Monday, May 18, 2020

Keadilan Pendidikan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Keadilan Pendidikan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Dorkas Manroe
 



"Keadilan Pendidikan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia" Kalimat ini saya dengar ketika menonton Instagram live akun @sokolainstitute, 16/05/2020 Jam 12:00 WIB. Dan kalimat itu juga tertulis di salah satu kaos merchandise "Sokolainstitute".

Oh ya, sedikit informasi mengenai "Sokola Rimba" didirikan tahun 2003 oleh Butet Manurung dan empat pendidik lainnya. Tujuannya ingin anak-anak yang dipedalaman bisa mendapatkan pengajaran atau pendidikan yang sama seperti anak-anak lainnya.

Nah, kalau pengin tahu lebih banyak mengenai "Sokola Rimba" bisa kunjungi websitenya http://sokola.org/ .

Benar juga sih kalau dipikir-pikir, pendidikan saat ini belum semuanya rata. Dalam arti, untuk membaca-menghitung saja masih banyak anak-anak yang belum bisa. 

Lalu bagaimana dengan program Pemerintah, yang mewajibkan semua penduduk mengikuti program pendidikan dasar selama sembilan tahun (Enam tahun Sekolah Dasar (SD), tiga tahun Sekolah Menengah Pertama dan tiga tahun Sekolah Menengah Umum (SMU).

Kenapa masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan seperti program pemerintah tersebut, padahal sistem pendidikan ini juga tertulis dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.  

Sebenarnya seberapa penting pendidikan itu sendiri ?

Oma Selly (@omaselly)
"Pendidikan itu penting karena berkaitan erat dengan pengetahuan sementara jaman semakin kesini semakin canggih dalam segala bidang. Andai kita tidak punya pengetahuan maka bagaimana kita bisa hidup dalam peradapan yang berlaku. Masa depan itu nomor kesekian yang penting mampu mengikuti jaman"

Ratih Himura (@ratihhimura)
"Pendidikan itu sistem yang dapat mengubah perilaku seseorang melalui pembelajaran atau pelatihan yang terus menerus dilakukan. Dan pendidikan itu penting banget untuk bekal masa depan sesorang dalam mencapai karirnya"

Enny Setiyowati (@ennysetiyowati)
"Pendidikan itu adalah ilmu pengetahuan / pembelajaran penting untuk bertahan hidup baik. Ilmu / ajaran tentang sosial, agama, budaya, perilaku, dasar berkreasi dan inovasi mengikuti perkembangan jaman. Serta harta/dasar pembentukan jati diri/cara berpikir / intelektual setiap manusia itu sndri untuk menyesuaikan diri dimanapun dia berada dan berkembang.

Sarah Trisna Kinanti (@SarahTrisnaKinanti)
"Pendidikan adalah usaha atau kegiatan yang menambah wawasan seseorang"

Butet Manurung (@butet_manurung)
"Pendidikan itu seharusya membuat seseorang menjadi versi terbaik dirinya yang bermanfaat bagi orang lain"

Freedy Bereciartu (@freddymarr)
" Pendidikan itu akademik, sangat penting. Dan untuk tingkat pendidikan masing-masing orang berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan hidupnya"

Itulah pendapat mereka mengenai pendidikan, tidak ada yang salah maupun benar. Masing-masing punya pendapatnya mengenai Pendidikan. 

Mungkin kalau dari sisi pendidikan formal, sangat penting karena penentu tingkatan untuk kedepannya. Dengan hasil akhirnya ijazah yang bisa digunakan untuk melamar pekerjaan.  Semakin tinggi pendidikan kamu, mudah dilirik Perusahaan.

Tapi beda halnya dengan Freedy Bereciartu, yang sudah travel ke 60 negara ini, gelar pendidikan yang dia peroleh karena permintaan orangtuanya.

Freedy Bereciartu menyelesaikan sekolah menengahnya di Venezuela, kuliah di bidang ekonomi di Amerika Serikat. Dan dis master bisnis di Eropa.
 

Baginya pendidikan kehidupan merupakan salah satu pendidikan informal yang didapatnya dari travel yang sudah dia lakukan.

Jadi baginya pendidikan informal juga dibutuhkan untuk menunjang pendidikan formal.

Apalagi di zaman globalisasi sekarang ini, rata-rata Perusahaan melihat gelar ketika mencari kandidat karyawannya. Setelah itu pengalaman dan ketrampilannya. 

Selain pendidikan formal, kebanyakan orangtua juga mengikuti anak-anaknya pendidikan informal seperti kursus bahasa inggris, karate, balet, vocal, musik, dan masih banyak lagi.

Ini dilakukan supaya anak-anak mempunyai banyak kegiatan dan kemampuan yang kedepannya bisa menunjang pendidikan formalnya.

Lalu bagaimana dengan pendidikan di pedalaman / rimba ?

Apakah pola pendidikannya sama dengan pendidikan di perkotaan ? Tentu tidak.

Masih banyak daerah-daerah yang ada di Indonesia, khususnya di pedalaman / rimba yang untuk membaca, menulis dan berhitung saja tidak bisa. Silahkan googling dan baca.

Makanya tidak heran kalau masyarakat di pedalaman / rimba, sering dibohongi. Ada saja yang berniat jahat atas kepemilikan mereka, seperti tanah, ladang, sawah maupun harta benda mereka lainnya.

Lalu bagaimana cara supaya masyarakat di pedalaman / rimba bisa mendapatkan pengajaran / pendidikan yang sama seperti perkotaan. Paling tidak, mereka bisa yang dasarnya saja dulu seperti membaca,menulis dan berhitung.

Kalau jawabannya masyarakatnya harus hijrah ke perkotaan. 

Tidak segampang itu, orangtuanya tidak memberikan izin untuk hijrah / keluar dari daerahnya. Mereka takut jika sudah pergi / keluar dari desanya, tidak akan kembali lagi. Artinya mereka akan lupa akan kampung halaman dan kebudayaanya.

Ini lah yang menjadi "PR" / tugas Pemerintah supaya masyarakat yang di pedalaman / rimba bisa mendapatkan pendidikan yang sama dengan masyarakat perkotaan. 

Kalau ada yang mengatakan LSM / Relawan / Volunter yang datang untuk memberikan pendidikan kepada mereka. 

Pertanyaannya "Bagaimana pola pengajaran yang mereka berikan dan berapa lama mereka menetap didaerah tersebut, selamanya atau hanya sesaat saja"

Mereka juga mempunyai keterbatasan, termasuk dalam hal finasial / keuangan. 

Tapi saya tertarik dengan "Sokola", Pusat Pembelajaran masyarakt di pedalaman / rimba.

Awalnya tertarik dengan perempuan batak, Butet Manurung, yang mau terjun langsung ke pedalaman / rimba hanya untuk mengajarkan anak-anak disana.
 
Jujur, aku sudah lama tertarik dan kagum dengan dia.  

Gimana tidak kagum, dia perempuan berani masuk hutan dan bersatu dengan alam. Mungkin, ada saja laki-laki yang bisa seperti dia. 

Dan berkat Instagram (IG), aku bisa menemukan akunnya. Ternyata dia tidak sombong, ramah dan tidak pelit ilmu. 

Tiap diajak sharing, pasti dia jawab. 

Dia juga tidak lupa memberi tahu jika ada live di IG, pembahasannya macem-macem. Tapi intinya soal pendidikan.

Pola pendidikan yang diberikan juga berbeda karena mereka belajar di alam. Tanpa pakaian seragam, tas, sepatu mapun buku belajar. 

Jam belajar juga tidak seperti disekolah formal, disini kalau bosan bisa rehat / istirahat sebentar. Nanti belajarnya diteruskan lagi. 

Dan selama wabah corona, banyak tahu mengenai bagaimana pendidikan anak-anak di pedalaman / rimba.

Ternyata masih banyak yang belum "disentuh" Pemerintah.

Inilah kenapa Pendidikan belum merata, masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang belum mendapatkan pendidikan sesuai Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.

Pemerintah harus lebih fokus dan mencari solusi dalam hal ini, terutama bagaimana cara pendidikan di pedalaman / rimba bisa sama dengan perkotaan. Paling tidak dasarnya saja dulu, "Membaca, Menulis dan Berhitung" 

Oh ya, untuk orangtua juga jangan pernah larang anak untuk bereksperimen / menganalisis sesuatu. Biar saja mereka melakukan apa yang mau mereka lakukan, dari sana mereka akan belajar. Istilahnya "Jangan pernah takut kotor", justru dari kotor akan banyak ilmu yang didapat dengan sendirinya". Tapi tetap harus diawasi.

Pendidikan formal itu memang sangat perlu, tapi pendidikan informal juga perlu karena keduanya berguna untuk kehidupan kita. 





Pondok Kelapa, Jakarta Timur
19 Mei 2020







*Tulisan ini di ilhami dari IG Live @butet_manurung dan @sokolarimba. 

Jujur saja, sudah lama kagum dengan sosok perempuan batak. Dia bersama teman-temannya, mau terjun langsung ke pedalaman / rimba hanya untuk mengajarkan anak-anak membaca, menulis dan berhitung.

Dari IG Live tersebut, jadi banyak tahu bagaimana situasi dan cara mereka mengajar anak-anak disana.

Berbeda memang karena mereka belajar di alam. Dan kalau bosan, rehat / istirahat sebentar. Nanti belajar lagi.




No comments:

Post a Comment

Mengenal Permainan anak Era 70-an sampai 90-an

"Masa kanak-kanak, masa yang paling indah". Masa dimana hanya untuk belajar, nonton dan bermain".  Masa dimana dapat tertawa ...