Saturday, March 28, 2020

Toleran Terhadap Intoleransi

Toleran Terhadap Intoleransi
Dorkas Manroe

Minggu pagi, ketika baru bangun tidur. Aku melihat WA Group, disana ada gambar yang bertulisan “Diskusi Toleran Terhadap Intoleransi" yang diadakan di Auditorium IFI, Sarinah, Thamrin, Minggu 19/11/208.

Entah kenapa, aku tertarik untuk menghadiri. Tanpa menanyakan siapa saja yang akan datang digroup tersebut. Ini merupakan pengalaman pertamaku setelah 11 tahun “tertidur’ karena aktivitas bekerja.

Dan di tahun 2018, aku “terbangun” dari tidurku yang panjang. Aku mencari kegiatan untuk membuang kejenuhan bekerja. Dihari liburku, sebisa mungkin aku mengikuti kegiatan atau paling tidak ke perpustakaan Nasional untuk membaca atau menulis.

Aku teringat kata-kata papaku yang selama ini aku tidak dengar, “MEMBACA”. Apa saja kamu baca, yang penting baca, jangan hp terus dipegang. Mungkin kata-kata itu yang membuatku sekarang jadi suka membaca.

Judulnya menarik, apalagi dimasa sekarang dan mau Pemilu Presiden 2019. Aroma kampanye sudah tercium dari sekarang. Kedua pihak mulai saling update status, koment status, mencari kesalahan kubu lawannya bahkan sampai menghina. Dan tindakan seperti ini akan menjadi intoleransi diantara masyarakat.

Pembicara dalam diskusi ini juga termasuk orang-orang yang kompeten dibidangnya, Alto Luger (Aktivis Perdamaian), Satria Adhitama (Dosen Pancasila & kewarganegaraan), Nasir Abas (Penggiat Toleransi) dengan Moderator Monique Rijker.

Tapi sebelum diskusi dimulai, ditayangkan terlebih dahulu film dokumenter “hate spaces dimana dalam film tersebut menceritakan tentang kebencian kepada mahasiswa/i Yahudi dikampus-kampus dibeberapa Negara. 

Dimana mahasiswa/i tersebut tidak mempunyai hak dalam hal pendidikan. Mereka selalu dibenci bahkan sampai ada yang dianiaya oleh teman-teman sekampusnya, hanya karena mereka YAHUDI. 

Di Film mengenai kebencian, kita bisa melihat beberapa komentar dan analisis dari para penulis dan akademisi terkemuka. Dan Mereka rata-rata berpendapat “Permusuhan terhadap mahasiswa/i Yahudi di kampus adalah bagian dari perubahan yang lebih besar dalam dunia akademis, yang telah merangkul aktivisme sosial yang radikal, indoktrinasi ideologis, dan kepatuhan yang dipaksakan”.

Mungkin hal tersebut juga terjadi di Indonesia, dimana kalau ada pemilihan dan calonnya bukan dari agama mayoritas. Akan ada gesekan-gesekan, akan beredar isu-isu negatif. 

Dan agama merupakan hal yang sangat sensitif untuk jadi bahan berita/pembicaraan/perdebatan. 

Menurut Satria Adhitama, “Surga itu dijual dan dikemas dalam bentuk agama agar bisa dibeli” Artinya dengan agama, bisa menarik orang untuk mengikuti ajaran yang salah. Dan dengan iming-iming “Surga”, banyak orang yang mengikuti ajarannya. Dan isi kitab suci sering kali dijadikan pembenaran oleh manusianya sendiri". 

Hal serupa juga dikatakan Nasir Abas, "Agama itu ataupun kitab-kitab suci yang menjadi masalah itu yang membacanya, yang menerjemahkannya, yang mengamalkannnya. Itu yang bermasalah, ketika kemudian ada yang mengarah kepada untuk membenarkan apa yang dilakukannya. Diambillah ayat ini untuk pembenarannya, untuk menghalalkan pencurian, perampokan diambilah ayat ini. Membenarkan dalam membunuh, diambil ayat ini. Kemudian terjadilah masalah. Dan mereka yakini, inilah perintah Tuhan. Apalagi kalau kita tidak baca semua..."



Dan menurut Alto Luger "... Tapi tidak menutup mata, memang agama juga bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada disila pertama Pancasila, tapi formasinya bagaimana. Saya sendiri ditanya itu tidak tahu jawabannya gimana..." 



Satria Adhitama mengambil contoh kasus HKBP Filadelfia, di Bekasi, merupakan salah satu gereja yang dilarang pendiriannya dengan berbagai macam alasan seperti tidak mendapatkan izin, padahal sudah 43% artinya cukup karena dalam SK Menteri untuk perizinan Tempat Ibadah hanya membutuhkan 60 tanda-tangan dari masyarakat sekitar. Dan untuk izin sebetulnya mudah, jika adanya TOLERANSI.  




Sebaiknya kita dapat melihat, Gereja Katedral dengan Mesjid Istiqlal yang bersebelahan selama bertahun-tahun. Tidak ada yang merasa terganggu, bahkan lonceng dan adzan pun pernah berbunyi bersamaan. 

Toleransi itu harus ada pengorbanan dari dua pihak dan sama-sama menanggungnya/menjalankannya dengan ikhlas. Toleransi itu tidak bisa satu pihak tetapi dua pihak. Tidak ada masalah selama iman kita kuat.

Fanatik boleh tidak ? Boleh, didalam itu harus fanatik, kenapa ? Menyakini agama yang kita pilih adalah yang paling benar, yang paling cocok dengan kita. Keluar, bentuknya simpati empati. Sekarang dibalik, didalamnya kosong keluar bentuknya fanatik.

Nabi Muhammad saja sudah menjalankan yang menjalankan “Piagam Madina” Dia jamin bahwa semua umat beragama baik Islam, Kristen, Yahudi, dan Penyembah berhala boleh beribadah dengan tenang.

Satria Adhitama juga meminta kita belajar dari Film “Upin Ipin”, dimana film tersebut mengajarkan untuk hidup rukun biarpun berbeda agama maupun kebudayaan

  • Jarjit (Mohd Shafiq Mohd Isa) adalah seorang anak-anak laki-laki berketurunan India Punjabi
  • Devi (Maheswary Mohan) ialah anak perempuan berbangsa India
  • Mei Mei (Yuki Tang Ying Sowk) yang bernama lengkap Xiao Mei. Mei merupakan keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu
  • Susanti (Sarah Nadhirah Azman) merupakan anak perempuan yang berasal dari sebuah keluarga yang berasal dari Jakarta, Indonesia

Sedangkan menurut Alto Luger, “Jualan Ideologi saat ini masih mengguntungkan untuk kepentingan tertentu

Beda lagi dengan yang dialami Nasir Abas yang melihat untuk memenuhi keinginan, memenuhi kehendak jadi dipaksakan. Memaksakan kehendaknya, sehingga ini harus terjadi. Ketika ini harus terjadi, dia tidak perduli. Tidak perduli menginjak siapa, makanya terjadi InToleransi.

Dan ini pernah dirasakan hal tersebut, sehingga tidak perduli yang lain yang penting kelompoknya berhasil. Terserah kelompok yang lain. Itu hal-hal yang menyebabkan InToleransi.

Intinya ketika emosi didahulukan pasti akan terjadi keburukan, Ketika nafsu didahulukanakan terjadi regenerasi.

Nasir Abas dulunya anti Pancasila dan dipahamkan agama baru, setelah ditangkap, beliau mempelajari dan membaca kenapa Pancasila dibenci ? Setelah dipelajari, Pancasila ini tidak ada salahnya dalam agama. Pancasila dalam rangka untuk masyarakat yang majemuk seperti Indonesia yang bisa mempersatukan. Kalau kita paksakan orang pegang satu agama, itu berarti memaksaan orang masuk agama tersebut. Itu akan terjadi suatu InToleran. Konsep dari para pemimpin terdahulu dengan membuat Pancasila sebenarnya itu untuk hidup aman damai.




Nasir Abas meminta agar semuanya dikembalikan kepada "AKHLAK", sesuai atau tidak. Di Indonesia sopan-santunnya sudah cukup baik, ramah, dll. Dan kita patut menjaganya. Bhineka Tunggal Ika harus kita jalankan dengan konsep PANCASILA.

Kita juga tegur yang lain dikala mereka tidak berahklak, menyakiti yang lain baik secara mulutnya maupun tanggannya. Harus kita tegur, semoga kita pun memperbaiki AKHLAK kita semua.   




Tapi yang membuat saya tertarik, adanya kesaksikan dari seorang perempuan yang bernama Isti. Dia pernah terbujuk oleh suatu kelompok ajaran sesaat tertentu karena dari kecil hidupnya di "bully" dan tidak punya teman. Dan ketika ada yang menawarkan akan punya keluarga baru, teman baru, dia mau bergabung. 

Selama bergabung dalam kelompok tersebut, dia diberikan trainning keluar kota, diajarin tembak-menembak, menyebrangi danau, dikasih tonton film Palestina bunuh-bunuhan kalau umat muslim sekarang ini sedang diteror, sedang disudutkan dimana-mana dengan kondisi pintu dikunci. Dan diminta cari target, teman-teman yang seusianya untuk bergabung.  
  


Tapi dia berhasil keluar, hanya karena temannya yang beragama Katolik, memeluknya dan berkata Isti, apa kabar. Isti sudah sarapan ?” Dan saat itu juga, dia keluar dari kelompok ajaran sesat itu. Dia merasa seperti dianggap manusia. Dan mau jadi aktivitis Pancasila dan ke Bhinekaan. 


Setelah keluar dari kelompok tersebut, dia mendirikan komunitas pendidikan perdamaian namanya "PANDAI" di Indonesia. Dan dia juga masih terima ancaman kematian dan beberapa kali diintrograsi di Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta hingga berjam-jam. 

Mungkin hal tersebut terdengar sepele/biasa saja, hanya sebuah pelukan dan ucapan seperti itu. Ya sepele/biasa saja, bagi yang sudah/sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Tapi bagaimana bagi yang belum pernah merasakannya ? Jawabannya adalah "Itu sangat berarti".

Ingat, kita tidak pernah tahu masa lalunya sampai kita mengenalnya lebih lama/dekat. Bahkan biarpun kita sudah mengenal lama pun, kita tidak bisa mengenal kepribadiannya. 

Dan marilah kita memulai mengucapkan salam kepada sekitar kita karena kita tidak akan pernah tahu itu akan berarti atau tidak. Siapa tahu dengan kita mengucapkan salam, itu sangat berarti bagi yang kita sapa. 

Tapi apakah pernah kita mengalami tindakan Intoleransi dari sekitar kita, kalau aku pernah beberapa tahun lalu.

Teman-temanku rata-rata muslim, beberapa kali mereka mencoba supaya aku mengucapkan ayat syahadat. Mungkin maksud mereka bercanda, tapi untungnya aku tidak mau. Entah kenapa mulutnya tertutup rapat dan hanya tersenyum.

Hingga suatu hari, aku marah besar karena sudah terlalu sering mereka memperlakukanku seperti itu. Dan sejak itu, mereka tidak pernah melakukan hal itu lagi. 

Mungkin itu salah satu contoh yang tanpa kita sadari bentuk dari Intoleransi. 

Agama juga sering kali menjadi penghalang cinta dua anak manusia yang berbeda jenis untuk bersatu. Dan akhirnya, salah satu harus berpindah agama demi bisa bersatu. 

Hal ini pernah terjadi samaku beberapa tahun lalu, aku pernah dekat seorang cowok yang beragama muslim. Dia meminta aku masuk agamanya. Dan aku hanya berkata "Apa agamamu akan menjamin masuk surga, kalau menjamin apa buktinya. Kalau kamu bisa memberi bukti, aku akan mengikutimu. Jika tidak, jangan banyak cakap

Sejak saat itu, dia menjauhi aku. Tapi tidak masalah bagiku, prinsipku "Sebandel-bandelnya aku, tidak akan kujual Tuhanku demi apa pun termasuk cinta lawan jenis".  

Dan benar, Agama itu menjadi sangat sensitif. Untuk itulah adanya PANCASILA, pedoman bagi bangsa INDONESIA. 



Kesimpulan diakhir diskusi

Satria Adhitama
Gunakan Logika, gunakan hati dan tetap menghargai sesama manusia apa pun agamanya, apa pun sukunya, apa pun RASnya. Kita sama-sama hidup di Indonesia, kita lahir di Indonesia dan mati pun di Indonesia dalam keadaan yang baik dan damai”.

Nasir Abas
"Banyak baca buku dari paham yang lain, paham yang lain. Sehingga terbuka pikiran kita. Tambah pengetahuan kita dan itu membuat kita semakin dewasa

Alto Luger
"Jangan bernyanyi dengan gendang orang lain"



Dari “Diskusi Toleran Terhadap Intoleransi" aku mendapatkan pengetahuan lagi bahwa agama itu saat ini masih menjadi "alat" oleh suatu kelompok tertentu untuk menarik orang masuk kedalam kelompoknya. Dan dengan iming-iming "Surga" dengan dalil "Kitab Suci".

Kitab suci itu isinya KEBENARAN , dan manusialah yang membuat kitab suci itu PEMBENARAN

Agama menjadi sensitif sejak kasus AHOK mengenai "Penistaan Agama". Ucapannya menyinggung umat Islam, mungkin sebagian umat muslim bisa memaafkan tapi ada juga yang belum bisa memaafkan sampai sekarang.  

INGAT !!!! Sebentar lagi, Indonesia akan menyelenggarkan Pemilu Presiden di Tahun 2019. Tidak menutup kemungkinan isu-isu Politik dan SARA akan beredar dimasyarakat. Antar kubu akan saling menjatuhkan.

Dan untuk itu, kita harus banyak membaca. Di agama islam, kata pertama dari wahyu yang disampaikan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW adalah IQRA yang artinya "BACALAH"

Jadi kita hendaklah banyak membaca agar menjadi "cerdas dan kritis". Agar tidak terbujuk kepada hal-hal negatif ataupun sekelompok orang yang mengatas-namakan agama. 

Oh ya, jika ada yang mengatakan 
"Nanti kamu masuk surga atau kamu kalau tidak melakukan itu tidak akan masuk surga".

Kamu jawab saja seperti ucapan Satria Adhitama 
"Kamu bukan panitia masuk surga, kita bukan panitia masuk surga"



Semoga orang yang mengatakan itu jadi diam dan berpikir akan kalimat tersebut. 


Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.


#Tolerance Film Festival




GALERI FOTO


































Thursday, March 26, 2020

Waroenk Pinus Damasus

Waroenk Pinus Damasus
Dorkas Manroe


Berlibur tanpa kuliner, seperti makan tanpa garam. Heheheheh... 

Nah, kali ini aku ingin mereferensikan tempat kuliner di daerah Parapat yang tidak kalah dengan tempat kuliner di Bandung ataupun Jakarta.

Tempatnya nyaman dan menu makanan yang disajikan pun, murah meriah. Pokoknya dijangkau kantong deh. Apalagi buat yang bawa pasangan, romantis suasananya.

"Waroenk Pinus Damasus", Mungkin tempat ini bisa jadi salah satu tempat yang harus didatangi kalau berada di Parapat. Letaknya di Jl. Lintas Parapat Sibaganding Prapat, Sumatera Utara. Tepatnya 7 kilometer dari Parapat, tepatnya dipinggir jalan. 

Ditempat ini, kita bisa foto-foto dengan latar belakang Danau Toba dan sekelilingnya pohon pinus. Tempat ini buka selama 24 Jam. Jadi tidak usah kuatir, kalau kalian melintas di jalan ini sekitar Jam 02:00. Bisa mampir untuk rehat sejenak.

Jangan lupa mampir, kalau kalian melintas di daerah Parapat. Dijamin nyaman.




Parapat, 31 Mei 2019










Monday, March 23, 2020

Bangga Pada Identitas Diri, Hormati Identitas Orang Lain

Bangga Pada Identitas Diri, 
Hormati Identitas Orang Lain
Dorkas Manroe

Hai… Kali ini aku mau menulis tentang “IDENTITAS DIRI” ku. Aku tertarik pada sebuah tulisan kemarin (18/11/2018) di “Diskusi Toleran Terhadap Intoleransi” di Auditorium IFI, Sarinah, Thamrin.

Tulisan tersebut berbunyi :
Bangga Pada Identitas Diri, Hormati Identitas Orang Lain

Nama panggilan aku Ola, nama asli Dorkas Manroe. Aku seorang perempuan yang tidak bisa dandan dan terlahir dikeluarga Batak, yang mempunyai aturan disiplin. Apalagi disiplin waktu, paling ONTIME dah. Jadi klo mau janjian sama aku harus ONTIME karena aku bisa datang sebelum waktu janjian kita. Makanya jangan heran, setiap hari jam 07:00 sudah dikantor biarpun masuk jam 09:00. 

Itu semua berkat didikan Papaku. Beruntung aku mempunyai papa seperti itu, yang mempunyai disiplin seperti militer. Jadi bisa menghargai waktu. Hahaha... 

Biarpun papa galak, tapi perhatiannya luar biasa. Mungkin papa lain tidak ada yang seperti papa kami, kalau pun ada pasti saudara-saudara papaku. Ya, Papa dan sudara-saudaranya sejak kecil sudah diajarkan disiplin. Maklum, Opung doli (kakek) seorang kepala sekolah. Tau dunks, kalau kepala sekolah itu pasti disiplin. 

Perhatian papa dan saudara-saudaranya luar biasa dah, mereka belum tidur kalau anak-anaknya belum pulang semua. Kalau anak-anaknya minta diantar-jemput, mereka pasti siap mengantar-jemput. Dan kalau anak-anaknya ada acara, pasti mereka hadir. Pokoknya anak bagi mereka No.1

Tapi itulah bentuk perhatian sebagai orangtua.

Selain itu, banyak yang mengatakan aku bawel, cerewet, galak, dan tidak pernah lelah. Yoi, aku masih on ampe jam 01:00. Dan andalan aku tiap pagi, coffemix.

Biarpun tubuhku gendut, bahkan ada yang mengatakan "GENTONG AIR, BABI AIR" tapi aku bisa loh angkat galon, lari ngejar kereta, naik turun tangga berkali-kali kalau dikantor. Kalau kata teman-teman “Wonder Woman” Hahaha.. 

Tapi banyak juga yang mengatakan aku “bohai”. Hahahaha..

Aku juga bersedia untuk dinas keluar kota, kemana saja. Kedaerah terpencil pun dan sendiri pun bersedia.

Banyak pengalaman yang kudapat dari PT MNC yang tidak bisa terlupakan. Perjalanan Dinas keberbagai daerah, sendiri pula dan daerahnya sekitar Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Pergi dengan penerbangan jam 06:00 & Pulang dengan penerbangan Jam 21:00.

1) Samarinda-Balikpapan menggunakan Travel jam 22:00. Perempuan sendiri pula dan sepanjang jalan kiri-kanan masih hutan.
2) Siantar-Medan menggunakan travel jam 22:30, ini pun sama perempuan sendiri. Cuma bedanya supirnya Marganya Manurung, jadi amanlah.
3) Rantau Parapat, dapat fasilitas hotel yang tidak nyaman. Suasana tidak nyaman, sejak masuk hotel. Ditambah pas buka kamar, jendela tidak bisa ditutup. Ditambah suasana mistis, sekilas bayangan muncul didepan mata dan merinding. Belum pernah terjadi selama perjalanan dinas. Beruntung, didaerah tersebut ada tulangku (Paman). Dan aku pun menginap dikosannya karena bagiku hotel itu “Angker”.
4) Rantau Parapat-Medan, panik karena tidak ada kendaraan untuk kesiantar. Naik travel tidak bisa dadakan, akhirnya mengejar kereta api. Dan kereta terakhir Jam 13:00, dengan kecepatan penuh akhirnya diantar Tulang Muksim Sirait naik becak motor. Mantap dah tulangku, semoga berkat melimpah sama tulang.
5) Siantar, Sampai distasiun kota ini Jam 00:00. Tidak ada taksi, hanya bus. Dan lagi-lagi, Tuhan menolong. Aku bertemu inang (Dalam bahasa Batak, artinya Ibu) Maria br Situmorang. Dia yang disamping aku pas dibus. Dan tiap ada yang melihat dia berkata “Apa kau lihat-lihat, ade ku ini. Baru tiba dari Jakarta” Mata yang tadi melihat kearahku jadi berbalik melihat kearah lain
6) Berau, ikut liburan ke “Drawan” bersama Direkturku, Ibu Adita Widyansari dan Ibu Fransiska Soeprapto. GRATIS

Itulah sebagian dari pengalaman dari pekerjaanku. Selain kerja, kita bisa “mencuri-curi” waktu untuk bisa pergi ketempat wisata.

Ya, kalau tidak begini mana bisa kita kekota ini. Butuh budget gede, mumpung dibayarin kantor jadi bisalah jalan-jalan biarpun sebentar.

Dan perjalanan hidupku tidak mulus, ada pasang-surut gelombang. Tapi aku beruntung, disaat aku terpuruk banyak tangan yang memegangku. Menarikku supaya bangun, tidak terlena dalam kesedihan.

Keluarga, orangtualah yang memegang erat tangan kita pada saat terpuruk. Diawal, mereka akan marah besar. Tapi setelah itu, mereka akan mencari solusinya. Itulah pentingnya “diskusi” kalau kata papaku. Jadi bisa dicari jalan keluarnya.

Dari kepurukan itu juga, aku bisa menemukan mana teman yang ada disaat kita terpuruk. Mana teman yang hanya ada disaat kita senang. Memang benar, kalau ada yang mengatakan “Jika kamu mau mengetahui siapa temanmu yang tulus, terpuruklah. Maka kamu akan menemukannya”.

Kemarin, pada saat diskusi, ternyata ada yang kehidupannya luar biasa.

Aku mendengar kesaksian bagaimana dia “tergoda” masuk ke ajaran sesaat dan hanya dengan pelukan dan sebuah kalimat “Isti, apa kabar. Isti sudah sarapan ?” Saat itu juga, dia bisa memutuskan untuk keluar dari ajaran sesaat itu dan saat ini mendirikan lembaga pendidikan yang bernama “Pandai”.

Mendengar itu, dalam hati berkata “Perjalanan hidup aku belum ada apa-apanya sama dia

Dan terkadang bentuk perhatian seperti itu, kita menggangapnya sepele. Tapi tidak bagi yang membutuhkan. Terkadang tidak perduli dengan sesama, kita cuek dan acuh. Tapi ingat perhatian yang simple itulah, justru sangat bernilai bagi yang kita sapa.

Kita tidak pernah tahu, apakah sapaan tersebut besar nilainya bagi yang kita sapa.

Dan sejak kemarin, aku semakin bangga dengan “Identitas Diriku”. Dengan segala kekurangan dan kelebihan. Dan seharusnya pun kita bangga pada diri sendiri

Ingat, perjalanan hidup manusia berbeda-beda. Jangan merasa hidup kita lebih terpuruk dari yang lain. Kita selalu dikeliling cinta tapi terkadang, kita tidak sadar akan cinta yang datang itu.

Yang membuat hidup kita berbeda ya, diri kita sendiri.

Jangan pernah mendengar omongan orang yang negatif. INGAT… Mereka hanya melihat dari “Kulitnya” saja bukan “Dalamnya”. 

Tapi ingat juga, kita harus menghargai Identitas Diri” orang lain. Agar mereka juga menghormati Identitas Diri diri kita.

Dan kalau kamu merasa terpuruk, buruan bangun. Jangan terus “terlena/bersedih”. Kamu akan temukan banyak tangan yang akan membantu kita. 

Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.


#Tolerance Film Festival


Saturday, March 21, 2020

Wisma Pesanggrahan Soekarno, Danau Toba, Parapat

Wisma Pesanggrahan Soekarno
Danau Toba, Parapat
Dorkas Manroe


Tahukah kamu, kota Parapat bukan hanya tempat pariwisata. Di kota ini pernah jadi saksi sejarah bangsa Indonesia. Kalau yang belajar sejarah pasti tahu, bagaimana yang tidak pernah belajar sejarah. Jawabannya pasti tidak tahu. Ya, contohnya seperti aku. Baru tahu ketika sedang berkunjung kesini.

Disebut sejarah karena di tahun 1948, Presiden RI ke-1, IR. Soekarno, Haji Agus Salim dan Sjahrir, diasingkan di kota ini oleh Pemerintah Belanda.  

Dirumah Pengasingan ini, Soekarno bisa menikmati keindahan Danau Toba. Rumah berlantai 2 yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1820 dengan ukuran 10 x 20 m dan dikelilingi taman kira-kira seluas Dua hektar.

Rumah tersebut, awalnya dibangun tentara Belanda untuk pegawai perkebunan. Dirumah ini, kita bisa melihat perabotan yang pernah digunakan Soekarno. Dan sampai saat ini masih terawat dengan baik. Biarpun ada beberapa perabotan yang sudah diganti karena usang / usianya sudah tua.

Rumah yang terletak di Jl. Istana No.5 dibangun dengan gaya bangunan Eropa. Ukiran didalamnya pun didominasi dengan ukiran kayu jati. Dari lantai 2 rumah ini, kita bisa melihat pemandangan Danau Toba dan perbukitan yang berwarna hijau.

Di dinding rumah ini, kita bisa melihat foto-foto, lukisan Soekarno dan peristiwa yang terjadi di zaman itu.

Bangunan ini juga mempunyai akses bawah tanah yang bisa tembus dibeberapa titik. Sayang, akses jalan ini sudah ditutup
   
Biarpun tidak ada AC atau pun kipas, suasana rumah ini nyaman dan adem. Kita dibuat betah jika berada dirumah ini. 

Oh ya, dihalaman rumah ini terdapat Mushollah loh. Jadi bagi kalian yang mau shollat bisa menggunakan tempat ini.

Rumah ini tidak bisa dibuka untuk umum, dan beruntungnya aku bisa berkeliling melihat isi rumah ini.

Saat ini, rumah tersebut dikelola Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dan bernama Mess / Pesanggarahan Parapat. Rumah ini digunakan jika Presiden sedang berkunjung ke kota ini.

Sooo.. Jangan lupa mampir kesini kalau kalian di Parapat. Sekali-kali, berwisata sejarah.


Parapat, 31 Mei 2019 


  


























Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an

"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain".  Masa dimana dapat tertawa ...