Toleran Terhadap Intoleransi
Dorkas Manroe
Minggu pagi, ketika baru bangun tidur. Aku melihat WA Group, disana ada gambar yang bertulisan “Diskusi Toleran Terhadap Intoleransi" yang diadakan di Auditorium IFI, Sarinah, Thamrin, Minggu 19/11/208.
Entah kenapa, aku tertarik untuk menghadiri. Tanpa menanyakan siapa saja yang akan datang digroup tersebut. Ini merupakan pengalaman pertamaku setelah 11 tahun “tertidur’ karena aktivitas bekerja.
Dan di tahun 2018, aku “terbangun” dari tidurku yang panjang. Aku mencari kegiatan untuk membuang kejenuhan bekerja. Dihari liburku, sebisa mungkin aku mengikuti kegiatan atau paling tidak ke perpustakaan Nasional untuk membaca atau menulis.
Aku teringat kata-kata papaku yang selama ini aku tidak dengar, “MEMBACA”. Apa saja kamu baca, yang penting baca, jangan hp terus dipegang. Mungkin kata-kata itu yang membuatku sekarang jadi suka membaca.
Judulnya menarik, apalagi dimasa sekarang dan mau Pemilu Presiden 2019. Aroma kampanye sudah tercium dari sekarang. Kedua pihak mulai saling update status, koment status, mencari kesalahan kubu lawannya bahkan sampai menghina. Dan tindakan seperti ini akan menjadi intoleransi diantara masyarakat.
Pembicara dalam diskusi ini juga termasuk orang-orang yang kompeten dibidangnya, Alto Luger (Aktivis Perdamaian), Satria Adhitama (Dosen Pancasila & kewarganegaraan), Nasir Abas (Penggiat Toleransi) dengan Moderator Monique Rijker.
Tapi sebelum diskusi dimulai, ditayangkan terlebih dahulu film dokumenter “hate spaces” dimana dalam film tersebut menceritakan tentang kebencian kepada mahasiswa/i Yahudi dikampus-kampus dibeberapa Negara.
Dimana mahasiswa/i tersebut tidak mempunyai hak dalam hal pendidikan. Mereka selalu dibenci bahkan sampai ada yang dianiaya oleh teman-teman sekampusnya, hanya karena mereka YAHUDI.
Di Film mengenai kebencian, kita bisa melihat beberapa komentar dan analisis dari para penulis dan akademisi terkemuka. Dan Mereka rata-rata berpendapat “Permusuhan terhadap mahasiswa/i Yahudi di kampus adalah bagian dari perubahan yang lebih besar dalam dunia akademis, yang telah merangkul aktivisme sosial yang radikal, indoktrinasi ideologis, dan kepatuhan yang dipaksakan”.
Mungkin hal tersebut juga terjadi di Indonesia, dimana kalau ada pemilihan dan calonnya bukan dari agama mayoritas. Akan ada gesekan-gesekan, akan beredar isu-isu negatif.
Dan agama merupakan hal yang sangat sensitif untuk jadi bahan berita/pembicaraan/perdebatan.
Menurut Satria Adhitama, “Surga itu dijual dan dikemas dalam bentuk agama agar bisa dibeli” Artinya dengan agama, bisa menarik orang untuk mengikuti ajaran yang salah. Dan dengan iming-iming “Surga”, banyak orang yang mengikuti ajarannya. Dan isi kitab suci sering kali dijadikan pembenaran oleh manusianya sendiri".
Hal serupa juga dikatakan Nasir Abas, "Agama itu ataupun kitab-kitab suci yang menjadi masalah itu yang membacanya, yang menerjemahkannya, yang mengamalkannnya. Itu yang bermasalah, ketika kemudian ada yang mengarah kepada untuk membenarkan apa yang dilakukannya. Diambillah ayat ini untuk pembenarannya, untuk menghalalkan pencurian, perampokan diambilah ayat ini. Membenarkan dalam membunuh, diambil ayat ini. Kemudian terjadilah masalah. Dan mereka yakini, inilah perintah Tuhan. Apalagi kalau kita tidak baca semua..."
Dan menurut Alto Luger "... Tapi tidak menutup mata, memang agama juga bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada disila pertama Pancasila, tapi formasinya bagaimana. Saya sendiri ditanya itu tidak tahu jawabannya gimana..."
Satria Adhitama mengambil contoh kasus HKBP Filadelfia, di Bekasi, merupakan salah satu gereja yang dilarang pendiriannya dengan berbagai macam alasan seperti tidak mendapatkan izin, padahal sudah 43% artinya cukup karena dalam SK Menteri untuk perizinan Tempat Ibadah hanya membutuhkan 60 tanda-tangan dari masyarakat sekitar. Dan untuk izin sebetulnya mudah, jika adanya TOLERANSI.
Sebaiknya kita dapat melihat, Gereja Katedral dengan Mesjid Istiqlal yang bersebelahan selama bertahun-tahun. Tidak ada yang merasa terganggu, bahkan lonceng dan adzan pun pernah berbunyi bersamaan.
Toleransi itu harus ada pengorbanan dari dua pihak dan sama-sama menanggungnya/menjalankannya dengan ikhlas. Toleransi itu tidak bisa satu pihak tetapi dua pihak. Tidak ada masalah selama iman kita kuat.
Fanatik boleh tidak ? Boleh, didalam itu harus fanatik, kenapa ? Menyakini agama yang kita pilih adalah yang paling benar, yang paling cocok dengan kita. Keluar, bentuknya simpati empati. Sekarang dibalik, didalamnya kosong keluar bentuknya fanatik.
Nabi Muhammad saja sudah menjalankan yang menjalankan “Piagam Madina” Dia jamin bahwa semua umat beragama baik Islam, Kristen, Yahudi, dan Penyembah berhala boleh beribadah dengan tenang.
Satria Adhitama juga meminta kita belajar dari Film “Upin Ipin”, dimana film tersebut mengajarkan untuk hidup rukun biarpun berbeda agama maupun kebudayaan
- Jarjit (Mohd Shafiq Mohd Isa) adalah seorang anak-anak laki-laki berketurunan India Punjabi
- Devi (Maheswary Mohan) ialah anak perempuan berbangsa India
- Mei Mei (Yuki Tang Ying Sowk) yang bernama lengkap Xiao Mei. Mei merupakan keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu
- Susanti (Sarah Nadhirah Azman) merupakan anak perempuan yang berasal dari sebuah keluarga yang berasal dari Jakarta, Indonesia
Sedangkan menurut Alto Luger, “Jualan Ideologi saat ini masih mengguntungkan untuk kepentingan tertentu”
Beda lagi dengan yang dialami Nasir Abas yang melihat untuk memenuhi keinginan, memenuhi kehendak jadi dipaksakan. Memaksakan kehendaknya, sehingga ini harus terjadi. Ketika ini harus terjadi, dia tidak perduli. Tidak perduli menginjak siapa, makanya terjadi InToleransi.
Dan ini pernah dirasakan hal tersebut, sehingga tidak perduli yang lain yang penting kelompoknya berhasil. Terserah kelompok yang lain. Itu hal-hal yang menyebabkan InToleransi.
Intinya ketika emosi didahulukan pasti akan terjadi keburukan, Ketika nafsu didahulukanakan terjadi regenerasi.
Nasir Abas dulunya anti Pancasila dan dipahamkan agama baru, setelah ditangkap, beliau mempelajari dan membaca kenapa Pancasila dibenci ? Setelah dipelajari, Pancasila ini tidak ada salahnya dalam agama. Pancasila dalam rangka untuk masyarakat yang majemuk seperti Indonesia yang bisa mempersatukan. Kalau kita paksakan orang pegang satu agama, itu berarti memaksaan orang masuk agama tersebut. Itu akan terjadi suatu InToleran. Konsep dari para pemimpin terdahulu dengan membuat Pancasila sebenarnya itu untuk hidup aman damai.
Nasir Abas meminta agar semuanya dikembalikan kepada "AKHLAK", sesuai atau tidak. Di Indonesia sopan-santunnya sudah cukup baik, ramah, dll. Dan kita patut menjaganya. Bhineka Tunggal Ika harus kita jalankan dengan konsep PANCASILA.
Kita juga tegur yang lain dikala mereka tidak berahklak, menyakiti yang lain baik secara mulutnya maupun tanggannya. Harus kita tegur, semoga kita pun memperbaiki AKHLAK kita semua.
Tapi yang membuat saya tertarik, adanya kesaksikan dari seorang perempuan yang bernama Isti. Dia pernah terbujuk oleh suatu kelompok ajaran sesaat tertentu karena dari kecil hidupnya di "bully" dan tidak punya teman. Dan ketika ada yang menawarkan akan punya keluarga baru, teman baru, dia mau bergabung.
Selama bergabung dalam kelompok tersebut, dia diberikan trainning keluar kota, diajarin tembak-menembak, menyebrangi danau, dikasih tonton film Palestina bunuh-bunuhan kalau umat muslim sekarang ini sedang diteror, sedang disudutkan dimana-mana dengan kondisi pintu dikunci. Dan diminta cari target, teman-teman yang seusianya untuk bergabung.
Tapi dia berhasil keluar, hanya karena temannya yang beragama Katolik, memeluknya dan berkata “Isti, apa kabar. Isti sudah sarapan ?” Dan saat itu juga, dia keluar dari kelompok ajaran sesat itu. Dia merasa seperti dianggap manusia. Dan mau jadi aktivitis Pancasila dan ke Bhinekaan.
Setelah keluar dari kelompok tersebut, dia mendirikan komunitas pendidikan perdamaian namanya "PANDAI" di Indonesia. Dan dia juga masih terima ancaman kematian dan beberapa kali diintrograsi di Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta hingga berjam-jam.
Mungkin hal tersebut terdengar sepele/biasa saja, hanya sebuah pelukan dan ucapan seperti itu. Ya sepele/biasa saja, bagi yang sudah/sering mendapatkan perlakuan seperti itu. Tapi bagaimana bagi yang belum pernah merasakannya ? Jawabannya adalah "Itu sangat berarti".
Ingat, kita tidak pernah tahu masa lalunya sampai kita mengenalnya lebih lama/dekat. Bahkan biarpun kita sudah mengenal lama pun, kita tidak bisa mengenal kepribadiannya.
Dan marilah kita memulai mengucapkan salam kepada sekitar kita karena kita tidak akan pernah tahu itu akan berarti atau tidak. Siapa tahu dengan kita mengucapkan salam, itu sangat berarti bagi yang kita sapa.
Tapi apakah pernah kita mengalami tindakan Intoleransi dari sekitar kita, kalau aku pernah beberapa tahun lalu.
Teman-temanku rata-rata muslim, beberapa kali mereka mencoba supaya aku mengucapkan ayat syahadat. Mungkin maksud mereka bercanda, tapi untungnya aku tidak mau. Entah kenapa mulutnya tertutup rapat dan hanya tersenyum.
Hingga suatu hari, aku marah besar karena sudah terlalu sering mereka memperlakukanku seperti itu. Dan sejak itu, mereka tidak pernah melakukan hal itu lagi.
Mungkin itu salah satu contoh yang tanpa kita sadari bentuk dari Intoleransi.
Agama juga sering kali menjadi penghalang cinta dua anak manusia yang berbeda jenis untuk bersatu. Dan akhirnya, salah satu harus berpindah agama demi bisa bersatu.
Hal ini pernah terjadi samaku beberapa tahun lalu, aku pernah dekat seorang cowok yang beragama muslim. Dia meminta aku masuk agamanya. Dan aku hanya berkata "Apa agamamu akan menjamin masuk surga, kalau menjamin apa buktinya. Kalau kamu bisa memberi bukti, aku akan mengikutimu. Jika tidak, jangan banyak cakap"
Sejak saat itu, dia menjauhi aku. Tapi tidak masalah bagiku, prinsipku "Sebandel-bandelnya aku, tidak akan kujual Tuhanku demi apa pun termasuk cinta lawan jenis".
Dan benar, Agama itu menjadi sangat sensitif. Untuk itulah adanya PANCASILA, pedoman bagi bangsa INDONESIA.
Kesimpulan diakhir diskusi
Satria Adhitama
“Gunakan Logika, gunakan hati dan tetap menghargai sesama manusia apa pun agamanya, apa pun sukunya, apa pun RASnya. Kita sama-sama hidup di Indonesia, kita lahir di Indonesia dan mati pun di Indonesia dalam keadaan yang baik dan damai”.
Nasir Abas
"Banyak baca buku dari paham yang lain, paham yang lain. Sehingga terbuka pikiran kita. Tambah pengetahuan kita dan itu membuat kita semakin dewasa"
Alto Luger
"Jangan bernyanyi dengan gendang orang lain"
Dari “Diskusi Toleran Terhadap Intoleransi" aku mendapatkan pengetahuan lagi bahwa agama itu saat ini masih menjadi "alat" oleh suatu kelompok tertentu untuk menarik orang masuk kedalam kelompoknya. Dan dengan iming-iming "Surga" dengan dalil "Kitab Suci".
Kitab suci itu isinya KEBENARAN , dan manusialah yang membuat kitab suci itu PEMBENARAN.
Agama menjadi sensitif sejak kasus AHOK mengenai "Penistaan Agama". Ucapannya menyinggung umat Islam, mungkin sebagian umat muslim bisa memaafkan tapi ada juga yang belum bisa memaafkan sampai sekarang.
INGAT !!!! Sebentar lagi, Indonesia akan menyelenggarkan Pemilu Presiden di Tahun 2019. Tidak menutup kemungkinan isu-isu Politik dan SARA akan beredar dimasyarakat. Antar kubu akan saling menjatuhkan.
Dan untuk itu, kita harus banyak membaca. Di agama islam, kata pertama dari wahyu yang disampaikan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW adalah IQRA yang artinya "BACALAH"
Jadi kita hendaklah banyak membaca agar menjadi "cerdas dan kritis". Agar tidak terbujuk kepada hal-hal negatif ataupun sekelompok orang yang mengatas-namakan agama.
Oh ya, jika ada yang mengatakan
"Nanti kamu masuk surga atau kamu kalau tidak melakukan itu tidak akan masuk surga".
Kamu jawab saja seperti ucapan Satria Adhitama
"Kamu bukan panitia masuk surga, kita bukan panitia masuk surga"
Semoga orang yang mengatakan itu jadi diam dan berpikir akan kalimat tersebut.
Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
#Tolerance Film Festival
GALERI FOTO

















No comments:
Post a Comment