HIV AIDS
Dorkas Manroe
Pernahkah kamu dalam hidup membayangkan bagaimana kalau ada salah satu keluarga, teman, sahabat atau kekasih kamu terkena penyakit HIV AIDS.
Bagaimana sikap kamu ke mereka ? Apa kamu akan menjauhinya, pura-pura tidak kenal atau pun tidak mau bertatapan face to face.
Di dunia ini, penyakit ini merupakan penyakit menular dan mematikan. Belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya.
Obat-obat terlarang (Narkoba) dan Pergaulan bebas merupakan penyebab yang bisa menyebabkan penyakit HIV AIDS.
"Anna... Anna... Aldo masuk RS.." Teriakan dari luar pagar rumahku
Seisi rumah kaget, siapa yang teriak-teriak pagi-pagi. Kata Papaku "Siapa itu yang teriak-teriak didepan, coba kau liat Anna"
Kuberjalan keluar, ternyata yang datang Robet. Teman sekolah sewaktu SMP. Mau apa dia datang dalam hati, menggangu saja.
"Apaan sich ? Pagi-pagi loe kesini, ganggu aja" Ujarku dengan kesal.
"Aldo masuk RS, cepat mandi loe. Kita besuk dia" Katanya dengan nada panik.
"Sakit apaan dia, bisa sakit juga tuch manusia" Tanyaku.
"Sudah jangan banyak tanya, cepat mandi sekarang" Jawabnya dengan nada tinggi.
Lalu kumasuk untuk mandi dan berpakaian. Dalam hati, Aldo sakit apa ya. Selama ini dia belum pernah sakit apa pun. Setelah selesai berpakaian, aku pamit ke Papaku mau ke RS membesuk Aldo.
Sampai di RS, kulihat dia sedang berbaring lemah, disamping ranjangnya kulihat mamanya. Aku kaget melihat kondisinya, infus dimana-mana dan badannya kurus.
Aku dan Aldo pernah pacaran, dari mulai SMP sampai aku kuliah semester dua. Dia itu orangnya cuek alias tidak romantis tapi sebenarnya dia penyayang. Aku terima dia jadi pacarku karena waktu itu semua teman-temanku sudah punya pacar. Jadi pada saat, Aldo mengatakan "Apa aku mau jadi pacarnya".
Ya... Aku jawab "Mau". Intinya sih waktu itu yang penting punya pacar dulu. Cinta belakang, namanya juga cinta anak ABG.
Setelah resmi pacaran, dia selalu mengantar pulang. Padahal rumah kami tidak searah, bahkan dia rela jalan kaki sehabis mengantarku.
Dan setiap kali aku ultah, dia orang terakhir yang memberikan ucapan "Happy besday sayang" Lalu memcium keningku dan memberiku sebatang coklat.
"Lagi-lagi coklat, tidak bisa gitu kasih aku kado ultah yang beda. Boneka, Parfum, Kaos atau apa kek" Ucapaku dengan nada kesal dan cemberut.
"Nanti sayang, kalau aku sudah kerja. Kamu minta apa saja, aku belikan. Aku Janji"
Aldo selalu berkata "Jadi cewe harus bisa melakukan apa saja. Jangan kalah sama cowo. Ayo belajar kendarain motor",
Suka tidak suka, mau tidak mau. Aku belajar mengendarai motor. RX King motor pertama yang kukendarai. Butuh waktu seminggu buat belajar, maklum motor kopling jadi rada susah dan berat.
Bukan hanya itu saja, berkat dia juga aku tidak merokok sampai sekarang. Dia yang melarang aku supaya tidak merokok. Padahal dia sendiri merokok, uuuhhff..
Pernah suatu hari, aku ingin merasakan merokok gimana. Pada saat aku ingin menyalakan rokoknya, dia dengan cepat mengambil rokok dimulutku "Gak bagus cewe merokok, jangan sok-sokan ya"
Dia marah, aku lihat raut wajahnya. Tapi aku bersikeras ingin merasakan merokok "Aku ingin merokok, jangan kau larang aku. Kembalikan rokoknya". Sambil tanganku mengambil rokok ditangannya.
"Ok... Kau boleh merokok, tapi satu batang. Inget ya, ini pertama dan terakhir kalinya. Mengerti gak !!!! " Ujarnya dengan nada tinggi.
"Ya, berikan sini" Lalu aku ambil rokok dari tangannya. Baru satu hisapan, aku sudah batuk-batuk.
"Uuuhhkkk... Uuuhhkkk...". Dia langsung mengambil rokok dari tanganku dan mematikannya.
Sambil menepuk-nepuk punggungku, dia berkata "Tuh rasakan, enak khan. Enak merokok. Tidak bisa dibilangin sih, rasakan tuh. Batukkan, mau merokok lagi. Ini masih ada sebungkus lagi, kalau mau aku nyalain buat kamu"
Aku hanya menggelengkan kepala yang artinya tidak mau. Dalam hati berkata "Ooo... Jadi rasanya merokok seperti ini, tidak enak rasanya"
Perjalanan cinta kita sebenarnya tidak ada masalah, tapi ada saja yang membuat kita bertengkar. Dan kalau sudah begitu, dia yang memilih diam sampai aku seleaai ngoceh. Setelah aku capek, baru dia ngomong.
Setelah kami lulus sekolah SMP, aku tidak pernah tahu lagi siapa saja teman-temannya. Dia juga tidak pernah mengajak aku untuk ngumpul bersama teman-temannya. Kita hanya ketemu, ke mall untuk makan dan nonton. Setelah itu pulang.
Pernah suatu hari abangnya, Athan, datang kerumah "Na... Anna" Panggil Abangnya dari luar pagar rumahku.
Lalu kulihat dan menyuruhnya duduk "Ada apa bang, tumben abang kesini"
"Kamu tahu dimana Aldo, dia tidak pulang sudah 3 hari" Tanyanya
Aku kaget mendengarnya "Gak pulang kerumah maksudnya bang ?"
Eemmm... Rupanya Aldo kabur. Tapi kenapa dia tidak cerita, ada masalah apa ya. Tanyaku dalam hati.
"Tidak bang, aku ketemu dia kemarin. Tapi dia tidak cerita kalau dia ada masalah, nanti dech aku bilang kalau abang cari dia" Ujarku.
"Ok lah... Sampaikan mamanya nyuruh pulang. Papanya tidak marah lagi" Ucapanya.
Lalu abangnya pamit pulang. Rupanya dia kabur karena bertengkar dengan Papanya. "Eemmm... Ada masalah apa ya". Tanyaku dalam hati.
Aldo itu orangnya tertutup, kalau ada masalah dia selalu simpan sendiri. Tidak pernah cerita apa pun. Selama pacaran dengan dia, tidak ada satu masalah pun yang dia ceritakan. Kalau aku pasti cerita kalau ada masalah.
Suatu hari, Papanya meninggal. Ada rasa kesedihan mendalam dari raut wajah Aldo. Dia hanya diam sambil menatap wajah papanya untuk terakhir kalinya. Baru kali ini aku melihat dia menangis. Dari sinilah hidupnya mulai "hancur". Ada rasa penyesalan dan berdosa dalam dirinya.
Sejak penguburan papanya, kelakuan Aldo mulai berubah. Dia lebih tertutup, lebih banyak diam. Setiap ditanya ada masalah, jawabannya hanya."Tidak apa-apa sayang"
Jawaban seperti itu sering kali membuatku marah dan kesal. Aku seperti tidak dianggap pacar, tidak ada satu masalah pun yang dia ceritakan.
Aldo juga jarang pulang, entah dimana dia kalau tidak pulang.
"Do... Dimana? Sudah dirumah belum" Tanyaku.
"Belum, lagi dirumah teman di Halim. Sebentar lagi, kamu dimana" Ucapku.
"Rumah... Jangan ampe gak pulang. Awas ya kalau tidak pulang aku marah besar" Kataku dengan sedikit ancaman
Hampir setiap hari dia nongkrong di Halim, tiap ditanya kenapa kesana terus. Jawabannya "Bantu temannya yang buka bengkel. Lumayan uangnya buat kita jajan.
Suatu hari, dia membawa aku main kerumahnya. Mamanya sedang ke Medan, Abangnya kerja dan Kakanya kuliah. Rumahnya kosong, tidak ada satu pun. Tiba-tiba badannya panas tinggi, dia mengginggil. Aku panik dan mencoba menghubungi kakaknya tapi tidak diangkat. Lalu aku mengambil es batu dan handuk kecil, aku kompres. Dia tertidur pulas
Dua jam dia tertidur, tiba-tiba terdengar suara motor RX King abangnya yang pertama. Dia terbangun, kupegang dahinya. Panasnya sudah turun, tapi wajahnya masih pucat. Setelah abangnya masuk, dia mengatakan "Ayok... Aku antar pulang"
Lalu dia mengantarku pulang dengan angkutan umum. Rupanya dia habis bertengkar dengan abangnya, tidak berani pinjam motornya untuk antar aku pulang.
Aldo itu anak bontot, dia punya 2 abang dan 1 kakak. Dia sangat takut sama abangnya yang pertama, entah kenapa alasannya. Tiap ada abangnya pasti dia menghindar.
Hingga suatu hari, ketika aku menghubungi dia. Ponselnya diangkat seorang perempuan "Hallo... Mo cari siapa"
Aku kaget, kenapa yang angkat perempuan "Hallo... Ini nomornya Aldo kan"
"Iya, ini nomornya Aldo. Gw pacarnya, loe siapa ya" Tanya perempuan itu.
"Oo... Bilang Anna telp, urgent" Ucapku dengan nada kesal.
"Ok, nanti disampaikan" Ujarnya.
Hati ini panas saat menutup telp "Kurang ajar, dia selingkuh. Brengsek.." Caci maki pun kuucapkan. Mungkin kalau dia ada didepanku, entah barang apa yang akan mendarat kebadan dia.
Beberapa jam kemudian, dia menghubungi. Kami bertengkar hebat dan akhirnya putus. Sejak saat itu, komunikasi kita terputus. Aku tidak tahu keadaannya gimana.
Beberapa kali aku dengar dia sakit dan masuk RS tapi aku tidak perduli. Aku masih marah dengan persingkuhannya.
Sejak kami putus, Aldo sibuk dengan kegiatannya. Entah apa yang dilakukan dan kemana tidak ada satu pun yang ku tahu. Hanya Robet yang tahu apa saja yang Aldo lakukan.
Hingga suatu hari, aku mendengar kembali dia masuk RS. Tapi aku tidak perduli, aku disibukan dengan skripsi. Dateline untuk Bab 1 sebentar lagi dan aku belum kelar.
Beberapa kali ajakan dari Robet untuk membesuknya pun aku nolak. Aku tidak perduli, belum bisa memaafkan dia.
"Ingat pesan gw, jangan sampai loe menyesal ya suatu hari nanti" Kata Robet dengan nada marah.
Aku tidak perduli, amarahku lebih besar sama dia. Selingkuh... Dia sudah selingkuh...
Hingga suatu hari, perasaan ingin membesuknya muncul dibenakku. Langkah kaki ku membawaku menuju rumah Robet.
"Bet... Kita besuk Aldo lagi yuks" Mintaku.
Tanpa berpikir panjang, dia berkata "Ayo.. Tunggu gw ambil kunci motor dulu" Ujarnya.
Kemudian dia melajukan motornya ke RS didaerah Duren Sawit, tidak lama pun kita tiba di RS. Robet memarkirkan motornya lalu kita berjalan melewati lorong menuju kamarnya. Tapi sebelum kita sampai keruangannya aku melihat perawat, dokter dan petugas dilantai itu menggunakan masker dan sarung tangan. Aku heran melihatnya, langkahku pun menuju kamarnya. Ini kedua kalinya aku membesuk dia.
Ketika dia melihatku, wajahnya tersenyum "Pa kabar Na... Kamu kusut dan gendutan" Katanya.
Ya, gimana tidak kusut. Jam tidurku kurang, Bab 1 saja belum kelar. Aku tidak ada inspirasi menulis. Skripsi menyiksaku, Uuuhfff...
Aku hanya tersenyum ketika dia berkata begitu. Lalu aku melihat sekelilingku. Aneh. .. Itu yang kurasakan ketika kumelihat sekelilingku. Dalam hati bertanya "Sakit apa mereka semua, kenapa badan mereka kurus. Hanya tulang dan kulit mereka menghitam seperti gosong. Lebih parah dari orang-orang di Somalia"
Robet yang melihat wajah kebigunganku, mulai mengajak bercanda. Tapi aku tidak tertarik dengan candaannya, aku lebih tertarik dengan pasien didalam kamar ini. Lalu mataku tertuju pada kaki Aldo, salah satu kukunya luka bernanah. Aldo buru-buru menyikapnya kedalam selimut.
Aku semakin penasaran, sebenarnya Aldo sakit apa. Dan mereka yang ada diruangan ini sakit apa, kenapa mereka menyedihkan.
Sekitar 30 menit kami disana, aku lebih banyak diam. Robet yang banyak bicara. Wajah lelah kulihat di wajah mamanya Aldo.
Badannya yang gagah, berisi dan padat menjadi kurus dan menghitam. Ketika kutanyakan ke Robet, dia hanya menjawab "Komplikasi, paru-baru basah dan lever"
Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi membesuknya. Aku disibukkan dengan skripsi, sakit kepala dibuatnya. Belum lagi kalau dosen pembimbing sudah coret-coret, aahhh...
Bagiku, Skripsi itu dibuat tergantung "mood" kalau bagus bisa menulis. Kalau tidak ya berhenti. Ketika otak butuh hiburan, aku nyalakan televisi. Aku mencari film yang bagus, pilihanku ke Film India. Hahaha... Aku suka sekali dengan film-film India. Baru 10 menit aku menonton, ada suara memanggilku. "Uuuhhh... Siapa lagi yang ganggu"
Lalu kuberjalan keluar, Emmm... Lagi-lagi Robet, mau apa lagi dia kemari.
"Ada apaan, kesini malam-malam. Udah jam 9 nich, ganggu gw aja" Ujarku dengan kesal.
"Aldo... Aldo meninggal Na Jam 8 tadi" Ucapnya dengan nada pelan.
Perasaanku campur aduk, aku diam. Tapi air mataku tidak keluar, kuberkata "Sekarang jenazahnya dimana ?" Tanyaku
"Masih di RS, besok saja loe kesana. Jenazah dibawa kerumah emaknya" Ujarnya.
Lalu aku mengambil ponselku, ku SMS semua teman-teman SMP ku. Kutulis bahwa Aldo meninggal dunia dan alamat rumah dukanya. Aku tidak bisa tidur, perasaan takut pun menyelimutiku sepanjang malam. Tiap tutup mata terbayang wajahnya, tiap ke kamar mandi bulu kuduk berdiri. Pokoknya aku tidak bisa tidur.
Sekitar jam 8, aku dijemput temanku, Torang. Dia temanku yang hatinya baik, terlampau baik malah. Dia melajukan mobilnya kerumah Aldo. Setibanya kami, sudah ada beberapa teman disana. Perasaanku mulai bercanpur-aduk.
Ketika aku masuk pintu rumahnya, aku mendengar suara jerit tangis mamanya "Aldo... Itu Anna sudah datang. Bangun Nak... Itu Anna... Kemarilah Na, Aldo mencari kau terus"
Aku berjalan menghampiri peti mayatnya, air mataku mulai mengalir. Tubuhnya kembali normal seperti dulu, tidak seperti terakhir aku lihat. Ketika aku ingin mencium untuk terakhir kalinya, mamanya melarang dengan alasan tidak bagus mencium tubuh yang sudah diformalin. Aku menurut dan hanya membelai rambut dan pipinya.
Torang mewakili teman SMP menyampaikan turut berduka-cita dan berdoa untuk Aldo. Setelah selesai, Torang memelukku dan mengajakku kekursi.
Air mataku mengalir tak terbendung, apalagi ketika peti jenazah akan ditutup. Tangis histeris mama dan kakak perempuannya, aku tidak sanggup melihatnya. Perasaan bersalah karena tidak ada disampingnya pada saat dia meninggal.
Aku dan beberapa teman mengantarnya ketempat peristirahatan terakhirnya. Setelah selesai penguburan, aku tidak langsung pulang. Aku duduk dimakamnya sambil berkata "Maafin aku ya karena tidak ada disampingmu"
Torang memegang pundakku "Ikhlaskan, Aldo sudah tenang. Jangan merasa bersalah begjtu, dia sudah sembuh" Lalu dia mengandeng tanganku menuju kemobilnya untuk pulang.
Tapi... Kenapa aku tidak melihat Robet, kemana dia. Aku bertanya-tanya kenapa dia tidak ada dirumah dan pemakaman Aldo.
"Rang... Dari tadi loe liat Robet gak ya. Koq gw gak liat dia ya" Tanyaku sambil berjalan menuju mobil.
"Enggak, mungkin dia sibuk. Ayo kita pulang. Jangan pikiran macem-macem"
Kemudian Torang mengantarku pulang, didalam mobil dia terus menghiburku. Andai dia tahu, kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya sejak SMP.
Setibanya dirumah, aku langsung istirahat. Tapi bayangan wajah Aldo masih menyelimuti hati dan pikiranku.
Beberapa hari setelah Aldo meninggal, Robet tidak ada kabar. Tanda tanya besar yang belum aku temukan jawabannya sampai sekarang "Aldo sakit apa?"
Akhirnya aku memberanikan diri main kerumah Aldo, pada saat aku datang seisi rumah lengkap. Dan aku dipersilahkan duduk dan disediakan kopi.
"Maaf... Maksud kedatangan aku kesini selain ingin main, aku ingin bertanya soal penyakit Aldo"
"Sebelum gw jawab pertanyaan loe, gw mau tanya sebelumnya. Teman-teman Aldo selama ini siapa saja dan tempat nongkrongnya dimana saja" Tanya Iko, abangnya yang paling besar.
"Gw gak tahu bang, siapa temannya dan kemana dia kalau main. Setau gw, dia sering ke Halim. Katanya disana ada bengkel, dia bantu-bantu disana" Jawabku.
"Na... Aldo itu sakit HIV AIDS, kami juga baru tahu dari hasil pemeriksaan darah pas dia masuk RS" Ucap Iko.
Tiba-tiba kulihat isak tangis mamanya, aku diam tidak percaya "Aldo kena HIV AIDS. Bagaimana bisa?"
"Sekitar 6 bulan, Aldo pingsan. Kami membawanya ke RS, dokter menyarankan ambil darah biar sakitnya apa. Dari hasil lab, Aldo terkena HIV AIDS" Ujar Iko.
"Pak.. Dari hasil lab, adik Bapak terkena HIV AIDS, saat ini belum ada obatnya" Ujar Dr Satrio, Dokter umum.
Bagai disambir petir ketika mendengar penjelasan dokter mengenai penyakit Aldo. Awalnya kami tidak percaya mendengar penjelasan dokter, tapi dari hasil test dari empat RS hasilnya sama. Kami harus terima, Aldo terkena HIV AIDS.
Sejak kami diberitahu mengenai penyakit Aldo, kami mulai mencari informasi tentang HIV AIDS. Sejauh mana penyakit ini mematikan, bagian tubuh mana yang akan diserang.
Penyakit Aldo kami tidak beritahu siapa pun, bahkan keluarga besar kami. Aldo harus rutin berobat, pola makannya harus teratur. Tidak bisa sembarangan makan, salah makan langsung diare. Kami tahu tidak bisa menyembuhkannya tapi ingin Aldo umur panjang.
Beberapa kali, Aldo salah makan. Dia mencret-mencret hingga harus dibawa ke RS. Keluar RS bagi kita sudah biasa. Untuk membiayai Aldo, mamanya harus menjual tanah peninggalan papanya.
Kami memperlakukan dia juga sama seperti biasa, tidak ada beda. Tidak kami jauhi, kami semakin memperhatikan dia.
Tiap dua seminggu sekali, Aldo harus kontrol. Dan diberi obat supaya daya tahan tubuhnya tidak menurun. Supaya kekebalan tubuhnya stabil.
Dia tidak pernah dirumah setiap hari, selalu pergi. "Apa kamu yang ditemui Aldo selama ini?" Tanya Iko
"Tidak bang, aku terakhir ketemu dia pas abang datang dari kantor dan aku izin pulang. Masih ingat tidak bang" Ujarku.
"Oh ya... Ingat, jadi itu terakhir kalian ketemu... Eeemmm"
Semakin hari daya ingatnya berkurang. Sebagian memorinya hilang, seperti hilang ingatan. Beberapa orang saja yang dia ingat, salah satunya aku. "Dia mencari kamu terus Na" Ucap Iko.
Lalu Iko mengambil rokok dan dihisapnya sambil meneruskan ceritanya.
Selain daya ingatnya menurun, kondisi kesehatannya pun menurun. Badannya semakin kurus, tidak boleh makan banyak. Jadi kami beri makan sedikit tapi sering. Makanan mana yang boleh dimakan mana tidak, mama Aldo memperhatikan setiap makanan yang dimakan Aldo.
Kami juga tidak menggunakan sarung tangan atau pelindung lainnya. Dari informasi yang kami baca, HIV AIDS tidak menular jika bersentuhan kulit. Tapi menular dari hubungan seks, transfusi darah, Narkoba, dan masih banyak lagi.
Dalam hati, Aldo terkena darimana. Apa dia suka berhubungan seks dengan banyak perempuan atau Narkoba. Tanda tanya besar buatku.
Iko melanjutkan ceritnya. Memori ingatan Aldo semakin menurun, beberapa kali dia pipis sembarangan atau buang air besar dicelana. Dan mama yang membersihkannya.
Tiap Aldo keluar, kami selalu waswas. Kami tidak ingin dia kenapa-napa. Kalau sudah Jam 11 belum pulang, mama selalu telp Aldo menanyakan dia kemana. Mama fokus merawat Aldo.
Bahkan ketika Aldo divonis HIV AIDS, mama lah yang meminta kita untuk tidak mengucilkannya. Mama yang selalu merawat Aldo.
"Ini salah saya, dulu waktu hamil dia. Saya tidak mau dia lahir, saya minum semua obat supaya keguguran. Tapi ternyata janinnya kuat, makanya saya menyesal kenapa dulu saya lakukan itu kedia. Karma saya ini" Ujar mama Aldo sambil menangis.
Dada ini sakit mendengarnya, Aldo yang selama kukenal pendiam ternyata dia ...
Setelah mendengar cerita Iko, aku izin pulang. Selama perjalanan, ada rasa penyesalan. Kenapa waktu bersama dia, aku tidak perhatian. Andai waktu itu, aku tidak egois, mungkin Aldo masih hidup. "Maafin gw Do..."
Beberapa hari kemudian, aku kerumah Robet. Aku ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi sama Aldo selama ini. Dia pasti tahu semuanya.
Sesampai dirumahnya, aku meminta dia menceritakan kenapa Aldo bisa seperti itu.
"Loe pasti tahu kan, kenapa Aldo bisa begitu. Cepat ceritakan semuanya, tidak ada yang loe tutup-tutupi lagi" Ujarku dengan nada tinggi
"Sebenarnya Aldo itu pengguna Narkoba Na. Sejak Papanya meninggal, dia mulai menggunakannya. Awalnya dia pakai jenis ganja hanya untuk menghilangkan rasa bersalahnya tapi kelamaan dia mulai menggunakan jenis lain seperti putauw. Beberapa kali gw sempat liat dia sakau" Ucap Robet.
"Rasa bersalah sama Papanya ? Rasa bersalah apa ? Apa yang sudah dia lakukan? " Celetukku.
"Tidak tahu, dia tidak cerita. Selain dia menggunakan narkoba, dia juga melakukan seks bebas. Waktu dia SMU, ada seorang perempuan yang dia hamili. Tapi dia tidak mau bertanggung-jawab karena dia cintai loe Na. Dia gak mau loe sedih, dia minta digugurkan janinnya"
"Apa !!!! Dia minta gugurkan, dia tidak mau bertanggung-jawab. Perempuan itu mau janinnya digugurkan?"
"Ya, dia gugurkan kandungannya. Aldo juga sering berhubungan seks dengan banyak perempuan"
Aku tidak percaya mendengar cerita Robet, apa iya Aldo seperti itu. Kenapa denganku tidak pernah, selama pacaran dengan dia aku masih virgin. Kenapa dengan perempuan lain dia bisa lakukan hal hina seperti itu.
"Dimana perempuan itu, gw mau ketemu. Gw mau dengar dari mulutnya, gw gak percaya sama loe. Masa iya, Aldo tega menggugurkan calon anaknya. Dia kan suka anak-anak" Ujarku dengan nada kesal.
"Ayo, sekarang gw anter loe kerumahnya. Semoga dia belum pindah rumah" Ucap Robet.
Dia lalu mengambil kunci motor, kemudian melajukan motornya kedaerah Matraman. Ternyata perempuan itu belum pindah, dia masih tinggal disana. Dan beruntung, dia dirumah.
"Siang... Reni ada Bu" Kata Robet kepada perempuan setengah baya yang sedang duduk-duduk diteras rumah.
"Ada, silahkan duduk. Adik siapa ya?" Tanyanya.
"Robet Bu, teman sekolahnya" Jawabnya.
Lalu perempuan itu masuk kedalam rumah, beberapa menit kemudian keluar seorang perempuan. Mungkin umurnya sama seperti umur aku dan Robet.
"Hey... Loe toh, gw pikir siapa. Pa kabar loe? Turut berduka-cita ya, teman baik loe meninggal. Sakit apa dia? Ucap Reni.
"Iya, sakit komplikasi. Oh ya, ini kenalin Anna" Ujar Robet.
Ku ulurkan tanganku "Anna... Senang kenalan dengan loe"
"Oo... Jadi loe Anna, cewe yang sangat Aldo cintai. Jadi karena loe, dia minta gw gugurkan kandungan gw. Dia gak mau nikahi gw"
Bagai disamber petir siang hari, aku kaget mendengar ucapan Reni. Jadi karena aku, dia jadi kehilangan anaknya.
"Maafin gw... Karena gw, loe jadi kehilangan anak loe. Maaf ya" Ucapku dengan nada menyesal.
"Gak apa-apa, gw dah ikhlas. Suami gw yang sekarang mau terima gw, biarpun gw dah gak virgin lagi"
Aku tersenyum kecil, ternyata masih ada lelaki yang mau menikahnya.Menerima masa lalu pasangannya biarpun kelam. Setelah mendengar penjelasannya, kami pamit pulang.
Dalam perjalanan pulang, aku cuma diam. Air mataku tiba-tiba keluar, perasaan bersalah dan menyesal menghantui. Ditengah perjalanan aku meminta kekuburan Aldo.
"Anter gw kekuburan Aldo sekarang" Mintaku dengan isak tangis.
Tanpa banyak tanya, Robet mengantarku kekuburan. Sesampai disana, aku duduk dipusara dia yang masih tanah merah.
"Do... Kenapa loe lakukan itu, kenapa loe tega tinggalin gw" Isak tangisku semakin kencang. Perasaanku campur aduk.
Beberapa saat kemudian, Robet menghampiriku. "Ayo pulang, gak bagus lama-lama dikuburan. Aldo sudah tenang, dia tidak mau loe terus mikirin dia. Hidup loe masih panjang"
Lalu aku berdiri, berjalan menuju motor. Robet mengantarku pulang, dia tidak mampir. Dia langsung pulang.
Sampai dirumah, aku membersihkan diri. Kemudian duduk merenung memikirkan Aldo. Aku menggingat kenangan bersama dia, tidak ada cacat pun yang dia lakukan ke aku. Yang ada, aku selalu marah-marah tidak jelas sama dia. Timbul perasaan bersalah dan menyesal, perasaan campur-aduk.
Ternyata Aldo selama ini mencintaiku, dia tidak mau membuatku marah dan sedih. Pantas dia tidak pernah mau berbagi makanan denganku, dia tidak mau aku terkena HIV AIDS.
Aku menggingat kembali kapan terakhir kami ciuman bibir ? Ternyata SMU kelas 3, itu terakhir dia cium bibir aku. Apa artinya dia sudah terkena virus ini ? Tanyaku dalam hati.
Hari-hariku seperti ada yang hilang, aku jadi tidak semangat. Skripsiku pun harus ditambah satu semester, aku tidak fokus mengerjakannya. Hati dan pikiranku hancur memikirkan Aldo.
Lima bulan setelah kepergian Aldo, aku dapat menyelesaikan skripsiku. Aku dapat mengikuti sidang skripsi dan lulus. Akhirnya, aku lulus kuliah juga.
Tiba-tiba, aku jadi teringat Aldo. Rasa rindu muncul. Dalam hati berkata "Andai Aldo masih ada, dia pasti senang. Dia mau aku lulus dan sukses"
Aku belum dapat bisa melupakan Aldo, apa pun yang dia perbuat aku sudah memaafkan. Tapi rasa menyesal dan bersalah masih menghantui.
Setelah kepergiaannya, aku baru menyadari cintanya sangat besar. Dia tidak mau merusak aku, kalau pun dia rusak biarlah dia rusak sendiri. Dia juga tidak mau aku kenal dengan teman-temannya karena rata-rata temannya pengguna narkoba.
Terkadang rindu ini datang, apalagi kalau ada masalah datang. Tidak tahu harus cerita kemana. Tiap rindu ini datang, aku selalu kemakamnya.
Do... Apa pun yang terjadi dalam hidup kamu, aku tidak perduli. Bagiku kamu itu baik. Semoga kamu tenang disana ya. Dan semoga dikehidupan lain, kita bisa bersama. Entah menjadi teman, sahabat, saudara atau bahkan suami-istri.
Thanks sudah mencintai dan menjaga aku selama kamu hidup. Cerita cinta kita akan kusimpan didalam hatiku, kamu bagian dari hidupku.
The End
thank to doctor Lebelebe ,I was diagnosed of (HIV) in
ReplyDelete2016 and I have tried all possible means to get
cured, i even visited phonologist but all to no avail,
until i saw a post in a health forum about a herbal
doctor from Africa who prepare herbal medicine to
cure all kind of diseases including hiv/aids, at first i
doubted if it was real but decided to give it a try,
when i contacted this herbal doctor via his email he
sent me the Hiv/Aids herbal medicine through courier service, when i
received this herbal medicine, he gave me step by
instructions on how to apply it, when i applied it as
instructed i was totally cured of this deadly disease
within 12-14 days of usage, if you are suffering of
this diseases you can as well Contact this great
herbal doctor via his whatsapp or call now +2348159043910
thank to doctor Lebelebe ,I was diagnosed of (HIV) in
ReplyDelete2016 and I have tried all possible means to get
cured, i even visited phonologist but all to no avail,
until i saw a post in a health forum about a herbal
doctor from Africa who prepare herbal medicine to
cure all kind of diseases including hiv/aids, at first i
doubted if it was real but decided to give it a try,
when i contacted this herbal doctor via his email he
sent me the Hiv/Aids herbal medicine through courier service, when i
received this herbal medicine, he gave me step by
instructions on how to apply it, when i applied it as
instructed i was totally cured of this deadly disease
within 12-14 days of usage, if you are suffering of
this diseases you can as well Contact this great
herbal doctor via his whatsapp or call now +2348159043910
Thanks to Dr. Lebelebe (+2348159043910) for his good work I never believe that HIV has cure, I was HIV positive over 3 year now before I came across a comment about how
ReplyDeleteDr. Lebelebe cure HIV and herpes disease but when I saw it i have it in mind
that he cant cure HIV I just decided to give it a try I contact him that
night luckily to me he replied me, but I don't believe him I thought it was
a scam but I still hold on to see the work of Dr. lebelebe if he is saying the
truth he ask for some details about me i gave him all he needed and I
waited to see his reply to my problem after all, he told me to go for check
up and I went for HIV test I cant believe I was negative,am so happy and
grateful to God for using Dr. Lebelebe to cure me, that is the reason why i
decided to write this wonderful testimony of our i was cured, i recommend
Dr. Lebelebe, I to you all around the world,contact him on his you can also reach him through WhatsApp number +2348159043910
Dr. Lebelebe for helping me at this age if you need help contact,
I want to give a Testimony on how I got Cured From Herpes Virus. Five Months ago I was Diagnosed of Herpes Virus. I was having some outbreaks. I went to see a Doctor and many Blood Tests was done on me. My Doctor told me that there's no cure for Herpes I felt bad, I went online searching for a possible cure for Herpes Virus, I saw a post of Dr. Ogbeifun a herbal doctor that cured someone from Herpes. I contacted him and told him how I'm feeling he said his herbal medicine can cure me. He sent me the medicine via Courier Service and I received the medicine some days after he sent it, i took the medicine as prescribed by him. Before the completion of the medication the symptoms stopped. I went to the Doctor and carried out another blood test, surprisingly I was Negative. I haven't had any symptoms anymore, you can contact him on whatsapp +2349028345211)
ReplyDeleteEmail address: (drogbeifunherbalhome09@gmail.com)
for any help. Enlargement of penis
Hip enlargement
Reducing of fatness
HIV
herpes cure
Hepatitis b and c
Infections
Asthma
Fibroid
Lassa Fever
Cancer
Diabetes
Flu
BP
Mollescum
Genital warts.