Monday, March 23, 2020

Bangga Pada Identitas Diri, Hormati Identitas Orang Lain

Bangga Pada Identitas Diri, 
Hormati Identitas Orang Lain
Dorkas Manroe

Hai… Kali ini aku mau menulis tentang “IDENTITAS DIRI” ku. Aku tertarik pada sebuah tulisan kemarin (18/11/2018) di “Diskusi Toleran Terhadap Intoleransi” di Auditorium IFI, Sarinah, Thamrin.

Tulisan tersebut berbunyi :
Bangga Pada Identitas Diri, Hormati Identitas Orang Lain

Nama panggilan aku Ola, nama asli Dorkas Manroe. Aku seorang perempuan yang tidak bisa dandan dan terlahir dikeluarga Batak, yang mempunyai aturan disiplin. Apalagi disiplin waktu, paling ONTIME dah. Jadi klo mau janjian sama aku harus ONTIME karena aku bisa datang sebelum waktu janjian kita. Makanya jangan heran, setiap hari jam 07:00 sudah dikantor biarpun masuk jam 09:00. 

Itu semua berkat didikan Papaku. Beruntung aku mempunyai papa seperti itu, yang mempunyai disiplin seperti militer. Jadi bisa menghargai waktu. Hahaha... 

Biarpun papa galak, tapi perhatiannya luar biasa. Mungkin papa lain tidak ada yang seperti papa kami, kalau pun ada pasti saudara-saudara papaku. Ya, Papa dan sudara-saudaranya sejak kecil sudah diajarkan disiplin. Maklum, Opung doli (kakek) seorang kepala sekolah. Tau dunks, kalau kepala sekolah itu pasti disiplin. 

Perhatian papa dan saudara-saudaranya luar biasa dah, mereka belum tidur kalau anak-anaknya belum pulang semua. Kalau anak-anaknya minta diantar-jemput, mereka pasti siap mengantar-jemput. Dan kalau anak-anaknya ada acara, pasti mereka hadir. Pokoknya anak bagi mereka No.1

Tapi itulah bentuk perhatian sebagai orangtua.

Selain itu, banyak yang mengatakan aku bawel, cerewet, galak, dan tidak pernah lelah. Yoi, aku masih on ampe jam 01:00. Dan andalan aku tiap pagi, coffemix.

Biarpun tubuhku gendut, bahkan ada yang mengatakan "GENTONG AIR, BABI AIR" tapi aku bisa loh angkat galon, lari ngejar kereta, naik turun tangga berkali-kali kalau dikantor. Kalau kata teman-teman “Wonder Woman” Hahaha.. 

Tapi banyak juga yang mengatakan aku “bohai”. Hahahaha..

Aku juga bersedia untuk dinas keluar kota, kemana saja. Kedaerah terpencil pun dan sendiri pun bersedia.

Banyak pengalaman yang kudapat dari PT MNC yang tidak bisa terlupakan. Perjalanan Dinas keberbagai daerah, sendiri pula dan daerahnya sekitar Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Pergi dengan penerbangan jam 06:00 & Pulang dengan penerbangan Jam 21:00.

1) Samarinda-Balikpapan menggunakan Travel jam 22:00. Perempuan sendiri pula dan sepanjang jalan kiri-kanan masih hutan.
2) Siantar-Medan menggunakan travel jam 22:30, ini pun sama perempuan sendiri. Cuma bedanya supirnya Marganya Manurung, jadi amanlah.
3) Rantau Parapat, dapat fasilitas hotel yang tidak nyaman. Suasana tidak nyaman, sejak masuk hotel. Ditambah pas buka kamar, jendela tidak bisa ditutup. Ditambah suasana mistis, sekilas bayangan muncul didepan mata dan merinding. Belum pernah terjadi selama perjalanan dinas. Beruntung, didaerah tersebut ada tulangku (Paman). Dan aku pun menginap dikosannya karena bagiku hotel itu “Angker”.
4) Rantau Parapat-Medan, panik karena tidak ada kendaraan untuk kesiantar. Naik travel tidak bisa dadakan, akhirnya mengejar kereta api. Dan kereta terakhir Jam 13:00, dengan kecepatan penuh akhirnya diantar Tulang Muksim Sirait naik becak motor. Mantap dah tulangku, semoga berkat melimpah sama tulang.
5) Siantar, Sampai distasiun kota ini Jam 00:00. Tidak ada taksi, hanya bus. Dan lagi-lagi, Tuhan menolong. Aku bertemu inang (Dalam bahasa Batak, artinya Ibu) Maria br Situmorang. Dia yang disamping aku pas dibus. Dan tiap ada yang melihat dia berkata “Apa kau lihat-lihat, ade ku ini. Baru tiba dari Jakarta” Mata yang tadi melihat kearahku jadi berbalik melihat kearah lain
6) Berau, ikut liburan ke “Drawan” bersama Direkturku, Ibu Adita Widyansari dan Ibu Fransiska Soeprapto. GRATIS

Itulah sebagian dari pengalaman dari pekerjaanku. Selain kerja, kita bisa “mencuri-curi” waktu untuk bisa pergi ketempat wisata.

Ya, kalau tidak begini mana bisa kita kekota ini. Butuh budget gede, mumpung dibayarin kantor jadi bisalah jalan-jalan biarpun sebentar.

Dan perjalanan hidupku tidak mulus, ada pasang-surut gelombang. Tapi aku beruntung, disaat aku terpuruk banyak tangan yang memegangku. Menarikku supaya bangun, tidak terlena dalam kesedihan.

Keluarga, orangtualah yang memegang erat tangan kita pada saat terpuruk. Diawal, mereka akan marah besar. Tapi setelah itu, mereka akan mencari solusinya. Itulah pentingnya “diskusi” kalau kata papaku. Jadi bisa dicari jalan keluarnya.

Dari kepurukan itu juga, aku bisa menemukan mana teman yang ada disaat kita terpuruk. Mana teman yang hanya ada disaat kita senang. Memang benar, kalau ada yang mengatakan “Jika kamu mau mengetahui siapa temanmu yang tulus, terpuruklah. Maka kamu akan menemukannya”.

Kemarin, pada saat diskusi, ternyata ada yang kehidupannya luar biasa.

Aku mendengar kesaksian bagaimana dia “tergoda” masuk ke ajaran sesaat dan hanya dengan pelukan dan sebuah kalimat “Isti, apa kabar. Isti sudah sarapan ?” Saat itu juga, dia bisa memutuskan untuk keluar dari ajaran sesaat itu dan saat ini mendirikan lembaga pendidikan yang bernama “Pandai”.

Mendengar itu, dalam hati berkata “Perjalanan hidup aku belum ada apa-apanya sama dia

Dan terkadang bentuk perhatian seperti itu, kita menggangapnya sepele. Tapi tidak bagi yang membutuhkan. Terkadang tidak perduli dengan sesama, kita cuek dan acuh. Tapi ingat perhatian yang simple itulah, justru sangat bernilai bagi yang kita sapa.

Kita tidak pernah tahu, apakah sapaan tersebut besar nilainya bagi yang kita sapa.

Dan sejak kemarin, aku semakin bangga dengan “Identitas Diriku”. Dengan segala kekurangan dan kelebihan. Dan seharusnya pun kita bangga pada diri sendiri

Ingat, perjalanan hidup manusia berbeda-beda. Jangan merasa hidup kita lebih terpuruk dari yang lain. Kita selalu dikeliling cinta tapi terkadang, kita tidak sadar akan cinta yang datang itu.

Yang membuat hidup kita berbeda ya, diri kita sendiri.

Jangan pernah mendengar omongan orang yang negatif. INGAT… Mereka hanya melihat dari “Kulitnya” saja bukan “Dalamnya”. 

Tapi ingat juga, kita harus menghargai Identitas Diri” orang lain. Agar mereka juga menghormati Identitas Diri diri kita.

Dan kalau kamu merasa terpuruk, buruan bangun. Jangan terus “terlena/bersedih”. Kamu akan temukan banyak tangan yang akan membantu kita. 

Dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua.


#Tolerance Film Festival


No comments:

Post a Comment

Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an

"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain".  Masa dimana dapat tertawa ...