja, dia selalu memeluk jika aku menangis. Tubuhnya terasa hangat jika di
peluk, nyaman. Ditambah dia selalu membelai rambutku. Dalam dekapannya serasa
masalah yang ada hilang, ingin rasanya memeluk dia terus. Tidak mau dilepaskan.
***
Sore hari
Sesuai janjiku dengan mamanya Aldo, aku sudah
dirumahnya Jam 17:00. Perasaan campur-aduk termasuk ketakutan. Aku ini pada
dasarnya penakut, apalagi kalau sudah berhubungan dengan dunia lain alias setan.
Jangan tanya, takut banget.
Pernah aku merasakan ketakutan dirumahnya, tapi Aldo
memeluk aku kala itu. Dia juga memberi salib, maksudnya ketika aku takut bisa
digenggam.
Kalau kata dia “Salib ini sudah dipercikan pastur,
jadi genggang ini ketika takut”, Jadilah salib itu selalu ada didompet, selalu
dibawa kemana-mana. Dan sekarang jadi salah satu kenangan pemberian dari dia.
Lamunan aku dibuyarkan dengan suara mama Aldo
“Na, sebelumnya makasih ya sudah mau datang kesini.
Tante mau tanya, apa kamu tahu dimana Aldo nongkrong, siapa teman-teman dia ?”
Tanya mama Aldo.
Aku kaget mendengar pertanyaan itu, jujur selama ini
aku tidak pernah tahu dimana dia nongkrong dan siapa teman-temannya. Selama
kita pacaran, dia cuma mengajak ke mall, makan dan nonton. Tidak pernah diajak
nongkrong dengan teman-temannya.
“Tidak tahu tante, selama ini Aldo tidak pernah ngajak
aku buat nongkrong sama teman-temannya. Kalau boleh tahu, memang kenapa tante.”
Tanyaku penasaran.
Lalu ku lihat raut wajah keluarganya, bukan hanya
mamanya saja saat itu. Abang dan kakaknya juga ada, lengkap keluarganya. Serasa
dkantor polisi, yang mau intrograsi maling.Makin penasaran dengan pertanyaan
mamanya.
“Na, Aldo selama ini kena HIV AIDS. Sudah 2 tahun dia
terkena, kita sengaja tidak memberitahu kamu karena dia yang minta” Ucap
abangnya yang paling besar, Riko.
Untuk beberapa saat semuanya terdiam.
Aku menghela nafas Panjang, mencoba mengatur hati dan
detak jantung yang kacau. Perlahan membenarkan posisi duduk.
“HIV AIDS ? Kok bisa” Pertanyaan itu muncul dibenak.
Aku harus kuat mendegar ini, harus ! Batinku sesak.
“Jadi Aldo itu kena HIV AIDS, dia pecandu narkoba
selama ini. Ketahuannya positif, pas mamanya pulang dari kampung. Dia panasnya
tidak hilang, sudah seminggu. Kita bawa ke dokter, dicek lab hasilnya positif”
Ucap Riko.
Aku tidak sanggup lagi mendengar cerita soal Aldo,
hati ini seperti tersayat perih.
Tiba-tiba aku mengerutkan kening, menginggat-inggat
kembali kapan terakhir Aldo sakit.
Dam ternyata bener, bahwa hari itu adalah ahri
terakhir aku terakhir kerumahnya. Kala itu mamanya di Kampung, dia demam. Aku
sampai beli es batu buat kompres dan beli obat penurun panas.
Hingga beberapa hari kemudian, dia memutuskan hubungan
kita.
Riko melanjutkan kembali ceritanya.
“Kita pas tahu dia positif kena penyakit itu, kita
tidak memberitahu siapa pun termasuk keluarga maupun tetangga. Kondisi Aldo
semakin hari semakin turun, dia sering keluar masuk rumah sakit. Seminggu di
rumah sakit, nanti dirumah beberapa hari. Sistem imumnya menurun dan ingatannya
juga makin lama menurun juga. Dia hanya ingat kenangan waktu kecil dan waktu
sekolah”
Sambil mendengar cerita abangnya, aku jadi berpikir
apa ini alasan dia memutuskan aku. Dia tidak mau nambah beban aku, atau dia
tidak mau aku terkena juga. Sejuta perkiraan dibenak, kenapa dia memutuskan
hubungan kita.
“Kita juga tidak bisa melarang Aldo keluar, dia suka
kabur. Tapi nanti pulang lagi, kita tidak tahu kemana dia pergi. Biarpun dia
terkena HIV AIDS, kita tetap merawat dia” Ujar Kakak Perempuannya, Sani.
Tiba-tiba mamanya Aldo menangis “Ini karma buat saya,
dia sejak dalam kandungan sudah mau saya buang. Saya minum obat-obatan biar
keguguran, tapi tidak berhasil. Dia tetap lahir didunia. Kalau pun sekarang dia
meninggal seperti ini, ini salah saya. Karma buat saya”
Aku semakin kaku, tubuhku tidak bisa digerakkan.
“Tante … Jujur, selama ini aku tidak pernah tahu kalau
Aldo menggunakan narkoba. Aku juga tidak tahu dimana dia biasa nongkrong dan
teman-temannya. Dia tidak pernah ngajak aku” Ujarku.
Yang membuatku kaget pas Riko cerita Aldo minta dianterin
ke Goa Maria, tapi karena keadaannya tidak memungkinkan jadi hanya Pastor yang
datang.
“Oh ya, sebelum Aldo meninggal. Dia masa minta dianter
ke Goa Maria. Cuma gw gak bisa anterin, gw panggilin pastur saja. Gw ampe jatuh
dari motor karen buru-buru” Sambil Riko menunjukkan lukanya.
Perasaan semakin tidak menentu, kepala semakin
kunang-kunang dan dada semakin sesak. Berasa susah bernafas mendengar cerita
soal Aldo dan penyakitnya.
Aku pun menghela nafas lega begitu keluarganya selesai
menceritakan semuanya. Dan aku pun pamit pulang “Tante, abang, kakak, aku pamit
pulang, sudah malam juga. Maafin aku kalau ada salah”
“Maafin juga ya kalau Aldo selama ini banyak salah
sama kamu” Pinta Kakaknya, Sani.
Oh ya, Sani ini kakak perempuan Aldo satu-satunya. Kalau
menurut Aldo, aku mirip Sani. Tapi kalau
dilihat-lihat, bener juga. Aku rada mirip kakaknya, aku juga sering dikira
kakaknya Aldo kalau dari belakang. Lucu ya.
Aku pun pulang diantar abangnya yang nomor 3, Bertand.
Dia juga pernah jadi kakak kelas sewaktu SMP dulu. Dia teman nongkrong mantan
pacar aku, Pano.
Sementara itu perjalanan yang hanya butuh waktu 30
menit itu terasa sangat lama, hati ini menjadi gelap.
Sepanjang jalan Bertand banyak ngobrol menanyakan kuliahku
dan berkata “Maafin ade gw ya kalau ada salah sama loe. Doain biar dia tenang
disana”
Aku hanya jawab “Iya”
Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa merinding. Spontan
memeluk tubuh Bertand. Aku biasa memeluk tubuh Aldo, kalau tiba-tiba merasa
merinding pas naik motor.
“Ada apa” Bertand kaget dan menghentikan motornya.
“Gw takut bang, merinding tiba-tiba. Jadi reflek meluk
loe, maaf ya. Tapi gw beneran takut, cepat jalan. Jangan berhenti, gw takut nih”
Masih memeluk dia erat.
Kemudian Bertand melajukan kembali motornya dengan
kecepatan tinggi.
***
Setelah turun dari motor, aku berucap “Makasih ya
bang, hati-hati ya”
Kemudian Bertand melajukan kembali motornya. Dia tidak
pamit dengan orang rumah karena sudah malam, tidak enak sama orang rumah
katanya.
Bertand ini abang yang paling dekat sama Aldo, dia
baik dan suka ketawa. Beda sama abangnya yang nomor satu, galak menurut cerita
Aldo. Makanya tidak heran, kalau lagi main kerumahnya terus abangnya pulang.
Pasti Aldo ngajak pulang, keluar dari rumahnya. Jadinya, aku ikutan takut sama
abangnya.
Bertand ini baru sekali kerumah, waktu itu sih mencari
Aldo yang kabur dari rumah. Biasa, berantem sama Papanya. Kebanyakan anak
lelaki pasti seringlah berantem sama Papanya.
Untungnya pas dia datang, aku lagi menyapu halaman.
Jadinya Papa aku tidak tahu, kalau dia tahu ada cowok yang datang kerumah bisa
kena omel aku.
“Na, Aldo dimana. Dia sudah 4 hari tidak pulang,
mamanya cariin” Tanya Bertand.
Aku kaget mendengarnya.
“Tidak tahu bang, dia juga tidak ada kabar beberapa
hari ini. Nanti aku coba cari tahu dia dimana” Jawabku.
“Kasih tahu dia saja, suruh pulang. Dicariin orang
rumah. Kasih tahu itu saja ya”
“Ok bang”
Lalu Bertand pamit pulang.
Selesai menyapu, aku mengambil handphone. Aku mencari
tahu dimana Aldo, ku SMS semua teman-teman dia yang kukenal. Tapi hasilnya
nihil, tidak ada yang tahu dimana Aldo.
Keesok harinya Aldo datang kerumah.
“Na … Anna” Terdengar suara dari pintu pagar rumah.
Kuberanjak dari duduk, berjalan menuju suara yang
memanggil namaku.
“Loe datang juga, darimana loe. Kabur kemana loe”
Ucapku dengan nada marah-marah.
Dia hanya diam mendengar aku marah-marah. Setelah aku
reda dari emosiku, dia berkata “Aku menginap dirumah teman di daerah Salemba.
Aku juga bantu-bantu perbaiki motor disana, jadi aku ada duit”
Aku melihatnya dengan nada kesal, nafasku naik turun
tidak menentu. Mungkin sisa-sisa amarah tadi, jadi nafas tidak menentu.
“Aku akan pulang hari ini, aku janji akan pulang”
Katanya.
“Ok, tapi pulang ya. Awas kalau tidak pulang” Ancamku.
Dia kemudian pamit pulang. Dan benar, dia pulang
kerumah.
Salahnya aku saat itu, tidak pernah bertanya kenapa
dia kabur. Ada masalah apa dengan dia. Egois ya aku, tidak pernah perduli
dengan dia. Bodo amat dengan dia istilahnya begitu.
***
Setelah aku sampai dirumah, aku mandi kemudian
rebahan. Diatas tempat tidur, aku menginggat semua cerita keluarganya Aldo. Tiba-tiba
aku jadi takut terkena HIV AIDS juga, aku ingat-ingat apa saja yang sudah kami
lakukan.
Selama kita pacaran tidak pernah melakukan hubungan
diluar batas, tidak pernah seks dan kalau ciuman juga tidak sampai gigit-git
bibir seperti di film-film. Semuanya dibatas wajar, bahkan makan saja
sendiri-sendiri. Dia tidak pernah ijinkan aku makan makanan dia, bahkan makai sendok
dia saja tidak pernah.
Semakin yakin, aku tidak terkena HIV AIDS.
Tapi rasa takut ini lebih besar akan penyakit ini, aku
pun melakukan tes HIV AIDS keesok-harinya. Bersyukur, hasilnya negatif.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba satu nama muncul
dibenakku, Robert. Ya, dia pasti tahu semua soal Aldo. Dia teman dekatnya, dia
pasti tahu.
Aku langsung menghubungi dia, tapi sayang handphone
nya mati.
Robert benar-benar hilang seperti ditelan bumi, entah
dimana dia berada sekarang.
***
Sejak kepulangan dari rumah Aldo, persoalan hidupku serasa
bertambah. Beban masalah hidup ini semakin berat, keluarga, kuliah dan sekarang
dia.
Pertanyaan-pertanyaan yang membuat hatiku kacau
kembali muncul. Aku tidak membayangkan cowok yang selama bertahun-tahun bersamaku,
ternyata pengguna narkoba dan seks bebas.
“Aarrrhhhh … Cobaan apa ini lagi Tuhan” Kesal hati
ini, ingin rasanya jedotin kepala ke tembok.
Sejenak diam mematung tanpa tahu harus berbuat apa,
pikiranku kosong. Cobaan ini terlalu berat. Lalu bertanya “Kapan gw bisa
bahagia. Kapan gw bisa seperti yang lain, bisa liburan. Bisa beli ini itu yang
kita mau”
“Aaarrrgggg …. Itu hanya mimpi bagiku”
Tiba-tiba aku merasakan kepala sebelah kanan berdenyut
seperti ditusuk-tusuk sebuah jarum. Dengan menahan sakit dikepala, aku
merebahkan tubuhku diatas ranjang dan mencoba memejamkan mata. Rasa sakit ini
sudah menjalar keseluruh bagian kepala lainnya.
Terlalu berat beban ini, cobaan ini terus datang dan takt
ahu kapan berakhir.
***
Keesok-harinya aku kerumah Robert, mencari tahu kenapa
Aldo bisa terjerumus ke narkoba. Tapi sayang, Robert tidak dirumah.
“Dammm … Kemana ini manusia, handphonenya pun tidak
aktif”
Robert menghilang tanpa jejak, terakhir ketemu pas dia
kerumah kasih kabar Aldo meninggal. Setelah itu, dia tidak muncul dipemakaman.
Padahal Aldo teman baiknya selama ini.
“Ngumpet dimana ini orang” Kataku kesal.
Dia hilang bak ditelan bumi, tidak tahu keberadaannya.
Sejak itu, aku sibuk menyelesaikan skripsi. Semester
ini harus kelar skripsiku, aku harus kerja buat bantu keluargaku. Jika tidak
selesai, beban buat orangtuaku. Apalagi yang akan mereka jual, rumah saja sudah
digadaikan ke bank.
Cobaan ini terlalu berat bagiku.
***
Beberapa bulan kemudian, kuliahku pun selesai. Aku
diwisuda. Itu artinya, aku bisa mencari kerja.
Tidak lama setelah aku mendapat ijazah, aku pun melamar
kerjaan. Aku browsing lowongan kerja dan kirim ke Perusahaan-Perusahaan. Hampir
setiap hari kirim surat lamaran, entah berapa amplop yang sudah dikirim. Hingga
akhirnya ada suatu Perusahaan menghungi untuk psikotes.
Di bulan Desember, doaku terjawab, aku diterima kerja
di Perusahaan tersebut. Tapi sayang, aku tidak bisa datang untuk tanda-tangan
kontrak kerja. Saat itu, aku sedang di kampung, ziarah bersama keluarga om aku,
Frans, adiknya Papa.
Om Frans, satu-satunya keluarga yang selama ini baik
dengan keluarga aku. Dia maupun istrinya selama ini banyak membantu, kami suka
diberikan makanan maupun uang, tidak banyak tapi bisa buat nyambung hidup. Dia
juga sering mengajak aku maupun adik-adik aku berlibur.
Dari semua sepupu yang ada, aku dan adik-adik aku
dekat dengan anak-anaknya om Frans. Mereka selalu baik, mereka juga selalu
minta adik-adik aku menginap.
Yah … Bukan rejeki aku tuk bekerja disana.
Satu bulan setelah itu, aku dapat panggilan interview
kembali. Di sebuah Perusahaan daerah Jakarta Barat. Waktu diberitahu nama
Perusahaannya, Jujur belum pernah mendengar dan aku sialnya lagi buta jalan.
Uuuuhhhfff …. Ini lah akibatnya kalau tidak pernah
kemana-mana. Aku selalu dilarang pergi jauh-jauh sama Papa aku. Kalau pun jauh
selalu diantar, tidak pernah pergi sendiri.
Papa ku itu karakternya keras, galak dan disiplin. Aku
ini sudah beberapa kali kena pukul waktu kecil. Kalau menurut Papa, aku tidak
nurut atau bandel. Ikat pinggang, sapu lidi maupun kemoceng pernah mendarat
ditubuhku. Dan anehnya, aku tidak menangis tiap kena pukul. Mama aku yang
menangis kalau aku kena pukul. Aku hanya diam saja menerima benda-benda itu
mendarat ditubuhku.
Pernah, aku pulang sekitar jam 1 malam pas pergi
bareng teman-teman, Aldo juga ikut. Aku ijin besuk teman di rumah sakit karena
operasi usus buntu. Setelah besuk, kami nongkrong di Plaza Senayan hingga lupa
waktu. Kami balik dari sana sekitar jam 23:00.
Sepanjang jalan aku ketakutan, belum pernah aku pulang
selarut ini. Benar saja, pas sampai dirumah, aku langsung dipukul dan disuruh
tidur diteras.
Itulah papa aku, selalu saja memukul jika sudah marah.
Kalau menurut dia, aku ini nakal, susah diatur.
Untung 2 adikku yang lain tidak mendapatkan perlakuan
yang sama seperti aku. Mereka justru disayang, terkadang iri melihat mereka
tidak pernah kena pukul.
Apa pun yang dilakukan Papa aku, mungkin itu bentuk perhatiannya
ke anak-anaknya.
Dan pada saat interview kerja, Papa mau anter, bahkan
dia menunggu hingga aku kelar. Tes masuk Perusahaan itu seharian, mulai dari
wawancara dengan HRD, psikotes dan terakhir wawancara lagi dengan user.
Melelahkan … Ini pertama kalinya aku interview.
Pas di interview, jujur aku tidak pernah tahu cara
bicara dengan pelanggan lewat telpon. Aku sudah pasrah tidak diterima kerja
disana.
Tapi beruntung, beberapa hari kemudian aku mendapat
kabar bagus. Aku diterima kerja di Perusahaan ini, senang dan bersyukur.
Akhirnya bisa kerja, ini pertama kalinya aku bekerja.
Keluargaku senang, Ketika memberi kabar gembira ini.
Hari pertama kerja, lagi-lagi aku diantar Papa. Sehabis
mengatar, dia mencari tahu angkutan apa yang bisa aku naiki buat pulang nanti.
Biarpun dia galak dan keras, tapi dia perduli dengan anak-anaknya. Boleh
dikatakana “Over protect”
Sejak bekerja, aku lupa akan Aldo. Aku menyibukkan
diri dengan bekerja, ditambah ada lemburan. Aku pun meminta ke atasan supaya tiap
hari bisa lembur dan dikabulkan. Lumayan uang lemburannya bisa buat beli yang
aku mau.
Setiap hari bangun Jam 04:00, pulang dari kantor jam
21:00. Begitu saja setiap hari, tidak ada waktu buat bersenang-senang.
Lembur membuatku jadi berani pulang malam, apalagi
naik patas. Dulu waktu Aldo masih ada, mana berani aku pulang sendiri. Selalu
minta jemput dimana pun, ada rasa takut. Tapi sekarang, hampir setiap hari
pulang malam.
Bahkan ketika aku dimutasikan ke bagian lain yang ada
insentifnya, tiap akhir bulan pulang jam 00:00 dari kantor naik taksi
sendirian. Maklum, tidak ada fasilitas anteran karyawan, jadi mau tidak mau
harus pulang naik Taksi.
Semakin lama, aku jadi perempuan mandiri dan
pemberani. Tidak pernah takut apa pun, termasuk pulang malam.
Mungkin aku jadi berani, karena masih merasa Aldo
selalu ada disamping. Selalu menjaga seperti janji dia “Aku akan selalu menjaga
kamu sampai kamu menemukan seseorang yang bisa jagain kamu”.
***
Hingga suatu hari, aku bertemu teman lama, Athan, di suatu
restaurant di daerah Jakarta Timur. Dia menanyakan kebenaran kematian Aldo “Na,
gw denger-denger Aldo meninggal karena HIV AIDS ya”
Aku hanya kaget mendengar pertanyaannya. Tapi aku
hanya bisa menatap wajahnya, sambil tersenyum kecil.
“Tapi loe gak kena juga kan, loe sehat kan” Tanyanya
lagi.
“Iya lah … Gw dah putus lama sama dia” Jawabku dengan
nada suara tinggi.
“Baguslah klo loe gak kena” Ucapnya.
Lalu kami pun berpisah setelah berbincang-bincang
lama.
Aku pun kembali teringat Robert, ingin cari tahu
kebenaran soal Aldo. Kenapa dia bisa jadi pengguna narkoba.
***
Tok tok tok …
Suara ketukan pintu, perlahan pintu rumah itu terbuka.
Nampak ibu Robert melonggokkan wajahnya, kemudian mempersilahkan masuk.
“Apa kabar Na, kemana saja ?” Tanya Ibu Robert.
“Baik bu, Robert ada bu ?” Tanyaku.
“Ooo … Ada, dibelakang lagi bersihin aquarimnya” Sambil
mempersilhkan aku ke halaman belakang rumahnya.
Robert itu punya usaha ternak ikan, jadi dirumahnya
penuh dengan aquarium- aquarium ikan.
Begitu melihatnya, pengen rasanya ku hajar wajahnya. Tapi
sayang tangan ini tidak reflek nonjok dia.
“Ehhh loe, kemana aja loe. Gw kesini kemarin, loe gak
ada. Bukan datang kerumah kek, terus kemana loe pas Aldo meninggal. Kenapa loe
gak datang ke pemakamannya” Ucapku dengan intonasi nada tinggi.
“Selow Na, gak usah ngengas. Santai …” Ujarnya sambil
senyum-senyum.
Melihat raut wajahnya begitu, emosiku bertambah,
“Senyum-senyum saja loe, kemana loe. Trus loe juga harus jelasin ke gw, kenapa
Aldo bisa terjerumus Narkoba”
Dan lagi-lagi, Robert hanya senyum-senyum. Melihat
itu, darahku bertambah mendidih. Rasanya ingin menyiramnya pake air panas.
“Cepaaatttttttt … Ceritain ke gw semuanya. Jangan ada
lagi yang loe tutup-tutupin, orangnya dah mampus” Pintaku.
“Ok … Gw ceritakan semuanya, tapi loe janji ya jangan
tanya-tanya lagi setelah gw ceritakan semua”
“Iye … Burruuuuuuu …”
Akhirnya Robert menceritakan kenapa Aldo bisa
terjerumus HIV AIDS.
“Awalanya dia pake tidak lama setelah bokapnya
meninggal, dia menyesal karena berantem sama bokapnya”
“Berantem sama bokapnya ? Lah … Bukannya selama ini
dia baik-baik saja ama bokapnya” Selakku
“Gak … Justru dia merasa berdosa, karena dia bokapnya
meninggal. Gw gak tau persisnya kenapa dia merasa bokapnya meninggal karena
dia. Terus, dia ditawari Ferry awalnya. Kan waktu itu Ferry juga make” Lanjut
Robert.
“Ferry teman SMP kita itu, yang rumahnya dekat
sekolah” Tanyaku.
“Iye … Awalnya dia make buat ngilangin rasa bersalah,
tapi kelamaan jadi pengguna. Tiap kali dia stress, dia pasti make”
“Dia pake jenis apa saja selama ini, siapa teman
nongkrong dia selama ini” Selakku lagi.
“Sabar … Ngengas mulu loe. Bisa diam kan loe, biar gw
ceritakan semuanya”
Aku pun diam, tidak selak dia bicara. Semakin
penasaran aku mengenai Aldo selama ini, kenapa begitu banyak rahasia dalam
hidupnya.
“Dia itu suka nongkrong di bengkel temannya di daerah
Salemba, disana teman-temannya rata-rata pada make juga. Bukan hanya narkoba
tapi dia juga seks bebas, banyak pacar dia selain loe. Tapi cintanya buat loe”
Lanjutnya.
Mendengar itu, seperti tercekik leher ini. “Seks
bebas” Ucapku pelan.
“Ya, bahkan waktu SMU ada pacarnya yang hamil terus
Aldo minta gugurin”
“Hamil … Gugurin … Gak mungkin, Aldo itu suka
anak-anak, masa dia tega minta digugurin. Jangan bohong loe” Ucapku dengan raut
wajah kesal mendengar ceritanya
“Kalau loe gak percaya, besok gw bawa kerumah tuh cewek.
Loe tanya sendiri sana, benar apa tidaknya. Aldo minta gugurin karena dia gak
mau buat loe terluka, gak mau liat loe kepikiran. Dia sayang loe, makanya dia
minta gugurin” Ucapnya dengan nada mulai meninggi.
Aku pun menantang Robert untuk anterin ke rumah cewek
itu, “Ok … Besok loe anterin gw, awas klo ampe loe bohong. Gw hajar loe”
Aku pun pamit pulang dengan suasana hati kesal,
bigung, marah, pokoknya campur-aduk.
Yang membuatku tak habis pikir adalah informasi mengenai
kebenaran soal Aldo selama ini. Bagaimana mungkin dia pengguna narkoba dan seks
bebas ? Kenapa dia tidak pernah cerita kepadaku ?
Tapi aku berpikir kembali, mungkin Aldo punya alasan tersendiri
tidak menceritakan masalahnya selama ini.
“Aaarrrrrrggghhhhhh ….”
***
Sabtu cerah sore itu menghiasi langit kala itu, aku
langsung kerumah Robert sepulang lembur. Sesuai janji, kita akan kerumah mantan
pacar Aldo yang mengunggurkan kandungan itu.
Padatnya lalu lintas membuat perjalanan ini terasa
lama, rasa penasaran hati ini bergejolak tuk mendengar kebenarannya. Kami pun
tiba menjelang malam, suasan rumah kontrakan cewek itu terlihat ramai. Rupanya disana
habis acara lamaran, cewek itu habis lamaran.
Dari kejauhan terlihat sosok cewek yang memanggil-manggil
“Robert … Robert sini”
Ternyata mantan pacarnya Aldo yang memanggil
“Hai Bet, Pa kabar ? Tumben kesini, ada apa ?” Sambut Perempuan
itu.
“Hai, Pa kabar Ella. Ini siapa ?” Tanya Robert sambil
menunjuk pria sebelahnya.
“Ooo … Kenalin ini Eko, calon suami gw” Jawabnya sambil
memperkenalkan calonnya itu.
“Ini Anna, pacar Aldo. Gw anterin dia kesini, mau
denger kebenarannya dari loe. Dia gak percaya cerita gw” Lanjut Robert.
Ella terdiam, seperti mengingat sesuatu. Ada wajah keraguan
diwajahnya. Mungkin ragu mau cerita apa tidak tentang masa lalunya.
“Please, tolong ceritakan semuanya. Gw pengen tahu
semuanya, jangan ada kebohongan lagi. Lagipula dia sudah meninggal”
“Ok gw ceritakan, setelah itu jangan tanya apa pun. Gw
hanya cerita, setelah itu jangan bahas apa pun” Pintanya.
Aku hanya anggukan kepala, tanda setuju.
“Gw sama Aldo pacaran pas kita SMU, kita sering nginep
di hotel. Kita sering melakukan seks, sampai akhirnya gw hamil. Aldo minta
gugurin karena kata dia Cuma main-main saja sama gw, dia cuma cinta loe Anna”
Ella kemudian diam, menangis. Suasana hening, semua
mata tertuju kepadanya. Tak terkecuali aku menatapnya dengan rasa iba. Pasti
berat menceritakan “aib” nya sendiri.
Lalu ku berikan tissue, “Udah tidak usah diteruskan
ceritanya, maaf ya sudah buka kembali luka lama. Maaf ya …”
Ella pun melanjutkan ceritanya “Gw tadinya gak mau
gugurin, tapi gw takut sama orang rumah. Jadinya gw gugurin juga. Setelah gw
gugurin, gak ada kabar dari Aldo. Kita putus komunikasi, dia menghilang bagai
ditelan bumi”.
“Aldo dah meninggal, loe tau gak” Tanya Robert.
“Tau, gw dengar dia kena HIV AIDS kan. Gimana tidak
kena, dia saja begitu. Panteslah kalau dia kena” Ucap Ella.
“Loe pernah ke Salemba, kerumah temannya” Tanyaku.
“Iya, disana dia sering nongkrong. Bukan hanya
nongkrong tapi nginap juga. Oh ya, Aldo juga sering beli barang disana. Dia
pemakai narkoba, loe tau gak ?” Tanya Ella
Aku hanya menggelengkan kepala artinya “TIDAK”
Mendengar ceritanya makin lemas tubuh ini, kepala
berat dan dada terasa sesak.
Setelah Ella mencerita semuanya, kami pun pamit.
Sebelum beranjak pulang, aku juga meminta maaf atas semua perlakuan Aldo selama
ini.
Sepanjang perjalanan pulang, aku mengingit bibirku
sambil merenung. Kenapa Aldo bisa lakukan itu semua. Kenapa dia tega membunuh
calon anaknya sendiri, kenapa dia lebih memikirkan perasaan aku daripada anaknya.
Ah ! Sial … Andai dia ada didepan wajahku, pengen ku
tonjok wajahnya. “Bajingan loe Do …”
Robert pun tidak berani mengatakan apa pun, dia
membiarkan aku sepanjang jalan ngomong sendiri.
***
Sehabis mandi, aku melangkah menuju lemari pakaian
bermaksud mengambil pakaian. Sebelum membuka lemari, aku berdiri dan menatap cermin
besar yang menempel di pintuya. Cermin yang memantulkan wajahku yang kusam,
kuyuh dan Lelah. Perasaan khawatir dan cemas terus menggerogoti hatinya sejak
kepergian Aldo.
Hatinya bertanya “Kenapa hidup loe sial terus sih
Anna, kapan loe bisa bahagia. Kapan penderitaan loe berakhir ?”
Setelah berpakaian, aku beranjak ketempat tidur.
Banyak sekali kejutan-kejutan yang aku peroleh, yang
membuatku ingin mencari tahu kegiatan dia selama ini. Terlambat sih, tapi aku
penasaran. Ingin tahu semuanya soal dia.
Ditambah teringat cerita abangnya soal Aldo.
“Sejak Aldo dinyatakan positif, kondisi badannya
semakin menurun. Berat badannya juga turun, dia hidup dari obat-obat yang
diberikan dokter. Tadinya mau bawa dia ke kampung, tapi mama mau merawat dia
sampai sembuh, Biarpun itu mustahil, tapi kita upayakan supaya dia tetap hidup.
Biar pun sistem imun dan memorinya sebagian sudah hilang”
Memang kondisinya menyedihkan ketika pertama kali aku jengguk.
Badannya kurus dan kakinya ada luka borok. Bukan hanya itu, teman-teman
sekamarnya juga sama. Bahkan ada yang parah, makan dari selang infus. Pokoknya
badannya seperti anak-anak Somalia yang kekurangan gizi seperti
digambar-gambar.
Bukan hanya itu, kita harus memakai sarung tangan,
masker dan pakaian APD. Aneh kan, baru kali ini jengguk harus lengkap.
Sekarang baru aku tahu, ternyata kemarin itu, mereka
semua terkena HIV AIDS. Dan rumah sakit itu khusus untuk menanggani pasien yang
terkena HIV AIDS. Pantes saja, dokter suster bahkan petugas kebersihannya
berpakaian seperti itu.
Kalau aku jadi mamanya Aldo, hancur banget tahu
anaknya mengidap penyakit HIV AIDS. Tidak tahu harus lakukan apa. Tapi mamanya
malah merawatnya hingga pergi.
Yah … Mungkin kalau orangtua lain sudah membuangnya,
tidak diakui anak lagi. Tapi ini tidak, Aldo dirawat dengan baik, bukan hanya
mamanya tapi kakak perempuannya, Siska, yang juga membantu.
Aldo itu anak bontot, anaknya iseng dan sayang banget
sama keluarga. Dia saja manggil mamanya “Mama Onyet”.
Bukan hanya itu, dia juga suka anak-anak, makanya
tidak heran kalau anak tetangga juga dekat sama dia. Dia saja pernah kerumah
naik mobil terus isi mobilnya banyak anak-anak kecil. Pokoknya dia tipe bapak
sayang anaklah.
Mungkin kalau kami jadi menikah dan punya anak, dia
yang lebih banyak urus anak.
Hahaha …
Dia juga selalu ada tiap kali aku kesusahaan, tapi
giliran aku bahagia susah dicari. Pernah listrik rumah mati, harus manggil PLN
karena rumah listriknya rusak. Sayangnya dirumah saat itu tidak ada orangtua
aku. Bigung mau ngapain, jadinya aku hubungi Aldo. Tak lama kemudian sekitar 1
Jam, dia sudah dirumah. Dia nyuruh aku masuk, dia duduk diteras sendirian. Tak
lama kemudian orangtua aku datang, baru dia pulang.
Bukan hanya itu, dia juga tidak romantis. Tiap aku
ulang tahun maupun valentine, dia tidak pernah kasih aku apa pun. Sebatang
coklat pun tidak, hanya ucapan saja. Itu pun bukan orang pertama, selalu orang
terakhir.
“Uuuuhhhfff …” Menyebalkan bukan.
Tapi baru aku tahu dari kakaknya, tiap aku ultah dia
selalu beli coklat Tobleron. Tapi karena aku sudah marah-marah, jadi dia tidak
pernah kasih. Dia bawa pulang lagi.
Kejam ya aku.
***
Aku masih mengerjakan beberapa kerjaan lain yang harus
diselesaikan beberapa hari lagi, jari-jari asyik menari diatas laptop.
Tiba-tiba, teringat Penyakit Aldo, lalu ku browsing mengenai HIV AIDS
HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang
merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4.
Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah,
sehingga rentan diserang berbagai penyakit
Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan
berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini,
kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya
Penyakit ini belum ada obat atau metode penanganan HIV
belum ditemukan. Apabila sudah mengalami AIDS, maka tubuh tidak lagi memiliki
kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan. HIV AIDS menyerang sistem
imun makanya begitu terkena akan seumur hidup terkena / tidak sembuh. HIV AIDS
mempunyai stadium, makanya begitu terkena akan seumur hidup terkena / tidak
sembuh.
HIV paling banyak penyebaran dan penularan melalui
hubungan intim yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik yang
tidak steril saat memakai narkoba.
Aku yang selama ini tidak mengerti dan tidak ketahui
apa pun soal HIV AIDS, sekarang menjadi paham.
Sejenak, ku bayangkan bagaimana dia gunakan jarum
suntik, ditusukan ke lengannya. Bagaimana dia gunakan shabu atau pun narkoba
jenis lainnya. Tidak nyangka, dia bisa menggunakan semua itu.
Sampai terbawa mimpi, ketika dia melakukan semua itu. Di
pojokan sebuah ruangan, aku melihat dia mengikat lengannya pakai sabuk, kemudian
menyuntikkan dengan jarum suntik. Setelah selesai menyuntik, ikatannya dilepas.
Aaarrgghh …. Kenapa dia melakukan itu semua. Kenapa perilaku
dia selama ini tidak menunjukan sebagai pemakai narkoba.
Bagai mendapatkan tamparan keras diwajahku, sakit.
Aku menghentikan kerjaanku, kututup laptop dan
merebahkan tubuhku diatas ranjang. Entah kenapa hati terasa kosong, hampa.
Tiba-tiba teringat cerita abangnya mengenai kondisi Aldo “Stamina Aldo semakin
hari menurun, berat badannya pun menurun drastis. Pola makan juga harus
diperhatikan, salah makan saja dia bisa buang-buang air. Kalau sudah begini,
kita bawa dia di rumah sakit. Pernah berat badannya Cuma 35 KG”
Berat badan 35 KG ? Itu artinya berat badannya turun 30
KG, hanya tulang saja. Tidak ada daging yang meyelimuti tubuhnya.
Ya Tuhan … Hanya tulang.
Itu memang benar, berat akan turun drastis jika sistem
imumnya dah memburuk.
Dari info yang ku dapat, berat badan akan turun
drastis karena imun tubuhnya tidak sama seperti orang normal. Sama seperti
teman sekamarnya waktu aku besuk dia. Kurus seperti anak disomalia, hanya
tulang saja.
Tapi pas dia meninggal, bentuk tubuhnya normal. Malah
terlihat cakep, wajahnya bersih.
Bukan hanya itu, jika sudah terluka akan lama sembuh.
Seperti jempol kaki Aldo yang waktu itu aku lihat luka nanah. Belum juga aku
bertanya, Aldo sudah menutupnya dengan selimut.
Memori ingatan dia pun waktu itu sudah menurun, tapi
senangnya dia masih ingat aku. Siapa dan nama aku siapa ? Dia ingat.
Kalau kata abangnya, orang yang terkena HIV AIDS
memori ingatannya akan perlahan-lahan hilang. Dia akan seperti anak kecil lagi,
dia hanya ingat masa lalu. Apalagi orang-orang yang dekat dengan dia selama
ini.
Pantes saja dia ingat siapa aku. Kita dekat sudah
lebih dari 10 tahun, banyak kenangan yang sudah kita buat. Apalagi aku ini
sering marahin dia, pasti melekat selalu.
Hehehe …
Tak habis pikir lagi, Aldo melakukan seks bebas dengan
siapa saja. Padahal dengan aku, dia selalu jaga, tidak pernah kurang ajar.
Pakaian aku seksi saja, dia langsung kasih jaket. Dia tidak suka aku pakaian
seksi, pokoknya dia selalu menjaga.
Kalau kata Robert, Aldo melakukan seks denga siapa
saja. Tidak pandang usia, bahkan dengan istri orang juga pernah.
Tidak percaya sih mendengar ucapan Robert, apa mungkin
Aldo melakukan itu semua.
Dia bukan bunglon yang bisa berubah-rubah kapan saja.
Ketika bersamaku kelakuannya positif, tapi ketika tak bersamaku berubah jadi
negatif.
Setelah aku pikir-pikir lagi, bisa jadi Aldo melakukan
seks bebas jika tidak sadar. Dalam arti dalam pengaruh obat-obatan. Apa pun
bisa terjadi jika sudah begitu, tidak sadar.
Jadi terbayang wajahnya, tidak bisa di pungkiri agak susah
melupakan. Rasa kehilangan ini terlalu besar, rasa bersalah ini masih mandarah
daging hingga kini.
Terkadang aku berpikir apa yang akan aku lakukan tanpa dia ? Dan aku selalu berharap bisa hidup tanpa dia.
Melupakan itu hal tersulit, biarpun sudah mencoba
berkali-kali tapi tetap saja terbayang wajahnya.
Aldo selalu memberiku dorongan kecil
dalam penerbangan kehidupan ku,
tapi aku malah terlalu cuek dan tidak perduli.
Biarpun begitu, cinta Aldo tidak pernah berkurang. Dia makin care, cintanya tidak pernah pudar.
Bahkan di keadaan yang makin memburuk, Aldo sering
ngikuti aku diam-diam. Mengawasi aku dari kejauhan.
Saat ini, aku memang bisa hidup tanpa Aldo. Tapi aku merasa kesepian, merasa dunia
murka padaku. Dan Perasaan
bersalah tersimpan.
***
Sepeninggal Aldo, Yuli lah yang menjadi tempat
curhatku. Dia bukan saja ku anggap sebagai sahabat tapi juga kakak.
Andai saja Aldo masih ada, mungkin saat ini kita sudah
menikah. Seperti sahabat aku, Yuli dan Patar. Hubungan mereka sampai jenjang
pernikahan, bahkan punya 1 anak. Dan sepeninggalan Aldo, dia jadi tempat
curhat.
“Berapa lama loe bisa hidup sendiri seperti ini, loe semakin tua. Loe butuh pendamping, loe harus berkeluarga
Anna ?” Ucap Yuli.
“Gw juga maunya begitu, kayak loe. Punya keluarga
sendiri, menikah dan punya anak. Tapi gw gak tau ampe sekarang belum ada”
“Buka pintu hati loe makanya. Jangan pikirin Aldo
mulu, dia udah gak ada. Bisakan buka hati loe buat yang lain”
Aku hanya menghela nafas, tidak tahu harus mengatakan
apa.
Iya sih, Yuli memang benar. Aku selama ini menutup
hati, ada ketakutan yang menghampiri. Selain bayangan Aldo masih ada, rasa
minder akan keadaan keluarga membuat tidak berani mengatakan suka sama cowok
yang ku suka.
Terkadang aku malu dengan kondisi keadaan keluarga
aku, rumahku yang sudah bocor sana-sini dan masa lalu aku.
Aku juga pernah beberapa kali dekat dengan cowok, tapi
tidak pernah ada rasa suka. Hanya kenal, setelah itu menghilang tak ada kabar.
Hingga suatu hari, aku jatuh cinta dengan cowok.
Namanya Chandra, dia cowok keturunan India. Dia bekerja sebagai chef di
Meulborne. Kita kenalan di Facebook, kemudian berlanjut ke whats up. Dia pernah
beberapa kali mengajak menikah sambal bercanda, tapi aku balasnya dengan
candaan juga. Tapi seiring waktu, dia menghilang tanpa kabar.
Eeeemmm … Mungkin karena kondisi keluarga aku, jadinya
dia begitu.
Setelah itu, aku tidak berani lagi menyukai cowok. Aku
menghabiskan waktu dengan bekerja, tidak ada pikiran untuk jatuh cinta bahkan
menikah.
Pengen sih menikah seperti teman-teman aku yang lainnya,
punya keluarga sendiri. Tapi rasa takut dan minder lebih besar, hanya bisa
dipendam saja.
Hingga beberapa bulan setelah jatuh cinta dengan Chandra,
aku menyukai cowok India lagi. Dia duda anak satu, Namanya Kelly. Perkenalan
kita di medsos, berlanjut lagi di whats up.
Di awal kenal, dia itu cuek. Buat aku penasaran, masa aku
inbox ucapin selamat ulangtahun, tidak dibalas.
Menyebalkan …
Hingga suatu hari, kami tukeran nomor whats up.
Sejak tukeran nomor ponsel, dia setiap pagi kasih
renungan harian. Aku semakin menyukainya, apalagi pas aku lihat anak
perempuannya.
Wajah anak itu cantik, hidungnya mancung dengan rambut
keriting. Persis seperti wajah ayahnya, duplikat ayahnya banget.
Sharon, nama anak perempuannya. Rasa sayang itu muncul
ketika pertama kali melihatnya di sosmed Kelly. Dan setiap kali, melihat postingan
anaknya seperti ada getaran.
Aku bukan jatuh cinta dengan Kelly saja, tapi juga
dengan anaknya.
Mungkin, kalau aku sudah menikah dari dulu, umur anak
ku seusia dia. Tapi sayang, sampai hari ini belum pernah menikah.
Saking cintanya sama anaknya, pernah aku kasih ucapan
selamat ulang tahun dengan background gunung. Ketika aku naik gunung Selamat, aku
membawa kertas yang sudah ada tulisan “Happy Birthday” Terus aku foto. Pas dia
ultah, baru aku inbox.
Tapi sayang, dia tidak buka inbox dari aku. Baru dibaca,
beberapa bulan kemudian. Tidak apa-apa, yang terpenting dia melihat ucapannya.
Bukan hanya itu, aku sering melihat Kelly dari
kejauhan. Aku datang ketempat kerjanya di daerah Tanah Abang.
Dan untuk kali ini, aku tidak berani mengatakannya,
memilih memendam rasa ini. Entah sampai rasa itu akan ada dihati. Tapi yang pasti
sampai hari ini pun, aku masih memendam rasa itu.
Trauma itulah yang ku rasa. Rasa takut dalam diri
tepatnya, takut dihina. Apalagi keluargaku bukan orang kaya, seperti
keluarganya.
Kita seperti bumi dan langit yang tak akan pernah bersatu.
Dia saja kalau berlibur keluar negeri bersama anaknya.
Dan kalau sudah begini, aku menanti uploadan foto mereka bersama. Ini lah yang
paling aku suka, melihat kedekatan mereka. Ada perasaan iri ketika melihat
mereka bersama, mungkin karena aku tidak pernah sedekat itu dengan Papa aku.
Pendam perasaan kepadanya, itulah pilihanku saat ini.
Aku juga tidak mau patah hati lagi, tidak mau
kehilangan lagi. Cukup aku kehilangan Aldo dalam kehidupan aku, orang yang aku
sayang.
Ini
semua salah aku, aku kehilangan segalanya. Harga diriku, kebahagianku. Aku
mencintaimu. Dan aku berharap suatu hari nanti, ada seseorang yang seperti
dirimu. Seseorang yang bisa mencintaiku apa adanya, seseorang yang bisa
membuatku tergantung kepadanya.
***
Semua
orang punya masa lalu, tapi hanya sedikit yang bisa melihat dibaliknya. Seperti
masa lalu aku dengan Aldo, akan jadi kenangan. Apa pun yang terjadi dengannya,
dia telah jadi masa lalu ku.
Dan kisah kita akan seperti dogeng karena
kamu bagian dari perjalanan kehidupanku. Cintamu memiliki efek dalam perjalanan
hidupku. Tapi kita
tak ditakdirkan untuk bersatu
karena tak
setiap kisah cinta berakhir bahagia.
Andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya mau
berkata "Do, aku minta maaf. Tidak bisa mengerti akan dirimu selama
ini. Maaf, tidak ada disampingmu disaat kamu membutuhkan seseorang. Jika dulu,
aku tidak egois. Pasti kita akan bersama, tidak seperti sekarang. Terpisah, tak bertemu selamanya lagi”
Terima
kasih, kau telah menerangi duniaku. Kita tidak pernah terpisah, kamu selalu ada
disampingku biarpun tak terlihat. Kamu selalu menjagaku, itu yang selalu kau
katakan. Kaulah yang menerangi duniaku.
Perjalanan
hidupmu berakhir, tetapi perjalanan hidupku masih terus berjalan. Itu akan jadi beban terbesar hidupku.
Aku
mencintaimu. Dan aku berharap suatu hari nanti, ada seseorang yang seperti
dirimu. Seseorang yang bisa mencintaiku apa adanya, seseorang yang bisa
membuatku tergantung kepadanya.
Semoga kamu bahagia disana.
***