Saturday, November 17, 2018

AHOK, Gubernur DKI Jakarta ke-15

AHOK, Gubernur DKI Jakarta ke-15
Dorkas Manroe

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M atau lebih dikenal dengan Ahok, lahir di Manggar Belitung Timur, Bangka Belitung, 29 Juni 1966. Ayahnya bernama  Indra Tjahaja Purnama (Tjoeng Kiem Nam) dan Buniarti Ningsing (Boen Nen Tjauw).

Nama panggilan yang diberikan ayahnya dimasa kecilnya "Banhok". Ban berarti "Puluhan ribu" dan Hok berarti "Belajar". Kalau digabungkan menjadi "Belajar di segala bidang". Dan nama Banhok pun berubah menjadi Ahok. 

Dalam hal pendidikan, Ahok menyelesaikan gelar Master Manajemennya di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya.

Ahok merupakan Gubernur yang ke-15 yang memimpin DKI Jakarta. Beliau naik menjabat menjadi Gubernur pada saat itu karena Ir. H. Joko Widodo, terpilih menjadi Presiden RI. Mungkin Ahok satu-satunya yang menjadi Gubernur DKI Jakarta yang selama ini pernah menjabat yang berasal dari etnis Tionghoa dan Kristen.

Sebelumnya, Ahok pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Belitung Timur definitif pertama, berpasangan dengan Khairul Effendi, B.Sc. Dalam dunia Politik, Ahok bergabung Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB) sebagai ketua DPC Partai PIB Kabupaten Belitung Timur pada tahun 2004.

Dan Pada tahun 2009, Ahok mencalonkan diri dan terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Bangka Belitung mewakili Partai Golongan Karya.

Mungkin banyak yang tidak mengetahui, di tahun 2006, Ahok pernah dinobatkan oleh Majalah TEMPO sebagai salah satu dari 10 tokoh yang dapat mengubah Indonesia. Dan pada tahun 2007, beliau dinobatkan sebagai Tokoh Anti-Korupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Masyarakat Transparansi Indonesia. 

Dan sosok Ahok baru dikenal banyak orang ditahun 2012 ketika beliau menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, mendampingi Ir. H. Joko Widodo atau lebih dikenal Jokowi, yang sekarang menjabat sebagai Presiden ke-7 Indonesia. 

Karakter Ahok yang berani, blak-blakan, ceplas-ceplos, no kompromi dan membenci korupsi. Karakternya tersebut terkesan sebagai sosok yang tempramen. Banyak masyarakat yang mengatakan "mulutnya Ahok tidak ada saringannya".

Hal inilah yang menjadi sorotan publik, Ahok tidak seperti pejabat Pemerintahan yang lainnya. Boleh dibilang, masyarakat dibangunkan dari tidur yang panjang. 

Apa pun yang dilakukannya selalu menuai pro-kontra. Banyak yang mengecam tindakannya, tapi ada juga mendukung tindakannya. 

Ahok tidak pernah takut kepada siapa pun, memang benar. Justru karena karakternya itu, banyak yang dilakukannya. Berikut beberapa contoh yang sudah dilakukannya : 

1. Dia berani menolak titipan anggaran DPRD.
2. Berani memecat karyawan Pemprov DKI yang melenceng dari peraturan yang sudah dibuat.
3. Mengusur penghuni ilegal dibanyak bantaran sungai dan pemukiman liar, kemudian memindahkannya ke rusun.  Salah satunya relokasi Kampung Pulo.
4. Menentralisasi Monas dari pedang kali lima
5. Membuka umum Balaikota sebagai tempat wisata
6. Tidak ada lagi pungli untuk pengurusan KTP ataupun surat-surat lainnya
7. Menertibkan pedang-pedang kaki lima di Pasar Tanah Abang

Ketika saya membaca buku mengenai Ahok, ada beberapa kalimat yang diutarakan Ahok, yang isinya tidak semua orang akan berpikir hal seperti ini

1. "Ahok Wawancara Esklusif Dengan Ahok, Keluarga, Sahabat dan Warga", pada halaman 50. Ada beberapa kalimat yang diutarakan Ahok, yang isinya tidak semua orang akan berpikir hal seperti ini

"Saya bilang, saya sudah punya 1.000 musuh di Jakarta. Kalaupun tambah 1.000 lagi, itu masih mirip" dan "Saya bilang ke keluarga kalau saya mati bawa jasad saya ke Belitung dan tulis saja 'Sudah Mati Dengan Baik'" (Hal.50)

"Saya dari kecil diajarin Bapak saya nonton film cowboy, tinggal adu cepat tembak saja. Salah satu mati saja deh, gitu. Ini gaya cowboy. Sudah enggak ada nego. Saya bilang sama ibu saya, bukannya saya tidak mau nego. Masalahnya adalah memang enggak ada negosiasi. Ibu saya bilang kan, bisalah kompromi, nanti banyak musuh. Saya bilang sama ibu saya, 'Kalau Negara ini baik Ma, saya sudah enggak masuk Politik, kan? Kita masuk politik kan gara-gara enggak bisa bantu orang sakit, gak bisa bantu orang sekolah. Nah, kalau kita masuk ngelawan arus pasti musuhnya nambah, seribu musuh tambah seribu ya masih samalah ...' Nah, kenapa ini terjadi ? Karena DPRD itu di dalam otaknya enggak pernah berpikir bahwa ada orang politik seperti saya gitu. Saya sudah ngomong berkali-kali, saya bukan orang politik, saya ini orang biasa yang enggak tahan di rumah nolong orang miskin. Enggak tahan sudah nolongin orang miskin untuk sekolah, bangun rumah sama mau berobat. Istilah bapak saya itu mau nangis pun enggak bisa nolong orang. Jadi, saya bukan orang politik. Saya ini orang biasa pake baju Gubernur saja, nih. Itu yang dia salah ngitung dari saya dari dulu" (Hal. 52 & 53) 

"Demi kebenaran, saya enggak perduli. Saya untuk apa dapatin posisi, dapetin jabatan hanya karena nipu? Sudah dapet terus kompromi, buat apa? Kita juga kompromi sih, tetapi dalam arti kata realitis gitu loh. Kalau lihat semua PNS korup misalnya. Apa kamu mau potong semua? Kita enggak bisa pecat gitu loh. Nah, kamu mesti realistis untuk menyakinkan mereka. Masih banyak juga yang muda-muda dan pengen berubah, kan. Ya bertahaplah. Ya tutup mata sebelahlah. Banyak eselon II yang kaya, lebih kaya dari saya. Kalau dihitung dari awal sejarah hartanya, mana mungkin dia lebih kaya dari saya sebetulnya. Ya ... Realistis aja. Ya ... saya ... tidak pernah benci orangnya, saya benci kelakuannya. Itu harus dibedain." (Hal. 53)

"Saya ingin semua orang di DKI menikmati menjadi orang kaya. Semakin dia tidak mampu, maka pejabat harus makin melayani" (Hal. 232)

2. "Ahok untuk Indonesia (Kompasiana)"

"Ahok berani tampil marah di tengah apatisme dan kepasrahan rakyat kecil atas perilaku buruk pemimpinnya." (Hal 71)

"Ahok menganggap jabatan Gubernur atau Wagub itu sebuah amanah atau pengabdian, bukan anugerah atau suatu kemewahan." (Hal. 90)

"Ahok hanya marah kepada mereka yang tak lagi menaati hukum dan pandai membuat akal-akalan untuk keuntungan pribadi" (Hal.102)

"Penataan PKL yang dilakukan Ahok juga tak bisa dilakukan dalam ranah penegakan hukum yang represif saja," (Hal. 194)







 



 




No comments:

Post a Comment

Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an

"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain".  Masa dimana dapat tertawa ...