Sunday, September 2, 2018

Aku Ingin Bahagia

Aku Ingin Bahagia 
Dorkas Manroe

Keluarga merupakan tempat seorang anak mendapatkan kasih sayang. Itulah yang sering kudengar. Tapi sejak kecil aku tidak merasakan kasih sayang itu dari orangtuaku. Sejak kecil, aku selalu kena marah dan pukulan dari papaku. Kalau aku ada masalah, papaku akan marah tanpa menanyakan masalahnya apa. Baginya aku selalu membuat masalah.

Aku iri kalau melihat teman-temanku yang selalu dicium dan dipeluk papanya. Sejak kecil aku tidak merasakan itu, sejak kecil aku hanya merakan omelan dan pukulan. Rotan, sapu lidi, ganggang sapu dan ikat pinggang pernah kurasakan.

Itulah yang membuatku menjadi anak yang tertutup kepada orangtuaku, kalau ada masalah aku selesaikan sendiri. Jangan sampai orangtuaku mengetahuinya.

Aku pun tumbuh menjadi anak yang galak, pemarah, sombong, angkuh dan pendendam. Bahkan dengan orangtuaku pun, aku menyimpan akar kepahitan. Mungkin karena ini, hidupku seperti neraka. Panas hati, tidak ada ketentraman jiwa. Tapi aku tidak perduli, hingga suatu saat aku tertimpa masalah besar. Dan inilah yang membuatku berubah menjadi lebih baik.

"Kamu jadi mau resign Juli" Tanya atasanku
"Jadi Bu, saya sudah fix resign" Jawabku dengan yakin

"Ya sudah kalau itu sudah kemauanmu" Ujarnya.

Kemudian dia menanda-tangani surat resignku. Setelah itu, aku meminta tanda-tangan bagian lain yang merupakan bagian dari proses sebelum resign.

Dua bulan bukan waktu yang lama, dikantorku ini. Untuk resign harus mengajukan 2 bulan sebelumnya agar hak-hak kita dibayarkan. Sayang uang BPJS-nya kalau tidak bisa cair. Maklum sudah 10 tahun bekerja jadi sayang uangnya kalau tidak bisa diambil.

Jujur sebenarnya sayang resign tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Lelah, capek dan bosan yang kurasakan. Apalagi sejak dimutasi ke Departemen lain, seminggu sebelum akhir bulan bisa pulang Jam 23:00. Dan besoknya harus bangun Jam 05:00. Belum lagi jarak antara Rumah ke Kantor, Pondok Kopi-Grogol. Kebayang dunk, macetnya. Maklum, lagi banyak pembangunan. Badan rontok setiap hari begitu.

Waktu yang ditunggu pun tiba, resign times. Aku pamit dengan seluruh teman, team dan atasanku. Jujur, tidak ada rasa sepi atau menyesal.

"Teman-teman maafin ya kalau aku ada salah baik sengaja maupun tidak sengaja" Kataku.

"Ya sama-sama Juli" Ujar salah satu temanku.

Oh ya, aku resign tanpa meminta pertimbangan orangtuaku. Mereka pasti tidak akan setuju apa pun alasannya. Apalagi Papaku, baginya dia yang benar. Tidak permah selama ini aku yang benar, selalu aku yang salah dan tidak tahu apa-apa.

Keesok harinya aku tetap bangun pagi, berangkat seperti biasa. Agar orang dirumah tidak tahu aku resign. Aku pergi mencari pekerjaan, dari satu perusahaan ke Perusahaan lainnya. Tapi hasilnya nihil, tidak ada yang mau terima aku.

Selama 6 bulan aku lakukan seperti itu, ternyata cari pekerjaan itu susah. Tidak ada koneksi, susah masuk. Rasa penyesalan, uang dari hasil BPJS sudah menipis. Putus harapan sudah, tapi aku pendam semuanya sendiri.

Ketika putus harapan, disore hari ponsel berbunyi 

"Hallo... Bisa bicara dengan Mba Juli"

"Ya, saya Juli. Ini darimana ya?"

"Mba, saya Maya dari PT. Mitrakerjasama ingin mengundang mba untuk interview besok Jam 09:00 di daerah Kuningan. Apakah bisa" Tanyanya

"Bisa Bu, besok saya bisa kesana" Jawabku dengan cepat

"Baik bu, saya akan kirim undangan untuk interview besok. Tolong dibalas ya, kami tunggu kehadirannya besok" Ujarnya.

Hatiku rasanya senang mendengar kabar tersebut, berharap semoga besok aku diterima kerja. Esok harinya, aku datang lebih awal dari Jam yang diminta. Aku tidak mau terlambat, prinsipku dari dulu "Lebih baik datang lebih awal daripada terlambat".

Semua proses aku jalani, mulai dari psikotes, interview HRD sampai interview user. Seharian aku jalanin proses penerimaan karyawan dan aku disuruh menunggu seminggu lagi. Aku tidak terlalu berharap banyak, pasti gagal lagi.  

Tapi ternyata dugaanku salah, kali ini aku diterima. Ya, aku diterima kerja. Akhirnya selama 6 bulan, aku bekerja kembali.

Hari pertama aku kerja, aku "terjun bebas" dalam arti tidak diberikan trainning apa pun. Aku harus mencari tahu semuanya sendiri, aku harus tahu produknya apa saja. Bagaimana prosesnya kerjanya, pokoknya harus sendiri. Aku jadi bigung, apa yang aku harus lakukan. Belum lagi teamnya yang tidak disiplin, ada makanan dimeja. Ngobrol dan ketawa ngakak dijam kerja. Pokoknya beda banget dengan team aku sebelumnya.

Tempatku berkerja, perusahaan baru. Jadi untuk proses kerja dan semuanya belum sempurna. Agent hanya diminta call 1 kali saja tanpa ada penggulangan data, sehingga kalau data habis mereka hanya duduk sambil ngobrol dan makan. Belum lagi disiplin kehadiran mereka, terlambat dan tidak masuknya. Pasti ada saja yang tidak masuk setiap harinya dan dengan gampang mereka mengatakan "Ganti hari bu minggu depan saja". Adehh.. Bukan hanya aku yang kesal, tapi atasanku juga sama.

"Mas, anak-anak disini kok disiplinnya parah banget ya.. Bagi mereka terlambat biasa saja. Sudah dilakukan apa saja ke mereka" Tanyaku kepada salah satu rekan kerjaku.

"Mereka memang begitu mba, susah diberitahu berkali-kali" Jawabnya

"Ada buktinya gak kalau mereka sudah dicoaching?" Tanyaku kembali
"Tidak ada mba, mereka dipanggil lisan saja".

Eemmm.. Pantes saja mereka tidak berubah, sesuka mereka. Tidak bisa dibiarkan ini, harus dirubah pola pikir mereka, aku saja bisa datang jam 07:00 masa mereka telat.

Keesok-harinya, pada saat briefing aku katakan dengan keras bagi siapa saja yang terlambat akan kena "Surat Cinta" dan bayar Rp 5.000. Aku pikir akan berubah, ternyata tidak loh. Masih saja ada yang terlambat. Dan di briefing selanjutnya aku makin ketat dan galak dengan namanya kehadiran. 

Aku pikir mereka akan berubah tapi mereka malah menolak, seperti magnet. Sisi positif bertemu sisi negatif, makin kuat perlawanan mereka. Apalagi disana ada yang "dituakan" karena adik dari salah satu manager disana.

Aku diskusikan dengan atasanku, aku katakan kenapa disiplin mereka parah. Ternyata atasanku membenarkan disiplin mereka parah dan meminta aku membuat disiplin. Adehh... PR banget ya, aku pikir masuk sudah enak.. Tinggal urus report kerjaan, ini malah harus buat membenahkan dulu attitude team.

Berkat saran dari kawan, Jey, aku memanggil satu persatu mereka. Tanya satu prrsatu mau mereka bagaimana dan tujuan mereka bekerja untuk apa. Dan Puji Tuhan, berhasil. Mereka berubah perlahan-lahan. Anak-anak yang tidak bisa mengikuti aturan perlahan mengundurkan diri sendiri atau "muntaber" (mundur tanpa berita)".

Akhirnya aku dapat menyesuaikan diri dengan mereka. Perubahan pun terjadi, attitude mereka menjadi lebih baik. Bahkan aku dipanggil "Mami" oleh salah satu team. Sejak saat itu, aku bukan dipanggil Bu atau Mba tapi "Mami".

Kami pun menjadi akrab bahkan seperti keluarga. Kalau ada yang ulangtahun, patungan beli kue dan kado. Makan-makan diluar, tapi bayar masing-masing. Itu yang kami lakukan dan jujur ini pertama kalinya aku seperti ini. Dikantorku yang dulu, belum pernah seperti ini.

Satu masalah persatu masalah dalam hidupku dapat kuselesaikan, tentu dengan bantuan beberapa teman. Salah satunya Jey, dia yang selalu memberikan solusi dan nasehat setiap kali aku curhat. Kami berkenalan didunia maya dan belum pernah bertemu. Tapi kami seperti sudah berkenalan bertahun-tahun. Entah apa rencana Tuhan, tapi yang pasti dia dikirim Tuhan untuk membimbing aku menjadi lebih baik.

Masalah satu selesai, muncul lagi masalah yang baru dan inilah puncak dari kehancuran hidupku. Aku terlilit hutang banyak, sampai 8 jutaan. Tidak ada tempat buat aku pinjam, atas saran Jey aku mengatakan kepada kedua orangtuaku. Dan seperti biasa, pada saat aku katakan mereka marah besar dan memaki aku.

"Otak kau dimana, kau resign dari kantormu hanya karena capek. Kau sekarang punya hutang, darimana kau belajar itu" Ujar Papaku sambil marah-marah

"Prak.." Pukulan mendarat ditubuhku. Beberapa kali aku rasakan, tapi aku tidak merasakan sakit. Mungkin karena sudah terbiasa. Aku hanya menangis dan menyesal.

Berkat bantuan adikku, hutangku yang 8 juta itu bisa dilunasi. Tapi sebenarnya aku masih punya banyak hutang lainnya, aku hutang diaplikasi pinjaman online. Aku pikir bisa aku atasi yang lain denga gajiku. Biarlah aku simpan sisa hutang yang belum aku lunasi. Ada rasa ketakutan yang kurasakan, aku tidak berani jujur.

Tiga bulan setelah kejadian itu, muncul masalah baru. Kontrak kerjaku diputus dengan alasan efisiensi karyawan dan aku salah satunya. Perasaan campur aduk ketika aku mendengar hal itu, baru enam bulan bekerja sudan dipecat saja. Isi kepala mau pecah memikirkan hutang yang banyak.

Hal ini aku simpan sendiri, aku tidak katakan kepada orangtuaku. Aku seperti biasa layaknya pergi dan pulang kerja. Biar mereka tidak curiga, aku juga mencoba pinjaman sana sini untuk melunasi. Lelah dan capek kalau terus menerus seperti ini, gaji habis untuk membayar hutang. 

Ternyata sulit, tidak ada yang mau memberi pinjam. Teman yang kaya pun tidak dapat memberikan pinjaman dengan alasan "Banyak kebutuhan" Bukan hanya itu saja, ada yang hanya membaca saja tanpa respon.

Ternyata benar "Teman itu banyak ketika kita ada uang, tapi ketika tidak ada uang teman itu akan menjauh" Dan aku merasakan hal ini. 

Hingga suatu hari, pada saat aku ingin meminjam uang dari salah bekas teamku yang kebetulan dia suka meminjamkan uang mengatakan bahwa pada saat aku jadi atasannya sikapku terlalu arogant, angkuh. Aku bisa naik jabatan karena "Nurut apa kata atasanku". 

Hal ini membuatku menjadi merenung. Setelah kurenungkan, ternyata benar aku ini terlalu "Hitler".

Sebulan keliling mencari pekerjaan dan pinjaman. Dan akhirnya aku diterima di salah satu perusahaan didaerah Meruya, lebih jauh daripada kantorku pertama. 

Tapi tidak apa-apalah yang penting kerja, ada pemasukan setiap bulan. Masalah pekerjaan teratasi, tapi masalah hutangku dipinjaman belum dapat diatasi. Aku menyerah dan lagi-lagi aku harus katakan ke orangtua aku tentang aku diberhentikan dan hutangku.

Dan seperti biasa, papaku tambah marah. Bukan hanya itu saja, pukulan demi pukulan aku terima. 

"Otak kau dimana, selalu berulah. Kemana uang kau selama ini, buat apa uangnya. Ke lelaki mana uangnya kau beri, ayo jawab... Jangan nangis, biar kita kerumahnya.." 

Aku hanya bisa diam sambil menunduk, membisu dan menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan, tidak ada yang lain. Perasaan bersalah yang kurasakan, andai waktu itu aku jujur semuanya. Pasti masalah ini sudah kelar waktu itu. Tapi karena rasa ketakutan, jadi tidak kelar masalahnya. 

Bukan hanya itu, Jey pun marah besar. Dia marah karena kelakuan aku yang dianggap tidak dewasa, tidak bisa menyelesaikan masalah.

"Umur kau saja yang tua tapi kelakuan kau tidak dewasa. Kau sudah dikasih solusi, tidak dengar. Mau gimana lagi supaya kau berubah !!!! " 

Dia pun menjauhi aku, sikapnya berubah. Tidak aku chat hanya dibaca, aku bigung melihat perubahaan sikapnya. Hingga suatu malam, kami bertengkar hebat.

"Kamu kenapa berubah, apa salahku" Tanyaku

"Apa salah kau, masih kau tanya. Otak kau dimana? Kau punya otak buat dipakai" Jawabnya dengan kesal

"Apa karena aku punya hutang banyak jadi kau tidak mau berteman dengan aku" Tanyaku kembali

"Sudah ya, mulai sekarang kau jangan hubungi aku lagi. Sudah malas aku berteman dengan kau. Kau paling benarlah Juli" 

Sejak saat itu, Jey menghilang dari kehidupan aku. Dia tidak ada kabar beritanya dan aku tidak mencari tahu keberadaannya. Aku takut dengan kemarahannya. 

Disaat aku terpuruk begini, dia malah menghilang. Tidak ada lagi yang kasih support dalam kehidupanku, dia lah satu-satunya teman yang menurut aku jujur. Dia seperti ini karena sudah lelah dengan kelakuan aku.

Masalah dalam hidupku tidak berhenti sampai disana, hutang-hutangku belum lunas. Semakin hari bertambah karena bunga dipinjaman online setiap hari. Bunga yang dikenakan aplikasi pinjaman online tidak sama dengan bunga bank. Terlambat bayar, ada bunga setiap harinya. Ini melebihi rentenir bunganya. Kenapa Pemerintah tidak mengatur mengenai bunga bank di Fintech (Financial Techonology) kerennya sih "Pinjaman Online".

Buntu, itu yang kurasakan. Kemana lagi harus pinjam. Orangtuaku juga mencari pinjaman sana sini tapi tidak dapat. Setiap aku dirumah, papa selalu marah-marah. Bagiku rumah seperti neraka, panas. Tidak ada kedamaian 

"Bagaimana ini masalah hutang kau" Tanya papaku.

Aku hanya menggelengkan kepala dengan arti tidak tahu. Rasa bersalah dan berdosa kepada mereka. Kenapa aku bisa lakukan hal bodoh seperti ini. Papaku benar, kesombong dan keangkuhanku yang membuat hancur. Aku tidak boleh menyesal, itu semua salahku. 

Aku teringat kata Jey "Aku mau kau seperti aku, bangkit dan berusaha maju sendiri" 

Aku jadi merindukan Jey, sahabat dan abang yang selama ini support dalam semua hal. Biarpun kata-katanya pedas tapi itu bentuk kasih sayang dan perhatian dia. "Jey... I Miss u".

Papaku melaporkan mengenai ketentuan bunga diaplikasi pinjaman online ke Lembaga yamg mengatur keuangan negara tapi hasilnya tidak ada. 

"Pak, kami tidak mengatur untuk mekanisme proses peminjaman dan bunga yang diberikan kepada nasabah. Itu sudah ketentuan dari mereka. Seharusnya anak bapa membaca dengan baik apa yang tertera sebelum meminjam" Kata salah satu karyawan dilembaga tersebut. 

Akhirnya kami mendapatkan pinjaman dari salah satu keluarga. Dan aku harus mencicil tiap bulan selama 2 tahun. Bukan waktu yang lama, tapi aku harus lakukan. 

Aku pun berubah menjadi lebih baik, merubah sikap aku yang pemarah, angkuh, sombong aku tinggalkan. Aku menjadi manusia baru, bahkan no ponsel aku rubah. Dengan harapan, sifat dan karakter aku yang dulu tidak ada tahu.

Hobiku menulis kusalurkan dalam sebuah blog atas saran temanku. Aku menulis cerita apa saja agar bisa menjadi semua cerpen, dengan harapan suatu hari salah satu tulisanku bisa dijadikan sebuah film. Kalau sekarang, biarlah kutulis dalam blogku. Lalu ku share kedunia maya, facebook dan Twitter. 

Tapi jauh dilubuk hatiku, ada kerinduan akan sosok Jey. Pria yang kukenal didunia maya, yang selalu ada disaat aku susah. Yang tidak pernah bosan membimbing aku untuk lebih baik. Kemarahan dia karena perbuatan aku. Tapi suatu hari nanti aku berharap bisa ketemu dia, aku ingin meminta maaf. Rindu saat-saat bisa komunikasi dengan dia. 

Hubunganku dengan papaku menjadi lebih baik, aku jadi terbuka dan berani berkata jujur. Dan aku mendapatkan promosi dikantor. 

The End

\








Thursday, August 30, 2018

Cinta Bayangan

Cinta Bayangan
Dorkas Manroe

Kata orang jatuh cinta itu memabukkan, awalnya sih aku tidak percaya. Sampai aku mengalami sendiri. Jatuh cinta itu bahkan bisa melakukan apa pun, hal tergila pun bisa dilakukan demi cinta. Seperti perjalanan cinta yang pernah aku alami ini. Aku melakukan berbagai cara untuk bisa dekat dengan dia, boleh dikatakan tindakan kriminal karena melanggar Undang-Undang IT. Aku membuat akun palsu dan menggunakan foto dari akun tersebut dari akun orang lain yang tidak aku kenal. 

Gila ya kedengarannya, kok bisa aku melakukan itu. Entahlah, mungkin itu yang bisa dikategorikan cinta memabukkan berbagai cara dilakukan. Dan sekarang aku menyebutnya “Cinta Pada Bayangan”.

Aku pernah jatuh cinta pada sosok yang belum pernah aku temui sebelumnya, perkenalan kami didunia maya, Facebook. Media maya yang satu itu katanya tempat untuk menambah teman atau jodoh. Banyak dari pengguna akun yang pacaran dan akhirnya menikah. 

Begitu juga aku, perkenalanku pada sosok Pria keturunan India Medan tidak disengaja. Kami pun tidak tahu siapa yang meminta pertemanan terlebih dahulu, tapi yang pasti kita sudah berteman.

Awal pertama kita tegur sapa pada saat dia upload masakan Italia diakun Facebooknya "Hi Uncle, sepertinya enak. Apa nama masakannya?" Kommentku difoto tersebut
"Spaghetti con frutti di Mare" Balas komment dia

Ya, mungkin itu awal kita komunikasi. Tapi setelah itu, kami tidak ada komunikasi apa pun. Biarpun aku lihat dia beberapa kali upload foto, tapi tidak satu pun aku komment. 

Hingga suatu hari, aku iseng membuka ponselku. Pada saat aku membuka akun facebook, foto yang pertama kali kulihat foto dia. Lalu aku iseng membuka akunnya, aku check isi statusnya dan foto-fotonya. Ooo... Rupanya dia seorang Chef di Meulborne. Aku mulai memberikan "Like" disemua fotonya. 

"Hi Uncle Handen, Apa kabar? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Itulah pesan pertamaku diakun "facebook messagernya" 

"Hi, kita belum pernah kenal dan bertemu. Salam kenal, nama kamu Lala ya" Bunyi balasan pesannya. Baru dibalasnya setelah 2 hari kemudian.

Dan kebetulan pada saat dia mengirimkan pesan, aku lagi tidak ada kerjaan. Ketika bunyi pesan facebook berbunyi, aku bisa langsung membalasnya "Hi Uncle, Salam kenal. Uncle Chef ya. Wah... Jago masak nih, masakan Uncle enak-enak. Minta resepnya?"

Diluar dugaan, aku pikir dia akan memberikan resepnya ternyata balasan pesannya "Hi, browsing saja. Sekarang banyak kok resep masakan disana. Ada yang sulit, ada yang simple" 

Dalam hati, sombong banget tidak mau berbagi resep. Takut kali resep restorannya diketahui orang. Setelah itu aku tidak membalas kommentnya dalam jangka waktu lama. 

Aku baru mengirimkan pesan di Facebook messagernya pada saat malam tahun baru "Happy New Years uncle, semoga kedepannya kita diberikan berkat dari Tuhan"

Dia baru membalasnya sekitar 7 Jam "Amin... Happy New Years too for u" 

Komunikasi kami pun berlanjut setelah itu dan seperti biasa berujung pada tukeran nomor Whats Up (WA) "Boleh minta no WA kamu La, biar enak kita ngobrolnya" Kata dia.

"Ok, 081354226444474 itu no aku uncle. Jangan lupa disave ya" Kataku

Setelah itu, komunikasi kita pun beralih ke WA. Hampir setiap hari kami berkomunikasi, aku jadi semakin mengenal dia. Orangnya lucu dan suka selfie loh, hampir semua fotonya dikoment teman-temannya. Lucu-lucu koment soal dia, sepertinya dia objek yang enak buat dibully. Hahaha... 

Dia paling tidak suka dipanggil uncle, jadi aku memanggilnya "Anne" (Dalam Bahasa India yang artinya Abang). Dia bekerja sebagai Chef disalah satu Restaurant di Victory Meulborne. Awalnya dia tidak bisa memasak sama sekali, untuk masak nasi di rice cooker pun tidak bisa. Padahal simple dan mudah. Dia hanya bisa masak mie dan air panas, hahaha... Kalau itu semua juga bisa masak. Sudah 3 tahun dia tinggal dan bekerja disana. Dia meninggalkan Jakarta dan keluarganya demi merubah hidup dan melupakan masa lalunya. Rupanya dia "Duren" (Duda Keren) tanpa anak. 

Untuk sampai kesana, dia menggunakan salah satu agent di Jakarta dengan modal Rp 90 Juta serta mempunyai tabungan minimal Rp 150 Juta. Wah... Ketat sekali Peraturan untuk tinggal dan bekerja disana. Eeiitss... Semua biaya itu, untuk sekolah Hospitaly (Perhotelan Pariwisata), kursus Bahasa Inggris selama 3 bulan dan pengurusan Passport dan Visa. Untuk Visa yang dia gunakan Visa Pelajar. Yang membuatku tidak percaya, pada saat dia memutuskan untuk hijrah ke Meulborne, dia tidak bisa Bahasa Inggris ataupun keahlian lainnya. Jadi modal nekad, yang penting berangkat. Hahaha...

Sejak saat itu, kita jadi sering berkomunikasi dan sesekali Video Call. Tapi rasa sayang itu belum muncul biarpun kita sering berkomunikasi. Bahkan ketika kita bercanda untuk segera menikah, dia malah mengatakan "Lala saja jadi istri aku, mau tidak" 

Ajakan itu tidak aku anggap serius, hanya candaan "Ya ne, kita baru kenal dan belum ketemu, masa sudah mau ajak nikah. Nantilah.."

"Ya sudah kalau tidak mau, aku cari yang lain nih" Ujarnya dengan nada kesal.

Sejak saat itu, dia mulai berubah. Jarang WA, aku seperti kehilangan sesuatu. Jujur sejak ada dia, hari-hariku jadi lebih bervariasi. Seperti ada pacar yang bisa aku perhatikan, biarpun pacar didunia maya karena kita belum pernah bertemu. Dia juga aku jadikan alasan untuk resign karena sudah tidak kuat dengan atasan yang hampir setiap hari marah-marah dan tidak ada ketenangan hidup. Namanya hari off atau cuti tidak ada. Ponsel harus stand by 24 Jam, tidak boleh mati dan tidak boleh habis kuota. Bunyi ponsel baik telp maupun WA harus dicheck, tidak boleh diabaikan. Kalau kata atasanku "Kalau masih mau kerja, jangan coba-coba ponsel kamu mati. harus stand by" Hahaha... Seremkan kan tuh.  

Aku memutuskan resign dengan modal nekad, belum mendapatkan pekerjaan tapi sudah resign karena tidak kuat dengan cara kerja atasanku. Sejak aku resign, Handen pun seperti tidak ada kabar. Aku mulai gelisah dan rindu sama dia. Itu kali yang namanya, sayang datang pada saat sudah kehilangan. Aku baru mulai sayang pada saat dia tidak ada kabarnya. Beberapa kali aku mengirimkan pesan tapi cuma dibaca, tidak dibalas. 

Hingga suatu hari, timbul ide untuk membuat akun palsu. Akun membuat akun dengan nama "Carina Ammu" Carina dari nama anak temanku dan Ammu nama mantan istrinya. Dan untuk foto yang aku taruh diakun tersebut, foto perempuan India yang tinggal di India bernama Ratika. Paras wajahnya cantik, rambutnya hitam panjang dan hidungnya mancung. Pokoknya persis seperti orang India. Diakun tersebut, aku buat dia tinggal di Jepang. 

Setelah itu aku meminta pertemanan dari akun facebook yang lain, salah satunya akun dia dan sepupunya. Tadinya aku membuat supaya bisa monitor kegiatan dia apa saja, foto apa yang dia upload. Tapi ternyata malah membuat dia jatuh cinta pada sosok Ratika.

"Hi, Who are u" Tanyanya dipesan facebook

"Carina Ammu... Dont u look my name there" Balas pesanku

"I know u Carina, i means do u know me?" Tanyanya kembali

"No, i dont know u. If u dont know me, u can remove me. Simple" 

"Its ok, do u want to be my friend" 

"Ok"

Itulah pertama kalinya, Aku berkomunikasi dengan dia sebagai Carina Ammu. Dan sejak saat itu, dia semakin sering mengirim pesan. Seperti pesan ucapan selamat pagi, sudah makan belum dan masih banyak lagi. Agak sedikit lebay seperti ABG ya, hahaha...

Oh ya, komunikasi kita hanya di Pesan Facebook. Tiap dia minta No WA tidak aku berikan, bahkan ketika dia minta video call sejuta alasan aku berikan. Aku takut kebohonganku terbuka dan kehilangan dia. 

Hingga suatu hari, dia marah karena aku sering memanggil dia "Old Man" alias Lelaki Tua. Aku suka saja memanggil dia begitu karena umurnya sudah tidak muda lagi, sudah 47 Tahun. Jadi pantas dunk aku memanggilnya itu. 

"Old Man.. Old Man.. I dont like u always said old man.. I know im old but u cant call me that" Katanya dengan kesal

"If u dont like, dont send me message again. Ok, deal" Jawabku dengan nada tinggi.

Sejak kejadian itu, dia tidak menghubungi aku selama 3 hari. Aku pun tidak kirim pesan, ngengsi dunks. Hahaha...

"Hai.. How are u, where are u" Itulah pesan yang dikirimnya setelah berhari-hari tanpa kabar. Dan seperti tidak ada masalah diantara kita

"Hai, Im fine. Tks" Balas Pesanku

Dan komunikasi kita seperti biasa kembali. kadang aku tidak mengerti dia bagaimana, kadang marah kadang baik bahkan bawel. Pokoknya suka-suka dialah. 

Hingga suatu hari, dia melamar aku. Entah dia gila apa sinting bisa melamar perempuan tanpa dia ketahui siapa dia sebenarnya. Tapi demi biar bisa dekat dia, aku mengiyakan untuk menikah dengannya.

Selama kita berkomunikasi, aku katakan bahwa Carina tinggal di Jepang,  ayahnya India dan Ibunya Jepang. Dia lahir di Ambon karena Neneknya Ambon, pernah sekolah di Singapura dan sekarang menetap di Jepang. Dia seorang fotografer yang hobinya keliling dunia.

Sejak saat itu, komunikasi kita semakin dekat. Bahkan bisa tiap detik dia kirim pesan. Apa yang dia lakukan diberitah, masakan apa yang dia buat pun dia foto dan kirim. OMG... Aku merasakan aura kebahagiaan dari dia. Hingga suatu hari aku mengatakan suatu kejujuran.

"Honey, i want to tell u something. But Promise dont angry Ok" 

"Ok, tell me whats that" Katanya

"Aku bisa bicara Bahasa Indonesia" Ujarku
Dan apa yang kudapat, dia tertawa kencang. Dia senang karena tidak perlu repot bicara Bahasa Inggris. Biarpun dia sudah 3 tahun tinggal disana, Bahasa Inggrisnya masih parah tapi tidak parah-parah banget sih. 

Dengan cara ini, aku banyak tahu tentang Handen. Lebih tepatnya pribadi Handen, dia anak ketiga dari empat bersaudaranya. Ammanya (Bahasa India artinya Mama) tinggal di Jakarta. Dia duda cerai karena mantan istrinya CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) dengan mantannya ketika dia sedang di Medan. Eeemm... Jadi alasan dia hijrah ke Meulborne karena ingin melupakan masa lalunya. Dia menjual Apartemennya dan menjadikan modal untuk kesana, berjuang hidup dari 0.

Wow... Mendengar kisah hidupnya membuat aku semakin cinta. Biarpun dia sudah berusia 47 tahun, tapi terlihat masih muda. Mungkin gaya berpakaian dia yang seperti anak muda membuat dia awet muda. Kerutan diwajahnya pun tidak terlihat, mungkin karena dia sering menggunakan krim malam. Pertama kali mendengarnya aneh, tapi begitu tahu alasan kenapa dia menggunakan krim jadi tidak aneh. 

Setiap hari, dia kirim foto. Dan setiap foto yang dia kirim, aku selalu bisa melihat detail. Seperti pertama kali dia kirim foto, dilengannya banyak luka "Ne, itu lengan kenapa ? Banyak goresan"

"Kok kamu bisa lihat ya, aku saja tidak bisa lihat dari foto yang kukirim" Tanya heran.

"Ya dunks, aku kan cinta jadi bisa lihat detail. Hehehe..." Ledekku

Bahkan celana dalam yang baru robek dikit pun aku bisa tahu. Intinya setiap detail tentang dia, aku bisa lihat. Sampai dia berkata "Kamu teliti juga ya, jadi aku tidak bisa berbohong"

Hubungan kami semakin erat dan aku semakin cinta. Bahkan setiap bangun Pagi dan mau tidur, kami selalu berdoa bersama. Urusan pakaian pun dia bertanya setiap hari, pakaian mana yang cocok sama dia. Dia kirim fotonya dan aku harus memilih mana yang cocok. Dia seperti itu karena pernah suatu hari, dia menggunakan celana pendek kotak-kotak berwarna kuning dan kemeja kotak-kotak berwarna merah hati. Dan aku meminta dia mengganti celananya dengan jins. Sejak itulah dia mulai bertanya soal pakaian kalau mau pergi, sudah seperti istrinya kan aku. 

Dia juga tidak segan-segan memberitahu sudah berapa tabungan dia. Bahkan lebih parahnya kita beberapa kali melakukan hubungan seks phone. 

"Honey... Aku mau mengatakan sesuatu tapi janji jangan marah ya" Katanya

"Ya... Ada apa?" Tanyaku

Dengan suara pelan dia mengatakan "Handen bangun nih"

"Aaahh... Siapa Handen Junior, anakmu" Tanyaku bigung

"Bukan Honey, tapi kotekku (Bahasa India Artinya "Barang Laki-laki)" Jawabnya malu.

"Kok bisa bangun" 

"Ya, aku nafsu lihat wajahmu"

Entah karena sayang atau nafsu juga, kami melakukan seks phone. Aku ikuti instruksi dari dia. Apa saja yang harus aku lakukan. Dia suruh merintih, aku pun merintih. Dia suruh aku berdesah, aku pun mendesah. Maklum ini pertama kalinya aku melakukan ini. Bahkan dia mengirimkan foto "Handen Junior" bangun dan pada saat spermanya keluar.

"Ini calon anak kita, dibuang begitu saja. Burulah kita nikah, biar bisa menghasilkan anak. Jadi tidak terbuang sia-sia" Katanya
"Ayolah..." Kataku

Bukan itu saja, aku setiap hari harus membangunkan dia untuk bekerja. Perbedaan waktu sekitar 4 Jam (Meulborne-Jakarta) membuat Jam tidurku menjadi Jam 02:00. Setiap hari, aku harus telp dia sampai dia terbangun, setelah itu aku kembali tidur. Efeknya, rasa ngantuk yang sangat kurasakan. Dan seperti biasa, andalanku hanya kopi. 

Suatu hari, timbul perasaan bersalah karena aku sudah terlalu jauh membohongi dia. Semuanya harus dihentikan tapi aku takut dia marah dan meninggalkan. Entah sampai kapan seperti ini, tapi suatu saat aku harus katakan.

Tiba-tiba, lamunanku dikagetkan dengan suara telp. Rupanya suara telp dari dia "Honey, besok kami akan berlibur ke Sdney, mau anter saudara yang datang dari Medan berkunjung kerumah temannya disana. Kamu mau dibelikan apa biar aku kirim dari sini setelah aku beli"

"Tidak usah, aku tidak mau apa-apa. Belikan buat Amma anne saja" Kataku.

Waduh... Gawat kalau aku minta sesuatu dan dia belikan. Mau dikirim kemana nanti, di Jepang aku tidak ada keluarga. 

Selama perjalanan, aku pikir tidak akan ada gangguan chat dari dia. Tapi ternyata salah, bukan dia yang membawa mobilnya tapi sepupunya, Vendaz. Alhasil, selama perjalanan dia terus chat. Lama balas, dia akan miscall di Facebook messager. Dia seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta, tidak mau pisah. Hahaha...

Suatu ketika, dia mengatakan akan pulang ke Indonesia dan mengatakan kepada seluruh keluarganya akan menikahi aku alias Carina. Ketakutan mulai terjadi, itu artinya aku menambah dosa. Kebohongan aku bertambah, karma besar akan datang ke aku suatu saat nanti. 

Hari itu pun tiba, dia kembali ke Indonesia. Jarak tempuh Meulborne-Jakarta yang sekitar 12 Jam bisa membuatku berpikir apa yang harus aku lakukan. Tapi ternyata aku tidak bisa menemukan solusinya, ketakutan kehilangan membuat aku bungkam untuk mengatakan kebenaran. 

"Honey... Aku sudah dirumah. Dan aku sudah mengatakan keseluruh keluarga aku akan menikah dengan kamu. Tas yang kamu suruh beli, amma suka" Katanya dengan suara riang.

"Oh ya... Puji Tuhan sudah sampai. Amma sehat?" Tanyaku.

"Sehat... Tunggu, Amma mau bicara" Ujarnya.

Pada saat aku bicara dengan Ibunya, timbul rasa bersalah yang besar karena sudah membohongi seorang Ibu. Dalam hati, aku sudah berdosa ini. Entah karma apa yang akan datang padaku nanti. 

Selama di Jakarta, dia selalu komunikasi. Aku pikir, dia akan lebih tenang dan menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman-teman tapi ternyata lebih parah. Setiap detik bisa dia chat, yang tidak penting pun dia beritahu. Semuanya diberitahu, sampai dia beli cat tembok rupa pun dia tanya bagusan yang mana warnanya. OMG...

Dosaku semakin bertambah ketika dia memberitahu teman-temannya di Jakarta tentang Carina Ammu, dia kasih unjuk fotonya. Bahkan aku sempat mengobrol dengan salah satu temannya.

"Hi, namaku Carina. Salam kenal"

"Hi, namaku Irwan. Salam kenal juga" Ujarnya.

Hansen memberitahu aku, teman-teman dekatnya. Bagaimana mereka, siapa saja yang baik dan suka menolong dia. Pokoknya tidak ada lagi namanya rahasia, aku semakin mengenal Hansen.

Seminggu sudah, Hansen di Jakarta. Tapi aku belum berani mengatakan apa pun kepada dia. Rasa takut kehilangan lebih besar. Hingga suatu hari, aku berkunjung kerumah salah satu teman. Aku memanggilnya Eyang, lelaki tua yang berprofesi sebagai Pendeta. Tapi dia juga orang seni. Dia mengatakan aku harus jujur sama Handen, tidak boleh aku terus membohongi dia. 

"Kamu harus jujur Lala, tidak bisa selamanya kamu seperti ini. Mau sampai kapan begini terus, nanti dosa kamu bertambah. Ayo, chat dia"

Dengan perasaan campur-aduk, aku mengambil ponsel dan mulai menulis kata demi kata menjadi sebuah kalimat "Ne... Sebenarnya aku mau jujur, aku sudah bohongi anne selama ini. Aku bukan Carina Ammu. Aku seseorang yang pernah menyukai anne, maafin aku. Tapi aku lakukan ini semua karena aku mencintaimu ne".

Lega rasanya setelah mengatakan semuanya tapi aku belum mengatakan siapa aku, rupanya dia sudah mengetahuinya. Dia langsung block semua akun media sosialku yang asli bahkan WA dan Lineku. Tanpa kata atau pun cacian dari dia, sepertinya dia sangat marah. Hingga tidak mau bicara sepatah kata pun.  

Sejak saat itu, tidak ada komunikasi maupun kabar dari dia lagi. Perasaan bersalah dan rasa rindu yang dirasa. Aku bahkan mengetahui dia pulang ke Meulborne dari salah satu teman yang kebetulan berteman dengan dia di Facebook. 

Sejak kejadian itu, seperti ada sesuatu yang hilang. Rutinitas yang biasa kulakukan hilang, tidak ada lagi tidur sampai jam 02:00 demi bangunkan dia untuk kerja, memilih pakaian mana yang cocok untuk dia pakai ataupun menanyakan dia sudah makan atau belum. Tapi dari semuanya, yang kurindu berdoa bersama di Pagi hari setelah bangun Pagi dan Malam sebelum tidur. Itu yang wajib dilakukan setiap hari biarpun kita sedang bertengkar.

Hidupku hampa, kosong. Setiap hari dipikiran hanya Handen. Dia sedang apa, sudah makan belum, dekat dengan siapa dia dan masih banyak lagi. Ketika ingat dia, aku hanya berdoa semoga dia diberikan kesehatan dan kebahagiaan. 

Aku pun mulai membuat tulisan ataupun puisi, inspirasi tulisanku semua tentang dia. Sampai aku membuat youtobe yang isinya puisi dan foto-foto yang selama ini dia kirimkan. Aku susah move on, selalu teringat dia. 

Sebulan sejak saat itu, aku berkenalan dengan Raj didunia maya. Pria keturunan India Medan dan tinggal di Medan. Hahaha, lagi-lagi dunia maya. Lagi-lagi India Medan. Mungkin jalan cerita kehidupanku seperti itu. 

Raj lah yang membantu aku untuk melupakan dia, diawal perkenalan sikapku cuek dan dingin. Tapi kelamaan, aku jadi tergantung sama dia. Dan mulai melupakan Handen. Semua masalah hidup aku cerita sama dia. Tapi aku tidak bisa mencintainya karena dia sudah mempunyai istri. Aku hanya dianggap adik.

Biarpun komunikasi kami hampir setiap hari tapi rasa Cinta itu tidak tumbuh, bahkan terkadang aku masih teringat Handen. Lelaki yang bagiku tidak punya pintu maaf. Diamnya membuatku tersiksa. Tapi aku melupakannya demi masa depanku. Kalau kata Raj "Kau gila, cinta bayangan. Dia aja tidak cinta kau, apa pula kau masih ingat dia. Bodok..." 

Tiga bulan sejak kejadian itu, teman sekolahku waktu SMU WA. Dia menanyakan kabar dan yang membuatku kaget, dia menanyakan Handen. Bagaimana hubunganku dengan Handen "La, Pa kabar? Gimana hubungan loe sama Handen. Sudah sejauh mana kalian?" 

Aku heran membaca isi pesannya, tumben-tumbennya dia bertanya Handen. Dulu waktu gw cerita sama dia, tidak perduli. Dia cuma mengatakan "Handen temannya laki gw la, belum pernah ketemu gw"

Lalu tiba-tiba dia bertanya soal Handen, aneh. 
Kubalas pesannya "Sudah tidak Ta, sudah berakhir 3 bulan lalu. Ada apa ya Ta, tumben tanya dia" 

"Gw dah cerai La sama Krishna. Nah, gw mau dikenalin ke Handen sama Iparnya. Kebetulan Iparnya teman arisan gw" 

Seperti ditusuk, dada ini sakit membaca isi WA nya. OMG... Ternyata dunia sempit, Handen akan menikah dengan teman sekolahku. Dia yang pernah aku ceritakan soal Handen tapi dia cuek. Lalu kuceritakan semua kenapa hubunganku bisa putus sama Handen. Ita mengerti dan mengatakan 
"Loe juga sih yang salah, pakai bohong. Terus nama akunnya apa" 

"Udah lupa Ta, gw lupa passwordnya. Oh ya, udah loe saja sama Handen. Cocok kalian, sama-sama pernah mengalami gagal rumah tangga dan sama-sama India" Ujarku dengan nada semangat tapi hati hancur.

"Aduh... Gw gak bisa La seperti ini, jarak jauh. Loe ceritain deh Handen gimana" 

Lalu kuceritakan semua tentang Handen, mulai dia bangun jam berapa, kegiatan dia apa saja, kerja dimana dan sampai rumah jam berapa. Bahkan, luka-luka yang ada dibagian tubuh dia pun aku beritahu ke dia. 

"Wah... Loe sampai tahu segitu detailnya ya tentang dia. Loe cinta banget berarti sama dia" Tanyanya.

"Ya Ta, tapi dia bukan jodoh gw. Udah dia sama loe, gw titip dia sama loe ya. Hehehe... Ada lagi yang mau loe tahu soal dia" Ujarku.

"Cukup La, nanti kalau ada lagi gw kabarin"

Setelah itu, tidak ada lagi kabar dari Ita mengenai hubungannya sama Handen sudah sejauh mana. Aku jadi kepo, pengen dengar Handen menikah. Itu yang aku mau, Handen menikah. Entahlah, rasa sayangku sama dia terlalu besar.

Hal ini aku ceritakan ke Raj, ternyata dia marah. Bagi dia, tidak penting bahasa Handen dan Ita. Dia minta aku melupakan dia. Pernah suatu hari, Raj memblock semua akun media sosial, telp dan WA karena aku selalu bahas mereka. Dan sejak itu, aku tidak membahas apa pun soal mereka ke Raj. Aku berjanji tidak akan mencari tahu atau ikut campur urusan mereka.

Suatu sore, Handen menghubungi. Dia minta untuk Fotonya yang ada diakun media sosial aku didelete. Aku katakan itu foto, tapi dia minta. Akhirnya aku delete semua foto dia yang ada di media sosial aku. Dan aku baru tahu, kalau Ita lah yang meminta semua fotonnya dihapus dari akun media sosial aku. Ita berteman diakun media sosial aku. Lalu aku menghubungi dia, kami bertengkar hebat.

Itulah awal aku dan Ita seperti musuh, pertemanan kita putus hanya karena Handen.

Rasa penasaran aku bertambah, aku jadi kepo kembali. Aku kambuh, aku membuat akun facebook fiktif lagi. Kali ini dengan nama Deepanjali, Perempuan India dengan rambut panjang, hidung mancung dan tinggi. Aku berharap kali ini Handen bisa seperti dulu waktu Ratika. Ternyata aku salah, yang jatuh cinta malah orang lain. 

Enis, nama pria itu. Dia jatuh hati akan sosok Deepanjali, dia meminta pertemanan dan aku confirm. Sebulan kita komunikasi, baru aku ketahui ternyata dia dekat dengan keluarga Ita. Dia juga menceritakan kelakuan keluarga Ita. Dan ternyata dia ada hutang sama Ita dan adiknya.

Kedekatan kami dan perhatian aku membuat Enis Jatuh Cinta kepada sosok Deepanjali. Dan pada akhirnya kami berpacaran, dia pacar kedua dunia mayaku setelah Handen. Dipikiranku tidak ada lagi Handen sejak berkenalan dengan Enis.

Enis bekerja sebagai salesman kain disalah satu mall, selain itu dia juga menarik car online. Dia sosok yang lucu, tidak romantis tapi menyebalkan. Wajahnya tidak terlalu ganteng karena bopeng-bopeng, dia juga sedang perawatan wajah. Jarang ada lelaki yang jujur kalau sedang perawatan. Untuk membeli krim wajah bisa sampai Rp 700 ribu setiap dua minggu sekali, belum beli sabunnya. Uuuhhfff... Pokoknya aku kalah lah soal perawatan. Hahaha...

Apa yang pernah aku lakukan ke Handen, aku lakukan sama ke Enis. Mulai bangunkan pagi, ingatkan makan bahkan menunggunya pulang. Tidak jarang, dia narik car online sampai Jam 00:00 demi mendapatkan Point yang paling tinggi, dia juga tidak malu mengatakan dia narik car online demi membayar hutang kepada Ita dan adiknya. Bagiku Enis seorang pria pekerja keras.

Enis itu banyak membaca, dia suka membaca buku apa saja. Tidak heran kalau selama kenal dia, tidak habis bahas buat ngobrol. Ada saja yang dia ceritakan, ilmuku jadi bertambah. Sehabis dia cerita, aku harus mengulangi apa yang dia ceritakan. Persis seperti lagi sekolah kan aku, hahaha...

Hingga suatu pagi, disaat aku sedang mandi Ita menghubungi. Aku lihat ada 5 kali miscall dari dia dan WA yang panjang isinya caci maki "Dasar gentong air, macam-macam loe ya sama gw. Cari perkara loe ya sama gw, loe pikir ini zaman purbakala apa. Tunggu, polisi akan datang kerumah kau untuk menangkap kau. Semua bukti sudah kukumpulkan. Kasihan orangtua kau mempunyai anak seperti kau".

Dalam hati, apa-apaan ini. Apa maksud WA dia, kenapa dia mengatakan ini. Aku mencoba menghubungi tapi tidak diangkat, kemudian aku wa untuk ajak ketemuan. Tapi dia tidak mau. Entah apa yang terjadi, tidak lama kemudian Enis menghubungi dan memberitahu dia dipanggil Ita. Ada yang menjelek-jelekan dia kekeluarga Handen. 

Bukan hanya Ita saja menghubungi waktu itu, tapi dari seseorang yang mengaku keluarga Ita yang bekerja dikepolisian. Katanya akan menangkap aku dan no telp aku sudah disadap. Aku harus selalu angkat telp kalau dia menghubungi.

Aku memberitahu hal ini kepada Raj, aku pikir dia akan kasihan samaku. Tapi dugaanku salah, dia marah besar. Dia menyalahkan aku karena masih mencari tahu soal Ita dan Handen. 

"Apa kubilang, jangan ikut campur urusan mereka lagi. Kau susah kali diberitahu, keras kepala kau. Paling benar kau, kena kau sekarang. Block akun mereka sekarang, aku bilang block ya. Nurut apa kataku" Kata Raj dengan nada marah dan kesal.

Aku menurut kata Raj, aku block semua akun media sosial Ita. Seharian Raj terus menanyakan apa aku sudah dihubungi lagi dari kepolisian, ternyata dia tidak tenang. Aku beruntung memiliki teman seperti Raj biarpun belum ketemu tapi perhatiannya tulus. Tidak sanggup deh kehilangan teman seperti dia. Tidak bisa didapatkan dimana pun, toko sebelah pun tidak ada. 

Selama 3 Jam aku menunggu kabar dari Enis, tapi dia belum juga menghubungi aku. Penasaran aku, apa yang terjadi. Dan pada akhirnya Jam 13:00, ponselku berbunyi. Rupanya dari Enis, lalu kuangkat

"Hallo Honey, lama kali kau disana"

"Sayang... Rupanya si Lala itu menjelekan Ita kekeluarga Handen. Tadi aku dikasih lihat isi WA nya. Perempuan itu ada gila-gilanya" Katanya dengan suara mengebu-gebu.

Dalam hati, Lala yang lakukan? Itu artinya aku yang lakukan. Eemmm... Perasaan aku tidak melakukan apa pun, tuduhan macam apa ini. Kesal aku mendengarnya, pengen marah dan mengklarifikasi. Tapi tidak bisa karena Enis sedang bicara dengan Deepanjali bukan Lala.

Perasaan sayang sama Enis semakin tumbuh, aku semakin sayang dengan dia. Dan ingin mengatakan semuanya. Tapi kali ini aku harus bertemu langsung, tidak boleh lewat WA. Aku tidak mau kejadian seperti Handen, kalau dia marah aku sudah siap. Hingga akhirnya kami bertemu dan dia sudah menduga kalau Deepanjali itu Lala. Diawal dia marah besar, dia ngoceh panjang dan jawaban aku cuma "Ya Ne, maaf..."

Dia juga menuduh kalau kejadian waktu itu karena ulah aku. Berulang kali aku katakan bukan, dia tetap tidak percaya. Dia juga minta aku mendelete akun Deepanjali didepan matanya dan memintaku supaya tidak melakukan hal seperti itu lagi. Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi, hubungan kami kembali baik. Tapi dia minta jangan hubungi dia kalau tidak penting. Inilah yang membuat aku menjadi sedih karena aku sudah jatuh cinta sama dia. 

Hari-hariku hampa, hanya Raj saja teman curhatku. Tapi aku tidak bisa setiap hari komunikasi sama dia, kesibukannya membuat dia tidak bisa komunikasi. Aku sudah terbiasa dengan hal itu, apalagi dia sudah punya istri. Jadi bagi dia, aku ini adiknya. Aku tidak bisa minta ini itu ataupun nuntut macem-macem. 

Aku menyibukkan diri dengan bekerja dan menulis. Apa saja aku tulis, salah satunya menulis kisah cinta aku. Dan berharap suatu hari bisa jadi semua buku. Setiap rindu datang, aku hanya check Facebook Enis. Dan sesekali aku WA hanya untuk basa-basi saja, tapi tidak direspon. Dia hanya membaca saja, tapi tidak apa-apa. Yang penting aku masih bisa komunikasi sama dia biarpun tidak dibalas. Aku pun tidak ketahui kabar Ita dan Handen, terakhir yang kudengar mereka akan menikah dibulan Oktober. 

Tibalah dibulan Oktober, aku mendapat kabar Ita dan Handen akan menikah di tanggal 23 Oktober. Sekarang dia sudah di Jakarta, perasaan senang meliputi. Akhirnya doaku terjawab, Handen menikah dengan Ita. Biarpun diawal Ita tidak akui mencintai Handen, tapi pada akhirnya dia menikah juga dengan Handen. 

Hari pernikahan mereka pun tiba, aku tidak datang karena tidak diundang. Tapi aku senang akhirnya Handen menikah, ada yang menemani dia hari tuanya. Umurnya tidak muda lagi, harus ada yang mengurus dia. Ada teman berbagi dikehidupannya, apalagi dia menikah dengan teman sekolahku sendiri. Dimana aku sudah ketahui bagaimana Ita, jadi tenang aku menlihat orang yang aku sayang menikah.

Dan bagaimana denganku ? Ya... Aku masih setia menunggu cinta sejatiku, tapi Raj bersamaku. Biarpun dengan nada ceplas-ceplos, aku tidak pernah sakit dengar ucapannya. Dan aku berharap Raj selalu menjadi Sahabat dan Abang bagiku.


THE END



Notes :
Cerita ini hanya fiktif saja, jika ada unsur nama dan cerita tidak ada faktor unsur kesengajaan. Semuanya dari hasil daya khayal ngantuk yang dibuat oleh Laura Dorkas. 



































Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an

"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain".  Masa dimana dapat tertawa ...