Thursday, November 29, 2018

Menantu VS Mertua

Menantu VS Mertua
Dorkas Manroe


"La, klo loe nikah nanti. Jangan tinggal sama Mertua, klo bisa punya rumah sendiri. Minimal kontrak rumah deh" Ujar temanku

"Kenapa ?" Tanyaku heran

"Tinggal sama mertua itu tidak enak, loe bangun siang diomelin. Loe tidak rapiin rumah, diomelin, pokoknya tidak bebas deh. Hidup loe seperti dipenjara"

Apa iya, tinggal seatap sama mertua seperti itu. Tidak ada keharmonisan, hidup seperti dipenjara. Tidak ada kebebasan, semua dimonitor sama mertua.

Tapi tidak semua sih begitu, ada teman yang sudah menikah. Mereka akur dengan Mertua, saking akurnya sudah seperti anak sendiri. Pergi belanja, makan diluar, nyalon bareng dan masih banyak lagi yang dilakukan bersama.

Contohnya dikeluargaku tidak seperti itu. Mertua VS Menantu akur, tidak ada masalah. Kalaupun tidak akur biasanya Orangtua sama anaknya dan itu biasalah klo ada ribut-ribut kecil.

Waktu Mama Mertua papa yang bukan lain adalah Opung boruku (Oma) sakit, tidak bisa lagi beraktivitas, hanya tiduran ditempat tidur karena pernah terjatuh dan kena tulang ekor belakang. Papaku meminta agar dirawat dirumah kami, alasannya biar mama bisa urus.

Bukan hanya itu saja, ketika Opung Boru harus dirawat beberapa hari di RS papa meminta menjaganya. Dan urusan rumah-tangga dan anak-anak, Papa yang mengerjakan. Klo boleh dibilang, Papaku itu The Best lah. Dia bisa melakukan semuanya.

Klo kata Papaku “Anggaplah mertuamu seperti orangtuamu karena suatu hari nanti, kamu juga akan jadi mertua dari anak-anakmu

Benar sih, masalah keharmonisan Mertua VS Menantu, harus dari kita sendiri. Bagaimana kita sebagai menantu harus bisa menyesuaikan diri dengan keluarga yang baru. Kita harus paham karakter masing-masing isi keluarga yang baru.

Dan jangan merubah kebiasaan/peraturan yang ada dirumah tersebut, klo pun ingin merubah harus secara perlahan-lahan atau dengan trik agar tidak timbul percikan keributan.

Anggaplah mertuamu sebagai orangtuamu, perlakukan sama seperti kamu memperlakukan orangtuamu.  

Belajarlah dari Ruth yang menganggap Ibu Mertuanya seperti orangtuanya sendiri. Biarpun dia sudah diminta Ibu Mertuanya untuk memulai hidup barunya, tapi dia tidak mau pergi. Dia tetap setia bersama ibu mertuanya.


"Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain daripada maut" (Rut 1:16-17)
 




Saturday, November 17, 2018

AHOK, Gubernur DKI Jakarta ke-15

AHOK, Gubernur DKI Jakarta ke-15
Dorkas Manroe

Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M atau lebih dikenal dengan Ahok, lahir di Manggar Belitung Timur, Bangka Belitung, 29 Juni 1966. Ayahnya bernama  Indra Tjahaja Purnama (Tjoeng Kiem Nam) dan Buniarti Ningsing (Boen Nen Tjauw).

Nama panggilan yang diberikan ayahnya dimasa kecilnya "Banhok". Ban berarti "Puluhan ribu" dan Hok berarti "Belajar". Kalau digabungkan menjadi "Belajar di segala bidang". Dan nama Banhok pun berubah menjadi Ahok. 

Dalam hal pendidikan, Ahok menyelesaikan gelar Master Manajemennya di Sekolah Tinggi Manajemen Prasetiya Mulya.

Ahok merupakan Gubernur yang ke-15 yang memimpin DKI Jakarta. Beliau naik menjabat menjadi Gubernur pada saat itu karena Ir. H. Joko Widodo, terpilih menjadi Presiden RI. Mungkin Ahok satu-satunya yang menjadi Gubernur DKI Jakarta yang selama ini pernah menjabat yang berasal dari etnis Tionghoa dan Kristen.

Sebelumnya, Ahok pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Belitung Timur definitif pertama, berpasangan dengan Khairul Effendi, B.Sc. Dalam dunia Politik, Ahok bergabung Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB) sebagai ketua DPC Partai PIB Kabupaten Belitung Timur pada tahun 2004.

Dan Pada tahun 2009, Ahok mencalonkan diri dan terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Bangka Belitung mewakili Partai Golongan Karya.

Mungkin banyak yang tidak mengetahui, di tahun 2006, Ahok pernah dinobatkan oleh Majalah TEMPO sebagai salah satu dari 10 tokoh yang dapat mengubah Indonesia. Dan pada tahun 2007, beliau dinobatkan sebagai Tokoh Anti-Korupsi dari penyelenggara negara oleh Gerakan Tiga Pilar Kemitraan yang terdiri dari KADIN, Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Masyarakat Transparansi Indonesia. 

Dan sosok Ahok baru dikenal banyak orang ditahun 2012 ketika beliau menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, mendampingi Ir. H. Joko Widodo atau lebih dikenal Jokowi, yang sekarang menjabat sebagai Presiden ke-7 Indonesia. 

Karakter Ahok yang berani, blak-blakan, ceplas-ceplos, no kompromi dan membenci korupsi. Karakternya tersebut terkesan sebagai sosok yang tempramen. Banyak masyarakat yang mengatakan "mulutnya Ahok tidak ada saringannya".

Hal inilah yang menjadi sorotan publik, Ahok tidak seperti pejabat Pemerintahan yang lainnya. Boleh dibilang, masyarakat dibangunkan dari tidur yang panjang. 

Apa pun yang dilakukannya selalu menuai pro-kontra. Banyak yang mengecam tindakannya, tapi ada juga mendukung tindakannya. 

Ahok tidak pernah takut kepada siapa pun, memang benar. Justru karena karakternya itu, banyak yang dilakukannya. Berikut beberapa contoh yang sudah dilakukannya : 

1. Dia berani menolak titipan anggaran DPRD.
2. Berani memecat karyawan Pemprov DKI yang melenceng dari peraturan yang sudah dibuat.
3. Mengusur penghuni ilegal dibanyak bantaran sungai dan pemukiman liar, kemudian memindahkannya ke rusun.  Salah satunya relokasi Kampung Pulo.
4. Menentralisasi Monas dari pedang kali lima
5. Membuka umum Balaikota sebagai tempat wisata
6. Tidak ada lagi pungli untuk pengurusan KTP ataupun surat-surat lainnya
7. Menertibkan pedang-pedang kaki lima di Pasar Tanah Abang

Ketika saya membaca buku mengenai Ahok, ada beberapa kalimat yang diutarakan Ahok, yang isinya tidak semua orang akan berpikir hal seperti ini

1. "Ahok Wawancara Esklusif Dengan Ahok, Keluarga, Sahabat dan Warga", pada halaman 50. Ada beberapa kalimat yang diutarakan Ahok, yang isinya tidak semua orang akan berpikir hal seperti ini

"Saya bilang, saya sudah punya 1.000 musuh di Jakarta. Kalaupun tambah 1.000 lagi, itu masih mirip" dan "Saya bilang ke keluarga kalau saya mati bawa jasad saya ke Belitung dan tulis saja 'Sudah Mati Dengan Baik'" (Hal.50)

"Saya dari kecil diajarin Bapak saya nonton film cowboy, tinggal adu cepat tembak saja. Salah satu mati saja deh, gitu. Ini gaya cowboy. Sudah enggak ada nego. Saya bilang sama ibu saya, bukannya saya tidak mau nego. Masalahnya adalah memang enggak ada negosiasi. Ibu saya bilang kan, bisalah kompromi, nanti banyak musuh. Saya bilang sama ibu saya, 'Kalau Negara ini baik Ma, saya sudah enggak masuk Politik, kan? Kita masuk politik kan gara-gara enggak bisa bantu orang sakit, gak bisa bantu orang sekolah. Nah, kalau kita masuk ngelawan arus pasti musuhnya nambah, seribu musuh tambah seribu ya masih samalah ...' Nah, kenapa ini terjadi ? Karena DPRD itu di dalam otaknya enggak pernah berpikir bahwa ada orang politik seperti saya gitu. Saya sudah ngomong berkali-kali, saya bukan orang politik, saya ini orang biasa yang enggak tahan di rumah nolong orang miskin. Enggak tahan sudah nolongin orang miskin untuk sekolah, bangun rumah sama mau berobat. Istilah bapak saya itu mau nangis pun enggak bisa nolong orang. Jadi, saya bukan orang politik. Saya ini orang biasa pake baju Gubernur saja, nih. Itu yang dia salah ngitung dari saya dari dulu" (Hal. 52 & 53) 

"Demi kebenaran, saya enggak perduli. Saya untuk apa dapatin posisi, dapetin jabatan hanya karena nipu? Sudah dapet terus kompromi, buat apa? Kita juga kompromi sih, tetapi dalam arti kata realitis gitu loh. Kalau lihat semua PNS korup misalnya. Apa kamu mau potong semua? Kita enggak bisa pecat gitu loh. Nah, kamu mesti realistis untuk menyakinkan mereka. Masih banyak juga yang muda-muda dan pengen berubah, kan. Ya bertahaplah. Ya tutup mata sebelahlah. Banyak eselon II yang kaya, lebih kaya dari saya. Kalau dihitung dari awal sejarah hartanya, mana mungkin dia lebih kaya dari saya sebetulnya. Ya ... Realistis aja. Ya ... saya ... tidak pernah benci orangnya, saya benci kelakuannya. Itu harus dibedain." (Hal. 53)

"Saya ingin semua orang di DKI menikmati menjadi orang kaya. Semakin dia tidak mampu, maka pejabat harus makin melayani" (Hal. 232)

2. "Ahok untuk Indonesia (Kompasiana)"

"Ahok berani tampil marah di tengah apatisme dan kepasrahan rakyat kecil atas perilaku buruk pemimpinnya." (Hal 71)

"Ahok menganggap jabatan Gubernur atau Wagub itu sebuah amanah atau pengabdian, bukan anugerah atau suatu kemewahan." (Hal. 90)

"Ahok hanya marah kepada mereka yang tak lagi menaati hukum dan pandai membuat akal-akalan untuk keuntungan pribadi" (Hal.102)

"Penataan PKL yang dilakukan Ahok juga tak bisa dilakukan dalam ranah penegakan hukum yang represif saja," (Hal. 194)







 



 




Sunday, November 11, 2018

Taman Ismail Marzuki


Taman Ismail Marzuki
Dorkas Manurung

"La, lo dimana ?" Isi chat yang kuterima disaat mau pulang dari perpustakaan.

Chat dari teman dulu dikampus, yang sekarang jadi tetanga. Iya, chat dari Resi.

Selain dia temanku, dia juga blogger plus sekarang vlogger. Nambah ilmu lagi nih aku dari dia.

"Perpustakaan, kenapa ? Lo dimana" Tanyaku

"Gw di TIM"

"Nonton ye" Kataku

"Main aja, ternyata ada festival. Banyak tenda" Ujarnya.

"Ok, gw kesono. Tapi gw mampir dulu yaks, ke Goa Maria Katedral. Cuman 10 menitan buat berdoa aja"

"Ok, gw di Upnormal Hotel Ibis ya"

"Iya.." Ucapku

Lalu aku menuju ke Goa Maria Katedral.

Sesampainya disana, aku dipesenin roti bakar. Aduh, baik banget Ibu Blogger satu ini. Selain nambah ilmu, dapat berkat. Semoga Tuhan selalu kamu memberikan rejeki dan anak ya tahun depan. Amin. 

Sesampai disana ada Perayaan ulang tahun ke -50 Taman Ismail Marzuki (TIM)

Ismail Marzuki merupakan salah satu Maestro bangsa Indonesia. Salah satu karyanya "O, Sarinah", "Juwita Malam", "Selendang Sutra", "Rayuan Pulau Kelapa", "Aryati", dll.

Ismail Marzuki lahir di Kwitang dari keluarga pasangan Betawi Marzuki dan Solechah. Semasa kecilnya, Ismail Marzuki pernah bersekolah di Kristen HIS Idenburg, Menteng. Kemudian ayahnya memindahkan ke Madrasah Unwanul-Falah.

Ditahun 2004, dimasa Pemerintahan Presiden Bambang Susilo, Ismail Marzuki diberi gelar Pahlawan Nasional karena karya-karyanya.

Ditahun 1968, nama Ismail Marzuki diabadikan sebagai Pusat Seni dan Kebudayaan yang bernama Taman Ismail Marzuki (TIM) yang terletak didaerah Cikini.

Perayaan ulang tahun ke-50 TIM boleh dibilang "Pesta Rakyat" karena semua kalangan berbaur disini. Mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek, dari orang miskin sampai orang kaya. Pokoknya semua membaur, tidak pandang status.

Acara ini mengangkat tema "Seni Bersama, Bersama Seni". Acara ini diisi Maliq & D’Essentials, Kunto Aji, White Shoes & The Couples Company, Tohpati, Brisia Jodie, Chiki Fawzi, Gugun Blues Shelter, dan OM Pancaran Sinar Petromaks.

Selain acara musik, ada juga wayang kulit, Ludruk dan bazar. Jenis bazar pun beranek-ragam mulai dari makanan sampai kerajinan tangan. Harganya pun standartlah, tidak terlalu mahal. Pokoknya pas dikantong biarpun tanggal tua, hehehe... 

Acara yang dimulai dari jam 15:00 ini, bisa jadi hiburan gratis buat masyarakat terutama masyarakat disekitar Cikini.

Tapi gw sama Resi beserta suami, tidak sampai selesai. Jam 21:30, kami memutuskan pulang untuk istirahat. Lumayanlah, untuk beberapa jam saja tapi bisa menguras tenaga kami. Hitung-hitung olahraga malam, hehehe...


Dan aku pulang bersama babang ojek online sampai Stasiun Cikini, kemudian disambung commuterline Bekasi. Maklum, sekarang gw cewek commuterline. Selain cepat sampai, disekitar stasiun sekarang sudah ada fasilitas minimart maupun makanan siap saji. Jadi biarpun ada keterlambatan commuterline, kita tidak kelaparan dan kehausan. Siap santap deh. Oh ya, kamar mandinya pun bersih dan wangi. Hehehehe...

Acara Perayaan Ulang Tahun ke-50 TIM sangat menghibur. Dan seharusnya acara seperti ini bisa diadakan minimal sebulan sekali, hiburan untuk semua kalangan.  

Tks ya Resi dan Mas Rio, sudah temenin jomblowati ini menghabiskan malam mingguannya bersama kalian. Semoga next, bisa double date yaks. Hehehe..







 






Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an

"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain".  Masa dimana dapat tertawa ...