Saturday, March 21, 2020

Wisma Pesanggrahan Soekarno, Danau Toba, Parapat

Wisma Pesanggrahan Soekarno
Danau Toba, Parapat
Dorkas Manroe


Tahukah kamu, kota Parapat bukan hanya tempat pariwisata. Di kota ini pernah jadi saksi sejarah bangsa Indonesia. Kalau yang belajar sejarah pasti tahu, bagaimana yang tidak pernah belajar sejarah. Jawabannya pasti tidak tahu. Ya, contohnya seperti aku. Baru tahu ketika sedang berkunjung kesini.

Disebut sejarah karena di tahun 1948, Presiden RI ke-1, IR. Soekarno, Haji Agus Salim dan Sjahrir, diasingkan di kota ini oleh Pemerintah Belanda.  

Dirumah Pengasingan ini, Soekarno bisa menikmati keindahan Danau Toba. Rumah berlantai 2 yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1820 dengan ukuran 10 x 20 m dan dikelilingi taman kira-kira seluas Dua hektar.

Rumah tersebut, awalnya dibangun tentara Belanda untuk pegawai perkebunan. Dirumah ini, kita bisa melihat perabotan yang pernah digunakan Soekarno. Dan sampai saat ini masih terawat dengan baik. Biarpun ada beberapa perabotan yang sudah diganti karena usang / usianya sudah tua.

Rumah yang terletak di Jl. Istana No.5 dibangun dengan gaya bangunan Eropa. Ukiran didalamnya pun didominasi dengan ukiran kayu jati. Dari lantai 2 rumah ini, kita bisa melihat pemandangan Danau Toba dan perbukitan yang berwarna hijau.

Di dinding rumah ini, kita bisa melihat foto-foto, lukisan Soekarno dan peristiwa yang terjadi di zaman itu.

Bangunan ini juga mempunyai akses bawah tanah yang bisa tembus dibeberapa titik. Sayang, akses jalan ini sudah ditutup
   
Biarpun tidak ada AC atau pun kipas, suasana rumah ini nyaman dan adem. Kita dibuat betah jika berada dirumah ini. 

Oh ya, dihalaman rumah ini terdapat Mushollah loh. Jadi bagi kalian yang mau shollat bisa menggunakan tempat ini.

Rumah ini tidak bisa dibuka untuk umum, dan beruntungnya aku bisa berkeliling melihat isi rumah ini.

Saat ini, rumah tersebut dikelola Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dan bernama Mess / Pesanggarahan Parapat. Rumah ini digunakan jika Presiden sedang berkunjung ke kota ini.

Sooo.. Jangan lupa mampir kesini kalau kalian di Parapat. Sekali-kali, berwisata sejarah.


Parapat, 31 Mei 2019 


  


























A Sweet Memory, Tip-Top

A Sweet Memory, Tip-Top 
Dorkas Manroe


Tau kah kalian, di Kota Medan ada restaurant tertua. Nah, kalau kalian jalan-jalan ke Kota Medan, jangan lupa mampir ke "Tip-Top" yang terletak di Jl. Ahmad Yani, Medan. 

Diawal berdirinya di tahun 1929, Restaurant ini bernama "Jangkie", sesuai nama pemilik. Dan berlokasi di Jl. Pandu, Medan.

Kala itu, restaurant ini menjual roti dan kue hasil olahan sendiri. Kemudian di tahun  1934, berpindah tempat di Jl. A. Yani (Kesawan) dan berubah nama menjadi "Tip-Top" yang artinya "Prima" atau "Sempurna"

Eeemmm... Artinya, Restaurant ini berdiri sebelum Indonesia Merdeka. 

Sejak saat itu, bukan hanya roti dan kue saja yang disajikan. Tapi beragam masakan Barat, Eropa dan Chinese. Seperti Nasi Goreng, Steak , Salad, dll. 

Oh ya, es krim juga ada disini. Jadi kalau kalian pecinta es krim, bisa coba rasakan olahan buatan restaurant ini. Dan harganya pun sesuai dengan kantong kita.

Restaurant ini buka setiap hari (10:00 - 21:00), suasana yang disuguhkan seperti dirumah. Kalian akan nyaman kalau berada disini.

Oh ya, kalo kalian tidak mau antri. Bisa pesan di Grabfood, jadi kalian tinggal menunggu saja pesanan datang.

Soo... Jangan lupa masukin ke wishlist kamu ya kalo berada di Kota Medan !


Medan, 03 Juni 2019















Rumah Tjong A Fie, Medan Sumatera Utara

Rumah Tjong A Fie
Medan Sumatera Utara
Dorkas Manroe


Klo ke Kota Medan, jangan lupa mampir ke Rumah Tjong A Fie. Letaknya di Jl. Jendral Ahmad Yani No.105, Medan Barat

Tapi... Siapakah Tjong A Fie ? 

Pria kelahiran tahun 1860 berasal dari Tiongkok ini, pertama kali datang ke Medan di usia 18 tahun. Dia menyusul kakaknya, Tjong Yong Hian, yang terlebih dahulu berada di Medan. 

Semasa hidupnya, Tjong A Fie, menjadi pengusaha perkebunan dan bankir. Ia juga menjadi orang kepercayaan Pemerintahan Hindia Belanda dan Sultan Deli, Makmun Al Rasyid. 

Tjong A Fie memiliki 3 istri, namun ia menghabiskan masa hidupnya bersama dengan istrinya yang ke-3 nya. Yang bernama Liem Koei Yap, berasal dari Binjai Sumatera Utara. Dan memiliki 7 anak. 

Semasa hidupnya, Tjong A Fie, suka beramal. Dan ia juga membangun mesjid, yang sekarang terkenal dengan namanya Masjid Raya Medan.  

Sebelum meninggal, Tjong A Fie, berpesan agar rumah peninggalnnya dirawat. Jangan dijual, sehingga sampai sekarang rumah ini ditempati dan dirawat oleh keturunan  Tjong A Fie.

Rumah ini sekarang dijadikan salah satu tempat wisata di kota Medan. Sesampai didepan rumah ini kita akan melihat pintu gerbang dan gapura yang masih kental dengan bangunan Tiongkok jaman dulu.

Memasuki halamannya, kita akan tanaman yang tertata rapih. Membuat suasana menjadi asri dan nyaman. 

Eeiittss, tunggu dulu. Sebelum kita melihat-lihat isi rumahnya, kita harus membayar Rp 35.000. Nanti kita akan diajak tour guide untuk berkeliling rumah ini. 

Bangunan ini terdiri dari 2 lantai ini dan berukuran 8.000 meter memiliki banyak ruangan. Seperti ruang tamu, kamar tidur, ruang rapat, ruang keluarga dan masih banyak lagi ruangan. Dan disetiap sudut dipajang foto Tjong A Fi dan keluarga. 

Penasaran ... Yuks, berkunjung ke Rumah Tjong A Fie jika kalian berada di kota Medan



Medan. 04 Juni 2019




































Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an

"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain".  Masa dimana dapat tertawa ...