Menantu VS Mertua
Dorkas Manroe
"La, klo loe nikah nanti. Jangan tinggal
sama Mertua, klo bisa punya rumah sendiri. Minimal kontrak rumah deh" Ujar
temanku
"Kenapa ?" Tanyaku heran
"Tinggal sama mertua itu tidak enak, loe
bangun siang diomelin. Loe tidak rapiin rumah, diomelin, pokoknya tidak bebas
deh. Hidup loe seperti dipenjara"
Apa iya, tinggal seatap sama mertua seperti itu.
Tidak ada keharmonisan, hidup seperti dipenjara. Tidak ada kebebasan, semua
dimonitor sama mertua.
Tapi tidak semua sih begitu, ada teman yang sudah
menikah. Mereka akur dengan Mertua, saking akurnya sudah seperti anak sendiri.
Pergi belanja, makan diluar, nyalon bareng dan masih banyak lagi yang dilakukan
bersama.
Contohnya dikeluargaku tidak seperti itu. Mertua
VS Menantu akur, tidak ada masalah. Kalaupun tidak akur biasanya Orangtua sama
anaknya dan itu biasalah klo ada ribut-ribut kecil.
Waktu Mama Mertua papa yang bukan lain adalah Opung
boruku (Oma) sakit, tidak bisa lagi beraktivitas, hanya tiduran ditempat tidur
karena pernah terjatuh dan kena tulang ekor belakang. Papaku meminta agar
dirawat dirumah kami, alasannya biar mama bisa urus.
Bukan hanya itu saja, ketika Opung Boru harus
dirawat beberapa hari di RS papa meminta menjaganya. Dan urusan rumah-tangga
dan anak-anak, Papa yang mengerjakan. Klo boleh dibilang, Papaku itu The Best
lah. Dia bisa melakukan semuanya.
Klo kata Papaku “Anggaplah mertuamu seperti
orangtuamu karena suatu hari nanti, kamu juga akan jadi mertua dari anak-anakmu”
Benar sih, masalah keharmonisan Mertua VS
Menantu, harus dari kita sendiri. Bagaimana kita sebagai menantu harus bisa menyesuaikan diri dengan keluarga yang baru. Kita harus paham karakter masing-masing isi keluarga yang baru.
Dan jangan merubah kebiasaan/peraturan yang
ada dirumah tersebut, klo pun ingin merubah harus secara perlahan-lahan atau
dengan trik agar tidak timbul percikan keributan.
Anggaplah mertuamu sebagai orangtuamu, perlakukan sama seperti kamu memperlakukan orangtuamu.
Belajarlah dari Ruth yang menganggap Ibu Mertuanya seperti orangtuanya sendiri. Biarpun dia sudah diminta Ibu Mertuanya untuk memulai hidup barunya, tapi dia tidak mau pergi. Dia tetap setia bersama ibu mertuanya.
Belajarlah dari Ruth yang menganggap Ibu Mertuanya seperti orangtuanya sendiri. Biarpun dia sudah diminta Ibu Mertuanya untuk memulai hidup barunya, tapi dia tidak mau pergi. Dia tetap setia bersama ibu mertuanya.
"Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan
pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ
jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam;
bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati
di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku,
bahkan lebih lagi daripada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari
engkau, selain daripada maut" (Rut 1:16-17)
Thanks to Dr. Lebelebe (+2348159043910) for his good work I never believe that HIV has cure, I was HIV positive over 3 year now before I came across a comment about how
ReplyDeleteDr. Lebelebe cure HIV and herpes disease but when I saw it i have it in mind
that he cant cure HIV I just decided to give it a try I contact him that
night luckily to me he replied me, but I don't believe him I thought it was
a scam but I still hold on to see the work of Dr. lebelebe if he is saying the
truth he ask for some details about me i gave him all he needed and I
waited to see his reply to my problem after all, he told me to go for check
up and I went for HIV test I cant believe I was negative,am so happy and
grateful to God for using Dr. Lebelebe to cure me, that is the reason why i
decided to write this wonderful testimony of our i was cured, i recommend
Dr. Lebelebe, I to you all around the world,contact him on his you can also reach him through WhatsApp number +2348159043910
Dr. Lebelebe for helping me at this age if you need help contact,