Oprah Winfrey,
You Inspired Me
You Inspired Me
Dorkas Manroe
Ini sebuah kisah tentang kehidupan yang terjadi disekitar kita.
Kisah ini dimulai sejak Papa Liana terkena dampak pengurangan karyawan. Perusahaan tempat Papa Liana bekerja, merubah Peraturan yang selama ini ada. Salah satunya tidak boleh ada ikatan keluarga atau suami-istri, jika ada salah satunya harus pensiun dini.
Sungguh peraturan yang merugikan banyak pihak, apalagi karyawan yang mempunyai ikatan keluarga. Dampaknya selain kehilangan pekerjaan, pasti akan ada kehilangan saudara. Artinya, harus ada yang mengalah. Yang kuat, yang akan bertahan.
Dan inilah yang terjadi dengan Papa Liana, dia harus pensiun dini dan adiknya yang tetap bertahan. Entah kenapa harus Papa Liana yang harus mundur.
Bukan itu saja, keluarga besar Papa Liana mendukung supaya adik Papa Liana yang bertahan bekerja. Dan Papa Liana untuk pensiun dini.
Mungkin keluarga Papa Liana membenci Papa Liana karena sikap Papa nya yang keras kepala dimata mereka. Tapi sebenarnya Papa Liana perhatian, mungkin cara penyampaiannya saja yang salah.
Dan seribu janji manis mereka berikan "Tenang, nanti setiap bulan akan dikirim uang Rp 2.000.000 buat anak-anak".
Janji tinggal lah janji, mereka hanya bisa berucap saja. Kenyataannya tidak ada. Jangankan memberikan uang, dipinjam saja uangnya sudah berkata yang tidak enak didengar.
Bukan itu saja, keluarga besar Papa Liana mendukung supaya adik Papa Liana yang bertahan bekerja. Dan Papa Liana untuk pensiun dini.
Mungkin keluarga Papa Liana membenci Papa Liana karena sikap Papa nya yang keras kepala dimata mereka. Tapi sebenarnya Papa Liana perhatian, mungkin cara penyampaiannya saja yang salah.
Dan seribu janji manis mereka berikan "Tenang, nanti setiap bulan akan dikirim uang Rp 2.000.000 buat anak-anak".
Janji tinggal lah janji, mereka hanya bisa berucap saja. Kenyataannya tidak ada. Jangankan memberikan uang, dipinjam saja uangnya sudah berkata yang tidak enak didengar.
Tapi, Papa Liana tidak diam saja. Dia bersama teman-temannya yang terkena imbas Peraturan ini mengajukan ke Pengadilan. Bahkan sampai tingkat paling tinggi.
Tapi sayang, Papa Liana dan teman-temannya kalah. "Uang" berbicara, semua bisa dibeli bahkan keadilan pun bisa dibeli.
Tapi sayang, Papa Liana dan teman-temannya kalah. "Uang" berbicara, semua bisa dibeli bahkan keadilan pun bisa dibeli.
Dari sini lah, kenapa Liana menjadi tidak percaya namanya "Hukum". Dan sejak itu, sifatnya berubah menjadi tertutup, minder dan pemarah.
Ya... Tidak terima dengan keadaan yang menimpanya
Tidak ada lagi jalan-jalan tiap Sabtu atau Minggu bersama orangtua dan adik-adiknya.
Selama Papa Liana masih bekerja, mereka setiap Sabtu dan Minggu pasti pergi jalan-jalan. Entah itu ke Ancol atau ke mall, biarpun hanya sekedar makan saja.
Selama Papa Liana masih bekerja, mereka setiap Sabtu dan Minggu pasti pergi jalan-jalan. Entah itu ke Ancol atau ke mall, biarpun hanya sekedar makan saja.
Sejak Papa Liana pensiun dini, jangankan buat jalan-jalan, buat makan saja harus berpikir uangnya darimana.
Untuk bisa membeli beras saja, harus menjual barang yang bisa dijual. Termasuk mobil pemberiaan nenek Liana. Dan yang tersisa dari peninggalan nenek Liana hanya Piano yang tidak dijual.
Untuk bisa membeli beras saja, harus menjual barang yang bisa dijual. Termasuk mobil pemberiaan nenek Liana. Dan yang tersisa dari peninggalan nenek Liana hanya Piano yang tidak dijual.
Impian mama Liana, salah satu anak-anaknya harus bisa main Piano dan mengiring musik di gereja.
Kehebatan orangtua Liana, mereka masih masukan les privat Piano untuk adik-adiknya. Kalau kata mereka "Adik-adik kamu nanti tidak usah kerja kantoran. Biar mereka memberi les privat piano"
Biarpun mereka harus mengutang, tapi adik-adiknya harus punya kemampuan bermain piano agar nantinya bisa jadi guru privat piano.
Kehebatan orangtua Liana, mereka masih masukan les privat Piano untuk adik-adiknya. Kalau kata mereka "Adik-adik kamu nanti tidak usah kerja kantoran. Biar mereka memberi les privat piano"
Biarpun mereka harus mengutang, tapi adik-adiknya harus punya kemampuan bermain piano agar nantinya bisa jadi guru privat piano.
****
Liana anak pertama dari 4 bersaudaranya, Papanya bekerja disalah satu BUMN. Sedangkan mamanya hanya ibu rumah-tangga.
Sejak menikah dengan Papa Liana, mamanya tidak bekerja. Sebelum menikah, mama Liana bekerja sebagai sekretaris disalah satu Perusahaan ternama. Itu semua ditinggalkan dan memilih menjadi ibu rumah-tangga.
Mama Liana boleh dibilang dari keluarga yang ada, Kakek Liana bekerja di Departemen Penerangan saat itu. Dan salah satu mantan pahlawan RI. Sedangkan Nenek Liana, mantan suster untuk pejuang pada saat perang kemerdekaan.
Tapi lebih memilih menikah dengan Papa Liana yang dari kampung, tidak ada gelar dan bekerja sebagai karyawan honorer karyawan waktu itu.
Papa Liana baru mendapatkan gelar sarjana pada saat Liana berumur 2 tahun.
Papa Liana baru mendapatkan gelar sarjana pada saat Liana berumur 2 tahun.
Ya ... Itulah cinta, tidak pandang apa pun termasuk kekayaan.
Liana mempunyai 3 adik, jarak dia dengan adik kedua nya hanya 2 tahun sedangkan dengan adiknya ke-3 dan 4 berjarak 10 tahun dan 11 tahun.
Ketika Papa Liana terkena dampak peraturan baru itu, Liana masih kuliah semester 6 dan adik-adiknya masih di Sekolah Dasar.
****
MINGGU PAGI
Liana dibangunkan dari tidurnya yang nyenyak, badannya digoyang-goyangkan "Liana bangun ... Cepat bangun"
"Apa sih ma, masih ngantuk" Sambil mengucek-ucek mata.
"Bangun, itu cincin kamu dijual ya. Kita kehabisan beras" Pinta mamanya.
"Tapi ma, ini cincin aku. Emamg perhiasan mama tidak ada yang bisa dijual".
"Tidak ada, semua sudah dijual".
Perasaan campur-aduk, tidak rela dijual tapi harus dijual demi membeli beras. Dan demi kelangsungan hidup keluarga.
Dilepaskan cincin pemberian ulang tahun Papanya yang selama ini dipakainya. Cincin yang ditengahnya ada batu berwarna biru, cantik sekali. Tiap orang melihat cincin itu selalu mengatakan "Cantik cincinnya".
Selain cincin, sudah banyak barang yang dijual demi bisa menyambung hidup.
Perasaan marah, kesal dan tidak terima dengan keadaan yang terjadi.
****
Bukan hanya masalah Papa Liana yang terkena dampak PHK, masalah lain pun datang dalam kehidupan keluarga Liana.
Pembagian warisan di keluarga Mama Liana menambah masalah dan membuat kondisi keuangan bertambah parah.
Mama Liana dibawa ke Pengadilan oleh adik kandungnya sendiri karena mamanya menghandel semua pengeluaran ibunya.
Dan ketika ibunya meninggal, adiknya Mama Liana menyangka bahwa Mama Liana menghabiskan semua harta ibunya. Padahal harta tersebut juga diberikan adiknya juga.
Itulah manusia yang selalu gelap mata jika berhubungan dengan harta, lupa saudara.
Bukan itu saja, Mama Liana meminjamkan uang kepada temannya. Tapi temannya itu tidak mau kembalikan, jika diminta banyak alasannya. Bahkan sampai sekarang uang tersebut belum dikembalikan.
Belum lagi, mama Liana bekerja disalah satu properti di Jakarta. Ketika Pembelinya sudah setuju dan komisi mama Liana sudah diberikan. Si pembeli cancel tidak jadi membeli rumah tersebut, dan meminta komisi yang sudah diberikan dikembalikan.
Inilah yang membuat hutang bertambah dikeluarga Liana.
Sebelum Liana bekerja, mereka menjual simpanan yang ada atau meminjam orang sana-sini.
Liana semakin marah dan malu. Dia tidak terima dengan keadaan yang menimpanya.
Bukan hanya itu, Liana marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi kepadanya.
***
Bukan hanya masalah Papa Liana yang terkena dampak PHK, masalah lain pun datang dalam kehidupan keluarga Liana.
Pembagian warisan di keluarga Mama Liana menambah masalah dan membuat kondisi keuangan bertambah parah.
Mama Liana dibawa ke Pengadilan oleh adik kandungnya sendiri karena mamanya menghandel semua pengeluaran ibunya.
Dan ketika ibunya meninggal, adiknya Mama Liana menyangka bahwa Mama Liana menghabiskan semua harta ibunya. Padahal harta tersebut juga diberikan adiknya juga.
Itulah manusia yang selalu gelap mata jika berhubungan dengan harta, lupa saudara.
Bukan itu saja, Mama Liana meminjamkan uang kepada temannya. Tapi temannya itu tidak mau kembalikan, jika diminta banyak alasannya. Bahkan sampai sekarang uang tersebut belum dikembalikan.
Belum lagi, mama Liana bekerja disalah satu properti di Jakarta. Ketika Pembelinya sudah setuju dan komisi mama Liana sudah diberikan. Si pembeli cancel tidak jadi membeli rumah tersebut, dan meminta komisi yang sudah diberikan dikembalikan.
Inilah yang membuat hutang bertambah dikeluarga Liana.
Sebelum Liana bekerja, mereka menjual simpanan yang ada atau meminjam orang sana-sini.
Liana semakin marah dan malu. Dia tidak terima dengan keadaan yang menimpanya.
Bukan hanya itu, Liana marah kepada Tuhan atas apa yang terjadi kepadanya.
***
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, keadaan bukan semakin membaik tapi memburuk.
Hutang bertambah banyak hanya untuk menyambung hidup. Mulai hutang ke saudara sampai ke tetangga. Perasaan malu dan minder dirasakan.
Hutang bertambah banyak hanya untuk menyambung hidup. Mulai hutang ke saudara sampai ke tetangga. Perasaan malu dan minder dirasakan.
Bukan hanya itu, terkadang hinaan dari keluarga sendiri pun datang karena Papa Liana sering meminjam uang kepada mereka.
Sakit hati Liana mengetahui hal ini. Papa nya dihina, bahkan salah satu adik perempuannya yang kaya sering berkata "Papa kamu tidak diberkati makanya tidak dikasih rejeki dari Tuhan".
Ingin rasanya menjawab "Papa juga seperti ini kalau saja masih bekerja, kalian lebih memilih adik kalian itu untuk tetap bekerja daripada Papa"
Tapi Liana urungkan, dia hanya bisa pendam saja dihati.
Begini rasanya, dihina orang kaya. Sakit ... Apalagi dihina keluarga sendiri.
Untung Liana mempunyai kekasih, hanya kepada kekasihnya Liana menceritakan apa yang terjadi dengan keluarganya. Dia merasa malu dan minder menceritakan kepada teman-temannya.
Rian, nama kekasih Liana itu. Sosok lelaki berkulit hitam tinggi dengan mata yang tatapannya tajam seperti burung elang.
Kekasih yang dipacarinya sejak Sekolah Menengah Pertama.
Awalnya sih, Liana ingin comblangin dengan temannya. Tapi ternyata Rian menyukai Liana, jadilah mereka berpacaran.
Rian, nama kekasih Liana itu. Sosok lelaki berkulit hitam tinggi dengan mata yang tatapannya tajam seperti burung elang.
Kekasih yang dipacarinya sejak Sekolah Menengah Pertama.
Awalnya sih, Liana ingin comblangin dengan temannya. Tapi ternyata Rian menyukai Liana, jadilah mereka berpacaran.
Tanpa Rian, Liana tidak tahu harus kemana.Hanya Rian tempat curhat dia, tidak ada yang lain.
Tapi sayang, hubungan mereka tidak awet. Suatu ketika Liana diputuskan tiba-tiba tanpa sebab.
"Liana, kita putus saja. Lebih baik kita jadi teman saja. Biarpun kita tidak pacaran, kamu masih bisa hubungi aku jika kamu sedih. Aku akan ada disamping kamu disaat kamu sedih, tapi disaat kamu senang tidak ada aku."
"Apa karena aku miskin, kamu putuskan aku."
"Bukan, aku hanya mau kita jadi teman saja. Itu saja" Ujar Rian.
Tidak ada air mata, hanya ada amarah dalam hati Liana.
Dunia terasa tidak adil, harus kehilangan yang Liana punya. "Kenapa ... Kenapa harus kehilangan, tidak bisakah aku memiliki yang aku mau."
Dan sejak saat itu, hati Liana tertutup untuk cinta.
Perasaan sendiri ... Hampa ... Itulah yang dirasakan Liana.
Perasaan sendiri ... Hampa ... Itulah yang dirasakan Liana.
Tapi sebenarnya Rian tidak meninggalkan Liana. Dia justru mengikuti Liana diam-diam, mengawasi dari jauh. Perasaan cinta masih ada, keadaan yang membuat dia harus memutuskan hubungannya.
***
Setahun kemudian
Liana mendengar kabar Rian masuk RS. Penyakitnya sudah parah.
Liana mendengar kabar Rian masuk RS. Penyakitnya sudah parah.
"Liana, Rian masuk RS. Kamu tidak besuk dia ?" Ujar Robert kawan dia.
"Ahhh ... Sakit apa dia ?"
"Tidak tahu, ayo kita besuk." Ajak Robert.
Kami pun berangkat menuju RS di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. Setibanya di RS, kami diminta menggunakan masker, sarung tangan dan pakaian RS sebelum masuk ruangan.
Dan ketika kami masuk kamarnya, Liana hanya diam sambil mata memandang seisi ruangan.
"Mereka kenapa, sakit apa. Badan mereka kenapa kurus, hanya tulang saja dan kulit mereka gosong. Sakit apa mereka." Tanya dalam hati.
Melihat kondisi Rian, Liana penasaran. Badannya kurus, tidak segagah yang dulu "Sakit apa dia, kenapa tubuhnya kurus"
Lamunan Liana dibuyarkan dengan panggilan Rian "Apa kabar Li, gimana kabar orangtua kamu"
"Baik ... Mereka baik" Jawab Liana sambil terbata-bata.
Liana lebih banyak diam, berbicara ketika ditanya. Hatinya masih bertanya-tanya mengenai penyakit Rian.
Liana lebih banyak diam, berbicara ketika ditanya. Hatinya masih bertanya-tanya mengenai penyakit Rian.
Tidak lama kemudian, mereka pamitan pulang.
Ada satu ucapan Rian yang masih diingat Liana jika dia sedih "Kamu tidak akan sendiri, jika kamu sedih. Tutup mata kamu, aku akan hadir. Jika ingin menangis, menangislah. Aku ada disampingmu selalu"
Mendengar ucapan Rian itu, Liana ingin memeluk. Tapi sayang, dilarang mama nya Rian. Entah kenapa, Liana tidak diperbolehkan memeluk Rian.
Mungkin itu terakhir kalinya Liana bisa melihat Rian.
Dalam perjalanan menuju rumah, mereka membahas penyakit Rian.
Ada satu ucapan Rian yang masih diingat Liana jika dia sedih "Kamu tidak akan sendiri, jika kamu sedih. Tutup mata kamu, aku akan hadir. Jika ingin menangis, menangislah. Aku ada disampingmu selalu"
Mendengar ucapan Rian itu, Liana ingin memeluk. Tapi sayang, dilarang mama nya Rian. Entah kenapa, Liana tidak diperbolehkan memeluk Rian.
Mungkin itu terakhir kalinya Liana bisa melihat Rian.
Dalam perjalanan menuju rumah, mereka membahas penyakit Rian.
"Bet, Rian sakit apa ya kira-kira. Kenapa badannya kurus dan kulitnya gosong" Tanya Liana.
Robert hanya geleng-geleng kepala saja, tidak menjawab apa-apa.
Dua minggu setelah itu, Robert datang kerumah Liana tengah malam. Dia menyampaikan kabar duka.
"Liana ... Liana ..." Panggilnya dari depan pintu gerbang.
"Apa apa, tengah malam kemari" Sambil membuka pintu gerbang.
"Rian ... " Ujarnya
"Kenapa Rian ... Dia kenapa " Tanya Liana dengan dahi mengerut dan hati berdetak kencang.
"Rian meninggal, barusan abangnya memberitahu"
Liana diam, perasaan campur-aduk. Harus kehilangan selamanya, orang yang selama 10 tahun bersamanya.
"Aku besok saja kerumahnya. Kamu saja kerumahnya malam ini, bantuin keluarga Rian" Pinta Liana.
Dan tidak lama kemudian, Robert beranjak dan melaju kerumah Rian.
Liana tidak bisa tidur hingga pagi, perasaan kehilangan.
Ya ... Kehilangan orang yang selama 10 tahun bersamanya. Disaat senang terutama disaat susah.
Liana tidak bisa tidur hingga pagi, perasaan kehilangan.
Ya ... Kehilangan orang yang selama 10 tahun bersamanya. Disaat senang terutama disaat susah.
Keesok harinya, Liana kerumahnya.
Belum juga sampai didepan peti jenazahnya, terdengar suara teriakan Mama Rian "Rian, itu Liana datang. Kamu katanya mau ketemu dia, bangun nak."
Belum juga sampai didepan peti jenazahnya, terdengar suara teriakan Mama Rian "Rian, itu Liana datang. Kamu katanya mau ketemu dia, bangun nak."
Liana berjalan menuju peti jenazah Rian. Sesampai didepan petinya, Liana melihat wajah dan badan Rian sudah seperti dulu ketika kami bersama. Dia ganteng sekali menggunakan jas dan celana berwarna putih dengan tangan dilipat.
Tangan Liana memegang pipi Rian sambil berkata "Ini aku datang Rian, bangun. Katanya kamu akan ada disaat aku sedih. Kalau kamu pergi, siapa disamping aku disaat aku sedih. Please, bangun"
Dan ketika Liana ingin mencium kening Rian untuk terakhir kalinya, Mamanya Rian melarang.
"Jangan dicium, tidak bagus"
Liana menurut dan tidak jadi mencium untuk terakhir kalinya. Tapi timbul pertanyaan "Kenapa tidak boleh dicium"
Dalam perjalanan menuju "Rumah Abadi" Rian, perasaan kehilangan dan hancur. Air mata terus bercucuran di Pipi Liana.
"Kenapa ... Kenapa aku harus kehilangan orang yang kusayang. Kenapa Tuhan , kenapa Tuhan tidak adil. Apa salah aku" Teriak hati Liana.
Liana mengikuti prosesi pemakaman Rian, bahkan ketika Peti Jenazahnya dimasukan keliang lahat. Liana hanya bisa menangis melepas orang yang dicintainya pergi untuk selamanya.
Hancur ... Hati Liana hancur ...
***
Liana mengikuti prosesi pemakaman Rian, bahkan ketika Peti Jenazahnya dimasukan keliang lahat. Liana hanya bisa menangis melepas orang yang dicintainya pergi untuk selamanya.
Hancur ... Hati Liana hancur ...
***
Seminggu kemudian
Pagi hari, jam alarm membangunkanku untuk kuliah pagi. Kuraih handphone yang terletak disamping bantal, kulihat ada pesan dari mama Rian.
"Liana, nanti sore bisa mampir kerumah sebentar" Begitulah isi pesannya.
"Bisa, nanti saya kesana jam 18:00" Balas Liana
Lalu Liana beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Sore harinya, sepulang dari kampus, Liana kerumah Rian. Disana, dia sudah ditunggu mama, kakak dan abang Rian.
Liana diminta duduk, didepannya mama dan abangnya. Sedangkan kakaknya disamping Rian.
Suasan hening, hanya mata saling bertatapan.
Pagi hari, jam alarm membangunkanku untuk kuliah pagi. Kuraih handphone yang terletak disamping bantal, kulihat ada pesan dari mama Rian.
"Liana, nanti sore bisa mampir kerumah sebentar" Begitulah isi pesannya.
"Bisa, nanti saya kesana jam 18:00" Balas Liana
Lalu Liana beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Sore harinya, sepulang dari kampus, Liana kerumah Rian. Disana, dia sudah ditunggu mama, kakak dan abang Rian.
Liana diminta duduk, didepannya mama dan abangnya. Sedangkan kakaknya disamping Rian.
Suasan hening, hanya mata saling bertatapan.
"Liana, tante mau tanya ke kamu. Tolong dijawab jujur ya. Rian itu selama ini kalau nongkrong dimana ?" Tanya Mama Rian memecahkan keheningan.
"Maksud tante apa, Memang kenapa ? Liana tidak mengerti"
Tangan Liana dipegang Mama Rian "Rian ... Rian meninggal karena HIV / AIDS. Apa kamu dimana Rian selama ini nongkrong"
Kaget ... Tidak percaya dengan perkataan mama Rian.
"Rian kena HIV/AIDS ? Sudah berapa lama tante ?". Tanya Lian
"Sudah setahun" Ujar Abang Rian
Seperti disambar petir. Jadi Rian memutuskan hubungan karena ini. Dia tidak mau Liana terkena HIV/AIDS seperti dirinya.
Air mata Liana mengalir dari matanya.
"Rian kena HIV/AIDS ? Sudah berapa lama tante ?". Tanya Lian
"Sudah setahun" Ujar Abang Rian
Seperti disambar petir. Jadi Rian memutuskan hubungan karena ini. Dia tidak mau Liana terkena HIV/AIDS seperti dirinya.
Air mata Liana mengalir dari matanya.
"Liana tidak tahu dimana Rian bisa nongkrong, selama ini kita hanya ke Mall. Rian tidak pernah ajak Liana ketemu teman-temannya" Jawab Liana dengan isak tangis.
Selama pacaran dengan Rian, Liana memang tidak pernah diajak nongkrong bersama teman-temannya. Jangankan nongkrong, dikenalkan dengan teman-temannya saja tidak.
Jadi, ini alasan kenapa dia tidak mau Liana bertemu teman-temannya. Dia tidak mau Liana terjerumus ke pergaulan bebas.
Seperti disambar petir, mendengar cerita Abang Rian tentang apa yang terjadi dengan Rian selama ini.
Seperti disambar petir, mendengar cerita Abang Rian tentang apa yang terjadi dengan Rian selama ini.
Perasaan bersalah muncul, tidak pernah mau tahu apa yang terjadi dengan Rian. Tidak ada disampingnya disaat dia butuh seseorang.
Andai waktu itu, Liana selalu ada disaat Rian butuh. Pasti dia tidak terjerumus ke pergaulan bebas.
Tapi salut dengan keluarganya Rian, masih mau menerima dan merawat Rian biarpun dia positif HIV/AIDS.
Terbayang perjuangan keluarganya supaya Rian sehat, sembuh dari penyakitnya.
Tapi salut dengan keluarganya Rian, masih mau menerima dan merawat Rian biarpun dia positif HIV/AIDS.
Terbayang perjuangan keluarganya supaya Rian sehat, sembuh dari penyakitnya.
Andai waktu itu Liana mengetahuinya, dia akan memberinya support.
Perasaan bersalah karena terlalu egois, tidak mau tahu apa yang terjadi dengan Rian. Dan sejak saat itu, pintu hati Liana tertutup ditambah dengan keadaan keluarganya.
Dia malu, tidak ingin dihina lagi jika dekat lelaki. Ketakutan ketika ada lelaki yang ingin mengenal jauh.
Perasaan bersalah karena terlalu egois, tidak mau tahu apa yang terjadi dengan Rian. Dan sejak saat itu, pintu hati Liana tertutup ditambah dengan keadaan keluarganya.
Dia malu, tidak ingin dihina lagi jika dekat lelaki. Ketakutan ketika ada lelaki yang ingin mengenal jauh.
Dan perasaan sepi ... Sunyi ... Tidak ada tempat berbagi kisah lagi ...
Hanya kenangan bersama Rian dan sebuah foto yang selalu disimpan didompetnya.
***
Tiga bulan setelah kepergian Rian, Liana lulus kuliah.
Dan selang sebulan kemudian, diterima kerja di suatu Perusahaan Swasta.
Liana termasuk beruntung, tidak perlu lama menganggur. Baru lulus kuliah, sebulan kemudian diterima kerja. Jarak tidak jadi masalah, yang terpenting bekerja untuk membantu pemasukan keluarganya.
Waktu tes di Perusahaan tersebut, Papa Liana menunggu seharian hingga Liana selesai.
Dia menunggu dibawah pohon dekat parkiran motor sambil membaca.
Ya, hobi Papa Liana membaca ketika menunggu. Mungkin ini salah satu cara untuk mengisi kebosanan menunggu.
Dan ketika Liana pertama kali kerja, Papa Liana mengantarnya. Dan sebelum pulang, Papa Liana mencari akses kendaraan untuk Liana pulang..
Itulah Papa Liana, selalu perhatian ke anak-anaknya.
***
Seminggu di Perusahaan tersebut, Liana mendapat interview di salah satu bank swasta. Tapi dia tidak mengambilnya, dia memilih bekerja di Perusahaan tersebut.
Liana termasuk orang yang cepat beradaptasi dengan pekerjaannya.
Ketika atasan meminta Liana lembur, dia juga tidak keberatan. Lumayan uang lemburnya untuk menambah pemasukan untuk keluarganya.
Ya ... Maklum saja sejak Papa Liana terkena dampak Peraturan tersebut, Papa Liana hanya terima uang pensiun. Itu tidak cukup untuk kehidupan sehari-hari.
Lima bulan bekerja disana, Liana memutuskan untuk kredit motor. Supaya irit, apalagi untuk anter adik-adik Liana sekolah.
Dan hampir setiap hari Liana lembur. Tidak ada waktu memikirkan kesenangan diri sendiri, dipikiran Liana hanya lembur. Demi membayar kreditan motor dan kebutuhan lainnya.
Hari libur diisi dengan tidur seharian, tidak ada kegiatan lain. Hanya tidur sampai puas.
Apa dengan Liana bekerja, kebutuhan keluarga sudah cukup ?
Belum, masih saja kurang.
Hingga suatu hari, Papa Liana dan Eva, adik Liana no.3, kerumah Tante Putri, adik Papa Liana, yang boleh dikatakan kaya.
Ya, Tante Putri menikah dengan orang Jepang. Dan punya pabrik plastik didaerah Bekasi.
Papa dan Mama Liana pernah menerima kerjaan dari Pabrik tantenya itu, memasukkan sendok atau garpu kedalam plastik kecil. Dan perkilo dibayar Rp 5.000.
Murah banget kan. Tapi tidak apalah, lumayan uangnya buat beli beras.
Papa Liana dan Eva bermaksud pinjam uang untuk uang kuliah adik Liana. Bukan pinjaman yang didapat, tapi hinaan.
"Kalau tidak mampu kuliah, jangan kuliah. Kerja saja, jangan buat susah orangtua" Ujar Tante Putri ke Eva.
Mendengar perkataan Tante Putri, hati Eva hancur. Merasa terhina, keluarga sendiri yang katanya akan menolong tapi ini malah menghina.
Sampai dirumah, Eva marah-marah "Sombong, liat saja. Suati hari nanti aku akan kaya seperti dia. Sombong"
Memang, Tante Putri seperti itu. Mulutnya jahat, suka menghina dan merasa diberkati karena dia kaya. Kalau memberi ingin semua orang tahu.
Bukan hanya itu saja, dia merasa bisa mengatur semuanya. Bisa perintah sesuka-hatinya. Hanya keponakan yang bisa bermanis berkata, akan diberikan materi olehnya.
Liana pun masih ingat kata-kata tantenya "Papa kamu apa yang dihasilkan selama ini, tidak ada. Dia tidak punya apa-apa. Lihat saja, diberkati sama Tuhan"
Perasaan hancur ketika ucapan itu keluar dari mulutnya. Tidak percaya, adik kandung Papa sendiri yang mengatakannya.
Liana tidak memberitahu ke Papanya, dia simpan sendiri dalam hati. Tiap ingat perkataan itu, hati ini menangis.
Akar pahit tersimpan dihati Liana, kebencian kepada tantenya sangat besar.
Tapi itulah kehidupan, salah satu kerikil kehidupan.
***
Lima tahun bekerja di Perusahaan tersebut, Liana menjadi Leader Telesales. Pemasukan juga lumayan.
Liana mulai berkumpul dengan teman-temannya, mulai berlibur keluar kota dan mall. Lupa akan kondisi keluarganya yang belum stabil. Seperti masuk dunia baru, dia tidak perduli dengan kesusahan keluarganya.
Bukan hanya itu saja, tiap ada yang menawarkan kartu kredit, Liana mengajukan dan disetujui pihak bank. Hingga Liana punya 5 kartu kredit.
Dengan kartu kredit ditangannya, Liana semakin boros. Dia terus belanja menggunakan kartu kredit. Bahkan ketika orangtua dan adik-adiknya minta dibelikan handphone, langsung dibelikan.
Dipikirannya, yang penting adik-adiknya senang. Seperti dia dulu, selalu dibelikan jika minta sesuatu.
Liana semakin betah bekerja di Perusahaan tersebut, tidak terpikir untuk pindah Perusahaan. Ini tempat pertamanya bekerja, sebelumnya belum pernah bekerja.
***
Karier Liana semakin menanjak tapi tidak ada kebahagiaan.
Ya ... Dia merasa tidak bahagia.
Perasaan jenuh yang dirasakan Liana dengan kehidupan yang dijalani.
"Aaaarrrggghhhhhh ....."
"Aaaarrrggghhhhhh ....."
Selain itu Liana semakin jauh dengan Tuhan. Dia tidak ingat lagi dengan Tuhan, marah dengan keadaan yang ada. Tuhan seperti tidak adil kepada dirinya.
Hampa ... Sendiri ... Itu yang dirasakannya.
Kapan penderitaan ini berakhir ?
Pernah beberapa kali, Liana mencoba bunuh diri. Rasanya tidak sanggup lagi hidup didunia, tapi tidak berhasil. Dia mencoba minum 10 butir obat sakit kepala, bukannya mati tapi muntah-muntah. Mungkin takdir belum memperbolehkan dia mati.
***
8 tahun bekerja di Perusahaan itu, karir Liana semakin naik.
Dia juga dipercaya menjadi Kepala Bagian Admin. Itu artinya, tanggung-jawab semakin berat, harus handel team. Bukan hanya itu, cabang yang ada diluar kota pun harus dihandel.
Tidak jarang, Liana harus keluar kota. Hanya untuk interview atau pun kontrol pekerjaan.
Lumayanlah ... Selain bekerja, Liana bisa berlibur gratis.
Hampir setiap bulan, Liana ada jadwal keluar kota untuk beberapa hari.
Jabatan sebagai Kepala Bagian membuat Liana semakin dikenal banyak orang di Perusahaan tersebut. Bukan hanya itu, Liana juga semakin dibenci teamnya karena sikapnya yang dinilai diktator.
Main perintah, tidak perduli suka atau tidak. Tapi ini juga tekanan dari atasannya.
Main perintah, tidak perduli suka atau tidak. Tapi ini juga tekanan dari atasannya.
Hilter istilahnya, kejam.
Hari-hari Liana pun habis terbuang untuk bekerja. Bangun tidur yang dicek whats up.
Tidak ada kata libur, waktunya habis untuk bekerja. Pokoknya 24 Jam handphone harus stand by.
Begitulah kalau menjadi Kepala Bagian, tanggung-jawab besar.
***
Lalu bagaimana dengan Cinta ?
7 tahun setelah kepergian Rian, Liana kembali jatuh cinta dengan cowok India. Chandra, nama cowok itu.
Mereka kenalan didunia maya.
Chandra
yang tinggal dan bekerja di Meulborne sebagai Chef disalah satu restaurant Italia disana.
Setelah perceraiannya, Chandra memutuskan pindah ke Meulborne dan bekerja disana. Rasa kecewa membuatnya hijrah karena mantan istrinya selingkuh dengan mantan pacarnya.
Dengan bermodal nekat, Chandra memutuskan pindah ke Meulborne. Semua aset yang dia punya, dijual demi bisa melupakan masa lalunya.
Tanpa ada keahlian khusus dan bahasa inggris yang tidak lancar, Chandra akhirnya hijrah ke Meulborne.
Dan berkat dari salah satu agen yang ada di daerah Kelapa Gading, Chandra bisa pindah ke Meulborne.
Disana Chandra bekerja sebagai chef, bukan hanya itu dia juga mengambil kursus bahasa inggris.
Waktunya pun habis untuk bekerja dan kursus bahasa inggris.
Dan untuk percintaan sendiri, Chandra selalu gagal. Tiap Perempuan yang mendekatinya hanya untuk materinya saja.
Hingga akhirnya Liana berkenalan dengan Chandra.
Awal perkenalan mereka tidak ada masalah, tapi kelamaan. Sikap Chandra berubah, mungkin karena postur tubuh Liana yang besar membuat Chandra menjauh.
Tapi Liana sudah terlanjur cinta dengan Chandra.
Sayang, cinta Liana bertepuk sebelah tangan.
Hingga suatu hari muncul ide gila, mungkin ini ide gila yang dilakukan Liana seumur hidupnya. Tapi ini salah satu cara agar bisa dekat Chandra.
Dan entah ide gila darimana, Liana membuat akun facebook palsu. Dengan nama akun dan foto yang diambilnya dari akun facebook perempuan India.
Ternyata Chandra tertipu, dia menyukai perempuan ini. Ritika, nama perempuan india yang Liana ambil fotonya.
"Hi .. My Name Chandra, whats is your name ?" Tanya di inbox Facebook.
"Hi ... My Name Ritika, Where are u live ?" Balas Liana
Itulah awal kenalan kami. Dan sejak saat itu kami semakin dekat.
Liana semakin tahu kegiatan Chandra, mulai bangun tidur sampai dia tidur kembali. Bahkan, luka yang ada ditubuhnya saja bisa Liana tahu dari foto yang dikirimkan.
Chandra membuka kembali hati yang tertutup, Liana semakin mencintai Chandra biarpun harus berpura-pura menjadi Ritika.
Hidup Liana semakin berwarna, ada tempat untuk mencurahkan kasih sayang dan perhatian yang selama ini hilang.
Liana pun rela tidur hanya beberapa jam saja untuk membangunkan Chandra jika dia dapat shift Pagi. Karena selisih jam Jakarta - Meulborne 4 jam.
"Hey ... Wake Up. Dont sleep again. You must go to restaurant. Hurry up" Ujar Liana ditelp.
"Ok ... Love u" Jawab Chandra.
Dan Liana baru tidur, jika Chandra mulai kerja.
Bukan hanya itu, Chandra juga selalu bertanya tentang pakaian yang digunakan pantes atau tidak.
Pernah suatu hari, dia gunakan celana kotak-kotak berwarna kuning dan Kemeja kotak-kotak merah.
"OMG ... Itu tabrakan atasan dengan bawahannya" Ujar Liana sambil tertawa.
"Really ... Ok ... Aku ganti dengan celana jins" Jawab Chandra.
Tidak lama kemudian, Chandra kirim foto dengan celana jins dan kemeja kotak-kotaknya. Terlihat ganteng, biarpun umurnya sudah 48 tahun.
Selama Liana komunikasi dengan Chandra, belum pernah sekali pun video call. Liana selalu punya segudang alasan untuk tidak video call.
Ya ... Mungkin keadaannya harus seperti ini, harus berbohong biar bisa dekat dengannya.
Liana pun rela tidur hanya beberapa jam saja untuk membangunkan Chandra jika dia dapat shift Pagi. Karena selisih jam Jakarta - Meulborne 4 jam.
"Hey ... Wake Up. Dont sleep again. You must go to restaurant. Hurry up" Ujar Liana ditelp.
"Ok ... Love u" Jawab Chandra.
Dan Liana baru tidur, jika Chandra mulai kerja.
Bukan hanya itu, Chandra juga selalu bertanya tentang pakaian yang digunakan pantes atau tidak.
Pernah suatu hari, dia gunakan celana kotak-kotak berwarna kuning dan Kemeja kotak-kotak merah.
"OMG ... Itu tabrakan atasan dengan bawahannya" Ujar Liana sambil tertawa.
"Really ... Ok ... Aku ganti dengan celana jins" Jawab Chandra.
Tidak lama kemudian, Chandra kirim foto dengan celana jins dan kemeja kotak-kotaknya. Terlihat ganteng, biarpun umurnya sudah 48 tahun.
Selama Liana komunikasi dengan Chandra, belum pernah sekali pun video call. Liana selalu punya segudang alasan untuk tidak video call.
Ya ... Mungkin keadaannya harus seperti ini, harus berbohong biar bisa dekat dengannya.
Tapi
sampai kapan harus berpura-pura menjadi orang lain, hati Liana mulai
tidak nyaman. Dia ingin dicintai sebagai dirinya bukan orang lain.
Hingga suatu hari, Chandra mengajak ketemuan dan ingin melamar. Liana bigung apa yang harus dilakukan.
"Hi, I want to meet you and married with you. Do you want to be my wife ?" Ucap Chandra.
Liana
diam membisu, tidak bisa menjawab. Seperti berada dipilihan yang
sulit.
Jika dia mengatakan ya, tapi dia bukan Ritika. Perempuan yang Chandra ingin nikahi. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, dia akan kehilangan Chandra selamanya.
Jika dia mengatakan ya, tapi dia bukan Ritika. Perempuan yang Chandra ingin nikahi. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, dia akan kehilangan Chandra selamanya.
Belum siap bagi Liana untuk kehilangan Chandra, dia sudah nyaman bersamanya.
Dan atas saran salah satu teman, Liana akhirnya mengatakan bahwa dirinya bukan Ritika.
"Hi
Chandra, aku mau mengatakan sesuatu. Tapi tolong jangan membenci aku
setelah mendengar kebenaran ini. Aku lakukan ini karena aku mencintaimu"
Ujar Liana dengan nada suara ketakutan.
"Katakanlah, aku tidak akan marah. Aku mencintaimu" Jawab Chandra.
"Emmm ... Aku sebenarnya bukan Ritika. Aku seseorang yang pernah dekat sama kamu dan menyukaimu. Kamu pasti tahu siapa aku"
Setelah Liana mengatakan hal itu, tidak ada balasan apa pun dari Chandra. Dia memblock semua akun Liana.
Hati Liana kembali hancur, perasaan bersalah dan kehilangan orang yang selama 4 bulan ini bersamanya. Biarpun dalam dunia maya, tapi cinta Liana tulus.
Sejak saat itu, Liana tidak mendengar kabar Chandra lagi.
Hingga
beberapa bulan kemudian, Liana mendengar kabar Chandra menikah dengan
teman SMU nya. Mereka menikah karena dijodohi kakak ipar Chandra.
Perasaan senang ketika mendengar Chandra akhirnya ada yang menemaninya diusianya yang akan berkepala 5.
Sedangkan Liana, masih berjuang hidup untuk menyambung hidup dan menemukan cinta sejatinya.
***
Hancur hati harus putus komunikasi dengan Chandra. Tapi harus dilupakan, yang terpenting Chandra sudah bahagia.
Rasa rindu dan cinta kepada Chandra, Liana tuangkan dalam tulisan di blog miliknya.
Kenangan akan Chandra, disimpan disana. Dan foto-foto yang pernah dikirim Chandra, disimpan di Album foto facebook. Hanya dia saja yang bisa melihatnya.
Ketika rindu itu datang, dia bisa melihatnya. Cinta itu masih ada biarpun Liana tahu Chandra sudah melupakan bahkan membencinya.
Ketika rindu itu datang, dia bisa melihatnya. Cinta itu masih ada biarpun Liana tahu Chandra sudah melupakan bahkan membencinya.
***
Sejak putus komunikasi dengan Chandra, perasaan bosan dan lelah menyelimuti hari-hari Liana. Ingin rasanya mengundurkan diri dari Perusahaan tersebut.
Gimana tidak bosan, dia harus bangun pagi Jam 04:00 dan pulang dari kantor jam 22:00. Kalau akhir bulan harus pulang jam 00:00, maklum closingan. Belum lagi, susah cuti. Kalaupun cuti, handphone harus stand by. Tidak boleh mati handphone, kalau handphone mati, atasannya bisa marah besar.
Pernah suatu ketika handphone Liana mati, atasannya marah bukan main
"Kenapa kamu susah sekali dihubungi. Sudah saya bilang, cuti boleh, tapi handphone harus stand by"
"Handphone saya low-bat bu" Jawab Liana.
"Beli baru, emang kurang gaji kamu. Ganti handphone kamu"
Liana hanya diam saja, tidak berani menjawab lagi.
Itulah atasan Liana, galak. Apalagi kalau masalah dengan pelanggan dan sampai ke CEO, amarah luar biasa. Semua bisa kena marah dan tidak henti sampai dia pulang.
Hingga suatu hari, Liana nekad mengajukan surat pengunduran diri. Menikah, itu alasan agar bisa resign dari Perusahaan tersebut.
Liana memberanikan diri untuk mengundurkan diri, tanpa bertanya kepada orangtua. Keputusan besar dalam hidupnya
****
Agustus, dimana hari kebebasan pun tiba. Liana tidak bekerja di Perusahaan yang sudah 10 tahun dia bekerja.
Resign bukan berarti Liana bisa menikmati hidup, justru dia bigung mau kemana tiap harinya.Dia belum mendapatkan pekerjaan lagi.
"Aaaarrgghhhhh ...."
Pusing ... Bigung ... Apa yang harus dilakukan setiap hari.
8 bulan setelah resign dari Perusahaan, Liana belum mendapatkan pekerjaan.
8 bulan setelah resign dari Perusahaan, Liana belum mendapatkan pekerjaan.
Setiap pagi, pamit bekerja. Padahal pergi kemana saja tanpa tujuan. Naik turun busway dan commuterline. Kemana saja untuk menghabiskan waktu agar orang rumah tidak curiga.
Bukan
hanya itu, tidak ada pemasukan tiap bulan. Uang pensiun dari Perusahan
dan BPJS pun habis untuk menutup kartu kredit dan ongkos sehari-hari.
Hingga suatu hari, atas saran teman. Liana pinjam uang ke aplikasi peminjaman online.
"Ron ... Pinjam duit dunk RP 500.000, nanti diganti akhir bulan" Pinta Liana.
"Pinjam aja diaplikasi online kakak. Aku saja sering pinjam disana" Ujar Baron.
Awalnya Liana takut meminjam, tapi keadaan mendesak. Akhirnya Liana terjerumus ke aplikasi pinjaman online tersebut.
Tidak hanya satu, tapi banyak. Hingga hutangnya pun semakin menumpuk.
Bukan hanya itu, Liana juga pinjam uang keteman-temannya. Demi bisa menutup hutang.
Kalau istilahnya "Gali lubang tutup lubang". Itu saja yang dilakukan Liana sebelum mendapat pekerjaan.
"Ron ... Pinjam duit dunk RP 500.000, nanti diganti akhir bulan" Pinta Liana.
"Pinjam aja diaplikasi online kakak. Aku saja sering pinjam disana" Ujar Baron.
Awalnya Liana takut meminjam, tapi keadaan mendesak. Akhirnya Liana terjerumus ke aplikasi pinjaman online tersebut.
Tidak hanya satu, tapi banyak. Hingga hutangnya pun semakin menumpuk.
Bukan hanya itu, Liana juga pinjam uang keteman-temannya. Demi bisa menutup hutang.
Kalau istilahnya "Gali lubang tutup lubang". Itu saja yang dilakukan Liana sebelum mendapat pekerjaan.
Semakin hari, penderitaan hidup Liana pun semakin bertambah. Tidak ada teman untuk berbagi cerita.
Mungkin teman-temannya tidak mau berteman dengan Liana yang suka ngutang.
Mungkin teman-temannya tidak mau berteman dengan Liana yang suka ngutang.
Sendiri ... Itu yang dirasa.
Ingin rasanya bunuh diri dan menyusul Rian. Tidak ada harapan hidup yang dirasa Liana, hampa dan kosong.
***
"Disaat kita hampir terjatuh, pasti ada tangan yang menarik agar tidak terjatuh".
Itulah yang pernah dialami dengan Liana, disaat keadaan semakin terpuruk. Ada tangan yang menariknya untuk bangkit.
Dia berkenalan dengan Rana, perempuan berpostur kecil imut. Perempuan Indonesia yang menikah dengan Lelaki asing,
Mereka berkenalan disalah satu pertemuan di tahun baru.
"Hi, namaku Rana. Teman Rama"
"Hi, Liana. Senang berkenalan denganmu"
Entahlah apa yang membuat mereka bisa dekat dan semakin dekat. Bahkan Rana selalu support Liana.
Seakan memberi energi untuk Liana bangkit dari penderitaan yang dialami selama ini.
Rana mempunyai keinginan bisa punya "Rumah singgah manula" yang diperuntukan untuk manula. Disini nantinya, manula akan ada kegiatan agar bergerak.
Dan Liana sendiri, ingin punya "Panti Asuhan". Dimana anak-anak yang tidak punya orangtua memiliki tempat berteduh.
Tak heran, setiap Rana ada kegiatan sosial selalu mengajak Liana.
"Liana, besok aku ada acara dengan veteran. Kamu ikut ya" Pinta Rana.
"Ok, Jam berapa dan dimana" Ucap Liana.
"Jam 11:00 didaerah Kwitang, Senen".
"Ok"
Rana selalu mengenalkan Liana pada sesuatu hal baru yang belum pernah dilakukan.
Dunia baru selalu dikenalkan Rana kepada Liana, ini membuat mata Liana terbuka akan kehidupan ini.
Seakan memberi energi untuk Liana bangkit dari penderitaan yang dialami selama ini.
Rana mempunyai keinginan bisa punya "Rumah singgah manula" yang diperuntukan untuk manula. Disini nantinya, manula akan ada kegiatan agar bergerak.
Dan Liana sendiri, ingin punya "Panti Asuhan". Dimana anak-anak yang tidak punya orangtua memiliki tempat berteduh.
Tak heran, setiap Rana ada kegiatan sosial selalu mengajak Liana.
"Liana, besok aku ada acara dengan veteran. Kamu ikut ya" Pinta Rana.
"Ok, Jam berapa dan dimana" Ucap Liana.
"Jam 11:00 didaerah Kwitang, Senen".
"Ok"
Rana selalu mengenalkan Liana pada sesuatu hal baru yang belum pernah dilakukan.
Dunia baru selalu dikenalkan Rana kepada Liana, ini membuat mata Liana terbuka akan kehidupan ini.
***
Hingga suatu hari, Liana mendapat kabar gembira. Dia diterima kerja disuatu perusahaan starthub bergerak dibidang software kasir. Tapi posisinya tidak seperti di Perusahaan dulu, hanya sebagai Telesales Engineering.
Akhirnya, selama 8 bulan tidak bekerja. Liana bisa kembali bekerja, di Perusahaan bonafit juga.
"Selamat ya mba, mba diterima di Perusahaan ini. Mba bisa mulai kerja besok, bisa datang jam 09:00"
"Bisa bu, besok saya datang sebelum jam 09:00"
Perasaan senang, akhirnya bisa bekerja kembali. Akan ada pemasukan setiap bulan, bisa bayar hutang.
Keesok harinya, Liana datang sebelum jam 09:00.
Hari pertama bekerja, Liana sudah merasa nyaman. Selain itu, fasilitas di Perusahaan ini juga ok.
Selain dapat makan siang gratis, disini disediakan kopi, gula, teh dan susu gratis. Bisa diminum kapan saja.
Bukan itu saja, Liana tidak punya team. Dia hanya sendiri, maklum Departemen tempat dia bekerja baru. Jadi belum ada team sama sekali.
Ditambah, Liana punya 2 atasan. Salah satu atasan Liana, orang India. Komunikasi diantara mereka sedikit susah, Liana tidak terlalu lancar bahasa inggris. Tapi beruntung, Liana masih punya atasan orang Indonesia. Dia lebih sering komunikasi dengan atasan yang orang Indonesia.
***
Dengan bekerja, permasalahan hutang belum dapat diselesaikan. Liana makin dikejar-kejar penangih hutang, bukan hanya itu. Teman-temannya diteror dari Aplikasi Pinjaman online, agar Liana membayar hutangnya.
Keadaan ini membuat Liana tidak tahu gimana, dia merasa tertekan. Tidak tahu harus apa yang harus dilakukan.
Salah satu cara, Liana harus mengatakan ke Papa nya. Meminta bantuan Papa nya agar semua hutangnya dapat diselesaikan.
Sambil menangis dan mencium kaki Papa nya Liana berkata "Pa ... Maafin Liana"
Papa Liana kaget dan berkata "Ada apa Liana"
Dengan isak tangis, Liana mengatakan "Pa ... Liana punya hutang banyak. Bantuin Liana buat bayar"
Amarah murka ketika Papa Liana mendengar perkataan Liana, bukan hanya itu. Liana kena pukul.
"Buat apa kamu berhutang, buat laki mana uangnya. Selama ini kamu tidak memberikan apa-apa untuk keluarga ini"
Sakit hati Liana mendengar ucapan Papanya. Hutang selama ini yang dia pinjam selama ini digunakan untuk keluarganya juga. Tapi tidak pernah dianggap.
Hutang Liana pun dibayarkan adiknya, Eva.
Setelah lulus kuliah, Eva, menjadi guru musik di salah satu sekolah semi Internasional. Gaji pun lumayan, Papa pun bangga dengannya.
Sejak saat itu, apa yang dilakukan Liana selalu salah dimata keluarganya. Liana merasa apa yang dilakukan selama ini tidak berarti.
Bukan itu saja, tiap Liana memberikan sesuatu untuk keluarganya termasuk makanan. Selalu ditanya uangnya darimana ?
Tapi ada satu perkataan Papanya yang membuat Liana sedih ketika sedang marah kepadanya "Apa yang sudah kamu berikan untuk keluarga ini"
Bukan itu saja, tiap Liana memberikan sesuatu untuk keluarganya termasuk makanan. Selalu ditanya uangnya darimana ?
Tapi ada satu perkataan Papanya yang membuat Liana sedih ketika sedang marah kepadanya "Apa yang sudah kamu berikan untuk keluarga ini"
Hancur ... Itu yang dirasakan Liana.
Apa yang dilakukan selama ini tidak berarti, semuanya tidak dianggap.
Benar kata pepatah "Sebab nila setitik rusak susu sebelanga". Itulah yang terjadi dengan diri Liana.
Benar kata pepatah "Sebab nila setitik rusak susu sebelanga". Itulah yang terjadi dengan diri Liana.
Tapi itu yang harus Liana terima atas apa yang dia lakukan.
3 bulan setelah bekerja di Perusahaan tersebut, adik Liana yang paling kecil, Evi, lulus kuliah. Itu artinya, tanggung-jawab Liana sebagai Kakak sudah selesai.
Ya, biarpun pengorbanan yang dia lakukan selama ini tidak berarti.
Sejak saat itu, keluarganya selalu anggap remeh apa yang dia lakukan.
Sejak saat itu, keluarganya selalu anggap remeh apa yang dia lakukan.
Bukan hanya itu, Liana dianggap bukan siapa-siapa. Kalau adik-adiknya membeli makanan, Liana tidak pernah dikasih. Mereka selalu berkata
"Beli sendiri, makanya jangan berhutang"
Tidak ada hormatnya lagi adik-adiknya kepada Liana. Tapi Liana selalu ingat keluarganya, bahkan nasi box dari kantornya selalu dibawa pulang.
Dia rela membawa berat tasnya, selain laptop ada juga makanan untuk keluarganya.
Tapi tetap saja, kesalahan yang dilakukan Liana masih saja terus diungkit.
Sakit memang setiap kali mendengar ucapan keluarganya. Dan ini harus diterima Liana.
Jika keorang-orang selalu katakan keluarganya sangat perhatian kepada dia. Padahal kenyataannya, keluarganya tidak pernah anggap apa yang dia lakukan selama ini.
Rasanya ingin keluar dari rumah, ingin kabur tanpa mereka tahu keberadaannya. Tapi Liana belum ada keberanian untuk itu.
Kondisi keuangan Liana belum cukup untuk keluar dari rumah. Dia berharap suatu hari bisa pindah ke kota lain, sendiri. Memulai hidup mandiri, tanpa keluarganya.
Dan untuk saat ini, Liana harus menerima ucapan dari keluarganya.
"Beli sendiri, makanya jangan berhutang"
Tidak ada hormatnya lagi adik-adiknya kepada Liana. Tapi Liana selalu ingat keluarganya, bahkan nasi box dari kantornya selalu dibawa pulang.
Dia rela membawa berat tasnya, selain laptop ada juga makanan untuk keluarganya.
Tapi tetap saja, kesalahan yang dilakukan Liana masih saja terus diungkit.
Sakit memang setiap kali mendengar ucapan keluarganya. Dan ini harus diterima Liana.
Jika keorang-orang selalu katakan keluarganya sangat perhatian kepada dia. Padahal kenyataannya, keluarganya tidak pernah anggap apa yang dia lakukan selama ini.
Rasanya ingin keluar dari rumah, ingin kabur tanpa mereka tahu keberadaannya. Tapi Liana belum ada keberanian untuk itu.
Kondisi keuangan Liana belum cukup untuk keluar dari rumah. Dia berharap suatu hari bisa pindah ke kota lain, sendiri. Memulai hidup mandiri, tanpa keluarganya.
Dan untuk saat ini, Liana harus menerima ucapan dari keluarganya.
***
Seperti hujan yang jatuh ke bumi. Semua rintik air yang turun akan dengan ikhlas berhenti. Seperti itulah, rinduku kepadamu akan juga ikhlas melupa.
Ketika rasa sendiri datang, rindu kepada Rian pun menghampiri.
Ketika rasa sendiri datang, rindu kepada Rian pun menghampiri.
"Rian, biarpun kamu sudah pergi. Tapi kenangan itu masih ada dihati, sulit melupakanmu"
Pelukan hangat Rian, belaian tangan dirambutnya sambil berkata "Kamu tidak sendiri, ada aku yang selalu disamping kamu"
Dan ketika Rian pergi untuk selamanya, hanya kenangan indah untuk Liana. Seperti lagu Judika "Tak Mungkin Bersama"
Oh begini rasanya kehilangan dirimu kekasih
Tak pernah kubayangkan sakitnya akan seperti ini
Kau tlah pergi dari hidupku
Oh mengapa kah kau tinggalkan aku seperti ini
Saat aku masih berharap cinta ini masih bertahan untuk kita
Oh mengapa kah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu
Kini berakhir untuk slamanya
Oh begini rasanya kehilangan dirimu kekasih
Tak pernah kubayangkan sakitnya akan seperti ini
Kau telah pergi dari sisiku uo..ooo
Kita tak mungkin lagi untuk bersama (tak mungkin bersama) uuuu..
Kenyataan ini tlah memisahkan kita (tlah memisahkan kita)
Biarkan cinta ini jadi kenangan indah untukku.. uoo.. ooo
Oh mengapa kah kau tinggalkan aku seperti ini
Saat aku masih berharap cinta ini masih bertahan untuk selamanya
Oh mengapa kah kau membawa semua kenangan indah bersama kita dulu
Kini berakhir ooooh harus berakhir, oooo uu, kini berakhir untuk selamanya.. ooooh..
Sepeninggal Rian dan putus komunikasi dengan Chandra, hati Liana benar-benar tertutup.
Hingga suatu hari, Liana kembali jatuh cinta dengan duda anak satu.
Kelly, nama lelaki itu. Rambutnya yang ikal panjang, hidung mancung dan kulitnya putih, membuatnya terlihat ganteng. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan suka dengan dia.
Kelly, nama lelaki itu. Rambutnya yang ikal panjang, hidung mancung dan kulitnya putih, membuatnya terlihat ganteng. Siapa pun yang melihatnya, pasti akan suka dengan dia.
Awalnya Liana tidak menyukainya. Kesan pertama kenalan dengannya sombong, dia tidak pernah menjawab apa yang ditanyakan Liana.
"Sombong sekali lelaki itu, apa karena dia cakep jadinya sok cool begitu"
Beberapa kali mencoba untuk komunikasi lewat pesan di facebook tapi tidak pernah direspon.
Liana kenalan dengan lelaki itu didunia maya. Mungkin ini satu-satunya hiburan Liana untuk mencari teman.
Liana menyerah dan tidak mengirim pesan lagi.
Suatu sore, dalam perjalanan pulang. Liana melihat uploadan foto dari akun lelaki itu. Dia berfoto bersama anak perempuan yang paras wajahnya sama dengan dia.
"Siapa anak ini, cantik sekali"
Begitu melihat wajah anak perempuan itu, hati Liana seperti ada chemistry dengan anak itu. Seperti ada getaran aneh yang Liana sendiri tidak mengetahuinya.
Kemudian Liana, mengecek akun Kelly tuk mencari tahu siapa anak itu. Dan tidak membutuhkan waktu lama, Liana mengetahui nama anak perempuan itu.
Lani, nama anak perempuan itu dan umurnya 13 tahun.
Liana jatuh cinta dengan anak perempuan itu. Mungkin kalau Liana sudah menikah, umur anaknya sudah seumuran dia.
Tapi ... Siapa ibu dari anak itu ? Kenapa Liana tidak menemukan foto Lani dengan ibunya. Hanya foto dia dengan ayahnya.
Liana pun mencari tahu dari teman-temannya, tidak satu pun yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan.
Hingga suatu hari, Liana mendapatkan jawabannya dari seorang teman.
Raj, nama teman Liana itu. Sebenarnya Raj juga tidak mengetahui secara detail kehidupan Kelly. Dia cuma tahu kalau Kelly duda, istrinya meninggal dunia pada saat melahirkan anaknya.
"Oh wow ... Duda ? Jadi Kelly belum punya pasangan lagi sejak istrinya meninggal" Dalam hati Liana berkata.
Sejak mengetahui Kelly duda, Liana menyukai Kelly. Dia tertarik dengan Kelly karena melihat kedekatannya dengan anaknya. Biarpun tidak ada istri, dia bisa dekat sama anak.
Liana memang mencari sosok yang sayang keluarga dan itu dia temukan disosok Kelly.
Tengah malam, Liana mencoba kirim pesan ke Kelly. Dia tidak berharap akan dibalas pesannya, tapi tidak terduga. Kelly membalas pesannya dengan memberikan nomor handphone.
Liana tidak langsung kirim pesan ke nomor handphonenya, "Jual mahal dikitlah".
Baru beberapa hari kemudian, Liana kirim pesan whats ups. Diluar dugaan, Kelly lama membalasnya.
"OMG ... Lelaki ini ya, beda dari lelaki yang lain. Super cuek dan buat penasaran" Ujar Liana gemes.
Sikap Kelly yang cuek, membuat Liana penasaran dan makin menyukainya.
Semakin hari, rasa penasaran Liana semakin bertambah. Ingin rasanya menemuinya, tapi tidak ada keberanian.
Hingga suatu hari, Liana memberanikan diri untuk Ke Pasar Tanah Abang. Tempat kerjanya.
Iya, Kelly bekerja disana. Dia sales kain dan suka berada disana.
Ternyata gayung bersambut, Liana tidak membutuhkan waktu lama mencari dimana Kelly. Baru dia masuk, sosok Kelly sudah terlihat.
Dengan celana jins dan kemeja yang dibuka satu kancing atas, membuat bulu dadanya terlihat. Membuat jantung Liana berdebar kencang melihat sosok Kelly
"OMG ... Ganteng banget".
Sayang, Liana tidak punya keberanian untuk menegurnya. Dia hanya melewatinya dan berharap Kelly mengenal sosoknya. Tapi ternyata, Kelly tidak mengenalinya.
Sosok tubuh Liana yang gendut, mungkin tidak membuat Kelly melihatnya.
Tapi tidak apa-apa, yang terpenting bagi Liana bisa melihatnya biarpun dari jauh. Dia lakukan seperti itu hampir setiap bulan.
Seperti lirik lagu Ungu "Cinta Dalam Hati". Begitulah cinta Liana kepada Kelly, sebatas dalam hati.
mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa di cintai
tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
dengan hidupmu, dengan hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
bahagia untukku, bahagia untukku
ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja
Liana pernah memberanikan diri bertemu dengan Kelly. Dan itu hanya cuma 5 menit, setelah itu hilang kontak. Mungkin Kelly tidak tertarik dengan Liana.
Ya gimana mau tertarik, tubuh Liana yang besar tidak akan membuat lelaki tertarik. Termasuk Kelly, dia ganteng. Pasti banyak perempuan cantik yang dikenalnya.
Pupus harapan Liana menyukai Kelly, baginya cukup sekali bertemu dengannya. Setelah itu, dia hanya akan melihatnya dari kejauhan.
Bukan hanya itu saja, Liana juga sering mengecek Instagram anaknya. Dia sangat sayang anaknya.
Tapi bukan jodoh, harus ikhlas melupakan.
Seperti judul lagu Cakra Khan "Kekasih Bayangan".
Ya ... Kelly hanya sebatas Kekasih Bayangan , yang tidak bisa Liana miliki.
Liana belum bisa melupakan Kelly, mungkin pintu hatinya sudah tertutup untuk lelaki lain.
Tiap dikenalkan dengan seseorang, Liana tidak ada perasaan. Hatinya masih menyukai Kelly.
Hingga suatu hari, masalah baru muncul, yang membuat hari-hari Liana penuh teror.
Keponakan tante Liana, Gita namanya, ternyata ada hubungan dengan Kelly. Mereka kenalan ketika Liana update foto dan nge-tag Gita di Facebook.
OMG ... Mereka ada hubungan, Liana yang kena dampaknya.
Liana baru ketahui bahwa Gita kabur dari rumah karena suaminya sering memukulnya. Gita membalikkan fakta bawa dirinya KDRT. Tapi sebenarnya, dia mempunyai hubungan dengan Kelly. Bahkan rela meninggalkan suami dan anaknya demi ambisinya.
Suami Gita sudah pensiun, sehingga Gita memutuskan bekerja lagi. Dengan alasan untuk membantu suami, padahal itu cara dia supaya bisa keluar rumah setiap hari.
Dia rela meninggalkan suami dan anak karena sudah ada yang membiayai hidupnya.
Tapi hidup Liana tidak tenang, hari-harinya penuh teror tidak jelas. Pernah suatu ketika, Liana diteror dengan kata-kata tidak layak
"Hey, kamu Liana. Ada lelaki nih yang mau bayarin kamu dengan harga mahal. Kamu harus mau temanin seperti saudara kamu itu"
Liana kaget dan marah mendengarnya.
"Bangsat ... Suruh saja dia yang temenin tuh lelaki. Sinting"
Hati Liana kesal, ingin rasanya melaporkan ke kantor polisi. Tapi dia teringat ucapan tantenya "Jangan ladenin orang gila, nanti kamu gila juga".
Dan kalau melapor Polisi, urusan akan panjang. Akan melibatkan banyak keluarga dan waktu yang akan bolak-balik kantor polisi.
Uuuhhfff ... Liana hanya bisa menahan dalam hati saja. Tidak menceritakan ke siapa pun termasuk orang-tuanya. Dia tidak mau orang-tuanya panik.
Kasihan Kelly, bisa suka dengan perempuan seperti Gita yang hanya memikirkan materi saja. Gimana tidak memikirkan materi, sudah 2 kali menikah dan bercerai dengan alasan materi.
Suami ke-2 nya dicerai pada saat sudah pensiun dari salah satu BUMN ternama di Indonesia. Dia bisa pergi berlibur ke Luar Negeri waktu suaminya masih bekerja. Bahkan dia bisa bertemu dengan ayahnya yang sudah lama tinggal di Amerika, itu semua berkat suaminya. Jika tidak, tidak bisa dia bertemu ayahnya yang sudah lama meninggalkannya.
Dan jahatnya, begitu suaminya sudah pensiun. Dia bekerja dengan alasan gaji pensiunan suaminya tidak cukup. Padahal gaji pensiunan suaminya boleh dibilang lumayan, ditambah suaminya masih bekerja mengajar.
Emang, Gita nya saja yang tidak bisa kelolah pemasukan, gaya hidupnya mewah. Mau nya barang bermerek.
Bukan hanya itu, anak pertamanya saja tidak dia urus begitu dia menikah lagi. Anaknya diurus keluarga mantan suami pertamanya. Bukan hanya itu, anak pertamanya hampir bunuh diri dan hamil diluar nikah.
Ya, itulah kehidupan. Setiap orang punya jalan kehidupan masing-masing. Begitu juga dengan Gita.
Dia juga selalu beruntung mendapatkan suami kaya begitu cerai. Kecantikan dan body yang ok, modal dia untuk menarik lelaki.
Beda dengan Liana, yang tidak cantik. Tidak tahu dandan dan tubuhnya yang gendut. Makanya tidak heran, Kelly tidak meyukainya ketika ketemu dengannya.
Itulah cinta, tidak ada yang tahu siapa kepada siapa saling mencinta.
Hanya ikhlas yang bisa dilakukan Liana, ikhlas melupakan Kelly.
Dan berharap suatu hari nanti, akan ada seseorang yang bisa menerimanya apa adanya. Bukan hanya dia, tapi keluarganya juga.
***
Ketika rasa suka kepada Kelly belum bisa dilupakan, ada lelaki yang sudah lama tidak komunikasi dengannya menghubunginya lagi.
"Hi Liana, apa kabar ?" Tanyanya.
"Hi, kabar aku baik. Kenapa WA, ada apa ya ?" Balas Liana.
"Tidak, hanya ingin sapa saja".
Begitulah awal chat lelaki itu kepada Liana.
Octavianus, lelaki yang tinggalnya di Medan dan umurnya lebih muda 2 tahun darinya.
Lelaki yang tiap chat selalu menginggatkan agar selalu berdoa dan membaca alkitab.
Tapi lelaki ini hanya bisa dihubungi via whats up, nomornya sudah tidak aktif lagi. Hal ini yang membuat Liana curiga dan kesal. Tiap ditanya, jawabannya tidak pernah memuaskan Liana.
"Berapa nomor telp yang bisa dihubungi, kenapa nomor ini hanya bisa dihubungi lewat WA saja" Tanya Liana dengan nada kesal.
"Pakai nomor ini saja kalau mau hubungi" Ujar Octavianus.
" Aaarrrhhhhhh ... Nyebelin".
Lelaki ini selalu saja membuat Liana kesal, kalau didepannya ingin rasanya memukulnya.
Dan anehnya, Liana bertanya keteman-temannya di Medan, tidak ada yang kenal lelaki itu.
Makin curigalah Liana dengan Lelaki satu ini, mau apa lelaki ini dari Liana. Kenapa dia begitu misterius.
Tiap ditanya, lelaki ini selalu katakan "Suatu hari nanti kau pasti akan ke Medan, kau akan bertemu aku nanti"
Menyebalkan lelaki itu.
Hingga suatu hari, Liana dipuncak kemarahannya. Dia tidak komunikasi dengan lelaki itu, tapi tidak block WA nya. Dia ingin tahu apakah lelaki itu akan WA terlebih dahulu, tapi ternyata tidak. Dia hanya melihat status-status Liana tanpa dia komentar.
Dan siapa pun dia, jika memang Tuhan ijinkan ketemu. Akan ketemu dengannya pasti.
***
Malam hari
Dalam perjalanan pulang di commuterline. Perasaan hampa dan bosan, timbul pikiran ingin bunuh diri.
Dalam hati Liana berkata "Buat apa hidup, tidak berguna lagi. Semua yang kulakukan sia-sia"
Sambil duduk manis dengan handphone ditangan, Liana browsing apa saja. Tiba-tiba muncul satu biografi artis ternama, dia bisa bangkit dari keterpurukannya.
Masa lalunya yang kelam, bisa membuatnya bangkit dan berprestasi.
Oprah Winfrey...
Ya ... Perempuan berkulit hitam, yang punya masa lalu kelam dan tidak bahagia.
Sejak kecil, orangtua Oprah sudah bercerai. Dia harus tinggal bersama neneknya. Selain itu, dia juga pernah mengalami pemerkosaan oleh saudaranya sendiri. Tapi dia diam, tidak mengatakan kepada siapa pun.
Kalau itu terjadi kepada perempuan lain, mungkin perempuan itu akan bunuh diri atau sudah lapor ke kantor polisi.
Tapi Oprah tidak lakukan, justru dia menganggap apa yang terjadi itu karena kesalahannya sendiri.
Bagaimana bisa, apa yang terjadi kepadanya karena kesalahannya sendiri.
Beda dengan Liana, yang selalu menganggap apa yang dilakukannya tidak pernah dihargai keluarganya. Bahkan hasil jerih payahnya pun tidak pernah dianggap.
Beda dengan Liana, yang selalu menganggap apa yang dilakukannya tidak pernah dihargai keluarganya. Bahkan hasil jerih payahnya pun tidak pernah dianggap.
OMG ...
Dan yang membuat Liana tidak habis pikir, diumurnya 14 tahun Oprah melahirkan. Biarpun bayinya tidak bertahan lama, tapi dia masih bertahan hidup.
Tapi berkat keinginannya untuk berubah, Oprah bisa menjadi terkenal seperti sekarang ini. Bahkan dia sudah beberapa kali menerima penghargaan karena karyanya.
Tapi berkat keinginannya untuk berubah, Oprah bisa menjadi terkenal seperti sekarang ini. Bahkan dia sudah beberapa kali menerima penghargaan karena karyanya.
Apa yang dialami Oprah belum ada apa-apanya, dengan apa yang terjadi dengan Liana.
Liana tersadar, apa yang terjadi dengan dirinya merupakan "Karma" karena dia tidak pernah melakukan kebaikan. Mungkin ini teguran dari Tuhan agar bisa berubah.
Sejak saat itu, Liana sering membaca history mengenai Oprah. Dia yang membuat Liana berubah dan menjalani hidup untuk lebih baik.
Oprah menjadi inspirasi Liana untuk berubah hidup, lebih menghargai hidup dan melupakan apa yang terjadi dimasa lalunya.
Oprah menjadi inspirasi Liana untuk berubah hidup, lebih menghargai hidup dan melupakan apa yang terjadi dimasa lalunya.
Hari-hari yang selama ini tidak berwarna, menjadi berwarna. Liana berubah menjadi perempuan yang selalu tersenyum dan menolong orang lain. Sehingga orang yang melihatnya sebagai Perempuan yang riang, aktif dan selalu ramah dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang baru dikenal.
Impian Liana, bisa bertemu dengan Oprah Winfrey dan memeluknya.Biar bisa jadi orang pertama dari Indonesia yang bertemu dengannya.
Bukan itu saja, berkat Oprah, Liana bisa menjalani hidupnya dengan penuh warna. Biarpun keluarga masih belum bisa melupakan apa yang Liana lakukan dulu, paling tidak diluar sana masih ada orang yang menghargai apa yang dilakukan Liana.
Bukan hanya itu, Liana juga ingin memperbaiki rumah orang-tuanya yang sudah rusak atapnya.
Ya maklum, biaya untuk perbaikinya sekitar 100 juta. Darimana uangnya, untuk sehari-hari saja masih kurang.
Tapi Liana yakin, suatu hari nanti dia bisa memperbaiki rumah orang-tuanya bahkan bisa memperbaiki kuburan kakeknya dikampung halamannya.
Bukan itu saja, Liana ingin mendirikan rumah singgah untuk manula dan anak-anak yatim-piatu.
Bukan itu saja, berkat Oprah, Liana bisa menjalani hidupnya dengan penuh warna. Biarpun keluarga masih belum bisa melupakan apa yang Liana lakukan dulu, paling tidak diluar sana masih ada orang yang menghargai apa yang dilakukan Liana.
Bukan hanya itu, Liana juga ingin memperbaiki rumah orang-tuanya yang sudah rusak atapnya.
Ya maklum, biaya untuk perbaikinya sekitar 100 juta. Darimana uangnya, untuk sehari-hari saja masih kurang.
Tapi Liana yakin, suatu hari nanti dia bisa memperbaiki rumah orang-tuanya bahkan bisa memperbaiki kuburan kakeknya dikampung halamannya.
Bukan itu saja, Liana ingin mendirikan rumah singgah untuk manula dan anak-anak yatim-piatu.
Dan pada akhirnya Liana terbiasa dengan apa yang terjadi dan menerima keadaan yang datang kepadanya.
Liana pun menjadi tahu, siapa teman yang ada disaat susah maupun senang.
Sejak kejadian Liana punya banyak hutang disana-sini, teman Liana hanya 4 orang. 3 teman semasa kuliah dan 1 teman dari kenalan.
Mereka yang selalu ada disaat Liana terpuruk. Dan mereka juga yang memberi Liana bangkit, hingga Liana bisa melunasi semua hutang-hutangnya.
Dan untuk masalah jodoh, Liana tidak terlalu berharap diberikan jodoh. Jika nanti Tuhan berikan, itu semua sudah rencana-NYA.
Tapi yang pasti, Liana akan jalani hidupnya menjadi lebih baik. Belajar memaafkan orang-orang yang pernah menghinanya.
Liana pun menjadi tahu, siapa teman yang ada disaat susah maupun senang.
Sejak kejadian Liana punya banyak hutang disana-sini, teman Liana hanya 4 orang. 3 teman semasa kuliah dan 1 teman dari kenalan.
Mereka yang selalu ada disaat Liana terpuruk. Dan mereka juga yang memberi Liana bangkit, hingga Liana bisa melunasi semua hutang-hutangnya.
Dan untuk masalah jodoh, Liana tidak terlalu berharap diberikan jodoh. Jika nanti Tuhan berikan, itu semua sudah rencana-NYA.
Tapi yang pasti, Liana akan jalani hidupnya menjadi lebih baik. Belajar memaafkan orang-orang yang pernah menghinanya.
****
