Friday, June 19, 2020

HIV AIDS Merengut Nyawanya

HIV AIDS Merengut Nyawanya

Dorkas Manroe

 

Setiap manusia mempunyai kisah perjalanan hidup masing-masing. Senang, bahagia, sedih maupun kehilangan, pasti akan jadi kenangan suatu hari nanti.

Tapi …

Apa pernah kamu membayangkan, orang yang selama ini dekat denganmu pergi selamanya karena terkena suatu penyakit menular. Pasti tidak, membayangkan dia sakit saja tidak.

Lalu bagaimana jika kamu tahu kalau dia pergi karena HIV AIDS ?

Pasti beribu pertanyaan dibenak.

Pertanyaan yang muncul “Bagaimana dia bisa terkena ? Dimana dia selama ini nongkrong ? Siapa teman-temannya ? Berapa lama dia terkena penyakit itu”

Ditambah timbul perasaan bersalah karena tidak disampingnya ketika dia pergi. Tidak ada ucapan selamat tinggal maupun permintaan maaf.     

Kenapa dia pergi disaat aku tidak disampingnya. Kenapa ?

Muncul perasaan bersalah dan penyesalan.

Aku patah hati ? Aku sakit hati ? Aku menderita ?

Dan Perasaan itu menghinggapi sampai bertahun-tahun.

Andai waktu bisa diputar, aku hanya ingin menemaninya disaat terakhirnya dan meminta maaf.

Tapi … Itu tidak bisa.

Dia pergi tanpa ucapan atau pun pesan. Dan yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan selama bertahun-tahun.

 

***

Malam hari

"Anna... Anna... “ Terdengar suara memanggil namaku dari Pagar rumah.

Ku hentikan jemari tangan ku yang sedang menari di laptop, kemudian beranjak berdiri dan berjalan menuju suara memanggilku.

“Ooo… Loe Bet  Ada apa malam-malam kesini ?” Tanyaku. Sambil ku persilahkan duduk diteras rumah.

Ku lihat wajah cowok yang duduk dihadapanku, dia tidak menjawab pertanyaanku. Setelah menghela nafas berat, dia menjawab pertanyaanku.

Aldo … Aldo … Na.. " Ucap Robert dengan raut wajah gelisah.

“Kenapa dia” Tanyaku.

“Aldo meninggal, abangnya barusan kerumah gw” Jawabnya.

Aku terdiam dengan dahi berkerut menatap Robert, tanda tidak percaya dengan ucapannya.

“Jangan bercanda” Ucapku dengan perasaan campur-aduk tidak tentu,

Lagi-lagi Robert menghela nafas.

“Ya udah kalau tidak percaya, kita kerumahnya sekarang” Ujarnya kesal.

Aku hanya terdiam dan menantapnya. Tidak tahu harus berkata apa.

“Besok gw kesana, malam ini loe aja kerumah dia. Bantuin keluarganya beres-beres. Kabari gw kapan dikuburnya” Ujarku.

Robert pun pamit, melajukan motornya kerumah Aldo.

Semalaman aku terjaga dengan perasaan campur-aduk dan takut.

Ya takut, bayangan Aldo serasa hadir tiap kali tutup mata. Terbayang tatapan matanya yang tajam.

Setajam mata seperti elang ketika menatap. Mata yang bisa membuatku reda ketika lagi ngomel-ngomel. Cukup dia tatap tajam ke arahku, maka aku akan diam seribu bahasa. Tidak berkutik, tidak berani berkata apa pun.

Tapi yang pasti malam itu, aku tidak merasa kehilangan. Tidak ada air mata keluar, hanya ketakutan.

 

***

Keesok harinya

Jam 08:00, aku pun sudah rapi berpakaian. Sambil menunggu dijemput, aku sempatkan sarapan. Ku pegang handphone, mengecek dan membaca pesan-pesan yang masuk. Termasuk group sekolah SMP, dimana aku dan Aldo bersekolah juga.

Kita berteman sejak seragam kami Putih Biru. Tadinya kami hanya berteman, tapi tiba-tiba berubah menjadi pacar. Kisah percintaan yang lucu dan unik.

Awal kita pacaran, tidak ada cinta sama sekali. Aku terima Aldo sebagai pacar karena faktor teman-teman aku yang lain sudah berpacaran.Dan posisi waktu itu juga baru putus. Seiring dengan waktu, cinta itu tumbuh.

Terdengar suara motor vespa, tak lama kemudian terdengar suara memanggil namaku dari pagar rumah, “Anna … Anna”

Aku pun pamit dengan orang rumah.

Dalam perjalanan menuju rumah Aldo, aku tidak fokus. Lebih banyak diam, sampai temanku bertanya pun tidak ku jawab.

Begitu berada di depan rumahnya, terdengar suara isak nangis mama nya. Dadaku tiba-tiba terasa sesak, langkahku pun semakin berat untuk menghampiri jenazah dan keluarganya.

Ketika mamanya Aldo melihatku. Dia berkata “Do … Bangun nak, itu Anna datang. Bangun nak”

Air mata tak kuasa lagi terbendung, memasahi kulit wajahku. Tak sanggup lagi mendengar isak tangis mamanya Aldo.

Serasa tidak ingin ada yang melihat tangisanku, aku pun menangis dipundak salah satu temanku. Air mata ini terus mengalir seperti ada luka perih akibat sayatan-sayatan.  

Perlahan aku menghampiri jenazahnya, ku lihat tubuhnya kaku terbaring dengan berpakaian jas putih. Terlihat rapi dan ganteng. Jujur, aku belum pernah melihatnya seperti ini. Bertahun-tahun dekat dengan dia, baru hari ini dia terlihat ganteng.

Ku berdiri disamping petinya, kutatap wajahnya. Tak terasa air mata ini mulai mengalir. Tanganku membelai wajahnya, terasa dingin dan keras. Mungkin karena formalin, jadi tubuhnya terasa keras.

Ketika ingin kucium tuk terakhir kalinya, abangnya melarang. Dengan alasan takut virus karena tubuhnya sudah di formalin. Dan aku pun nurut, tidak ada cium perpisahan.

Suasana pun pecah, isak tangis semakin banyak dan keras ketika petinya ditutup. Isak tangis mama, kakak, abang dan saudaranya lain.

“Ya Tuhan ! Kuatkanlah mama Aldo” Doaku dalam hati.

Aku pun terbawa suasana, air mata ini semakin deras mengalir. Temanku, Arum, memeluk tubuhku. Dia pinjamkan dadanya tuk aku menangis.

Tapi … Robert kemana ? Tidak kulihat sosok dia dari tadi. Aneh, kenapa dia tidak ada. Mereka sudah berteman sejak SMP, tapi kok tidak keliatan batang hidungnya.

Lalu, peti itu dimasukkan kedalam mobil jenazah. Di iringi motor dan mobil tuk mengantar ke makam, kerumah peristirahatan Aldo tuk selamanya.

Sesampainya di makam, isak tangis pun kembali meledak ketika peti dimasukkan ke liang lahat. Dan sesuai permintaan terakhir, Aldo seliang lahat dengan Papanya.

Sebelum meninggalkan makam, ku berkata “Do … Sampai jumpa dikehidupan berikutnya”.

 

***

Malam kembali datang dengan suasana purnama dilangit. Malam ini indah, tapi suasana hati hancur. Suasan hati yang sedang merasakan kesal, sedih maupun marah.

Aku pun mengambil laptop mengerjakan kembali draft skripsi yang harus kelar malam ini, karena harus diserahkan beberapa hari lagi. Sambil mendengar musik Kerispati “Mengenangmu

 

Takkan pernah habis air mataku

Bila ku ingat tentang dirimu

Mungkin hanya kau yang tahu

Mengapa sampai saat ini ku masih sendiri

 

Adakah disana kau rindu padaku

Meski kita kini ada di dunia berbeda

Bila masih mungkin waktu berputar

Kan kutunggu dirimu …

 

Reff:

Biarlah ku simpan sampai nanti aku kan ada di sana

Tenanglah diriku dalam kedamaian

Ingatlah cintaku kau tak terlihat lagi

Namun cintamu abadi …         

 

Terbesit bayangan wajah Aldo, tiap kali ku tutup mata. Wajahnya selalu muncul. Teringat kenangan mulai dari awal kenal, pacaran hingga putus. Biarpun hubungan terputus, kita masih berteman. Dia sebagai sahabat, tempat curhat terbaik.

Bagiku, dia bisa memahami sifatku.

Tak terasa 10 tahun hubungan ini dijalankan. Diantara kita berdua, Aldo yang paling banyak mengalah dan mengerti. Sedangkan aku, tidak perduli sama sekali dengan dia.                   

Kalau ditanya kenapa putus ? Aku pun tidak tahu pastinya. Aldo cuman mengatakan “Kita putus, lebih baik jadi sahabat. Tapi aku janji akan disamping kamu disaat kamu membutuhkan seseorang” Itulah yang dia ucapkan.

Aku pun tidak bertanya alasan diputusin, terima saja diputusin. Baru tahu alasan dia memutuskan hubungan yang sudah bertahun-tahun itu ketika dia sudah pergi tuk selamanya.

 

***

Kisah cinta kita lucu, awalnya sih ingin mencari tahu soal abang kelas yang disukai teman baikku. Kebetulan abang Aldo itu teman dekat cowok yang disukai temanku itu.

Patar, nama cowok yang ingin kucari tahu informasi tentangnya.

Tapi posisi ku saat itu sudah memiliki pacar, Pano namanya. Hubungan diantara aku dan Pano terjalin bukan karena cinta tapi keterpaksaan. Unsur ketakutan lebih tepatnya dengan kakak-kakak kelas, unsur ancaman. Jadi kalau aku tidak jadian dengan Pano, akan disiksa. Demi keamanan, aku pun mengiyakan menjadi pacarnya. Hubungan ini terjadi semata-mata biar aman saja di Paskibra.  

Sewaktu sekolah aku aktif di kegiatan Paskibra, kala itu kakak Paskibranya galak dan sadis. Kita sering disuruh push up. Jadi aku terima saja dia sebagai pacar, hitung-hitung lindungi diri dari kakak kelas. Biar tidak kena hukum.

Hehehe …

Selama pacarana sama Pano, dia hanya anter pulang dari sekolah. Selebihnya tidak pernah, jalan-jalan ke mall tidak pernah, pergi makan diluar pun tidak, pokoknya hanya sekolah-rumah. Makanya tidak pernah ada rasa apa pun dengan dia. Hanya status saja “PACAR”

Lebih parah lagi, setelah lulus SMP, tidak ada kabar.

Sebulan setelah dia lulus, dia menunggu di jalan tempat biasa aku turun mikrolet. Kemudian mengajak kesuatu tempat, hingga akhirnya aku meminta putus dengan alasan punya pacar lain. Dia pun terima diputuskan. Setelah hari itu tidak ada kabar apa pun dari dia sampai hari ini.

 

***

Biarpun saat itu, statusku pacar Pano. Tapi hampir setiap hari, aku dan Aldo berkomunikasi lewat telp. Pano sibuk nongkrong sama teman-temannya, hanya ingat aku kalau disekolah saja.

Hahaha …

Justru itulah, kenyamanan aku dapat dari Aldo, apa pun aku cerita sama dia. Ketika putus dari Pano pun, Aldo orang pertama yang ku beritahu. Bahkan teman baikku, Yuli, tidak ketahui. Dia baru tahu setelah itu.

 

***

Sepulang sekolah, seperti biasa aku menunggu telp dari Aldo. Sejak kita dekat, sering komunikasi, aku pun jadi terbiasa menunggu telp dia setiap hari.  

Kringgg …. Kringgg … Bunyi suara ponselku.

Ku berjalan menuju kamar, mengambil ponselku yang terletak ditempat tidur. Ku lihat nama si penelpon dilayar, Aldo.

“Apa yang loe lakukan Anna ?” Tanya suara dari seberang.

“Eeemmm … Nonton. Ngapain loe telp Do” Ucapku sambil ketawa.

“Gw … “

“Ada apa sih, Mau apa ? Sejak kapan loe jadi cowok gugup begini !” Tanyaku meledek.

“Sejak … Sejak cowok yang bernama Blackguys suka loe” Jawabnya gugup.

Aku kaget mendegarnya, ada yang suka aku namanya Blackguys !!!

“Aahhh … Blackguys ? Siapa tuh, baru gw dengar nama tuh” Tanyaku penasaran.

“Cari tahu sendiri aja ya” Telp langsung dimatikan.

Tidak sopan tuh manusia, main tutup saja.

Keesok-harinya dari informasi yang ku dapat, ternyata Blackguys itu Aldo sendiri.

Hahaha …

 

***

Aku baru saja membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku, tersentak suara dering ponsel yang persis berada disamping telinga. Bibirku tersenyum ketika melihat nama Aldo tertera di layar.

“Ya Do, ada apa”

“Belum tidur loe” Suara Aldo terdengar malu-malu.

“Belum dunks, lagi nunggu telp dari Blackguys” Ledekku.

Terdengar suara ketawa ngakak dia.

“Jadi udah tahu nih siapa Blackguys ?  Mau gak jadi pacarnya si Blackguys ?” Terdengar lagi suara malu-malu Aldo.

Tanpa berpikir panjang, aku pun menjawab “Ya”.

Beberapa saat kami saling terdiam, tidak tahu harus berbicara apa. Bibirku serasa kaku karena malu.

Hahaha …

 

***

Hari demi hari, hubungan kami tidak ada yang tahu. Sebenarnya teman baikku, Yuli, sudah curiga hubungan kami, tapi aku belum berani mengatakan kebenarannya

Hingga suatu hari, aku beranikan diri cerita.

“Yul … Gw dah jadi sama Aldo. Tapi keep silent ya, jangan kasih tahu siapa-siapa. Malu gw” Sambil ku teguk minuman.

“Ahhhh … Kapan ?” Sahut Yuli kaget.

“Beberapa hari lalu” Jawabku

“Sip .. Gw sebenarnya juga dah jadian sama Patar”

Sejenak kami saling berpandangan, lalu tertawa bersama. Gelak tawa dan celoteh keakraban kita mewarnai ruamhnya.

 

***

Terkadang kita tidak bisa selamanya menutupi sesuatu dari orang lain. Begitu pula dengan hubungan kita yang awalnya aman dari teman-teman kita. Tapi kelamaan muncul kecurigaan muncul dari mereka.

Gimana tidak curiga, Aldo setiap hari temenin aku dan Yuli sampai naik mikrolet. Tak jarang, Aldo juga ikutan nganter. Tapi sampai ujung gang, kalau sampai rumah bisa berabe urusannya. Kita ini backstreet dari orangtua aku. Apalagi Papa aku itu.

Dia itu galak, tidak mau anaknya dianter cowok. Pernah aku ketahuan sewaktu Pano anter, Papa aku melihat. Sampai dirumah, aku kena omel dan pukul. Bagi aku itu biasa, makanan khusus kalau sudah kena pukul.

Sejak saat itu, aku jadi takut bawa cowok kerumah. Bisa kena cambuk nanti aku.

Semakin dekat dan erat hubungan kita, semakin membuat teman-teman bertanya-tanya. Hingga suatu hari, pas valentine tepatnya. Aldo memberikan bunga dan cokklat di depan teman-teman.

Eeemmm … Otomatis, suara ledekan nyaring terdengar.

Dari situlah teman-teman jadi tahu soal hubungan kita, mereka tidak percaya kalau kita pacaran.

Kita sering disebut pasangan Kopi susu ?

Ya, karena warna kulit kita berbeda. Dia hitam seperti kopi, aku putih seperti susu. Jadilah Kopi susu.

Hahaha …

 

***

Hari berganti hari, tak terasa usia pacaran kita 10 tahun. Dari cinta monyet sampai akhirnya cinta benaran.

Kisah cinta kita membuat orang lain bahkan teman kita sendiri berdecak kagum. Bukan hanya melihat dari lamanya kita pacaran, tapi dari kisah asmara kita yang sering putus nyambung. Justru membuat hubungan kita semakin mesra.

Aldo itu orang yang pertama kali mengajari aku berkendara motor. Tidak tanggung-tanggung, motor RX King, motor yang digunakan aku tuk belajar.

Eeemmm …. Jadi jangan heran, kalau aku bisa kendarai motor kopling. Itu berkat dia, jadi bisa kendaraain motor.

Bukan hanya itu, bagi aku dia itu bodyguard. Ketika aku harus pulang malam dari kampus pasti minta jemput di stasiun kereta api.

Ya, bersamanya aku jadi cewek manja. Apa-apa, minta tolong dia.

Dia juga menjadi tempat luapan emosiku ketika kesal, dia selalu kena omel jika aku kesal akan sesuatu. Tapi dia tidak pernah marah, hanya diam mendengarkan hingga aku capek. Setelah itu, dia baru kasih saran atas setiap ocehanku.

 

***

Tiga hari kemudian  

Dering ponsel di pagi hari membuatku kaget. Tumben aku terima telp di Pagi hari. Melihat nomor asing yang tidak kukenal, membuatku bertanya dalam hati dan segera menjawab.

“Hallo, apa benar ini Anna ?” Terdengar suara perempuan yang ku kenal.

“Benar, maaf dengan siapa ini ? Tanyaku.

“Ini mama nya Aldo” Jawabnya,

“ Iya, apa kabar tante ? “ Ucapku. Kaget aku menerima telp darinya.

“Kamu kalau tidak sibuk, hari ini bisa kerumah. Ada yang mau ditanyakan ?” Pintanya.

“Baik tante, nanti sore aku kerumah” Jawabku.

Aku pun menutup ponselku dan bergegas ke kamar mandi. Hari ini ada jadwal bimbingan skripsi

Dan timbul pertanyaan “Ada apa mamanya Aldo mau bertemu aku”.

Jujur, selama kami berteman. Bisa dihitung dengan jari main kerumahnya, itu pun aku hanya duduk saja. Tidak akrab dengan keluarganya, kebanyakan diam dirumahnya. Sambil melihat mamanya bermain kartu dengan teman-temannya sambil merokok.

Aku merasa aneh melihat permainan kartu. Maklumlah, keluarga aku tidak pernah main kartu dan tidak merokok. Kita kalau mengumpul, hanya berbincang-bincang saja. Jadi latar belakang keluarga kita berbeda, itu lah kenapa aku sering tidak nyaman kalau berada dirumahnya.

Sepanjang hari, aku bertanya-tanya, kenapa mamanya mau bertemu. Mau tanya apa ya kira-kira, rasanya ingin buru-buru kerumahnya. Tapi sayang, aku ada jadwal bimbingan skripsi. Kalau tidak datang, makin lama aku lulus. Makin buat susah kondisi keuangan Papa ku.

Ya … Cobaan selalu datang bertubi-tubi dalam hidupku saat itu. Sebelum kehilangan Aldo, cobaan terberat dalam hidup keluargaku, ketika Papa aku harus pensiun dini dari tempatnya bekerja. Ada Peraturan baru dari atasannya yang baru.

Papa aku bekerja disalah satu BUMN di Jakarta, dia terkena dampak dari Peraturan baru tersebut. Bukan hanya dia, tapi beberapa teman lainnya. Peraturan yang selama ini berlaku, tapi sejak atasannya barunya jadi berubah.

Ketentuan dimana hubungan darah/ipar tidak boleh satu Perusahaan. Dan Papa ku salah satu yang terkena, sedangkan adiknya masih bekerja. Tidak adil bukan kedengarannya, tapi itu yang terjadi. Biarpun Papa dan teman-temannya menuntut hingga Mahkamah Agung, mereka tetap kalah. Uang bicara, siapa yang memiliki uang maka Keadilan itu tidak ada.

Sejak itu cobaan hidup datang, mulai dari menjual barang-barang yang ada seperti mobil, emas dan masih banyak lagi lainnya. Pokoknya barang yang bisa menghasilkan uang untuk biaya hidup seperti beli sembako, bayar listrik maupun bayar uang sekolah adik-adik aku.

Biar pun Papa masih mendapat uang pensiun, tapi itu tidak cukup untuk biaya hidup, bahkan untuk biaya sekolah 2 adik-adikku saja sering tunggak.

Cobaan ini membuat keadaan terpuruk, bukan itu saja adik-adik aku tidak menikmati fasilitas yang pernah aku nikmati. Mereka serba kekurangan, untuk bayar uang sekolah saja terkadang menunggak hingga 2 bulan.

Kondisi yang benar-benar sulit, kami pernah cuma makan Indomie saja karena uangnya hanya cukup buat beli itu saja. Bukan itu saja, Papa juga pernah jadi tukang ojek demi bisa menghasilkan uang. Tapi sialnya, pas papa jadi tukang ojek, dia kena pukul ojek lainnya. Sejak saat itu, papa stop.

Melihat wajah papa memar-memar, menambah amarah aku sama Tuhan, semakin menjauh dari Tuhan.

Bukan hanya itu saja, yang membuat hati seperti “akar kepahitan” akan hidup, ketika keluarga Papaku meminta supaya Papa aku saja yang mengalah sedangkan adiknya yang bertahan kerja.

Beberapa kali keluargaku datang hanya untuk mengatakan ini, meminta supaya Papa mengalah. Dan membiarkan adik papa yang bekerja.

Mendengar pembicaraan itu, membuat aku membenci keluargku.

Tapi sayang, uang berbicara. Adik papa aku itu yang bertahan. Sedangkan Papa aku, kena dampaknya.

Informasi yang aku dapat, keluargaku patungan biar adik papa tetap bertahan, mereke menyogok. Mendengar ini, semakin aku membenci keluargaku.

Ditambah iming-iming dari mereka akan memberikan uang bulanan buat bantu, tapi kenyataannya tidak sama sekali. Yang ada, kita selalu dihina. Apalagi sama adik perempuan papa aku, Riani, yang kaya.

Ya, Tante Riani yang paling kaya di keluarga Papa aku. Dia menikah dengan orang asing dan mempunyai Pabrik. Kalau menurutnya dia yang “paling diberkati” karena selalu dikasih rejeki.

Paling males mendengar kalau dia sudah berkata begitu. Nilai “diberkati” dari kekayaan yang ada.

Pernah suatu hari, Tante Riani menghina adikku, Tika. Dia kerumah bersama Papa buat pinjam uang. Maksud Papa kalau ajak Tika, bisa dikasih pinjam. Tapi bukan pinjaman yang didapat, tapi tapi hinaan.

“Tika, kalau Papa kamu tidak mampu kuliahin kamu. Tidak mampu bayar uang les piano kamu, tidak usah kuliah. Tidak usah gaya-gaya les piano, kerja saja. Hidup sudah susah masih mau kuliah, pake les piano saja. Ukur kemampuan ya” Begitu ucapan Tante Riani.

Dan sejak saat itu, adikku sakit hati dengan perkaataannya.

Uuuhhhhfff … Sejak saat itu aku semakin benci, membenci keluarga sendiri. Apalagi sama tante aku itu. Keluarga sendiri Pinjam uang dihina, tapi orang lain minta sumbangan dikasih berjuta-juta. Apalagi kalau sudah puji dia, nurut apa kata dia. Pasti dikasih uangnya.

Kalau istilahnya “Siapa pandai menjilat, dia pasti akan dapat yang dimau”. Sedangkan kita tidak terbiasa seperti itu, tidak bisa basa-basi.  

Nasib orang miskin, selalu dihina. Seperti tante aku itu, selalu saja menghina. Selalu merasa diberkati, sedangkan Papa tidak diberkati.

Aku pun menjadi minder dengan teman-teman, jadi pendiam. Tiap diajak pergi, aku selalu menolak dengan sejuta alasan. Aku malu cerita dengan siapa pun, hanya dengan Aldo bisa kuceritakan semuanya. Termasuk perlakuan keluarga Papa aku.

Entahlah, kalau tidak ada Aldo apakah aku masih bernafas atau tidak sampai saat ini.

Keadaan ini terkadang membuatku tertutup dan lupa akan Tuhan.

Aku marah kepada Tuhan. Kenapa Dia memberi cobaan seperti ini, tidak adil. Kenapa aku tidak seperti anak-anak lain yang bisa beli ini itu gampang. Apa yang aku mau, tidak pernah terkabul atau memiliki.

Kadang aku juga iri lihat teman-teman bisa berlibur keluar kota maupun luar negeri, aku hanya bisa berkata “Kapan ya bisa seperti mereka”.

Cobaan demi cobaan terjadi di keluarga aku, semuanya pernah terjadi. Sampai nyawa Papa aku pun pernah beberapa kali hilang hanya karena tidak mampu membeli obat asmanya. Tapi nyawanya masih tertolong, Papa masih diberikan umur Panjang. Dam sekarang, dia tidak perlu obat semprot asma lagi. Dia hanya  minum obat asma kalau sudah kambuh parah, itu pun yang murah. Kalau tidak salah harganya 10 ribu tuk 1 stripnya.

Bukan hanya itu, aku sering jalan kaki dan tidak makan karena mikir buat ongkos besoknya atau uangnya buat beli mie adik-adik aku.

Keadaan ini membuatku beberapa kali ingin bunuh diri, meminum beberapa tablet obat warung. Ini aku lakukan karena tidak kuat lagi dengan keadaan hidup yang serba kekurangan ini.

Tapi sayang, nyawa aku masih tertolong. Begitu minum obat-obat itu, aku hanya muntah-muntah saja. Setelah itu aku tertidur dan pas bangun sehat lagi.

Nyawa aku seperti nyawa kucing, banyak. Tidak bisa mati, padahal sudah minum obat-obatan warung.

Tapi beruntungnya, cobaan yang datang terus-menerus tidak membuatku untuk menggunakan narkoba atau seks bebas.

Dan berkat Aldo, aku bisa bertahan hidup. Dia selalu berkata “Jadi Perempuan itu tidak boleh cenggeng, harus tangguh. Kalau ada yang menghina, tutup kupingnya. Jangan dimasukin ke hati dan selalu terlihat tertawa. Jangan beritahu kesusahaanmu” Kata-kata itulah yang selalu kuingat hingga sekarang.

Bukan itu saja, disaat aku kecewa dengan Tuhan. Tapi aku didekatkan dengan Tuhan. Aldo lah orang yang membuatku dekat dengan Tuhan. Berkat dia, aku tidak melupakan Tuhan, Dia malah membuatku semakin dekat dengan Tuhan.

Gimana tidak dekat dengan Tuhan, tiap kali aku sedih, dia selalu bawa ke Goa Maria di Katedral. Disana kita nyalakan lilin dan berdoa,awalnya sih aku tidak mau. Tapi tiap lihat Aldo berdoa, seperti ada getaran. Mungkin melihat dia berdoa, membuatku menjadi mengadu dengan-Nya.

Dan suasana disana nyaman, angin sepoi-sepoi terkadang suara adzan maupun lonceng gereja. Rasanya ingin berada disana terus. Hati menjadi adem, jika sudah berada disana.

Kalau kata Aldo “Satu lilin untuk satu permintaan, sampaikan semuanya ke Bunda Maria” Makanya setiap kali suasana hati tidak bagus, pasti kesana. Tempat mengadu yang pas.

Bagi aku, Aldo itu selalu memberikan kekuatan disaat aku lemah. Dia tongkat buat aku berjalan di situasi seperti ini. Bukan itu saja, dia selalu memeluk jika aku menangis. Tubuhnya terasa hangat jika di peluk, nyaman. Ditambah dia selalu membelai rambutku. Dalam dekapannya serasa masalah yang ada hilang, ingin rasanya memeluk dia terus. Tidak mau dilepaskan.

 

***

Sore hari

Sesuai janjiku dengan mamanya Aldo, aku sudah dirumahnya Jam 17:00. Perasaan campur-aduk termasuk ketakutan. Aku ini pada dasarnya penakut, apalagi kalau sudah berhubungan dengan dunia lain alias setan. Jangan tanya, takut banget.

Pernah aku merasakan ketakutan dirumahnya, tapi Aldo memeluk aku kala itu. Dia juga memberi salib, maksudnya ketika aku takut bisa digenggam.

Kalau kata dia “Salib ini sudah dipercikan pastur, jadi genggang ini ketika takut”, Jadilah salib itu selalu ada didompet, selalu dibawa kemana-mana. Dan sekarang jadi salah satu kenangan pemberian dari dia.

Lamunan aku dibuyarkan dengan suara mama Aldo

“Na, sebelumnya makasih ya sudah mau datang kesini. Tante mau tanya, apa kamu tahu dimana Aldo nongkrong, siapa teman-teman dia ?” Tanya mama Aldo.

Aku kaget mendengar pertanyaan itu, jujur selama ini aku tidak pernah tahu dimana dia nongkrong dan siapa teman-temannya. Selama kita pacaran, dia cuma mengajak ke mall, makan dan nonton. Tidak pernah diajak nongkrong dengan teman-temannya.

“Tidak tahu tante, selama ini Aldo tidak pernah ngajak aku buat nongkrong sama teman-temannya. Kalau boleh tahu, memang kenapa tante.” Tanyaku penasaran.

Lalu ku lihat raut wajah keluarganya, bukan hanya mamanya saja saat itu. Abang dan kakaknya juga ada, lengkap keluarganya. Serasa dkantor polisi, yang mau intrograsi maling.Makin penasaran dengan pertanyaan mamanya.

“Na, Aldo selama ini kena HIV AIDS. Sudah 2 tahun dia terkena, kita sengaja tidak memberitahu kamu karena dia yang minta” Ucap abangnya yang paling besar, Riko.

Untuk beberapa saat semuanya terdiam.

Aku menghela nafas Panjang, mencoba mengatur hati dan detak jantung yang kacau. Perlahan membenarkan posisi duduk.

“HIV AIDS ? Kok bisa” Pertanyaan itu muncul dibenak.

Aku harus kuat mendegar ini, harus ! Batinku sesak.

“Jadi Aldo itu kena HIV AIDS, dia pecandu narkoba selama ini. Ketahuannya positif, pas mamanya pulang dari kampung. Dia panasnya tidak hilang, sudah seminggu. Kita bawa ke dokter, dicek lab hasilnya positif” Ucap Riko.

Aku tidak sanggup lagi mendengar cerita soal Aldo, hati ini seperti tersayat perih.

Tiba-tiba aku mengerutkan kening, menginggat-inggat kembali kapan terakhir Aldo sakit.

Dam ternyata bener, bahwa hari itu adalah ahri terakhir aku terakhir kerumahnya. Kala itu mamanya di Kampung, dia demam. Aku sampai beli es batu buat kompres dan beli obat penurun panas.

Hingga beberapa hari kemudian, dia memutuskan hubungan kita.

Riko melanjutkan kembali ceritanya.

“Kita pas tahu dia positif kena penyakit itu, kita tidak memberitahu siapa pun termasuk keluarga maupun tetangga. Kondisi Aldo semakin hari semakin turun, dia sering keluar masuk rumah sakit. Seminggu di rumah sakit, nanti dirumah beberapa hari. Sistem imumnya menurun dan ingatannya juga makin lama menurun juga. Dia hanya ingat kenangan waktu kecil dan waktu sekolah”

Sambil mendengar cerita abangnya, aku jadi berpikir apa ini alasan dia memutuskan aku. Dia tidak mau nambah beban aku, atau dia tidak mau aku terkena juga. Sejuta perkiraan dibenak, kenapa dia memutuskan hubungan kita.

“Kita juga tidak bisa melarang Aldo keluar, dia suka kabur. Tapi nanti pulang lagi, kita tidak tahu kemana dia pergi. Biarpun dia terkena HIV AIDS, kita tetap merawat dia” Ujar Kakak Perempuannya, Sani.

Tiba-tiba mamanya Aldo menangis “Ini karma buat saya, dia sejak dalam kandungan sudah mau saya buang. Saya minum obat-obatan biar keguguran, tapi tidak berhasil. Dia tetap lahir didunia. Kalau pun sekarang dia meninggal seperti ini, ini salah saya. Karma buat saya”

Aku semakin kaku, tubuhku tidak bisa digerakkan.

“Tante … Jujur, selama ini aku tidak pernah tahu kalau Aldo menggunakan narkoba. Aku juga tidak tahu dimana dia biasa nongkrong dan teman-temannya. Dia tidak pernah ngajak aku” Ujarku.

Yang membuatku kaget pas Riko cerita Aldo minta dianterin ke Goa Maria, tapi karena keadaannya tidak memungkinkan jadi hanya Pastor yang datang.

“Oh ya, sebelum Aldo meninggal. Dia masa minta dianter ke Goa Maria. Cuma gw gak bisa anterin, gw panggilin pastur saja. Gw ampe jatuh dari motor karen buru-buru” Sambil Riko menunjukkan lukanya.

Perasaan semakin tidak menentu, kepala semakin kunang-kunang dan dada semakin sesak. Berasa susah bernafas mendengar cerita soal Aldo dan penyakitnya.

Aku pun menghela nafas lega begitu keluarganya selesai menceritakan semuanya. Dan aku pun pamit pulang “Tante, abang, kakak, aku pamit pulang, sudah malam juga. Maafin aku kalau ada salah”

“Maafin juga ya kalau Aldo selama ini banyak salah sama kamu” Pinta Kakaknya, Sani.

Oh ya, Sani ini kakak perempuan Aldo satu-satunya. Kalau menurut Aldo, aku mirip Sani. Tapi  kalau dilihat-lihat, bener juga. Aku rada mirip kakaknya, aku juga sering dikira kakaknya Aldo kalau dari belakang. Lucu ya.

Aku pun pulang diantar abangnya yang nomor 3, Bertand. Dia juga pernah jadi kakak kelas sewaktu SMP dulu. Dia teman nongkrong mantan pacar aku, Pano.

Sementara itu perjalanan yang hanya butuh waktu 30 menit itu terasa sangat lama, hati ini menjadi gelap.

Sepanjang jalan Bertand banyak ngobrol menanyakan kuliahku dan berkata “Maafin ade gw ya kalau ada salah sama loe. Doain biar dia tenang disana”

Aku hanya jawab “Iya”

Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa merinding. Spontan memeluk tubuh Bertand. Aku biasa memeluk tubuh Aldo, kalau tiba-tiba merasa merinding pas naik motor.

“Ada apa” Bertand kaget dan menghentikan motornya.

“Gw takut bang, merinding tiba-tiba. Jadi reflek meluk loe, maaf ya. Tapi gw beneran takut, cepat jalan. Jangan berhenti, gw takut nih” Masih memeluk dia erat.

Kemudian Bertand melajukan kembali motornya dengan kecepatan tinggi.

 

***

Setelah turun dari motor, aku berucap “Makasih ya bang, hati-hati ya”

Kemudian Bertand melajukan kembali motornya. Dia tidak pamit dengan orang rumah karena sudah malam, tidak enak sama orang rumah katanya.

Bertand ini abang yang paling dekat sama Aldo, dia baik dan suka ketawa. Beda sama abangnya yang nomor satu, galak menurut cerita Aldo. Makanya tidak heran, kalau lagi main kerumahnya terus abangnya pulang. Pasti Aldo ngajak pulang, keluar dari rumahnya. Jadinya, aku ikutan takut sama abangnya.

Bertand ini baru sekali kerumah, waktu itu sih mencari Aldo yang kabur dari rumah. Biasa, berantem sama Papanya. Kebanyakan anak lelaki pasti seringlah berantem sama Papanya.

Untungnya pas dia datang, aku lagi menyapu halaman. Jadinya Papa aku tidak tahu, kalau dia tahu ada cowok yang datang kerumah bisa kena omel aku.

“Na, Aldo dimana. Dia sudah 4 hari tidak pulang, mamanya cariin” Tanya Bertand.

Aku kaget mendengarnya.

“Tidak tahu bang, dia juga tidak ada kabar beberapa hari ini. Nanti aku coba cari tahu dia dimana” Jawabku.

“Kasih tahu dia saja, suruh pulang. Dicariin orang rumah. Kasih tahu itu saja ya”

“Ok bang”

Lalu Bertand pamit pulang.

Selesai menyapu, aku mengambil handphone. Aku mencari tahu dimana Aldo, ku SMS semua teman-teman dia yang kukenal. Tapi hasilnya nihil, tidak ada yang tahu dimana Aldo.

Keesok harinya Aldo datang kerumah.

“Na … Anna” Terdengar suara dari pintu pagar rumah.

Kuberanjak dari duduk, berjalan menuju suara yang memanggil namaku.

“Loe datang juga, darimana loe. Kabur kemana loe” Ucapku dengan nada marah-marah.

Dia hanya diam mendengar aku marah-marah. Setelah aku reda dari emosiku, dia berkata “Aku menginap dirumah teman di daerah Salemba. Aku juga bantu-bantu perbaiki motor disana, jadi aku ada duit”

Aku melihatnya dengan nada kesal, nafasku naik turun tidak menentu. Mungkin sisa-sisa amarah tadi, jadi nafas tidak menentu.

“Aku akan pulang hari ini, aku janji akan pulang” Katanya.

“Ok, tapi pulang ya. Awas kalau tidak pulang” Ancamku.

Dia kemudian pamit pulang. Dan benar, dia pulang kerumah.

Salahnya aku saat itu, tidak pernah bertanya kenapa dia kabur. Ada masalah apa dengan dia. Egois ya aku, tidak pernah perduli dengan dia. Bodo amat dengan dia istilahnya begitu.

 

***

Setelah aku sampai dirumah, aku mandi kemudian rebahan. Diatas tempat tidur, aku menginggat semua cerita keluarganya Aldo. Tiba-tiba aku jadi takut terkena HIV AIDS juga, aku ingat-ingat apa saja yang sudah kami lakukan.

Selama kita pacaran tidak pernah melakukan hubungan diluar batas, tidak pernah seks dan kalau ciuman juga tidak sampai gigit-git bibir seperti di film-film. Semuanya dibatas wajar, bahkan makan saja sendiri-sendiri. Dia tidak pernah ijinkan aku makan makanan dia, bahkan makai sendok dia saja tidak pernah.

Semakin yakin, aku tidak terkena HIV AIDS.

Tapi rasa takut ini lebih besar akan penyakit ini, aku pun melakukan tes HIV AIDS keesok-harinya. Bersyukur, hasilnya negatif.

Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba satu nama muncul dibenakku, Robert. Ya, dia pasti tahu semua soal Aldo. Dia teman dekatnya, dia pasti tahu.

Aku langsung menghubungi dia, tapi sayang handphone nya mati.

Robert benar-benar hilang seperti ditelan bumi, entah dimana dia berada sekarang.

 

***

Sejak kepulangan dari rumah Aldo, persoalan hidupku serasa bertambah. Beban masalah hidup ini semakin berat, keluarga, kuliah dan sekarang dia.

Pertanyaan-pertanyaan yang membuat hatiku kacau kembali muncul. Aku tidak membayangkan cowok yang selama bertahun-tahun bersamaku, ternyata pengguna narkoba dan seks bebas.

“Aarrrhhhh … Cobaan apa ini lagi Tuhan” Kesal hati ini, ingin rasanya jedotin kepala ke tembok.

Sejenak diam mematung tanpa tahu harus berbuat apa, pikiranku kosong. Cobaan ini terlalu berat. Lalu bertanya “Kapan gw bisa bahagia. Kapan gw bisa seperti yang lain, bisa liburan. Bisa beli ini itu yang kita mau”

“Aaarrrgggg …. Itu hanya mimpi bagiku”

Tiba-tiba aku merasakan kepala sebelah kanan berdenyut seperti ditusuk-tusuk sebuah jarum. Dengan menahan sakit dikepala, aku merebahkan tubuhku diatas ranjang dan mencoba memejamkan mata. Rasa sakit ini sudah menjalar keseluruh bagian kepala lainnya.

Terlalu berat beban ini, cobaan ini terus datang dan takt ahu kapan berakhir.

 

***

 

Keesok-harinya aku kerumah Robert, mencari tahu kenapa Aldo bisa terjerumus ke narkoba. Tapi sayang, Robert tidak dirumah.

“Dammm … Kemana ini manusia, handphonenya pun tidak aktif”

Robert menghilang tanpa jejak, terakhir ketemu pas dia kerumah kasih kabar Aldo meninggal. Setelah itu, dia tidak muncul dipemakaman. Padahal Aldo teman baiknya selama ini.

“Ngumpet dimana ini orang” Kataku kesal.

Dia hilang bak ditelan bumi, tidak tahu keberadaannya.

Sejak itu, aku sibuk menyelesaikan skripsi. Semester ini harus kelar skripsiku, aku harus kerja buat bantu keluargaku. Jika tidak selesai, beban buat orangtuaku. Apalagi yang akan mereka jual, rumah saja sudah digadaikan ke bank.

Cobaan ini terlalu berat bagiku.

 

***

Beberapa bulan kemudian, kuliahku pun selesai. Aku diwisuda. Itu artinya, aku bisa mencari kerja.

Tidak lama setelah aku mendapat ijazah, aku pun melamar kerjaan. Aku browsing lowongan kerja dan kirim ke Perusahaan-Perusahaan. Hampir setiap hari kirim surat lamaran, entah berapa amplop yang sudah dikirim. Hingga akhirnya ada suatu Perusahaan menghungi untuk psikotes.

Di bulan Desember, doaku terjawab, aku diterima kerja di Perusahaan tersebut. Tapi sayang, aku tidak bisa datang untuk tanda-tangan kontrak kerja. Saat itu, aku sedang di kampung, ziarah bersama keluarga om aku, Frans, adiknya Papa.

Om Frans, satu-satunya keluarga yang selama ini baik dengan keluarga aku. Dia maupun istrinya selama ini banyak membantu, kami suka diberikan makanan maupun uang, tidak banyak tapi bisa buat nyambung hidup. Dia juga sering mengajak aku maupun adik-adik aku berlibur.

Dari semua sepupu yang ada, aku dan adik-adik aku dekat dengan anak-anaknya om Frans. Mereka selalu baik, mereka juga selalu minta adik-adik aku menginap.

Yah … Bukan rejeki aku tuk bekerja disana.

Satu bulan setelah itu, aku dapat panggilan interview kembali. Di sebuah Perusahaan daerah Jakarta Barat. Waktu diberitahu nama Perusahaannya, Jujur belum pernah mendengar dan aku sialnya lagi buta jalan.

Uuuuhhhfff …. Ini lah akibatnya kalau tidak pernah kemana-mana. Aku selalu dilarang pergi jauh-jauh sama Papa aku. Kalau pun jauh selalu diantar, tidak pernah pergi sendiri.

Papa ku itu karakternya keras, galak dan disiplin. Aku ini sudah beberapa kali kena pukul waktu kecil. Kalau menurut Papa, aku tidak nurut atau bandel. Ikat pinggang, sapu lidi maupun kemoceng pernah mendarat ditubuhku. Dan anehnya, aku tidak menangis tiap kena pukul. Mama aku yang menangis kalau aku kena pukul. Aku hanya diam saja menerima benda-benda itu mendarat ditubuhku.

Pernah, aku pulang sekitar jam 1 malam pas pergi bareng teman-teman, Aldo juga ikut. Aku ijin besuk teman di rumah sakit karena operasi usus buntu. Setelah besuk, kami nongkrong di Plaza Senayan hingga lupa waktu. Kami balik dari sana sekitar jam 23:00.

Sepanjang jalan aku ketakutan, belum pernah aku pulang selarut ini. Benar saja, pas sampai dirumah, aku langsung dipukul dan disuruh tidur diteras.

Itulah papa aku, selalu saja memukul jika sudah marah. Kalau menurut dia, aku ini nakal, susah diatur.

Untung 2 adikku yang lain tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti aku. Mereka justru disayang, terkadang iri melihat mereka tidak pernah kena pukul.

Apa pun yang dilakukan Papa aku, mungkin itu bentuk perhatiannya ke anak-anaknya.

Dan pada saat interview kerja, Papa mau anter, bahkan dia menunggu hingga aku kelar. Tes masuk Perusahaan itu seharian, mulai dari wawancara dengan HRD, psikotes dan terakhir wawancara lagi dengan user.

Melelahkan … Ini pertama kalinya aku interview.

Pas di interview, jujur aku tidak pernah tahu cara bicara dengan pelanggan lewat telpon. Aku sudah pasrah tidak diterima kerja disana.

Tapi beruntung, beberapa hari kemudian aku mendapat kabar bagus. Aku diterima kerja di Perusahaan ini, senang dan bersyukur. Akhirnya bisa kerja, ini pertama kalinya aku bekerja.

Keluargaku senang, Ketika memberi kabar gembira ini.

Hari pertama kerja, lagi-lagi aku diantar Papa. Sehabis mengatar, dia mencari tahu angkutan apa yang bisa aku naiki buat pulang nanti. Biarpun dia galak dan keras, tapi dia perduli dengan anak-anaknya. Boleh dikatakana “Over protect”

Sejak bekerja, aku lupa akan Aldo. Aku menyibukkan diri dengan bekerja, ditambah ada lemburan. Aku pun meminta ke atasan supaya tiap hari bisa lembur dan dikabulkan. Lumayan uang lemburannya bisa buat beli yang aku mau.  

Setiap hari bangun Jam 04:00, pulang dari kantor jam 21:00. Begitu saja setiap hari, tidak ada waktu buat bersenang-senang.

Lembur membuatku jadi berani pulang malam, apalagi naik patas. Dulu waktu Aldo masih ada, mana berani aku pulang sendiri. Selalu minta jemput dimana pun, ada rasa takut. Tapi sekarang, hampir setiap hari pulang malam.

Bahkan ketika aku dimutasikan ke bagian lain yang ada insentifnya, tiap akhir bulan pulang jam 00:00 dari kantor naik taksi sendirian. Maklum, tidak ada fasilitas anteran karyawan, jadi mau tidak mau harus pulang naik Taksi.

Semakin lama, aku jadi perempuan mandiri dan pemberani. Tidak pernah takut apa pun, termasuk pulang malam.

Mungkin aku jadi berani, karena masih merasa Aldo selalu ada disamping. Selalu menjaga seperti janji dia “Aku akan selalu menjaga kamu sampai kamu menemukan seseorang yang bisa jagain kamu”.

 

***

Hingga suatu hari, aku bertemu teman lama, Athan, di suatu restaurant di daerah Jakarta Timur. Dia menanyakan kebenaran kematian Aldo “Na, gw denger-denger Aldo meninggal karena HIV AIDS ya”

Aku hanya kaget mendengar pertanyaannya. Tapi aku hanya bisa menatap wajahnya, sambil tersenyum kecil.

“Tapi loe gak kena juga kan, loe sehat kan” Tanyanya lagi.

“Iya lah … Gw dah putus lama sama dia” Jawabku dengan nada suara tinggi.

“Baguslah klo loe gak kena” Ucapnya.

Lalu kami pun berpisah setelah berbincang-bincang lama.

Aku pun kembali teringat Robert, ingin cari tahu kebenaran soal Aldo. Kenapa dia bisa jadi pengguna narkoba.

 

***

Tok tok tok …

Suara ketukan pintu, perlahan pintu rumah itu terbuka. Nampak ibu Robert melonggokkan wajahnya, kemudian mempersilahkan masuk.

“Apa kabar Na, kemana saja ?” Tanya Ibu Robert.

“Baik bu, Robert ada bu ?” Tanyaku.

“Ooo … Ada, dibelakang lagi bersihin aquarimnya” Sambil mempersilhkan aku ke halaman belakang rumahnya.

Robert itu punya usaha ternak ikan, jadi dirumahnya penuh dengan aquarium- aquarium ikan.

Begitu melihatnya, pengen rasanya ku hajar wajahnya. Tapi sayang tangan ini tidak reflek nonjok dia.

“Ehhh loe, kemana aja loe. Gw kesini kemarin, loe gak ada. Bukan datang kerumah kek, terus kemana loe pas Aldo meninggal. Kenapa loe gak datang ke pemakamannya” Ucapku dengan intonasi nada tinggi.

“Selow Na, gak usah ngengas. Santai …” Ujarnya sambil senyum-senyum.

Melihat raut wajahnya begitu, emosiku bertambah, “Senyum-senyum saja loe, kemana loe. Trus loe juga harus jelasin ke gw, kenapa Aldo bisa terjerumus Narkoba”

Dan lagi-lagi, Robert hanya senyum-senyum. Melihat itu, darahku bertambah mendidih. Rasanya ingin menyiramnya pake air panas.

“Cepaaatttttttt … Ceritain ke gw semuanya. Jangan ada lagi yang loe tutup-tutupin, orangnya dah mampus” Pintaku.

“Ok … Gw ceritakan semuanya, tapi loe janji ya jangan tanya-tanya lagi setelah gw ceritakan semua”

“Iye … Burruuuuuuu …”

Akhirnya Robert menceritakan kenapa Aldo bisa terjerumus HIV AIDS.

“Awalanya dia pake tidak lama setelah bokapnya meninggal, dia menyesal karena berantem sama bokapnya”

“Berantem sama bokapnya ? Lah … Bukannya selama ini dia baik-baik saja ama bokapnya” Selakku

“Gak … Justru dia merasa berdosa, karena dia bokapnya meninggal. Gw gak tau persisnya kenapa dia merasa bokapnya meninggal karena dia. Terus, dia ditawari Ferry awalnya. Kan waktu itu Ferry juga make” Lanjut Robert.

“Ferry teman SMP kita itu, yang rumahnya dekat sekolah” Tanyaku.

“Iye … Awalnya dia make buat ngilangin rasa bersalah, tapi kelamaan jadi pengguna. Tiap kali dia stress, dia pasti make”

“Dia pake jenis apa saja selama ini, siapa teman nongkrong dia selama ini” Selakku lagi.

“Sabar … Ngengas mulu loe. Bisa diam kan loe, biar gw ceritakan semuanya”

Aku pun diam, tidak selak dia bicara. Semakin penasaran aku mengenai Aldo selama ini, kenapa begitu banyak rahasia dalam hidupnya.

“Dia itu suka nongkrong di bengkel temannya di daerah Salemba, disana teman-temannya rata-rata pada make juga. Bukan hanya narkoba tapi dia juga seks bebas, banyak pacar dia selain loe. Tapi cintanya buat loe” Lanjutnya.

Mendengar itu, seperti tercekik leher ini. “Seks bebas” Ucapku pelan.

“Ya, bahkan waktu SMU ada pacarnya yang hamil terus Aldo minta gugurin”

“Hamil … Gugurin … Gak mungkin, Aldo itu suka anak-anak, masa dia tega minta digugurin. Jangan bohong loe” Ucapku dengan raut wajah kesal mendengar ceritanya

“Kalau loe gak percaya, besok gw bawa kerumah tuh cewek. Loe tanya sendiri sana, benar apa tidaknya. Aldo minta gugurin karena dia gak mau buat loe terluka, gak mau liat loe kepikiran. Dia sayang loe, makanya dia minta gugurin” Ucapnya dengan nada mulai meninggi.

Aku pun menantang Robert untuk anterin ke rumah cewek itu, “Ok … Besok loe anterin gw, awas klo ampe loe bohong. Gw hajar loe”

Aku pun pamit pulang dengan suasana hati kesal, bigung, marah, pokoknya campur-aduk.

Yang membuatku tak habis pikir adalah informasi mengenai kebenaran soal Aldo selama ini. Bagaimana mungkin dia pengguna narkoba dan seks bebas ? Kenapa dia tidak pernah cerita kepadaku ?

Tapi aku berpikir kembali, mungkin Aldo punya alasan tersendiri tidak menceritakan masalahnya selama ini.

“Aaarrrrrrggghhhhhh ….”

 

***

Sabtu cerah sore itu menghiasi langit kala itu, aku langsung kerumah Robert sepulang lembur. Sesuai janji, kita akan kerumah mantan pacar Aldo yang mengunggurkan kandungan itu.

Padatnya lalu lintas membuat perjalanan ini terasa lama, rasa penasaran hati ini bergejolak tuk mendengar kebenarannya. Kami pun tiba menjelang malam, suasan rumah kontrakan cewek itu terlihat ramai. Rupanya disana habis acara lamaran, cewek itu habis lamaran.

Dari kejauhan terlihat sosok cewek yang memanggil-manggil

“Robert … Robert sini”

Ternyata mantan pacarnya Aldo yang memanggil

“Hai Bet, Pa kabar ? Tumben kesini, ada apa ?” Sambut Perempuan itu.

“Hai, Pa kabar Ella. Ini siapa ?” Tanya Robert sambil menunjuk pria sebelahnya.

“Ooo … Kenalin ini Eko, calon suami gw” Jawabnya sambil memperkenalkan calonnya itu.

“Ini Anna, pacar Aldo. Gw anterin dia kesini, mau denger kebenarannya dari loe. Dia gak percaya cerita gw” Lanjut Robert.

Ella terdiam, seperti mengingat sesuatu. Ada wajah keraguan diwajahnya. Mungkin ragu mau cerita apa tidak tentang masa lalunya.  

“Please, tolong ceritakan semuanya. Gw pengen tahu semuanya, jangan ada kebohongan lagi. Lagipula dia sudah meninggal”

“Ok gw ceritakan, setelah itu jangan tanya apa pun. Gw hanya cerita, setelah itu jangan bahas apa pun” Pintanya.

Aku hanya anggukan kepala, tanda setuju.

“Gw sama Aldo pacaran pas kita SMU, kita sering nginep di hotel. Kita sering melakukan seks, sampai akhirnya gw hamil. Aldo minta gugurin karena kata dia Cuma main-main saja sama gw, dia cuma cinta loe Anna”

Ella kemudian diam, menangis. Suasana hening, semua mata tertuju kepadanya. Tak terkecuali aku menatapnya dengan rasa iba. Pasti berat menceritakan “aib” nya sendiri.

Lalu ku berikan tissue, “Udah tidak usah diteruskan ceritanya, maaf ya sudah buka kembali luka lama. Maaf ya …”

Ella pun melanjutkan ceritanya “Gw tadinya gak mau gugurin, tapi gw takut sama orang rumah. Jadinya gw gugurin juga. Setelah gw gugurin, gak ada kabar dari Aldo. Kita putus komunikasi, dia menghilang bagai ditelan bumi”.

“Aldo dah meninggal, loe tau gak” Tanya Robert.

“Tau, gw dengar dia kena HIV AIDS kan. Gimana tidak kena, dia saja begitu. Panteslah kalau dia kena” Ucap Ella.

“Loe pernah ke Salemba, kerumah temannya” Tanyaku.

“Iya, disana dia sering nongkrong. Bukan hanya nongkrong tapi nginap juga. Oh ya, Aldo juga sering beli barang disana. Dia pemakai narkoba, loe tau gak ?” Tanya Ella

Aku hanya menggelengkan kepala artinya “TIDAK”

Mendengar ceritanya makin lemas tubuh ini, kepala berat dan dada terasa sesak.

Setelah Ella mencerita semuanya, kami pun pamit. Sebelum beranjak pulang, aku juga meminta maaf atas semua perlakuan Aldo selama ini.

Sepanjang perjalanan pulang, aku mengingit bibirku sambil merenung. Kenapa Aldo bisa lakukan itu semua. Kenapa dia tega membunuh calon anaknya sendiri, kenapa dia lebih memikirkan perasaan aku daripada anaknya.

Ah ! Sial … Andai dia ada didepan wajahku, pengen ku tonjok wajahnya. “Bajingan loe Do …”

Robert pun tidak berani mengatakan apa pun, dia membiarkan aku sepanjang jalan ngomong sendiri.

 

***

Sehabis mandi, aku melangkah menuju lemari pakaian bermaksud mengambil pakaian. Sebelum membuka lemari, aku berdiri dan menatap cermin besar yang menempel di pintuya. Cermin yang memantulkan wajahku yang kusam, kuyuh dan Lelah. Perasaan khawatir dan cemas terus menggerogoti hatinya sejak kepergian Aldo.

Hatinya bertanya “Kenapa hidup loe sial terus sih Anna, kapan loe bisa bahagia. Kapan penderitaan loe berakhir ?”

Setelah berpakaian, aku beranjak ketempat tidur.

Banyak sekali kejutan-kejutan yang aku peroleh, yang membuatku ingin mencari tahu kegiatan dia selama ini. Terlambat sih, tapi aku penasaran. Ingin tahu semuanya soal dia.

Ditambah teringat cerita abangnya soal Aldo.

“Sejak Aldo dinyatakan positif, kondisi badannya semakin menurun. Berat badannya juga turun, dia hidup dari obat-obat yang diberikan dokter. Tadinya mau bawa dia ke kampung, tapi mama mau merawat dia sampai sembuh, Biarpun itu mustahil, tapi kita upayakan supaya dia tetap hidup. Biar pun sistem imun dan memorinya sebagian sudah hilang”

Memang kondisinya menyedihkan ketika pertama kali aku jengguk. Badannya kurus dan kakinya ada luka borok. Bukan hanya itu, teman-teman sekamarnya juga sama. Bahkan ada yang parah, makan dari selang infus. Pokoknya badannya seperti anak-anak Somalia yang kekurangan gizi seperti digambar-gambar.

Bukan hanya itu, kita harus memakai sarung tangan, masker dan pakaian APD. Aneh kan, baru kali ini jengguk harus lengkap.

Sekarang baru aku tahu, ternyata kemarin itu, mereka semua terkena HIV AIDS. Dan rumah sakit itu khusus untuk menanggani pasien yang terkena HIV AIDS. Pantes saja, dokter suster bahkan petugas kebersihannya berpakaian seperti itu.

Kalau aku jadi mamanya Aldo, hancur banget tahu anaknya mengidap penyakit HIV AIDS. Tidak tahu harus lakukan apa. Tapi mamanya malah merawatnya hingga pergi.

Yah … Mungkin kalau orangtua lain sudah membuangnya, tidak diakui anak lagi. Tapi ini tidak, Aldo dirawat dengan baik, bukan hanya mamanya tapi kakak perempuannya, Siska, yang juga membantu.

Aldo itu anak bontot, anaknya iseng dan sayang banget sama keluarga. Dia saja manggil mamanya “Mama Onyet”.

Bukan hanya itu, dia juga suka anak-anak, makanya tidak heran kalau anak tetangga juga dekat sama dia. Dia saja pernah kerumah naik mobil terus isi mobilnya banyak anak-anak kecil. Pokoknya dia tipe bapak sayang anaklah.

Mungkin kalau kami jadi menikah dan punya anak, dia yang lebih banyak urus anak.

Hahaha …

Dia juga selalu ada tiap kali aku kesusahaan, tapi giliran aku bahagia susah dicari. Pernah listrik rumah mati, harus manggil PLN karena rumah listriknya rusak. Sayangnya dirumah saat itu tidak ada orangtua aku. Bigung mau ngapain, jadinya aku hubungi Aldo. Tak lama kemudian sekitar 1 Jam, dia sudah dirumah. Dia nyuruh aku masuk, dia duduk diteras sendirian. Tak lama kemudian orangtua aku datang, baru dia pulang.

Bukan hanya itu, dia juga tidak romantis. Tiap aku ulang tahun maupun valentine, dia tidak pernah kasih aku apa pun. Sebatang coklat pun tidak, hanya ucapan saja. Itu pun bukan orang pertama, selalu orang terakhir.

“Uuuuhhhfff …” Menyebalkan bukan.

Tapi baru aku tahu dari kakaknya, tiap aku ultah dia selalu beli coklat Tobleron. Tapi karena aku sudah marah-marah, jadi dia tidak pernah kasih. Dia bawa pulang lagi.

Kejam ya aku.

 

***

Aku masih mengerjakan beberapa kerjaan lain yang harus diselesaikan beberapa hari lagi, jari-jari asyik menari diatas laptop. Tiba-tiba, teringat Penyakit Aldo, lalu ku browsing mengenai HIV AIDS

HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit

Infeksi HIV yang tidak segera ditangani akan berkembang menjadi kondisi serius yang disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS adalah stadium akhir dari infeksi virus HIV. Pada tahap ini, kemampuan tubuh untuk melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya

Penyakit ini belum ada obat atau metode penanganan HIV belum ditemukan. Apabila sudah mengalami AIDS, maka tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan. HIV AIDS menyerang sistem imun makanya begitu terkena akan seumur hidup terkena / tidak sembuh. HIV AIDS mempunyai stadium, makanya begitu terkena akan seumur hidup terkena / tidak sembuh.

HIV paling banyak penyebaran dan penularan melalui hubungan intim yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik yang tidak steril saat memakai narkoba.

Aku yang selama ini tidak mengerti dan tidak ketahui apa pun soal HIV AIDS, sekarang menjadi paham.

Sejenak, ku bayangkan bagaimana dia gunakan jarum suntik, ditusukan ke lengannya. Bagaimana dia gunakan shabu atau pun narkoba jenis lainnya. Tidak nyangka, dia bisa menggunakan semua itu.

Sampai terbawa mimpi, ketika dia melakukan semua itu. Di pojokan sebuah ruangan, aku melihat dia mengikat lengannya pakai sabuk, kemudian menyuntikkan dengan jarum suntik. Setelah selesai menyuntik, ikatannya dilepas.

Aaarrgghh …. Kenapa dia melakukan itu semua. Kenapa perilaku dia selama ini tidak menunjukan sebagai pemakai narkoba.

Bagai mendapatkan tamparan keras diwajahku, sakit.

Aku menghentikan kerjaanku, kututup laptop dan merebahkan tubuhku diatas ranjang. Entah kenapa hati terasa kosong, hampa. Tiba-tiba teringat cerita abangnya mengenai kondisi Aldo “Stamina Aldo semakin hari menurun, berat badannya pun menurun drastis. Pola makan juga harus diperhatikan, salah makan saja dia bisa buang-buang air. Kalau sudah begini, kita bawa dia di rumah sakit. Pernah berat badannya Cuma 35 KG”

Berat badan 35 KG ? Itu artinya berat badannya turun 30 KG, hanya tulang saja. Tidak ada daging yang meyelimuti tubuhnya.

Ya Tuhan … Hanya tulang.

Itu memang benar, berat akan turun drastis jika sistem imumnya dah memburuk.

Dari info yang ku dapat, berat badan akan turun drastis karena imun tubuhnya tidak sama seperti orang normal. Sama seperti teman sekamarnya waktu aku besuk dia. Kurus seperti anak disomalia, hanya tulang saja.

Tapi pas dia meninggal, bentuk tubuhnya normal. Malah terlihat cakep, wajahnya bersih.

Bukan hanya itu, jika sudah terluka akan lama sembuh. Seperti jempol kaki Aldo yang waktu itu aku lihat luka nanah. Belum juga aku bertanya, Aldo sudah menutupnya dengan selimut.

Memori ingatan dia pun waktu itu sudah menurun, tapi senangnya dia masih ingat aku. Siapa dan nama aku siapa ? Dia ingat.

Kalau kata abangnya, orang yang terkena HIV AIDS memori ingatannya akan perlahan-lahan hilang. Dia akan seperti anak kecil lagi, dia hanya ingat masa lalu. Apalagi orang-orang yang dekat dengan dia selama ini.

Pantes saja dia ingat siapa aku. Kita dekat sudah lebih dari 10 tahun, banyak kenangan yang sudah kita buat. Apalagi aku ini sering marahin dia, pasti melekat selalu.

Hehehe …

Tak habis pikir lagi, Aldo melakukan seks bebas dengan siapa saja. Padahal dengan aku, dia selalu jaga, tidak pernah kurang ajar. Pakaian aku seksi saja, dia langsung kasih jaket. Dia tidak suka aku pakaian seksi, pokoknya dia selalu menjaga.

Kalau kata Robert, Aldo melakukan seks denga siapa saja. Tidak pandang usia, bahkan dengan istri orang juga pernah.

Tidak percaya sih mendengar ucapan Robert, apa mungkin Aldo melakukan itu semua.

Dia bukan bunglon yang bisa berubah-rubah kapan saja. Ketika bersamaku kelakuannya positif, tapi ketika tak bersamaku berubah jadi negatif.

Setelah aku pikir-pikir lagi, bisa jadi Aldo melakukan seks bebas jika tidak sadar. Dalam arti dalam pengaruh obat-obatan. Apa pun bisa terjadi jika sudah begitu, tidak sadar.

Jadi terbayang wajahnya, tidak bisa di pungkiri agak susah melupakan. Rasa kehilangan ini terlalu besar, rasa bersalah ini masih mandarah daging hingga kini.

Terkadang aku berpikir apa yang akan aku lakukan tanpa dia ? Dan aku selalu berharap bisa hidup tanpa dia.

Melupakan itu hal tersulit, biarpun sudah mencoba berkali-kali tapi tetap saja terbayang wajahnya.

Aldo selalu memberiku dorongan kecil dalam penerbangan kehidupan ku, tapi aku malah terlalu cuek dan tidak perduli.

Biarpun begitu, cinta Aldo tidak pernah berkurang. Dia makin care, cintanya tidak pernah pudar.

Bahkan di keadaan yang makin memburuk, Aldo sering ngikuti aku diam-diam. Mengawasi aku dari kejauhan.

Saat ini, aku memang bisa hidup tanpa Aldo. Tapi aku merasa kesepian, merasa dunia murka padaku. Dan Perasaan bersalah tersimpan.

 

***

Sepeninggal Aldo, Yuli lah yang menjadi tempat curhatku. Dia bukan saja ku anggap sebagai sahabat tapi juga kakak.

Andai saja Aldo masih ada, mungkin saat ini kita sudah menikah. Seperti sahabat aku, Yuli dan Patar. Hubungan mereka sampai jenjang pernikahan, bahkan punya 1 anak. Dan sepeninggalan Aldo, dia jadi tempat curhat.           

Berapa lama loe bisa hidup sendiri seperti ini, loe semakin tua. Loe butuh pendamping, loe harus berkeluarga Anna ?” Ucap Yuli.

“Gw juga maunya begitu, kayak loe. Punya keluarga sendiri, menikah dan punya anak. Tapi gw gak tau ampe sekarang belum ada”

“Buka pintu hati loe makanya. Jangan pikirin Aldo mulu, dia udah gak ada. Bisakan buka hati loe buat yang lain”

Aku hanya menghela nafas, tidak tahu harus mengatakan apa.

Iya sih, Yuli memang benar. Aku selama ini menutup hati, ada ketakutan yang menghampiri. Selain bayangan Aldo masih ada, rasa minder akan keadaan keluarga membuat tidak berani mengatakan suka sama cowok yang ku suka.

Terkadang aku malu dengan kondisi keadaan keluarga aku, rumahku yang sudah bocor sana-sini dan masa lalu aku.

Aku juga pernah beberapa kali dekat dengan cowok, tapi tidak pernah ada rasa suka. Hanya kenal, setelah itu menghilang tak ada kabar.

Hingga suatu hari, aku jatuh cinta dengan cowok. Namanya Chandra, dia cowok keturunan India. Dia bekerja sebagai chef di Meulborne. Kita kenalan di Facebook, kemudian berlanjut ke whats up. Dia pernah beberapa kali mengajak menikah sambal bercanda, tapi aku balasnya dengan candaan juga. Tapi seiring waktu, dia menghilang tanpa kabar.

Eeeemmm … Mungkin karena kondisi keluarga aku, jadinya dia begitu.

Setelah itu, aku tidak berani lagi menyukai cowok. Aku menghabiskan waktu dengan bekerja, tidak ada pikiran untuk jatuh cinta bahkan menikah.

Pengen sih menikah seperti teman-teman aku yang lainnya, punya keluarga sendiri. Tapi rasa takut dan minder lebih besar, hanya bisa dipendam saja.

Hingga beberapa bulan setelah jatuh cinta dengan Chandra, aku menyukai cowok India lagi. Dia duda anak satu, Namanya Kelly. Perkenalan kita di medsos, berlanjut lagi di whats up.

Di awal kenal, dia itu cuek. Buat aku penasaran, masa aku inbox ucapin selamat ulangtahun, tidak dibalas.

Menyebalkan …

Hingga suatu hari, kami tukeran nomor whats up.

Sejak tukeran nomor ponsel, dia setiap pagi kasih renungan harian. Aku semakin menyukainya, apalagi pas aku lihat anak perempuannya.

Wajah anak itu cantik, hidungnya mancung dengan rambut keriting. Persis seperti wajah ayahnya, duplikat ayahnya banget.

Sharon, nama anak perempuannya. Rasa sayang itu muncul ketika pertama kali melihatnya di sosmed Kelly. Dan setiap kali, melihat postingan anaknya seperti ada getaran.

Aku bukan jatuh cinta dengan Kelly saja, tapi juga dengan anaknya.

Mungkin, kalau aku sudah menikah dari dulu, umur anak ku seusia dia. Tapi sayang, sampai hari ini belum pernah menikah.

Saking cintanya sama anaknya, pernah aku kasih ucapan selamat ulang tahun dengan background gunung. Ketika aku naik gunung Selamat, aku membawa kertas yang sudah ada tulisan “Happy Birthday” Terus aku foto. Pas dia ultah, baru aku inbox.

Tapi sayang, dia tidak buka inbox dari aku. Baru dibaca, beberapa bulan kemudian. Tidak apa-apa, yang terpenting dia melihat ucapannya.

Bukan hanya itu, aku sering melihat Kelly dari kejauhan. Aku datang ketempat kerjanya di daerah Tanah Abang.

Dan untuk kali ini, aku tidak berani mengatakannya, memilih memendam rasa ini. Entah sampai rasa itu akan ada dihati. Tapi yang pasti sampai hari ini pun, aku masih memendam rasa itu.  

Trauma itulah yang ku rasa. Rasa takut dalam diri tepatnya, takut dihina. Apalagi keluargaku bukan orang kaya, seperti keluarganya.

Kita seperti bumi dan langit yang tak akan pernah bersatu.

Dia saja kalau berlibur keluar negeri bersama anaknya. Dan kalau sudah begini, aku menanti uploadan foto mereka bersama. Ini lah yang paling aku suka, melihat kedekatan mereka. Ada perasaan iri ketika melihat mereka bersama, mungkin karena aku tidak pernah sedekat itu dengan Papa aku.

Pendam perasaan kepadanya, itulah pilihanku saat ini.

Aku juga tidak mau patah hati lagi, tidak mau kehilangan lagi. Cukup aku kehilangan Aldo dalam kehidupan aku, orang yang aku sayang.

Ini semua salah aku, aku kehilangan segalanya. Harga diriku, kebahagianku. Aku mencintaimu. Dan aku berharap suatu hari nanti, ada seseorang yang seperti dirimu. Seseorang yang bisa mencintaiku apa adanya, seseorang yang bisa membuatku tergantung kepadanya.

 

***

Semua orang punya masa lalu, tapi hanya sedikit yang bisa melihat dibaliknya. Seperti masa lalu aku dengan Aldo, akan jadi kenangan. Apa pun yang terjadi dengannya, dia telah jadi masa lalu ku.

Dan kisah kita akan seperti dogeng karena kamu bagian dari perjalanan kehidupanku. Cintamu memiliki efek dalam perjalanan hidupku. Tapi kita tak ditakdirkan untuk bersatu karena tak setiap kisah cinta berakhir bahagia.

Andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya mau berkata "Do, aku minta maaf. Tidak bisa mengerti akan dirimu selama ini. Maaf, tidak ada disampingmu disaat kamu membutuhkan seseorang. Jika dulu, aku tidak egois. Pasti kita akan bersama, tidak seperti sekarang. Terpisah, tak bertemu selamanya lagi”

Terima kasih, kau telah menerangi duniaku. Kita tidak pernah terpisah, kamu selalu ada disampingku biarpun tak terlihat. Kamu selalu menjagaku, itu yang selalu kau katakan. Kaulah yang menerangi duniaku.

Perjalanan hidupmu berakhir, tetapi perjalanan hidupku masih terus berjalan. Itu akan jadi beban terbesar hidupku.

Aku mencintaimu. Dan aku berharap suatu hari nanti, ada seseorang yang seperti dirimu. Seseorang yang bisa mencintaiku apa adanya, seseorang yang bisa membuatku tergantung kepadanya.

Semoga kamu bahagia disana.

***

 

1 comment:

  1. The Casino Review 2021 – Play for Free or Real Money - Casino
    The Casino Review: No 블랙잭 Deposit, Bonus, Banking 라스 벳 Methods, 포커족보 Games, 포커 페이스 뜻 Banking Options. 인싸 포커 The Casino has always been a favourite among New Zealanders.

    ReplyDelete

Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an

"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain".  Masa dimana dapat tertawa ...