Jadi Pemimpin juga harus siap menerima kritikan dari teamnya dan dapat memperbaikinya. Jangan sakit hati jika dikritik dan jangan juga mencari-cari kesalahannya sehabis dikritik. Misalnya dengan memberikan Surat Teguran atau Surat Peringatan atas kesalahan yang sebenarnya tidak ada.
Sunday, June 7, 2020
You Are The Leader
Jadi Pemimpin juga harus siap menerima kritikan dari teamnya dan dapat memperbaikinya. Jangan sakit hati jika dikritik dan jangan juga mencari-cari kesalahannya sehabis dikritik. Misalnya dengan memberikan Surat Teguran atau Surat Peringatan atas kesalahan yang sebenarnya tidak ada.
Sunday, May 31, 2020
Belanja Kebutuhan Pokok dan Sayur-Mayur di Pasar Tradisional Yuks
Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, salah satunya. Pasar yang dikelola PD Pasar Jaya ini, sudah direnovasi sehingga pembeli dapat mudah mencari bahan kebutuhan pokok yang diperlukan. Di lantai basement / dasar, khusus menjual sayuran dan ikan daging. Selain itu, di Pasar ini juga menjual mainan anak dan pakaian.
Friday, May 29, 2020
Yuks, Mulai Kenalkan Seni ke Anak Sejak Dini
Kepintaran / Intelligence Quotient (IQ) seseorag itu tidak bisa diukur dari tingkat Pendidikannya, bisa juga dilihat dari talenta yang ada dalam dirinya. Salah satunya
"SENI".Tapi sebenarnya Seni itu sendiri apa ?
"Seni itu imajinasi yang tidak terhingga karena kepintaran seseorang tidak bisa di nilai dari akademis saja. Terkadang dari berseni orang bisa dilihat tingkat kecerdasannya. Dan seni sendiri bisa dikenalkan ke anak sejak mereka dalam kandungan" - Esther Febriane Manurung.
"Karya yang dibuat untuk menjadi suatu hasil yang indah. Seni itu penting, supaya setiap orang bisa punya kemampuan untuk berkarya dan lebih bisa berkreasi.Dan sejak bayi sudah mengenalkan ke anak musik, menyanyikan lagu. Biarpun suara pas-pasan, tapi itu salah satu cara mengenalkan musik ke anak" - Yuliana Subiyanti.
"Seni adalah karya / keahlian. Dengan seni bisa membuat hasil karya menjadi layak, cantik, indah, lebih berharga dan lebih dihargai. Seni juga bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih pintar. Dan seni bisa diperkenalkan ke anak sedini mungkin" - Eva Sihombing.
"Hidup tidak ada seni lebih baik mati. Seni itu banyak seperti, musik, lukis, sosial dan masih banyak lainnya. Manusia tidak punya jiwa seni berarti dia gila, hidupnya tidak ada irama. Dari orang suka warna baju saja berarti dia punya jiwa seni. Orang suka mendengar musik berarti dia punya jiwa seni. Makanya sedini mungkin, seni dikenalkan kepada anak-anak agar mereka mempunyai irama" - Fajar Muharam.
"Seni merupakan sesuatu yg adanya unsur keindahan.Dengan seni, kita dapat menciptakan sesuatu hasil / karya yang indah" - Frans Silalahi.
Seni itu sendiri berbagai macam "Seni Musik, Seni Rupa, Seni Tari, Seni Theater, Seni Drama dan masih banyak lagi.
Makanya selain memberikan Pendidikan formal, orangtua juga harus memperkenalkan "SENI" ke anak-anak dengan cara memberikan mereka kursus / Les Privat.
Seni bisa jadi modal buat mereka, jika mereka "kurang" dalam menerima Pendidikan Formal, seni bisa jadi modal untuk mendapatkan materi.
Hadassha Nauli, salah satu anak berumur 5 tahun yang sudah dikenalkan seni sejak dalam kandungan. Dan ketika dia berumur 4 tahun, orangtuanya memberikan les Piano dan Ballet.
Lalu bagaimana jika anak terkadang tidak mau kursus / les ? Jangan dipaksa jika si anak tidak mau kursus / les. Kita sebagai orangtua tidak boleh juga memaksaan. Justru itu akan membuat si anak tidak menyukai kursus / les tersebut
Tapi sebenarnya, kapan waktu yang tepat memperkenalkan "SENI" kepada anak-anak ?
Para Ahli Kandungan mengatakan sejak dalam kandungan, dengan mendengarkan musik. Dan benar, akan ada interaksi dari bayi dalam kandungan. Mereka akan bergerak, kalau tidak percaya coba tanyakan ke orangtua kita apa benar tidaknya.
Dan ketika mereka sudah mengenal suara, kita bisa kenalkan dengan musik atau memberi tontonan anak-anak.
Begitu mereka sudah bisa memegang pulpen / pensil warna dan mencoret-coret dibuku atau pun di tembok. Itu sebenarnya mereka sedang berkreasi sesuai imajinasi mereka. Tangan mereka sedang menggambarkan sesuatu. Tetapi karena kemampuan mereka belum terlalu mahir, jadi mereka hanya bisa mencoret berupa garis atau lingkaran yang banyak.
Kalau seperti itu. Jangan dimarahi atau memukul tangan mereka. Biar saja buku atau tembok kotor akan coretan mereka, biarkan mereka berkreasi sesuai imajinasi mereka. Siapa tahu mereka jadi pelukis nantinya.
Nah, orangtua juga harus bisa melihat talenta yang dimiliki anak. Misalnya anak-anak menyukai musik, bisa dikembangkan dengan cara memberikan kursus / les privat. Kalau mereka suka melukis, bisa dimasun kelas melukis. Jangan sampai talenta yang anak punya tidak dikembangkan.
Sebenarnya "SENI" itu bisa mengembangkan sistem otot, kerangka, dan saraf. Terutama untuk anak-anak yang mempunyai keterbatasan seperti difabel / disabiltas dan Autisme. Mereka bisa berprestasi dalam dunia "SENI", sebut saja Mozart, Komposisi Dunia Musik Klasik.
Dan kalau dari Indonesia, banyak pelukis dengan tubuh yang kurang sempurna, bisa menghasilkan karya yang indah seperti Patricia Saerang, Trimah , masih banyak pelukis lainnya.
Jadi jangan anggap sebelah mata orang-orang yang berkecimpung di dunia "SENI", mereka itu bisa menghasilkan materi juga. Bukan itu saja, mereka bisa terkenal dengan karya-karyanya jika ditekuni dan didukung orang-orang sekitarnya.
Yuks, mulai kenalkan "SENI" ke anak-anak, tapi ingat "JANGAN DIPAKSA" jika mereka tidak suka. Lihat dahulu, talenta mereka dimana. Kalau dipaksa, nanti akan membuat anak stress. Itu justru tidak bagus untuk perkembangan otak maupun fisiknya.
Semoga bermanfaat.
Thursday, May 28, 2020
Alat Musik Tradisional Negeri Indonesia
Indonesia terkenal akan kebudayaannya, salah satunya alat musik tradisionalnya. Hadirnya alat musik tradisional, ada yang merupakan hasil akulturasi budaya asing. Namun banyak juga yang asli dari negeri sendiri.
Berikut beberapa dari alat musik dari Negeri Indonesia
Gondang Batak
Alat musik tradisional ini berasal dari suku Batak, Sumatera Utara. Gondang merupakan alat-alat yang terbuat dari perunggu yang terdiri dari perlengkapan yang mempunyai empat sampai dua belas gong kecil, satu atau dua gong besar yang digantung, dua sampai sembilan kendang, satu alat tiup, penyari dan gembreng.
Gondang Batak memiliki 2 jenis ansambel yaitu gondang Sabangun dan gondang Hasapi, secara garis besar kedua jenis tersebut dipakai untuk acara adat maupun ritual keagamaan. Gondang Sabangun biasanya dimainkan dimainkan di luar rumah / di halaman rumah sedangkan gondang Hasapi biasanya dimainkan dalam rumah
TEHYAN
Alat musik tradisional ini berasal dari Jakarta merupakan peninggalan kebudayaan Tionghoa. Tehyan dibawa keturunan Thiong Hoa yang dahulu menetap atau singgah di Indonesia
Tehyan merupakan alat musik gesek berbentuk panjang dengan bagian bawah yang agak melebar. Jika diamati, alat musik ini mirip rangka manusia mulai bagian badan hingga bokong. Tangga nada dalam alat musik Tehyan yang diatonis, dalam permainannya lebih mengandalkan feeling atau perasaan. Itulah yang membuat alat musik ini berbeda dengan alat musik lainnya.
Cara memainkannya mirip bermain biola yaitu dengan menggesek kedua dawainya. Tehyan serupa dengan alat musik Sukong atau Kong’ahyan, bedanya ada dinada dasarnya. Dan Tehyan biasa dijumpai dalam acara kebudayaan Betawi seperti pertunjukan Gambang Kromong, Ondel-ondel atau Lenong.
BAASI
Alat musik tradisional ini berasal dari Sulawesi Tenggara. Baasi biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian atau nyanyian dari lagu daerah tersebut.
Baasi dimainkan dengan cara dipukul menggunakan rotan. Instrumen ini berupa potongan bambu berupa berjumlah 10 buah yang memiliki panjang berbeda-beda dan terdapat lubang di tiap pangkalnya. Sehingga menghasilkan bunyi nada yang bervariasi
SLUDING ATAU KELENTANGAN
Alat musik tradisional ini berasal dari Kalimantan Timur. Semula, Slunding dimainkan untuk mengusir burung. Kini Sluding mengiringi upacara adat.
Alat music ini terdiri dari 8 bilah kayu dengan ukuran berbeda-beda, kemudian disusun meyerupai gambang dan diuntai pada sebuah rak kayu. Di sisi kanan dan kiri atasnya terdapat hiasan dengan motif kepala burung Enggang sebagai hewan sacral oleh suku Dayak Modang.
FU
Alat musik tradisional ini berasal dari Maluku Utara. FU dikenal dengan nama Tahuri atau Karno oleh masyarakat pesisir di Maluku Utara. Keunikan alat musik ini terletak pada bentuknya karena terbuat dari kulit kerang dan cara memainkannya dengan cara ditiup pada bagian berlubang atau berlubang.
Dulu, alat musik ini ditiup untuk memanggil bantuan para penduduk ketika tersesat. Sekarang, FU dibunyikan dengan nyaring untuk mengiringi tari-tarian Suku Asmat.
PARERET PENGASIH –ASIH
Alat musik tradisional ini berasal dari Bali. Alat musik ini mungkin kurang familiar. Padahal, konon Pareret sering dipakai perjaka untuk mengguna-gunai gadi yang dicintainya, lalu memainkannya di atas pohon tinggi pada malam hari. Kini, alat musik sejenis terompet yang terbuat dari kayu ini biasanya disembunyikan untuk mengiringi kesenian opera Sewo Gati
Wednesday, May 20, 2020
#TerserahIndonesia
Sebenarnya PSBB ini dibuat Pemerintah, supaya masyarakat benar-benar "Stay At Home". Tidak ada aktivitas kegiatan diluar rumah jika tidak penting. Gunanya untuk menekan penyebaran virus COVID-19.
Tapi kenyataannya, masih ada saja masyrakat yang keluar rumah. Bahkan ada yang mengambil kesempatan sebagai liburan.
Jadi sekarang dikembalikan lagi ke masyarakat, jika ingin virus COVID-19 ini berakhir kuncinya KESADARAN DIRI dan PATUH dengan himbauan Pemerintah.
Monday, May 18, 2020
Keadilan Pendidikan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sebenarnya seberapa penting pendidikan itu sendiri ?
Oma Selly (@omaselly)
"Pendidikan itu penting karena berkaitan erat dengan pengetahuan sementara jaman semakin kesini semakin canggih dalam segala bidang. Andai kita tidak punya pengetahuan maka bagaimana kita bisa hidup dalam peradapan yang berlaku. Masa depan itu nomor kesekian yang penting mampu mengikuti jaman"
Ratih Himura (@ratihhimura)
"Pendidikan itu sistem yang dapat mengubah perilaku seseorang melalui pembelajaran atau pelatihan yang terus menerus dilakukan. Dan pendidikan itu penting banget untuk bekal masa depan sesorang dalam mencapai karirnya"
Enny Setiyowati (@ennysetiyowati)
"Pendidikan itu adalah ilmu pengetahuan / pembelajaran penting untuk bertahan hidup baik. Ilmu / ajaran tentang sosial, agama, budaya, perilaku, dasar berkreasi dan inovasi mengikuti perkembangan jaman. Serta harta/dasar pembentukan jati diri/cara berpikir / intelektual setiap manusia itu sndri untuk menyesuaikan diri dimanapun dia berada dan berkembang.
Sarah Trisna Kinanti (@SarahTrisnaKinanti)
"Pendidikan adalah usaha atau kegiatan yang menambah wawasan seseorang"
Butet Manurung (@butet_manurung)
"Pendidikan itu seharusya membuat seseorang menjadi versi terbaik dirinya yang bermanfaat bagi orang lain"
Freedy Bereciartu (@freddymarr)
" Pendidikan itu akademik, sangat penting. Dan untuk tingkat pendidikan masing-masing orang berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan hidupnya"
Itulah pendapat mereka mengenai pendidikan, tidak ada yang salah maupun benar. Masing-masing punya pendapatnya mengenai Pendidikan.
Mungkin kalau dari sisi pendidikan formal, sangat penting karena penentu tingkatan untuk kedepannya. Dengan hasil akhirnya ijazah yang bisa digunakan untuk melamar pekerjaan. Semakin tinggi pendidikan kamu, mudah dilirik Perusahaan.
Tapi beda halnya dengan Freedy Bereciartu, yang sudah travel ke 60 negara ini, gelar pendidikan yang dia peroleh karena permintaan orangtuanya.
Freedy Bereciartu menyelesaikan sekolah menengahnya di Venezuela, kuliah di bidang ekonomi di Amerika Serikat. Dan dis master bisnis di Eropa.
Baginya pendidikan kehidupan merupakan salah satu pendidikan informal yang didapatnya dari travel yang sudah dia lakukan.
Jadi baginya pendidikan informal juga dibutuhkan untuk menunjang pendidikan formal.
Apalagi di zaman globalisasi sekarang ini, rata-rata Perusahaan melihat gelar ketika mencari kandidat karyawannya. Setelah itu pengalaman dan ketrampilannya.
Selain pendidikan formal, kebanyakan orangtua juga mengikuti anak-anaknya pendidikan informal seperti kursus bahasa inggris, karate, balet, vocal, musik, dan masih banyak lagi.
Ini dilakukan supaya anak-anak mempunyai banyak kegiatan dan kemampuan yang kedepannya bisa menunjang pendidikan formalnya.
Lalu bagaimana dengan pendidikan di pedalaman / rimba ?
Apakah pola pendidikannya sama dengan pendidikan di perkotaan ? Tentu tidak.
Masih banyak daerah-daerah yang ada di Indonesia, khususnya di pedalaman / rimba yang untuk membaca, menulis dan berhitung saja tidak bisa. Silahkan googling dan baca.
Makanya tidak heran kalau masyarakat di pedalaman / rimba, sering dibohongi. Ada saja yang berniat jahat atas kepemilikan mereka, seperti tanah, ladang, sawah maupun harta benda mereka lainnya.
Lalu bagaimana cara supaya masyarakat di pedalaman / rimba bisa mendapatkan pengajaran / pendidikan yang sama seperti perkotaan. Paling tidak, mereka bisa yang dasarnya saja dulu seperti membaca,menulis dan berhitung.
Kalau jawabannya masyarakatnya harus hijrah ke perkotaan.
Tidak segampang itu, orangtuanya tidak memberikan izin untuk hijrah / keluar dari daerahnya. Mereka takut jika sudah pergi / keluar dari desanya, tidak akan kembali lagi. Artinya mereka akan lupa akan kampung halaman dan kebudayaanya.
Ini lah yang menjadi "PR" / tugas Pemerintah supaya masyarakat yang di pedalaman / rimba bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan masyarakat perkotaan.
Kalau ada yang mengatakan LSM / Relawan / Volunter yang datang untuk memberikan pendidikan kepada mereka.
Pertanyaannya "Bagaimana pola pengajaran yang mereka berikan dan berapa lama mereka menetap didaerah tersebut, selamanya atau hanya sesaat saja"
Mereka juga mempunyai keterbatasan, termasuk dalam hal finasial / keuangan.
Tapi saya tertarik dengan "Sokola", Pusat Pembelajaran masyarakt di pedalaman / rimba.
Awalnya tertarik dengan perempuan batak, Butet Manurung, yang mau terjun langsung ke pedalaman / rimba hanya untuk mengajarkan anak-anak disana.
Jujur, aku sudah lama tertarik dan kagum dengan dia.
Gimana tidak kagum, dia perempuan berani masuk hutan dan bersatu dengan alam. Mungkin, ada saja laki-laki yang bisa seperti dia.
Dan berkat Instagram (IG), aku bisa menemukan akunnya. Ternyata dia tidak sombong, ramah dan tidak pelit ilmu.
Tiap diajak sharing, pasti dia jawab.
Dia juga tidak lupa memberi tahu jika ada live di IG, pembahasannya macem-macem. Tapi intinya soal pendidikan.
Pola pendidikan yang diberikan juga berbeda karena mereka belajar di alam. Tanpa pakaian seragam, tas, sepatu mapun buku belajar.
Jam belajar juga tidak seperti disekolah formal, disini kalau bosan bisa rehat / istirahat sebentar. Nanti belajarnya diteruskan lagi.
Dan selama wabah corona, banyak tahu mengenai bagaimana pendidikan anak-anak di pedalaman / rimba.
Ternyata masih banyak yang belum "disentuh" Pemerintah.
Inilah kenapa Pendidikan belum merata, masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan sesuai Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.
Pemerintah harus lebih fokus dan mencari solusi dalam hal ini, terutama bagaimana cara pendidikan di pedalaman / rimba bisa sama dengan perkotaan. Paling tidak dasarnya saja dulu, "Membaca, Menulis dan Berhitung"
Oh ya, untuk orangtua juga jangan pernah larang anak untuk bereksperimen / menganalisis sesuatu. Biar saja mereka melakukan apa yang mau mereka lakukan, dari sana mereka akan belajar. Istilahnya "Jangan pernah takut kotor", justru dari kotor akan banyak ilmu yang didapat dengan sendirinya". Tapi tetap harus diawasi.
Pendidikan formal itu memang sangat perlu, tapi pendidikan informal juga perlu karena keduanya berguna untuk kehidupan kita.
Pondok Kelapa, Jakarta Timur
19 Mei 2020
*Tulisan ini di ilhami dari IG Live @butet_manurung dan @sokolarimba.
Jujur saja, sudah lama kagum dengan sosok perempuan batak. Dia bersama teman-temannya, mau terjun langsung ke pedalaman / rimba hanya untuk mengajarkan anak-anak membaca, menulis dan berhitung.
Dari IG Live tersebut, jadi banyak tahu bagaimana situasi dan cara mereka mengajar anak-anak disana.
Berbeda memang karena mereka belajar di alam. Dan kalau bosan, rehat / istirahat sebentar. Nanti belajar lagi.
Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an
"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain". Masa dimana dapat tertawa ...
-
Apa Peran Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informasi dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia terhadap ...
-
HIV AIDS Dorkas Manroe Pernahkah kamu dalam hidup membayangkan bagaimana kalau ada salah satu keluarga, teman, sahabat atau kekasih ka...
-
Taman Ismail Marzuki Dorkas Manurung " La, lo dimana ?" Isi chat yang kuterima disaat mau pulang dari perpustakaan. ...
