Aku Ingin Bahagia
Dorkas Manroe
Keluarga merupakan tempat seorang anak mendapatkan kasih sayang. Itulah yang sering kudengar. Tapi sejak kecil aku tidak merasakan kasih sayang itu dari orangtuaku. Sejak kecil, aku selalu kena marah dan pukulan dari papaku. Kalau aku ada masalah, papaku akan marah tanpa menanyakan masalahnya apa. Baginya aku selalu membuat masalah.
Aku iri kalau melihat teman-temanku yang selalu dicium dan dipeluk papanya. Sejak kecil aku tidak merasakan itu, sejak kecil aku hanya merakan omelan dan pukulan. Rotan, sapu lidi, ganggang sapu dan ikat pinggang pernah kurasakan.
Itulah yang membuatku menjadi anak yang tertutup kepada orangtuaku, kalau ada masalah aku selesaikan sendiri. Jangan sampai orangtuaku mengetahuinya.
Aku pun tumbuh menjadi anak yang galak, pemarah, sombong, angkuh dan pendendam. Bahkan dengan orangtuaku pun, aku menyimpan akar kepahitan. Mungkin karena ini, hidupku seperti neraka. Panas hati, tidak ada ketentraman jiwa. Tapi aku tidak perduli, hingga suatu saat aku tertimpa masalah besar. Dan inilah yang membuatku berubah menjadi lebih baik.
"Kamu jadi mau resign Juli" Tanya atasanku
"Jadi Bu, saya sudah fix resign" Jawabku dengan yakin
"Ya sudah kalau itu sudah kemauanmu" Ujarnya.
Kemudian dia menanda-tangani surat resignku. Setelah itu, aku meminta tanda-tangan bagian lain yang merupakan bagian dari proses sebelum resign.
Dua bulan bukan waktu yang lama, dikantorku ini. Untuk resign harus mengajukan 2 bulan sebelumnya agar hak-hak kita dibayarkan. Sayang uang BPJS-nya kalau tidak bisa cair. Maklum sudah 10 tahun bekerja jadi sayang uangnya kalau tidak bisa diambil.
Jujur sebenarnya sayang resign tapi keadaan yang tidak memungkinkan. Lelah, capek dan bosan yang kurasakan. Apalagi sejak dimutasi ke Departemen lain, seminggu sebelum akhir bulan bisa pulang Jam 23:00. Dan besoknya harus bangun Jam 05:00. Belum lagi jarak antara Rumah ke Kantor, Pondok Kopi-Grogol. Kebayang dunk, macetnya. Maklum, lagi banyak pembangunan. Badan rontok setiap hari begitu.
Waktu yang ditunggu pun tiba, resign times. Aku pamit dengan seluruh teman, team dan atasanku. Jujur, tidak ada rasa sepi atau menyesal.
"Teman-teman maafin ya kalau aku ada salah baik sengaja maupun tidak sengaja" Kataku.
"Ya sama-sama Juli" Ujar salah satu temanku.
Oh ya, aku resign tanpa meminta pertimbangan orangtuaku. Mereka pasti tidak akan setuju apa pun alasannya. Apalagi Papaku, baginya dia yang benar. Tidak permah selama ini aku yang benar, selalu aku yang salah dan tidak tahu apa-apa.
Keesok harinya aku tetap bangun pagi, berangkat seperti biasa. Agar orang dirumah tidak tahu aku resign. Aku pergi mencari pekerjaan, dari satu perusahaan ke Perusahaan lainnya. Tapi hasilnya nihil, tidak ada yang mau terima aku.
Selama 6 bulan aku lakukan seperti itu, ternyata cari pekerjaan itu susah. Tidak ada koneksi, susah masuk. Rasa penyesalan, uang dari hasil BPJS sudah menipis. Putus harapan sudah, tapi aku pendam semuanya sendiri.
Ketika putus harapan, disore hari ponsel berbunyi
"Hallo... Bisa bicara dengan Mba Juli"
"Ya, saya Juli. Ini darimana ya?"
"Mba, saya Maya dari PT. Mitrakerjasama ingin mengundang mba untuk interview besok Jam 09:00 di daerah Kuningan. Apakah bisa" Tanyanya
"Bisa Bu, besok saya bisa kesana" Jawabku dengan cepat
"Baik bu, saya akan kirim undangan untuk interview besok. Tolong dibalas ya, kami tunggu kehadirannya besok" Ujarnya.
Hatiku rasanya senang mendengar kabar tersebut, berharap semoga besok aku diterima kerja. Esok harinya, aku datang lebih awal dari Jam yang diminta. Aku tidak mau terlambat, prinsipku dari dulu "Lebih baik datang lebih awal daripada terlambat".
Semua proses aku jalani, mulai dari psikotes, interview HRD sampai interview user. Seharian aku jalanin proses penerimaan karyawan dan aku disuruh menunggu seminggu lagi. Aku tidak terlalu berharap banyak, pasti gagal lagi.
Tapi ternyata dugaanku salah, kali ini aku diterima. Ya, aku diterima kerja. Akhirnya selama 6 bulan, aku bekerja kembali.
Tapi ternyata dugaanku salah, kali ini aku diterima. Ya, aku diterima kerja. Akhirnya selama 6 bulan, aku bekerja kembali.
Hari pertama aku kerja, aku "terjun bebas" dalam arti tidak diberikan trainning apa pun. Aku harus mencari tahu semuanya sendiri, aku harus tahu produknya apa saja. Bagaimana prosesnya kerjanya, pokoknya harus sendiri. Aku jadi bigung, apa yang aku harus lakukan. Belum lagi teamnya yang tidak disiplin, ada makanan dimeja. Ngobrol dan ketawa ngakak dijam kerja. Pokoknya beda banget dengan team aku sebelumnya.
Tempatku berkerja, perusahaan baru. Jadi untuk proses kerja dan semuanya belum sempurna. Agent hanya diminta call 1 kali saja tanpa ada penggulangan data, sehingga kalau data habis mereka hanya duduk sambil ngobrol dan makan. Belum lagi disiplin kehadiran mereka, terlambat dan tidak masuknya. Pasti ada saja yang tidak masuk setiap harinya dan dengan gampang mereka mengatakan "Ganti hari bu minggu depan saja". Adehh.. Bukan hanya aku yang kesal, tapi atasanku juga sama.
"Mas, anak-anak disini kok disiplinnya parah banget ya.. Bagi mereka terlambat biasa saja. Sudah dilakukan apa saja ke mereka" Tanyaku kepada salah satu rekan kerjaku.
"Mereka memang begitu mba, susah diberitahu berkali-kali" Jawabnya
"Ada buktinya gak kalau mereka sudah dicoaching?" Tanyaku kembali
"Tidak ada mba, mereka dipanggil lisan saja".
Eemmm.. Pantes saja mereka tidak berubah, sesuka mereka. Tidak bisa dibiarkan ini, harus dirubah pola pikir mereka, aku saja bisa datang jam 07:00 masa mereka telat.
Keesok-harinya, pada saat briefing aku katakan dengan keras bagi siapa saja yang terlambat akan kena "Surat Cinta" dan bayar Rp 5.000. Aku pikir akan berubah, ternyata tidak loh. Masih saja ada yang terlambat. Dan di briefing selanjutnya aku makin ketat dan galak dengan namanya kehadiran.
Aku pikir mereka akan berubah tapi mereka malah menolak, seperti magnet. Sisi positif bertemu sisi negatif, makin kuat perlawanan mereka. Apalagi disana ada yang "dituakan" karena adik dari salah satu manager disana.
Aku pikir mereka akan berubah tapi mereka malah menolak, seperti magnet. Sisi positif bertemu sisi negatif, makin kuat perlawanan mereka. Apalagi disana ada yang "dituakan" karena adik dari salah satu manager disana.
Aku diskusikan dengan atasanku, aku katakan kenapa disiplin mereka parah. Ternyata atasanku membenarkan disiplin mereka parah dan meminta aku membuat disiplin. Adehh... PR banget ya, aku pikir masuk sudah enak.. Tinggal urus report kerjaan, ini malah harus buat membenahkan dulu attitude team.
Berkat saran dari kawan, Jey, aku memanggil satu persatu mereka. Tanya satu prrsatu mau mereka bagaimana dan tujuan mereka bekerja untuk apa. Dan Puji Tuhan, berhasil. Mereka berubah perlahan-lahan. Anak-anak yang tidak bisa mengikuti aturan perlahan mengundurkan diri sendiri atau "muntaber" (mundur tanpa berita)".
Akhirnya aku dapat menyesuaikan diri dengan mereka. Perubahan pun terjadi, attitude mereka menjadi lebih baik. Bahkan aku dipanggil "Mami" oleh salah satu team. Sejak saat itu, aku bukan dipanggil Bu atau Mba tapi "Mami".
Kami pun menjadi akrab bahkan seperti keluarga. Kalau ada yang ulangtahun, patungan beli kue dan kado. Makan-makan diluar, tapi bayar masing-masing. Itu yang kami lakukan dan jujur ini pertama kalinya aku seperti ini. Dikantorku yang dulu, belum pernah seperti ini.
Satu masalah persatu masalah dalam hidupku dapat kuselesaikan, tentu dengan bantuan beberapa teman. Salah satunya Jey, dia yang selalu memberikan solusi dan nasehat setiap kali aku curhat. Kami berkenalan didunia maya dan belum pernah bertemu. Tapi kami seperti sudah berkenalan bertahun-tahun. Entah apa rencana Tuhan, tapi yang pasti dia dikirim Tuhan untuk membimbing aku menjadi lebih baik.
Masalah satu selesai, muncul lagi masalah yang baru dan inilah puncak dari kehancuran hidupku. Aku terlilit hutang banyak, sampai 8 jutaan. Tidak ada tempat buat aku pinjam, atas saran Jey aku mengatakan kepada kedua orangtuaku. Dan seperti biasa, pada saat aku katakan mereka marah besar dan memaki aku.
"Otak kau dimana, kau resign dari kantormu hanya karena capek. Kau sekarang punya hutang, darimana kau belajar itu" Ujar Papaku sambil marah-marah
"Prak.." Pukulan mendarat ditubuhku. Beberapa kali aku rasakan, tapi aku tidak merasakan sakit. Mungkin karena sudah terbiasa. Aku hanya menangis dan menyesal.
Berkat bantuan adikku, hutangku yang 8 juta itu bisa dilunasi. Tapi sebenarnya aku masih punya banyak hutang lainnya, aku hutang diaplikasi pinjaman online. Aku pikir bisa aku atasi yang lain denga gajiku. Biarlah aku simpan sisa hutang yang belum aku lunasi. Ada rasa ketakutan yang kurasakan, aku tidak berani jujur.
Tiga bulan setelah kejadian itu, muncul masalah baru. Kontrak kerjaku diputus dengan alasan efisiensi karyawan dan aku salah satunya. Perasaan campur aduk ketika aku mendengar hal itu, baru enam bulan bekerja sudan dipecat saja. Isi kepala mau pecah memikirkan hutang yang banyak.
Hal ini aku simpan sendiri, aku tidak katakan kepada orangtuaku. Aku seperti biasa layaknya pergi dan pulang kerja. Biar mereka tidak curiga, aku juga mencoba pinjaman sana sini untuk melunasi. Lelah dan capek kalau terus menerus seperti ini, gaji habis untuk membayar hutang.
Ternyata sulit, tidak ada yang mau memberi pinjam. Teman yang kaya pun tidak dapat memberikan pinjaman dengan alasan "Banyak kebutuhan" Bukan hanya itu saja, ada yang hanya membaca saja tanpa respon.
Ternyata sulit, tidak ada yang mau memberi pinjam. Teman yang kaya pun tidak dapat memberikan pinjaman dengan alasan "Banyak kebutuhan" Bukan hanya itu saja, ada yang hanya membaca saja tanpa respon.
Ternyata benar "Teman itu banyak ketika kita ada uang, tapi ketika tidak ada uang teman itu akan menjauh" Dan aku merasakan hal ini.
Hingga suatu hari, pada saat aku ingin meminjam uang dari salah bekas teamku yang kebetulan dia suka meminjamkan uang mengatakan bahwa pada saat aku jadi atasannya sikapku terlalu arogant, angkuh. Aku bisa naik jabatan karena "Nurut apa kata atasanku".
Hal ini membuatku menjadi merenung. Setelah kurenungkan, ternyata benar aku ini terlalu "Hitler".
Hal ini membuatku menjadi merenung. Setelah kurenungkan, ternyata benar aku ini terlalu "Hitler".
Sebulan keliling mencari pekerjaan dan pinjaman. Dan akhirnya aku diterima di salah satu perusahaan didaerah Meruya, lebih jauh daripada kantorku pertama.
Tapi tidak apa-apalah yang penting kerja, ada pemasukan setiap bulan. Masalah pekerjaan teratasi, tapi masalah hutangku dipinjaman belum dapat diatasi. Aku menyerah dan lagi-lagi aku harus katakan ke orangtua aku tentang aku diberhentikan dan hutangku.
Tapi tidak apa-apalah yang penting kerja, ada pemasukan setiap bulan. Masalah pekerjaan teratasi, tapi masalah hutangku dipinjaman belum dapat diatasi. Aku menyerah dan lagi-lagi aku harus katakan ke orangtua aku tentang aku diberhentikan dan hutangku.
Dan seperti biasa, papaku tambah marah. Bukan hanya itu saja, pukulan demi pukulan aku terima.
"Otak kau dimana, selalu berulah. Kemana uang kau selama ini, buat apa uangnya. Ke lelaki mana uangnya kau beri, ayo jawab... Jangan nangis, biar kita kerumahnya.."
Aku hanya bisa diam sambil menunduk, membisu dan menangis. Hanya itu yang bisa kulakukan, tidak ada yang lain. Perasaan bersalah yang kurasakan, andai waktu itu aku jujur semuanya. Pasti masalah ini sudah kelar waktu itu. Tapi karena rasa ketakutan, jadi tidak kelar masalahnya.
Bukan hanya itu, Jey pun marah besar. Dia marah karena kelakuan aku yang dianggap tidak dewasa, tidak bisa menyelesaikan masalah.
"Umur kau saja yang tua tapi kelakuan kau tidak dewasa. Kau sudah dikasih solusi, tidak dengar. Mau gimana lagi supaya kau berubah !!!! "
Dia pun menjauhi aku, sikapnya berubah. Tidak aku chat hanya dibaca, aku bigung melihat perubahaan sikapnya. Hingga suatu malam, kami bertengkar hebat.
"Kamu kenapa berubah, apa salahku" Tanyaku
"Apa salah kau, masih kau tanya. Otak kau dimana? Kau punya otak buat dipakai" Jawabnya dengan kesal
"Apa karena aku punya hutang banyak jadi kau tidak mau berteman dengan aku" Tanyaku kembali
"Sudah ya, mulai sekarang kau jangan hubungi aku lagi. Sudah malas aku berteman dengan kau. Kau paling benarlah Juli"
Sejak saat itu, Jey menghilang dari kehidupan aku. Dia tidak ada kabar beritanya dan aku tidak mencari tahu keberadaannya. Aku takut dengan kemarahannya.
Disaat aku terpuruk begini, dia malah menghilang. Tidak ada lagi yang kasih support dalam kehidupanku, dia lah satu-satunya teman yang menurut aku jujur. Dia seperti ini karena sudah lelah dengan kelakuan aku.
Masalah dalam hidupku tidak berhenti sampai disana, hutang-hutangku belum lunas. Semakin hari bertambah karena bunga dipinjaman online setiap hari. Bunga yang dikenakan aplikasi pinjaman online tidak sama dengan bunga bank. Terlambat bayar, ada bunga setiap harinya. Ini melebihi rentenir bunganya. Kenapa Pemerintah tidak mengatur mengenai bunga bank di Fintech (Financial Techonology) kerennya sih "Pinjaman Online".
Buntu, itu yang kurasakan. Kemana lagi harus pinjam. Orangtuaku juga mencari pinjaman sana sini tapi tidak dapat. Setiap aku dirumah, papa selalu marah-marah. Bagiku rumah seperti neraka, panas. Tidak ada kedamaian
"Bagaimana ini masalah hutang kau" Tanya papaku.
Aku hanya menggelengkan kepala dengan arti tidak tahu. Rasa bersalah dan berdosa kepada mereka. Kenapa aku bisa lakukan hal bodoh seperti ini. Papaku benar, kesombong dan keangkuhanku yang membuat hancur. Aku tidak boleh menyesal, itu semua salahku.
Aku teringat kata Jey "Aku mau kau seperti aku, bangkit dan berusaha maju sendiri"
Aku teringat kata Jey "Aku mau kau seperti aku, bangkit dan berusaha maju sendiri"
Aku jadi merindukan Jey, sahabat dan abang yang selama ini support dalam semua hal. Biarpun kata-katanya pedas tapi itu bentuk kasih sayang dan perhatian dia. "Jey... I Miss u".
Papaku melaporkan mengenai ketentuan bunga diaplikasi pinjaman online ke Lembaga yamg mengatur keuangan negara tapi hasilnya tidak ada.
"Pak, kami tidak mengatur untuk mekanisme proses peminjaman dan bunga yang diberikan kepada nasabah. Itu sudah ketentuan dari mereka. Seharusnya anak bapa membaca dengan baik apa yang tertera sebelum meminjam" Kata salah satu karyawan dilembaga tersebut.
Akhirnya kami mendapatkan pinjaman dari salah satu keluarga. Dan aku harus mencicil tiap bulan selama 2 tahun. Bukan waktu yang lama, tapi aku harus lakukan.
Aku pun berubah menjadi lebih baik, merubah sikap aku yang pemarah, angkuh, sombong aku tinggalkan. Aku menjadi manusia baru, bahkan no ponsel aku rubah. Dengan harapan, sifat dan karakter aku yang dulu tidak ada tahu.
Hobiku menulis kusalurkan dalam sebuah blog atas saran temanku. Aku menulis cerita apa saja agar bisa menjadi semua cerpen, dengan harapan suatu hari salah satu tulisanku bisa dijadikan sebuah film. Kalau sekarang, biarlah kutulis dalam blogku. Lalu ku share kedunia maya, facebook dan Twitter.
Tapi jauh dilubuk hatiku, ada kerinduan akan sosok Jey. Pria yang kukenal didunia maya, yang selalu ada disaat aku susah. Yang tidak pernah bosan membimbing aku untuk lebih baik. Kemarahan dia karena perbuatan aku. Tapi suatu hari nanti aku berharap bisa ketemu dia, aku ingin meminta maaf. Rindu saat-saat bisa komunikasi dengan dia.
Hubunganku dengan papaku menjadi lebih baik, aku jadi terbuka dan berani berkata jujur. Dan aku mendapatkan promosi dikantor.
The End